The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 25


__ADS_3

Satu hari telah berlalu, Rong Ying sudah membuat ramuan minyak khusus untuk Lucy. Hellson sudah tersadar dan kini hanya diam menatap sekitarnya. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, seharusnya ia sudah mati dan kembali kepada Lucien. Namun, ia terlahir kembali dan membuatnya dapat merasakan kekuatan lain pada tubuhnya.


"Kau masih saja diam tidak ingin berbicara," ujar Evrard yang berdiri di hadapan Hellson.


"Aku tidak meminta untuk di hidupkan, mengapa kalian melakukan ini?" jawab Hellson yang akhirnya berbicara.


"Kami tidak menghidupkanmu, Master yang melakukannya sendiri," jawab Evrard sambil mentap Lucy yang masih memejamkan kedua matanya di pangkuan Lucien.


"Mengapa gadis itu bisa menjadi master kalian?" tanya pria bersurai pirang itu.


"Apa kau benar-benar akan mendengarkan?"


"Tergantung dari sebagus apa ceritamu,"


"Mau berkelahi denganku?"


"Tidak, terima kasih. Aku dapat merasakan kekuatan yang berbeda dari tubuhmu."


Evrard hanya menggelengkan kepalanya, meski sudah dihidupkan kembali, esmelth di depannya tetap saja tidak berubah. Menyebalkan dan tidak jujur pada diri sendiri, sifat buruk Hellson benar-benar tidak menghilang.


Rong Ying keluar dari dimensi Kharel, gadis itu terlihat kelelahan mengerjakan bersama Odette. Rong Ying segera memberikan cairan berupa minyak itu ke potongan kain dan mengikatkannya di sekitar hidung Lucy.


"Aku tidak tahu Lucy bisa tersadar atau tidak, tetapi aku sudah mencoba sebaik mungkin untuk membuatnya tersadar kembali. Menarik mana masuk ke dalam tubuhnya itu tidak mudah saat semua indera miliknya lumpuh beberapa saat."


Lucien mengangguk mengerti, ia akan sabar menunggu Lucy untuk sadar kembali. Di masa depan ia tidak akan membiarkan Lucy melakukan hal seperti ini lagi, tidak ada jaminan Lucy akan hidup setelah melakukan untuk yang kedua kalinya.


Tidak menunggu lama jemari Lucy bergerak, gadis itu membuka kedua mata saat ia merasakan sebuah pelukan hangat di tubuhnya. Mana langsung saja memasuki tubuhnya dan mulai bekerja menyembuhkan luka di dalam tubuh yang rusak karena kehabisan mana. Lucien yang merasakan pergerakan tubuh kecil di pelukannya, langsung saja melonggarkan pelukannya. Ia melepas kain yang menutupi hidung Lucy dan mengecup bibir gadis itu dengan tatapan rindu.


"Lucy!"


Lucy yang belum merasakan apapun hanya diam dan membiarkan Lucien mengeskplor seluruh wajahnya. Ia belum dapat melihat dengan benar, pandangannya masih mengabur dan perlahan-lahan ia kembali bisa melihat wajah tampan Lucien.


"Luci-en," panggil Lucy yang tersenyum ke arah esmleth pertamanya.


"Lucy, akhirnya kau sadar, jangan pernah lakukan itu lagi. Aku benar-benar memohon padamu, aku tidak sanggup jika kehilanganmu."


Lucy dapat merasakan pelukan Lucien yang semakin mengerat, Lucy melihat para esmelth miliknya yang tersenyum dengan penuh rasa khawatir di wajah mereka. Terlebih lagi ia melihat Rong Ying yang berkaca-kaca saat melihatnya tersadar.


"Master, kami tahu kau memiliki mana yang cukup banyak dan bisa membuat kami menjadi esmelth milikmu. Tetapi, kau bisa mati jika menghidupkan kembali seorang esmelth untuk yang kedua kalinya."


Evrard mulai menasehati Lucy, gadis itu hanya mengangguk lemah. Tubuhnya masih terasa lemas dan para mana masih terus memasuki tubuhnya. Hellson hanya melihat dengan masam saat Lucien begitu perhatian terhadap seorang Magia. Biasanya Lucien tidak begitu akrab dengan para Magia ataupun Esmelth lainnya.


"Baiklah, kita harus kembali ke Nightcrow, kau harus bertemu dengan Revina. Ia sangat mengkhawatirkan dirimu, kau mengerti?" ujar Lucien yang masih memeluk Lucy.


