The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 16


__ADS_3

Benua Qwenzy, benua yang penuh dengan kekayaan alam melebihi dari benua lainnya. Beberapa Kerajaan dari Benua Qwenzy memiliki teknologi yang sangat maju di banding dengan Kerajaan lainnya. Mereka bahkan membuat banyak senjata yang akan terkoneksi dengan para Magia. Mereka menyebutnya sebagai senjata api atau senapan.


Beberapa senjata yang cukup terkenal adalah Glista dan Veloper, glista berbentuk sudut kotak dengan laras berada di dalam sebuah bagian yang dapat maju-mundur yang disebut slide. Peluru atau amunisi ditempatkan di dalam sebuah magazen yang berada di dalam genggaman. Untuk para Magia, mereka akan mengaliri mana dan menciptakan sebuah sihir, dimana peluru itu akan berbuah bentuk atau teraliri elemen sihir sehingga dapat membuat luka parah bagi yang terkena tembakan senapan laras pendek itu.


Sedangkan veloper, laras sangat jelas terlihat sebagai moncongnya. Kemudian peluru ditempat di dalam sebuah tabung silinder berbahan metal yang akan berputar pada sumbunya setiap kali ditembakkan.


Ada juga senjata laras panjang bagi penembak jitu dengan jarak yang sangat jauh dari target. Larasnya yang panjang dimaksudkan pula agar peluru yang ditembakkannya dapat menjangkau sasaran yang letaknya jauh dari posisi di petembak. Stabilitas saat penembakan sangat dibutuhkan untuk mencapai akurasi yang diinginkan, sehingga pada saat penggunaanya, senjata api laras panjang hampir selalu dioperasikan dengan menggunakan dua tangan.


Bahkan untuk menambah tingkat akurasi, para petembak menggunakan diver/ kaki penyangga dalam rangka meminimalisir guncangan, baik sebelum dan sesudah proses penembakan berlangsung.


Lucy berdecak kagum saat melihat-lihat senjata sihir yang di jual di berbagai toko, berbanding terbalik dengan Lucien yang hanya menatap datar perkembangan zaman selama beberapa ratus tahun terakhir. Lucy menarik Lucien untuk memasuki sebuah toko pernak pernik yang menjual berbagai macam senjata api.


"Lucien, kau tidak tertarik?" tanya Lucy.


Lucien hanya menggelengkan kepala, ia kembali menatap sekitarnya seakan tidak peduli dengan orang-orang yang menatap dirinya. Saat ini mereka berada pusat kota Kerajaan Asiena, gedung-gedung pencakar langit lebih membuat Lucien terpesona dari pada senjata-senjata itu.


Lucy kembali menarik tangan Lucien, semua orang mengetahui siapa Lucien dan Lucy sengaja membiarkan Esmelthnya itu memperlihatkan diri agar lebih mudah mencari para Jendral. Dan benar apa yang baru saja Lucy perkirakan, seseorang bersurai hijau dengan senjata berbentuk death scythe di bahu kanannya menghalangi Lucy dan menatap Lucien dengan tatapan datar.


Lucien langsung saja menarik tubuh Lucy dan menggendongnya dengan satu tangan. Lucien belum sempat berkata, pria bersuai hijau itu mulai menyerang dengan mengayunkan senjata besar itu ke arah Lucy. Namun, serangan cepatnya tertangkis begitu mudah oleh barrier kasat mata milik Blue.


Ctaanggg


Pria bersurai hijau itu terpental karena gelombang angin dari barrier pada tubuh Lucien. Evrard langsung saja keluar dari tubuh Lucy dan mengeluarkan red sword miliknya. Tidak membuang kesempatan, pria bersurai hijau itu menembakkan sebuah peluru yang berlapis dengan racun.


DORR


Suara tembakan menggema dan membuat para penduduk ketakutan dan memilih untuk menjauh. Tembakan itu bersarang di tangan Fay yang tubuhnya dapat menyerap racun dengan sempurna. Lucien menatap Lucy yang hanya terpukau dengan serangan pria bersurai hijau itu.


"Berhenti menatapnya," desis Lucien yang langsung menutup mata Lucy dengan kain hitam.


"Lucien!" rengek Lucy yang kesal dengan tingkah Lucien akhir-akhir ini.


"Bereskan dia secepatnya!" titah Lucien pada Evrard dan Fay.


