The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 9


__ADS_3

Tidak terasa sudah 4 bulan berlalu dan kini mereka baru saja menginjakkan kaki di daratan. Lucy yang masih terlihat mengantuk hanya menguap sambil memeluk Lucien kembali. Sedangkan Fain sudah begitu terlihat berbinar menanti perjalanan selanjutnya menuju Kerajaan Night Crow. Mereka harus melewati dua kerajaan besar yang akan menguras waktu untuk sampai di Kerajaan Night Crow.


Lucy tidak mempermasalahkan perjalanan mereka karena ia baru saja menyadari jika tempat dimana mereka berlabuh adalah tempat yang terlihat begitu gersang. Padang pasir terlihat begitu luas di sebelah selatan. Kini mereka berada di Pelabuhan Faqur yang merupakan wilayah Kerajaan Sasentra.


"Lucy, Kerajaan Sasentra memiliki seorang Tuan Putri yang begitu cantik. Ia bernama Putri Cyra," ujar Fain berseri-seri.


"Aku ingin melihat Tuan Putri," jawab Lucy yang terlihat penasaran.


"Tidak, kau tidak boleh terlihat petinggi kerajaan mana pun, Lucy," cegah Lucien.


Lucy mengerti dengan kekhawatiran Lucien, tentu saja itu menyangkut nyawanya yang selalu diincar hingga saat ini. Lucy hanya mengangguk patuh pada Lucien, ia tidak akan membuat Esmelth miliknya itu membakar Kerajaan Sasentra. Karena kekuatan Lucien sudah kembali sepenuhnya, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya. Itu yang dikatakan Evrard pada Lucy, agar ia juga berhati-hati.


"Maaf, Fain. Aku tidak bisa melihat-lihat Kerajaan Sasentra sesuka hatiku," jawab Lucy dengan senyum manis di wajahnya.


"Tidak masalah, kita akan pergi ke Kerajaan Night Crow seperti rencana kita dengan cepat. Jika tidak, kita akan ketinggalan Festival Reincar," jawab Fain sambil tertawa kecil pada Lucy.


Lucy mengangguk antusias, selama hidupnya ia tidak pernah melihat festival apa pun. Lucy kembali mengingat kakak perempuannya, seseorang yang selalu bersamanya di saat susah kini tidak pernah lagi berada di sisinya.


"Lucy," panggil Fain yang terlihat khawatir karena tiba-tiba saja Lucy terdiam.


"Ah, ada apa?" tanya Lucy yang terlihat sedikit terkejut.


"Apa yang kau pikirkan hingga tak menjawab panggilanku?" tanya Fain sambil menaikkan satu alisnya.


"Hanya mengingat kakakku," jawab Lucy sambil tersenyum manis.


"Ahh, Putri Xeravine yang akan menjadi Ratu di masa depan itu?" tanya Fain memastikan, dan Lucy hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Kakak sangat cantik dan juga baik hati, ia adalah kakak terbaik yang pernah kumiliki. Kakak selalu menolongku saat ...." Ucapan Lucy terhenti saat ia menyadari jika ada Lucien yang sedari tadi mengamatinya.


"Saat?" tanya Fain yang penasaran.


"Saat Raja dan Ratu ingin membunuhnya," sambung Lucien yang langsung saja membuat Fain membelalakan kedua matanya.


"Apa?" gumam Fain yang langsung menatap Lucien.


"Berhenti membicarakan itu, kita harus pergi menuju Hutan Ant," jawab Lucien yang langsung menggendong tubuh Lucy.


Lucy hanya mengangguk lalu tersenyum pada Lucien, ia tahu jika Lucien tidak suka melihatnya bersedih. Karena itu Lucy tidak pernah membahas apa pun tentang keluarga dan masa lalunya. Lucien langsung menggendong tubuh Lucy saat dirasanya banyak orang yang kini melirik ke arahnya.


"Lucien, aku ingin belajar bela diri. Apa kau bisa mengajariku?" tanya Lucy.


Lucien mengerti, Lucy tidak ingin membebani dirinya karena tidak bisa memakai sihir untuk menyerang dan melindungi dirinya sendiri. Esmelth tampan itu hanya tersenyum sambil mengangguk kecil. Tidaklah sulit mengajari Lucy karena kecerdasan gadis kecil itu, yang membuat dirinya sulit adalah karena ia tidak bisa mengajari hal yang berisiko.

__ADS_1


"Lucy, aku bisa mengajarimu sedikit cara memakai pisau," ujar Fain yang langsung membuat Lucien tertawa kecil.


"Tidak perlu, aku yakin Lucy lebih andal memakai pisau daripada dirimu," jawab Lucien sambil meneruskan langkahnya.


