
Beberapa hari telah berlalu, Lucy sama sekali tidak bebricara dengan Lucien. Sedangkan Lucien hanya bisa pasrah meski sudah menghajar dua jendral miliknya untuk meminta maaf kepada Lucy. Gadis kecil itu tidak peduli dengan permintaan maaf kedua jendral milik Lucien, ia tidak di ajarkan untuk memaafkan orang lain oleh kedua orangtuanya bahkan kakaknya. Tindakan yang membuat dirinya dan Lucien hampir terluka, Lucy tidak akan semudah itu memaafkan pelakunya.
"Master, kita akan berangkat besok pagi," ujar Evrard dan Lucy hanya mengangguk singkat.
Evrard menoleh ke arah Lucien yang terlihat frustasi, ia tahu jika tuannya selalu mencoba merayu Lucy untuk memaafkan kedua jendral mantan Raja Esmelth itu. Evrard mendekat lalu berdiri di samping Lucien, Lucien masih terdiam tidak bergeming sambil menatap kosong hadapannya.
"Mengapa kau tidak bertanya apa yang terjadi padanya?" tanya Evrard.
"Lucy tidak menjawab pertanyaanku satu pun, bagaimana aku dapat menanyakannya?" jawab Lucien tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Kau merasakan kecemasan Master?" Lucien menoleh ke arah Evrard.
"Kecemasan?" Evrard mengangguk lalu menjawab.
"Aku merasakannya, Master takut kita terluka. Perasaan di hatinya begitu rumit hingga kau tidak akan merasakannya, ia hanya gadis kecil yang takut kehilangan. Master tidak ingin kita meninggalkannya, kau pasti tahu jika Master selalu berpikir jauh kedepan." Terang Evrard.
"Dan Lucy berpikir akan kehilanganku hingga membuatnya kembali sendiri?" Evrard mengangguk.
Lucien tersenyum, ia tidak pernah memikirkan perasaan Lucy tentang dirinya. Lucien segera menghampiri Lucy lalu memleuk gadis mungil itu erat-erat. Lucy yang terkejut hanya bisa memukul-mukul bahu Lucien dan memintanya untuk di lepaskan. Evrard tersenyum lalu menoleh ke arah dua jendral yang menatap Lucien dengan tatapan heran.
"Mengapa?" tanya Esmelth bersurai hijau itu kepada Evrard.
"Sudah aku katakan, Master adalah Magi yang melepaskan segel Lord Lucien."
"Aku tahu, tetapi mengapa Lord Lucien sampai seperti itu?"
"Cinta."
"Cinta?"
"Kau bisa melihat tatapan Lord Lucien kepada Master? Bukan tatapan mengasihani atau mengagumi, itu adalah tatapan cinta."
Grea dan Loctus kini mengerti dengan apa yang dikatakan Evrard, mereka masih belum terbiasa dengan Magia yang dekat dengan Lord mereka. Bagi mereka Lucien adalah yang terpenting dalam hidup mereka. Mereka sudah gagal melindungi Lucien di masa lampau, kini mereka ingin melindungi Lucien dengan segenap jiwa mereka.
Hari mulai berganti, mereka menuju hutan Hona yang terletak di antara Kerajaan Hirone dan Kerajaan Javkel. Lucy masih tidak banyak bicara, terkadang ia akan menghiraukan salam dari Grea atau Loctus kepadanya. Gadis kecil yang baru pertama kali terlihat keras kepala, Lucien hanya bisa menghembuskan napasnya saat Lucy juga tidak menghiraukan keberadaannya.
Perjalanan tidak membutuhkan waktu lama karena Lucien memakai teleport agar cepat sampai tujuan. Lucy mengedarkan pandangannya, ia merasakan mana lain yang berbeda dari mana yang ia miliki. Berlari, gadis itu merasakan mana besar yang berbeda dari miliknya. Lucien hanya bisa mengikuti kemana sang Master pergi, gadis itu terlihat lincah dengan melompat menghindari bebatuan dan akar pepohonan.
Kaki mungil milik Lucy akhirnya mengantarkan sampai sebuah padang bunga yang bercahaya dari dalam tanah. Lucy meletakkan tangannya di atas tanah dan merasakan apa yang berada di dalam tanah. Mata kecilnya membulat saat merasakan sesuatu.
"Magic core?" gumam Lucy sambil mengerutkan kening.