"Ya, kita pulang, Lucien."


Jawaban Lucy membuat semua orang di sekitarnya merasa lega, inilah akhir perjalanannya mengumpulkan para jendral milik Lucien.


"Rong Ying, terimakasih telah membuat Lucy tersadar. Seperti janjiku, aku akan membantumu mendapatkan Esmelth," ujar Lucien.


Lucien menjentikkan jarinya dan tepat di tengah kening Rong Ying mengeluarkan sinar begitu terang. Aura berwarna biru, hijau, dan ungu berganti-ganti terlihat dan sesekali berwarna merah gelap. Rong Ying mengusap keningnya yang terasa panas seperti terbakar.


"Lucien, apa yang kau lakukan pada keningku? Ini terasa sangat panas," rintih Rong Ying yang terus mencoba menggosong keningnya.

__ADS_1


"Bertahanlah, rasa sakit itu hanya sementara. Sebaiknya kau kembali dan beristirahat," ujar Lucien yang langsung saja membuka portal teleport untuk Rong Ying.


Rong Ying melihat ke arah Lucy yang tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Kita akan bertemu lagi di Akademi Magia, sampai jumpa Rong Ying."


"Kau harus menepati janjimu, Putri Lucy."


Rong Ying tersenyum dengan menahan rasa sakit, ia melambaikan tangan dan menghilang saat masuk ke dalam portal teleport.


Lucien melihat mana yang masih setia memasuki tubuh Lucy, entah sudah berapa banyak mana yang masuk. Tubuh Lucy pun belum membaik dari sebelumnya, jadi mereka memutuskan untuk memasuki dimensi Kharel untuk menunggu kesembuhan tubuh Lucy.


***


Beberapa hari telah berlalu, tubuh Lucy sudah membaik dari sebelumnya. Lucy pun sudah di kenalkan pada Hellson yang terlihat tidak menyukai Lucy. Beberapa kali Hellson terkena tatapan tajam karena perkataannya yang kasar pada Lucy.


"Master, seharusnya kau tidak menghidupkannya kembali. Lihat, ia benar-benar tidak sopan terhadapmu, apa harus kita bunuh kembali dan membiarkan Hellson terbang di antara semesta?"


"Hei, cukup aku mati sekali. Jangan membuatku mati untuk yang kedua kalinya,"


"Kalau begitu lebih sopanlah sedikit pada Master!"


Evrard membalas sambil menyikut perut Hellson, Hellson hanya bisa meringis dan mengangguk. Sementara ini ia tidak bisa berbuat sesukanya karena Lucien juga sudah mulai menatapnya datar.


"Hellson, jadilah esmelth milik Lucy."


"Lord, apa kau bercanda? Master mungkin tidak akan kuat untuk membuat kontrak denganku,"


"Aku lakukan, aku lakukan!"


Lucy tertawa kecil melihat tingkah hellson yang langsung saja menurut pada Lucien. Seperti yang di katakan Lucien, ia akan membuat kontrak dengan Hellson. Seperti biasa ia merentangkan tangannya ke arah Hellson dan mulai mengikat kontrak dengan Hellson.


"Dengan ini, kau menjadi esmelth milikku ... dan namamu adalah Sylvester!"


Perubahan Sylvester tidak begitu berbeda dengan wujud lamanya. Wujud baru Sylvester lebih ke arah Iblis yang mempunyai tanduk di kepalanya, kupingnya yang meruncing dan bola matanya yang menghitam.


"Lucy, kau baik-baik saja?" tanya Lucien yang terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja, lagi pula mana yang aku butuhkan tidak terlalu banyak dari biasanya."


"Apa karena alokasi mana dari tubuhmu sudah lebih besar dari sebelumnya?"


"Mungkin, ayo kita kembali. Tetapi aku ingin kembali dengan berkelana tanpa teleport,"


"Apa kau yakin, Lucy? Aku ingin kau setidaknya istirahat selama dua tahun untuk mempersiapkan dirimu mempelajari peraturan istana dan juga Akademi Magia yang ingin kau masuki,"


"Dua tahun terlalu lama, bagaimana jika setengah tahun? Kita masih memiliki waktu di perjalanan selama satu setengah tahun,"


"Kau ingin tawar menawar padaku?"


"Aku mohon."