"Apa? Kau serius?" tanya Fain menatap tidak percaya kepada Lucien.


"Master sangat mengerikan saat sedang memasak. Aku ingat saat pertama kali aku melihatnya memasak dan Lord Lucien mengganggunya, Master langsung melemparnya sebilah pisau tanpa melihat dan ia dapat melukai wajah Lord Lucien," terang Evrard yang langsung saja mendapatkan pukulan kecil dari Lucien.


Lucy hanya tertawa kecil, ia tidak suka diganggu saat sedang memasak. Melempar pisau seperti itu ke arah Lucien hanyalah keberuntungan semata. Ia merasa harus banyak belajar karena ia tidak dapat memakai sihir.


Melewati perkotaan yang begitu ramai, banyak juga para prajurit berlalu lalang untuk memeriksa keadaan kota. Banyak pula yang sekadar melihat untuk menjernihkan pikiran mereka. Pakaian yang mereka pakai juga sangat berbeda dengan yang dipakai rombongan Lucy. Meski begitu banyak juga pendatang yang memakai pakaian berbeda.


Tidak ingin membuang waktu, Lucien terus melangkahkan kedua kakinya menuju kerajaan selanjutnya. Membutuhkan waktu 2 minggu untuk sampai Kerajaan Amunra, Kerajaan Amunra terkenal dengan Magves.


Magves adalah seorang Magia yang bersatu dengan Esmelth, eksperimen itu dilakukan oleh seorang pemuda bernama Osiris. Dan dari banyaknya para Magia yang melakukan eksperimen itu, hanya Osiris saja yang dapat menjadi Magves. Dengan kata lain ia sudah bukan manusia.


Selama dalam perjalanan, Lucy belajar bagaimana cara bertahan dari sihir dan menyerang dengan bela diri. Tidak banyak Magia yang menyerang dengan bela diri karena lebih mudah memakai sihir mereka untuk menyerang. Sedangkan Lucy yang memang tidak bisa memakai sihir akhirnya memilih untuk belajar dengan cara lain.


Fain pun mengajari Lucy banyak hal dalam memakai pisau, meski tubuhnya kadang terluka karena tidak sengaja terkena pisau, luka di tubuhnya tidak membuat Lucy jera untuk terus berlatih.


"Turunkan pundakmu lagi, Lucy. Kau tidak bisa menyerang dengan kondisi tegang seperti itu, atau kau mudah ditumbangkan hanya dengan sekali pukulan di tanganmu," ujar Fain saat mengajari Lucy.


"Seperti ini?" tanya Lucy mencoba untuk lebih tenang dan menurunkan pundaknya sedikit.


Para Esmelth hanya menonton dari jarak jauh, Lucy benar-benar berlatih dengan sungguh-sungguh. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengajari semua hal bela diri pada Lucy, dan semua itu tidak mengganggu Lucien sedikit pun. Banyak dari para Jendral miliknya yang mampu mengajari Lucy yang tentu lebih ahli dari Fain.


Setelah tiga minggu, akhirnya mereka sampai di wilayah Kerajaan Amunra. Memang melebihi dari waktu perkiraan mereka karena harus mengajari Lucy di tengah perjalanan, tetapi semua itu terbayar karena Lucy akhirnya dapat melakukan hal dasar dalam mempelajari bela diri. Fain dan para Esmelth milik Lucy pun senang karena Lucy kini banyak kemajuan. Tidak ada kata menyerah dalam kamus gadis kecil itu.


Ulang tahun Lucy pun tiba, Lucien seperti biasa memberikan Lucy sebuah buku kuno yang memang sudah ia persiapkan sejak lama untuk ulang tahun Lucy. Sebuah buku yang mempelajari inti sihir dunia, buku yang hanya ada 1 buah dan ditulis langsung oleh Lucien. Karena Lucien-lah yang merupakan Raja dari para Esmelth dan sebutan lain dari sang Raja adalah Father of Esmelth. Ia mengetahui rahasia dari inti sihir yang menciptakan para Esmelth.


Sedangkan Evrard memberikan Lucy sebuah penjepit rambut bermotif permen lolipop kesukaan Lucy. Alice pun memberikan salah satu peliharaannya, seekor kelinci kecil dengan telinga panjang. Kelinci itu bukanlah hewan biasa pada umumnya, melainkan salah satu hewan yang tercipta dari inti sihir bumi yang hanya para Esmelth saja yang bisa mengendalikan mereka. Fain pun tak ingin kalah, ia memberikan sebuah selendang berwarna merah kepada Lucy. Lucy dapat merasakannya, selendang itu memiliki sihir pelindung untuk menjaga dirinya. Dan Lucy tentu berterima kasih kepada mereka semua yang telah memberikannya hadiah.