"Lord Varoksya, apa kau ingin melarikan diri dengan gadis itu? Kau tahu saat ini Kerajaan Xeravine telah menetapkan gadis itu sebagai buronan!"


Lucien menghentikan langkahnya, Evrard dan Fay menepuk dahi mereka, perkataan Esmelth bodoh itu dapat membangunkan sisi kejam sang mantan Raja Esmelth.


"Bodoh, kau membuatnya marah." Kata Fay sambil menghilang bersama Evrard dan masuk ke dalam tubuh Lucy.


Pria bersurai hijau itu menatap tidak mengerti ke arah Lucien, firasatnya memburuk saat sang mantan Raja Esmelth itu membalikkan tubuhnya dan menatap tajam dirinya. Aura membunuh begitu kuat keluar dari tubuh Lucien, Lucy semakin mempererat pelukannya dan berharap Lucien tidak lepas kendali. Namun, harapan Lucy sia-sia, Lucien benar-benar lepas kendali saat ini.


Tanah berguncang, burung-burung berterbangan meninggalkan daratan. Pennduduk sekitar mulai berlarian meninggalkan mereka sejauh mungkin. Lucien merentangkan satu sayapnya, sayap hitam nan besar itu mulai membungkus tubuhnya dan Lucy yang masih dalam pelukan.


"Aku tahu, dan kau ingin membawa Lucy pergi dariku dan menyerahkannya kepada Xeravine, bukan?"

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kau menanggung kesalahan anak kecil itu, Lord Varoksya!"


Lucien tertawa, pria Esmelth itu memang tidak dapat membaca sekitarnya. Lucien tidak peduli lagi jika pria bersurai hijau itu terkena kekuatannya. Lagi pula Lucien tidak benar-benar membutuhkan Jendralnya yang membangkang dan bertindak bodoh.


Tidak membuang waktu, Lucien melepaskan kekuatannya ke seluruh penjuru arah. Dalam hitungan detik, gelombang panas keluar dan membakar apapun. Dan dalam sepuluh detik, kota itu terbakar habis beserta para punduduk yang menjadi abu.  Beberapa Esmleth terluka parah dan pria bersurai hijau itu tentu sedang mengerang menahan sakit yang luar biasa. Terdengar suara alarm kota yang menandakan ada Esmelth berbahaya di Kerajaan Asiena.


Lucien langsung menarik kerah belakang pakaian pria bersurai hijau itu dan berteleport sejauh mungkin sebelum mereka tertangkap. Lucien berteleport jauh di luar Kerajaan Asiena, ia juga dapat melihat luka bakar di tubuh pria bersurai hijau itu.


"Evrard, Fay, keluarlah!"


Kedua Esmelth milik Lucy itu langsung saja keluar dan berlutut kepada Lucien. Lucien langsung saja meminta Fay untuk menyembuhkan luka bakar di tubuh pria bersurai hijau itu, dan meminta Evrard untuk mengatakan apa yang terjadi selama ini. Lucy yang masih dalam dekapan dan juga terbungkus oleh sayap langsung saja di lepaskan Lucien.


"Lucy, kau baik-baik saja?" tanya Lucien yang khawatir jika dapat melukai gadis kecilnya.


"Lepaskan aku, kau membakar kota itu!" jawab Lucy sambil menggembungkan kedua ppinya, ia kesal karena Lucien membakar kota indah itu.


Lucien terkekeh, saat ini keadannya jauh lebih baik setelah mengeluarkan kekuatannya. Lucien mengeluarkan beberapa senjata yang ia lihat di banyak toko, glista, veloper, armado, dan lainnya yang membuat mata Lucy berbinar.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Armado  adalah senjata api laras panjang yang  sederhana, memiliki pilihan tembakan atau selective-fire, yang dapat memuntahkan peluru berkekuatan sedang. Armado digunakan oleh militer kerajaan untuk melakukan peperangan atau pertempuran. Bukan hanya dalam bentuk penyerbuan, namun juga senapan jenis ini digunakan untuk pertahanan.


Ciri fisik umum senapan serbu adalah adanya magasen yang berisi peluru dalam jumlah banyak tergantung tipe, biasanya antara 20 hingga 30 butir tiap magasen. Ada pilihan tembakan dengan mode satu-satu, tembakan tiga-tiga atau tembakan rentetan. Kecepatan memuntahkan peluru / rate of fire antara satu tipe dengan tipe lain saling berbeda, namun pada umumnya senapan serbu ini dapat memuntahkan peluru sebanyak 700-950 butir per menit.  Di tambah dengan kekuatan sihir dapat meratakan menambah kekuatan dan kecepatan peluru untuk mengalahkan lawan.


