The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 11


__ADS_3

Seseorang memakai baju zirah dengan cahaya biru menyelimutinya kini berhadapan dengan Lucien. Pria itu berlutut di depan Lucien yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Lucien tersenyum lalu berjalan mendekati pria berjubah zirah bercahaya biru itu.


"Blockazard, aku tidak percaya bisa menemukanmu secepat ini."


"Maafkan hamba yang tidak bisa menolong Anda di masa lampau, My Lord."


Evrard terbang mendekat dengan Lucy yang berada dalam dekapannya, gadis kecil itu terlihat senang saat melihat pria yang memakai jubah zirah yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya. Lucien langsung menggondong Lucy saat kedua tangan gadis itu merentang ke samping.


"Masa lalu adalah masa lalu, saat ini aku berada di masa depan bersama dengan Lucy." jawab Lucien sambil mengecup pipi Lucy.


Pria berjubah Zirah itu mendongak dan mendapati seorang gadis kecil berada di pelukan Lucien. Ia ingat bahwa gadis itu yang telah membangunkannya selama ratusan tahun, padahal ia sudah cukup menyembunyikan diri di tengah gurun itu.


"Lord, beliau-"


"Dia adalah Masterku, Lucy Atlanta Xeravine. Lucy juga merupakan master Evrard dan Alice." potong Lucien sambil menunjuk dua Jendral miliknya di belakang Blockazard.


Blockazard terlihat terdiam saat melihat kedua temannya yang kini memiliki nama lain, dan ia juga terheran-heran mengetahui jika gadis kecil itu merupakan Master dari Tuan dan kedua temannya.


"Bagaimana bisa?" tanya Blockazard sambil emnatap gadis kecil itu.


Ia baru menyadari jika mana Lucy lebiuh banyak dari pada magia pada umumnya. Dan lagi aroma manis tercium dari inderanya saat Lucy meminta turun dari dekapan Lucien.


"Namaku Lucy, salam kenal." ujar Lucy memperkenalkan diri.


Blockazard berlutut ke arah Lucy, tangan kanannya ke samping dada kirinya lalu berkata, "Salam kenal, hamba adlaah Blockazard salah satu Jendral pelindung Lord-"


"Lucien, namaku sekarang adalah Lucien." potong Lucien agar jendral miliknya tidak salah mengatakan namanya.


"Hamba tahu, Lord Lucien." jawab Blockazard, Lucy tertawa kecil lalu menepuk pundak Blockazard.


"Lucy, bisakah kau membuatnya jadi salah satu Esmelth milikmu?" tanya Lucien mengalihkan pandangan Lujcy dari Blockazard.


Lucy hanya mengangguk, tangannya terulur ke kening Blockazard. Cahaya terang keluar dari tubuh Lucy, gadis itu merapalkan sediit mantra tanpa di dengar oleh Lucien dan yang lainnya.


"Dengan ini kau menjadi esmelth milikku, dan namamu adalah Blue Harcourt."


Wujud Blue harcour langsung saja berubah, Blue Harcourt yang memiliki arti pertahanan kuat berwarna biru. Lucien menyipitkan matanya, kekuatan Blue meningkat pesat bahkan hampir menyamainya. Lucien menoleh ke arah Lucy yang memucat, mana di sekitarnya terkuras dengan cepat.


"Lucy!" Lucien ingin menghentikan ritual itu akan tetapi terlambat.


Kontrak mereka sudah terjalin, bukan karena kontrak itu yang Lucien khawatirkan. Tetapi kondisi Lucy yang memakai mananya melebihi dari biasanya. Tubuh Lucy melemas, dengan cepat Lucien menangkapnya.


"Lucy!"


"Master!"

__ADS_1


Lucy tidak sadarkan diri, sedangkan Blue merasa tubuhnya lebih ringan dan kekuatannya meningkat dengan pesat. Blue langsung saja menatap Lucy yang berada dipelukan Lucien, kini ia paham apa yang terjadi.


"Mantera soul power," gumam Blue, Lucien dan kedua jendral miliknya menoleh ke arah Blue.


"Mantera itu tidak berbahaya, hanya menguras mana yang cukup banyak."terang Blue dan mereka bertiga mengangguk.


"Untuk apa Lucy memakainya? Mengapa ia memperkuat tubuhmu, padahal kau memang di ciptakan dengan kekuatan perlindungan absolut." Tanya Lucien.


"Aku tidak tahu apa yang di pikirkan Master, tetapi sepertinya Master memikirkan sesuatu lebih jauh dari itu." jawab Evrard.


Lucien menghembuskan napasnya, ia memilih berteleportasi ke kota terdekat. Karena jika berjalan bisa menempuh waktu beberapa hari untuk mencapai kota. Lucy di baringkan di atas tempat tidur, Fain setia menemani gadis itu sebelum ia pergi ke kampung halamannya.