Gadis itu dengan cepat dan duduk bersila di atas bunga-bunga yang bermekaran. Menyerap, Lucy mulai menyerap mana yang berada di sekitarnya tanpa pandang bulu.
__ADS_1
Magic core atau inti sihir, di dunia Ether Land memiliki tiga inti sihir yang sangat sulit untuk di temukan oleh para Magia. Para Esmelth menjaga Magic core dengan taruhan nyawa mereka, agar keseimbangan alam tetap terjaga. Magic core dapat di serap oleh Magia untuk meningkatkan kekuatan dan melampaui batas maksimal mana yang mereka miliki. Jika mana yang diserap dari Magic core habis maka, dalam beberapa hari dunia akan menggelap dan tidak ada cahaya matahari untuk kembali memunculkan Magic core di tempat lain.
"Lucy, apa yang kau lakukan?!" tanya Lucien saat bumi mulai bergetar dan para hewan terlihat gelisah.
Lucy tidak bergeming, ia justru terus melakukan ritual menarik mana besar dari dalam tanah. Terlihat para Esmelth hutan mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Beberapa Esmelth ada yang mencoba menyerang Lucy, tetapi tubuhnya terpental jauh sebelum menyentuhnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Grea saat melihat puluhan Esmelth mulai bermunculan.
"Sepertinya tempat ini merupakan kawah Magic core, hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan mana Magic core yang berbeda," terang Loctus saat melihat Lucy yang masih tenang duduk di atas bunga-bunga.
"Blue!" panggil Lucy, Esmelth berjubah zirah itu muncul dari dalam tubuh Lucy.
"Yes, Master!" jawab Blue sambil berlutut ke arah Lucy.
"Tahan mereka selama aku menarik mana dari Magic core, tempat ini akan didatangi lebih dari seratus esmelth." Perintah Lucy.
"Dimengerti." jawab Blue yang langsung saja memasang barrier dengan menanamkan shield miliknya ke dalam tanah.
Seketika, sebuah barrier tercipta melindungi mereka. Grea dan Loctus hanya bisa meringis saat melihat para esmelth yang tidak menyadari keberadaan Lucien. Lucien hanya bisa menatap khawatir dengan apa yang dilakukan Lucy. Gadis kecil itu benar-benar nekat dan tidak berpikir jika akan gagal.
Lucy membaca sebuah buku yang Lucien berikan tentang Magic core, meski ia tahu tidak akan membuatnya bertambah kuat. Lucy hanya memerlukan perluasan kapasitas mana miliknya, karena ia juga tidak dapat memakai sihir. Namun, ia tidak tahu jika tidak hanya sihir yang akan meningkat, tetapi kekuatan fisik juga akan meningkat dengan pesat.
Bleduummm
"Evrard, Fay, Alice, buatlah batu pemanggilan di sekitar tempat ini!" Lucy kembali memerintah, ketiga esmelth itu keluar dari dalam tubuh Lucy dan mulai melakukan tugas mereka.
Evrard, Fay dan Alice mulai pergi keluar barrier dan memulai pekerjaan mereka. Blue langsung memasang barrier di sekitar ketiga Jendral itu. Getaran bumi tidak membuat Lucy takut dan menyudahi ritual penyerapan mana Magic core. Gadis itu dengan santainya masih menyerap tanpa ada kendala, meski terkadang keningnya berkerut karena merasakan sensasi aneh di tubuhnya.
"Gloria, Fiona, aku lihat kalian sehat-sehat saja," kekeh Lucien yang sudah berada di belakang esmelth yang lebih kuat dari esmelth lainnya.
"Lo-lord Varoksya?" kedua esmelth wanita itu membulatkan mata saat melihat pria yang mereka kenal menyapa dengan senyuman khasnya.
"Namaku sekarang adalah Lucien, jadi berhenti menyebut nama lamaku," jawab Lucien yang mendekat.
Sedangkan kedua wanita esmelth itu mulai berlutut di udara menghadap Lucien. Lucien tersenyum sambil menepuk kedua bahu mereka berdua.
"Baguslah kalian sudah berkumpul, hanya tinggal beberapa orang saja yang harus kita panggil di altar pemanggilan nanti." Ujar Lucien dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Ta-tapi, My Lord. Magia itu-"
"Magia itu adalah Masterku dan yang lainnya. Tidak perlu khawatir, kekuatan Magic core tidak akan membuat sihirnya meningkat, Master tidak bisa memakai sihir," potong Lucien.