"Sekarang kau senang?" tanya Lucien sambil mengacak surai pirang Lucy.


"Terimakasih, Lucien." Jawab Lucy sambil memeluk Esmelth miliknya.


 


Bleduummm


 


Suara ledakan terdengardan membuat Lucien menatap malas ke arah para Jendral miliknya. Seseorang bersurai putih datang dengan melayang dari langit dan menarik tubuh pria bersurai hijau itu dari Evrard. Debu berterbangan dan menutupi keberadaan pria bersurai putih itu dengan Evrard.


"Ck, kau datang dengan segala kebodohanmu dengan menyerang kami!" Fay berdecak sambil terbang kebelakang Evrard.


"Apa yang kau lakukan pada Grea?" tanya pria bersuerai putih itu dengan tatapan tajam.


"Loctus, huh?" gumam Evrard sambil menebas udara agar debu-debu itu menghilang dari poandangannya.


"Salahkan temanmu itu yang ingin menyakiti Master kami!" Fay menjulurkan lidahnya, ia kesal pada pria bersurai putih itu yang langsung saja menyerang dirinya dan Evrard.


"Master? Apa maksudmu?" pria bernama Loctus itu memilih untuk mendarat di atas tanah dan menatap waspada pada pedang Evrard yang kapan saja bisa menebasnya.


"Kalian masih belum mengurusnya?" suara bariton nan dingin itu terdengar dari belakang Fay dan Evrard.


"Lo-lord Varoksya," pria bernama Loctus itu langsung saja bersujud ke arah Lucien yang datang bersama Lucy.

__ADS_1


Lucien berdecak saat nama lamanya kembali di sebutkan, "Namaku sekarang adalah Lucien, berhenti memanggil nama lamaku!"


"Dimengerti, My Lord." jawab pria itu patuh, ia tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat keagungan Lucien.


"Karena kalian sudah berkumpul, maka aku tidak perlu lagi mencari lebih jauh dari ini. Lucy, apa kau bisa mengikat kontrak dengan mereka?"


Lucy terdiam sejenak, ia menatap Lucien dan kembali menatap pria bernama Loctus. Lucy melepaskan genggamannya pada pakaian Lucien, tangannya merentang ke depannya dan seperti biasa Lucy akan melakukan kontrak seperti sebelumnya. Namun, apa yang di ucapkan Lucy membuat Lucien menatap masternya tidak mengerti.


"Evrard, Fay, kembali!"


Seketika Evrard dan Fay kembali ke dalam tubuh Lucy, gadis kecil itu kembali menatap Lucien dengan pandangan tidak terbaca.


"Lucy, ada apa?" tanya Lucien yang melihat gelagat aneh dari Lucy.


"Aku tidak mau membuat kontrak dengan mereka," perkataan Lucy membuat Lucien mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu, Lucy?"


"Aku tidak memerlukan mereka, mereka sudah menyerang Evrard, Fay, dirimu, bahkan diriku. Membuat mereka menjadi Esmelth milikku tidak membuat kemungkinan mereka tidak akan berkhianat." Terang Lucy, Lucien tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tenanglah, Sayang. Aku akan menjamin mereka tidak akan berkhianat padamu," Lucien mendekati Lucy, tetapi Lucy menghindar.


"Lucy, kau tidak ingin mendengarkanku?"


"Aku tidak mau!"


Lucy berlari meninggalkan Lucien, mantan Raja Esmelth itu membeku seketika. Baru kali ini Lucy menolak permintannya, entah apa yang di pikirkan gadis itu Lucien merasakan sesuatu yang hampa di dalam dadanya.


"Evrard!"


"Yes, My Lord."


"Jaga Lucy, aku akan mengurus dua Jendralku yang tidak berguna ini!"


"Dimengerti!"


Selesai Lucien memberikan perintah, ia menoleh kebelakang dan menatap Loctus dan juga Grea yang tidak sadarkan diri. Hari ini ia harus kembali mengajari sopan santun kepada kedua Jendral miliknya.


"Kalian berdua ... kali ini aku tidak akan membiarkan kalian bernapas dengan tenang!"


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2