"Apa kau akan pergi terlebih dahulu tanpa berpamitan dengan Lucy?" tanya Lucien ayng saat ini bersandar pada pintu.


"Ya, aku memiliki urusan penting yang harus cepat-cepat aku tangani. Suatu saat kita akan bertemu kembali, dan aku harap kalian mengenalku." Jawab Fain sambil mengelus kepala Lucy lembut.


"Kau tidak akan datang keperayaan Kerajaan Night Crow?" tanya Lucien lagi dan Fain menggelengkan kepalanya.


Lucy membuka kedua matanya, ia melihat Fain dengan samar karena mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Gadis kecil itu tersenyum saat Fain tidak menyadari jika ia telah terbangun, tangan mungilnya bergerak menyentuh tangan Fain yang berada di wajahnya.


"Fa-fain," panggil Lucy lirih, anak lelaki itu membulatkan kedua matanya lalu tersenyum lebar.


"Gadis kecilku!" Fain langsung memeluk Lucy dengan erat.


Lucien berdecih lalu menarik pakaian Fain ke belakang, agar anak lelaki itu menjauh dari Lucy. Gadis bersurai keemasan itu tertawa kecil melihat tingkah Lucien yang cemburu. Lucien langsung mengecup bibir Lucy, mengantarkan perasaan hangat untuk gadis kecilnya.


"Enyalah dasar Magia tidak berguna!" balas Lucien tanpa menoleh ke arah Fain.


Lucy tertawa kecil, tubuhnya terasa lemas dan ia merasakan mana miliknya yang terisi dengan lambat. Lucien langsung menatap Lucy tajam, ia ignin meminta penjelasan mengapa Lucy nekat menggunakan mantera yang mampu menghabiskan mana miliknya. Mantera yang di gunakan Lucy bukanlah mantera sihir, melainkan mantera untuk perjanjian dengan para Esmelth dengan memberikan kekuatan lebih. Sebagai gantinya mana milik sang Magia akan terkuras banyak dan biasanya menyebabkan kematian.


Mantera Soul adalah mantera yang meminta kekuatan lebih untuk sang Esmelth dengan  bayaran mana atau nyawa. para keturunan Keluarga Kerajaan biasanya memakai mantera soul, karena mereka memiliki mana yang lebih banyak dari pada magia pada umumnya. Tetapi tidak banyak pula yang tewas karena kehabisan mana.


"Aku hanya mencobanya," ucapan Lucy membuat Lucien tidak bisa berkutik.


Gadis kecil itu lebih keras kepala jika sudah seperti ini, ia ingin menceramahi Lucy jika sudah seperti ini. Tetapi, ia tidak ingin membuat Lucy lebih tertekan dari saat ini.


"Baiklah, aku memaafkanmu kali ini, lain kali aku tidak segan-segan membuatmu tidak bisa berjalan!" ancaman Lucien membuat Lucy terkekeh.


"Jangan remehkan aku, Lucy." Lucy tidak menjawab, ia bangkit dan menarik wajah Lucien.


 


Cup


 

__ADS_1


Kecupan singkat di bibir Lucien membuat mantan Raja Esmelth itu membeku, Lucy kembali tertawa kecil melihat ekspresi terkejut esmelth miliknya. Esmelth itu bangkit berdiri dari duduknya, langkah kaki membawanya pergi dari kamar Lucy.


"Ck, dia malu. Dasar Raja tidak berguna," gerutu Fain sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa aku membuatmu khawatir?" pertanyaan Lucy mengalihkan Fain.


"Tentu saja, dasar Gadis Bodoh! Jangan lakukan itu lagi." jawab Fain sambil mencubit kedua pipi Lucy.


"Maafff," balas Lucy mencoba untuk menjawab.


Fain melepaskan kedua tangannya dari pipi Lucy, anak lelaki itu langsung memeluk Lucy dengan erat. Setidaknya kali ini Lucy tidak terluka, dan ia sangat bersyukur akan hal itu.


"Lucy, aku harus pergi. Ada urusan yang tidak bisa aku lewatkan. Maafkan aku tidak bisa menemanimu di festial Raincar."


Wajah Lucy tiba-tiba saja menjadi sendu, Fain  langsugn saja memilii firasat buruk tentang wajah Lucy yang langsung saja murung.


 


 


Sriiingggg


 


 


Sebuah pedang sudah tepat berada di depan lehernya, Fain  menahan napas takut jika pedang itu akan memotong lehernya.


"Beraninya kau membuat Master bersedih!" desis Evrard yang keluar dari tubuh Lucy dalam sekejap mata.


"He-hei, kau salah sangka. Aku tidak bermaksud membuatnya sedih," jawab Fain sambil mengangkat tangannya ke udara.


"Katakan itu di neraka!"


 


 


***


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2