Seketika dunia menggelap, tidak ada sinar yang menerangi seakan matahari berhenti bersinar. Lucien menjentikkan jarinya, kunang-kunang terlihat dan menyinari sekitar Lucy yang telah selesai menyerap mana Magic core. Raut wajah Lucy sama sekali tidak berubah setelah mendapatkan mana dari Magic core, datar tanpa ekspresi puas sedikit pun.
__ADS_1
Pembangunan batu pengambilan pun kini telah selesai, para Esmelth liar itu terlihat panik dan pergi meninggalkan para Jendral yang kini mendekat ke arah Lucy. Lucien mendekat dan memeluk Lucy dari belakang, melihat Lucien yang mulai bermanja padanya membuat Lucy tidak memiliki pilihan lain.
"Apa maumu kali ini, Lucien?"
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan diriku, aku semakin cinta padamu."
Lucy memutar bola matanya jengah, membiarkan Lucien yang menciumi wajahnya. Lucien mengenalkan dua esmelth baru yang datang, ia tidak meminta untuk Lucy untuk menjadikan mereka esmelth miliknya. Tidak baik memaksa Lucy terus menerus, Lucien akan membiarkan mereka ikut tanpa harus menjadikan mereka esmelth milik Lucy.
Lucy menatap iris mata Lucien yang menatapnya penuh cinta, tidak ada keraguan dari mantan Raja Esmelth itu. Mesum dan menjengkelkan, Lucy hanya bisa menggelengkan kepalanya hingga ia mulai merapal mantra untuk membuat kontrak.
"Dengan ini aku menjalin kontrak dengan kalian!"
Cahaya terang muncul dari tubuh mereka, "Veryl, Kharel, Odette, Zoe! Itulah nama baru kalian!" lanjut Lucy.
Wujud mereka berempat langsung saja berubah, langsung membuat kontrak dengan empat esmelth mampu menguras mana milik Lucy. Lucy jatuh terduduk, beruntung ia meresap mana Magic core sebelumnya. Lucien segera memeluk tubuh Lucy dan mencium kepala Lucy berkali-kali. Lucien khawatir dengan keadaan Lucy yang langsung saja memucat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lucien.
"Aku baik-baik saja, biarkan aku beristirahat sejenak," jawab Lucy sambil menutup kedua matanya.
Lucien mengangguk dan membiarkan Lucy beristirahat dalam dekapannya, fokusnya kini teralih pada keempat Jendral miliknya yang sudah memiliki nama baru.
Veryl, Kharel, Odette dan Zoe, nama-nama yang begitu unik yang baru saja didengar Lucien. Keempat Jendral miliknya kini bersimpuh di hadapan Lucien.
"Selamat, kini kalian memiliki seorang Master." Ucapan bangga Lucien membuat keempat Esmlelth itu tersenyum senang.
Hari itu begitu gelap, untuk beberapa hari kedepan mereka tidak bisa meninggalkan tempat itu karena akan berbahaya. Monster-monster akan bangkit dan semakin kuat kala tidak ada cahaya matahari atau bulan yang menerangi Ether Land.
Veryl memeriksa tubuhnya yang sedikt berubah dan kekuatannya meningkat pesat. Ditambah dengan death scythe miliknya yang berubah bentuk dan terasa lebih tajam dari sebelumnya. Kekuatannya utamanya adalah angin, ia dapat memanipulasi angin dan membuatnya menjadi senjata yang sangat berbahaya.
Di sisi lain Kharel yang merupakan seorang bangsawan, menciptakan cahaya untuk penerangan di sekitar mereka. Kekuatan utamanya adalah cahaya, ia dapat menembakkan sesuatu dengan kecepatan cahaya. Kharel merupakan sahabat Veryl sejak lama, karena itu melihat Veryl yang terluka ia akan membalasnya.
Odette, esmelth wanita itu mulai diceramahi oleh Alice dan Fay. Mereka bertiga memang dekat sedari dulu dan saling membantu, kekuatan utama Odette adalah suara. Setiap perkataannya merupakan doa yang langsung tersampaikan ke Dewa. Tetapi, ada beberapa hal yang tidak bisa ia ubah, seperti cahaya matahari yang saat ini menghilang.
Dan terakhir adalah Zoe, wanita itu memiliki kekuatan mendengarkan suara hewan dan tumbuhan. Zoe juga bisa mengendalikan alam dan hewan sesuka hatinya, tetapi ia memiliki batasan-batasan utnuk mengendalikan mereka semua.
***
__ADS_1