Lucien menghembuskan napasnya kasar, ia memang tidak bisa berdebat lama dengan Lucy. Gadis itu memiliki seribu cara untuk membuatnya luluh dalam waktu singkat. Lucien melihat para jendral miliknya, mereka hanya mengangguk untuk membiarkan Lucy kembali berpetualang.

__ADS_1


"Jika terjadi sesuatu padamu, kita akan langsung berteleport ke Istana saat itu juga."


Lucy tersenyum dan mengangguk dengan antusias, ia senang bisa kembali berpetualang untuk menambah wawasannya tentang dunia. Beberapa esmelth miliknya langsung saja masuk ke dalam tubuh Lucy, sedangkan Sylvester masih terlihat enggan dan memilih untuk berjalan bersama. Lucy, Lucien, Sylvester, dan juga Rev memulai perjalanan mereka kembali ke Kerajaan Nightcrow.


"Sylvester," panggil Lucy.


Esmelth Iblis itu sedikit menoleh tanpa menjawab, ia masih tidak bisa menerima kenyataan jika ia kembali hidup setelah sekian lama di siksa dan akhirnya mati. Apa lagi ia mati di tangan seorang Magia yang dapat mengendalikan esmleth yang paling dibencinya itu.


"Kau mengenal gadis bernama Liviana?" tanya Lucy.


Tubuh Sylvester menegang dan aura membunuh esmleth itu menguar dari dalam tubuhnya. Lucy tersenyum, ia tahu jika Sylvester pasti akan dendam dengan gadis bernama Liviana.


"Tidak perlu setegang itu, aku memang mengenalnya. Dan juga ..." Lucy tidak meneruskan kalimatnya.


Saat ini biarkan Sylvester yang menilai keadaan, ia tahu jika esmelth itu tidaklah bodoh. Karena itu, Lucy memilih untuk bungkam dan membarkan Sylvester berspekulasi terhadapnya.


"Teruskan, aku ingin mendengar perkataanmu."


Lucy menoleh, raut wajahnya terlihat serius tetapi masih bisa menyunggingkan senyuman manis.


"Dia adalah kakakku," jawab Lucy dan ia dapat melihat raut wajah Sylvester yang tiba-tiba membeku.


Lucy tertawa kecil lalu berlari dengan sesekali melompat, hari ini ia begitu senang karena sudah dapat kembali berkelana tanpa rasa menjanggal. Lucy akan menikmati setiap harinya perjalanan menuju Nightcrow.


Hari demi hari mereka lalui, Sylvester sudah mulai sedikit terbuka dan mau mengajarkan Lucy tentang Ether Land. Dari mana sihir berasal dan terbentuknya inti sihir, Lucy belajar begitu antusias. Ia juga mempelajari geografis tanah masing-masing benua, perubahan iklim yang di sebabkan oleh esmelth, dan juga cara untuk menggunakan mana tanpa melakukan sihir.


Sylvester memang memiliki otak yang begitu cerdas, ia dengan mudah mempelajari sesuatu dan mengajarkannya pada Lucy. Sylvester juga mempelajari banyak hal dari Lucy, ia masih tidak percaya jika Lucy tidak dapat menggunakan sihir. Dengan kata lain, gadis itu harus bergantung pada esmelth miliknya. Dan Lucy harus bisa bela diri untuk melindungi dirinya sendiri.


Masuk ke dalam Akademia Magia hanya akan membuatnya tidak berdaya, terkecuali Lucy dapat memerintahkan semua esmelth dengan benar. Sylvester menatap teman-temannya yang memiliki perubahan besar pada tubuh mereka. Dan kekuatan yang besar mereka juga miliki dan berhasil mereka atasi dengan baik.


"Bagaimana denganmu?" tanya Lucy.


"Apa?"


"Apa kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu itu?"


"Aku belum mencobanya, tetapi aku rasa akan kehilangan kendali dalam beberapa detik sebelum aku terbiasa memakainya."


Lucy mengangguk mengerti, mereka akan melewati gurun pasir untuk yang kedua kalinya. Dan Lucy lagi-lagi meminta Sylvester untuk mengeluarkan kekuatannya, ia ingin melihat seberapa besar kerusakan yang dapat di terima oleh suatu benda.


Bledummm


Sylvester mulai menjentikkan jarinya dan mengarahkannya ke tempat kosong, seketika ledakan terjadi begitu besar hingga membuat Lucy sedikit terpental dan menabrak tubuh Lucien. Esmelth itu sendiri menatap tidak percaya pada kekuatannya.


"Kalian pasti bercana padaku."


 


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2