Malam pun tiba, Lucy mencari sebuah danau atau sungai kecil untuk membasuh tubuhnya yang terasa lengket karena habis berlatih. Kali ini Alice, Evrard maupun Lucien tidak dapat menemani Lucy karena mereka harus bersiaga di sekitar wilayah itu yang merupakan hutan penuh dengan monster. Sedangkan Fain menjaga Lucy dari jarak yang lumayan jauh agar Lucy bisa leluasa untuk membersihkan tubuhnya. Mereka memilih tidur di hutan daripada harus mencolok menginap di sebuah penginapan. Setelah Lucy menemukan sebuah danau kecil yang terlihat memiliki sumber air panas, gadis kecil itu mulai merendam tubuhnya ke dalam air tanpa mengetahui ada seseorang yang sudah berada di sana terlebih dahulu.


Lucy bersenandung kecil tanpa memperhatikan sekitarnya, saat ini yang ia pikirkan hanyalah melepas penat di tubuhnya yang lelah setelah berlatih. Seorang anak lelaki datang menghampiri dengan tubuhnya yang setengah terendam air danau. Anak lelaki itu mengamati Lucy yang masih fokus membersihkan tubuhnya.


"Kau benar-benar tidak memperhatikan sekitarmu," ujar anak lelaki itu hingga Lucy menoleh dan sedikit terkejut melihat rupa anak lelaki itu.


"Terkejut melihatku?" tanya anak lelaki itu dengan ekspresi datarnya.


"Ya, tentu saja aku terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba ada di hadapanku. Memangnya apa lagi?" jawab Lucy yang langsung tidak memperdulikan tatapan tajam dari anak lelaki itu.


"Kau tidak takut dengan wujudku?" tanya anak lelaki itu yang kini mulai terganggu karena diabaikan Lucy.

__ADS_1


"Untuk apa? Wujud Lucien saat berubah menjadi naga pun lebih menyeramkan darimu dan aku tidak takut," jawab Lucy yang mampu membuat anak lelaki itu tersenyum.


"Kau gadis kecil yang pemberani," jawab anak lelaki itu sambil mendekat ke arah Lucy dan menyandarkan punggungnya di bebatuan.


"Aku baru saja berusia delapan tahun dan aku harus berani dengan orang asing sepertimu," jawab Lucy dengan polosnya.


Lagi-lagi anak lelaki itu tersenyum, Lucy tidak takut dengan wujudnya yang aneh, memiliki telinga seperti kucing, berkulit abu-abu dan memiliki corak di tubuhnya karena dijadikan bahan eksperimen.


"Jadi, kau baru saja berulang tahun?" tanya anak lelaki itu dan Lucy mengangguk dengan antusias mengingat ia mendapatkan hadiah dari para Esmelth miliknya.


"Lalu siapa namamu?"


"Lucy, Lucy Atlanta," jawab Lucy tanpa memberitahu marga keluarganya.


"Baiklah, Nona Lucy. Apa aku boleh memanggilmu seperti itu?" tanya anak lelaki itu lagi.


"Panggillah sesukamu, aku tidak terlalu memikirkannya," jawab Lucy sambil tersenyum manis kepada anak lelaki itu.


"Ahh, aku harus cepat kembali, mereka pasti akan mencariku jika aku terlalu lama di sini," jawab Lucy yang langsung berbalik memunggungi anak lelaki itu.


Anak lelaki itu langsung saja terkejut saat melihat punggung Lucy yang memiliki banyak luka. Tanpa sadar anak lelaki itu menarik tangan Lucy agar gadis kecil menoleh padanya.


"Tunggu!" Lucy menoleh dan menatap anak lelaki itu dengan tanda tanya.


"Aku akan memberikan hadiah kecil untukmu." Anak lelaki itu langsung saja mencium kening Lucy hingga mengeluarkan cahaya yang cukup terang dari kecupan singkat itu.


Lucy mengerjapkan kedua matanya, ia tidak tahu apa yang terjadi. Sebuah cahaya yang begitu terang baru saja terlihat saat anak lelaki itu mencium keningnya.


"Jangan sampai terluka lagi," ujar anak lelaki itu sambil tersenyum ke arah Lucy.


Lucy tersenyum manis, ia tahu jika yang dimaksud anak lelaki itu adalah luka di punggungnya yang membekas.


"Terima kasih, Tuan. Tetapi, sebelum aku pergi apakah aku boleh mengetahui namamu?"


"Tentu, ingat namaku baik-baik karena aku tidak ingin mengulanginya lagi." Lucy lagi-lagi mengangguk dengan antusias.


Anak lelaki itu tersenyum lembut ke arah Lucy lalu kembali mengecup kening Lucy untuk yang kedua kalinya.


"Namaku adalah ... Osiris."


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2