
Revina hanya menaikkan satu alisnya saat Lucy mengatakan hal yang selama ini gadis itu tutupi. Reaksi Rozario justru berbanding terbalik dengan Revina, ia tahu Kerajaan besar Xeravine. Kerjaaan yang mementingkan segala sihir dari apapun, bahkan ia sampai mendengar desas desus jika mereka membunuh sang Putri, karena bagi mereka tidak memiliki sihir adalah sebuah aib bagi kerajaan.
"Aku tidak peduli," jawab Revina sambil melayang mendekati Lucy.
Tatapan hangat Esmelth wanita itu mampu membuat hati Lucy tergerak, tatapan yang sama seperti kakaknya berikan. Tatapan penuh kasih sayang terhadap anak cacat sepertinya. Lucy tidak pernah berpikir untuk memiliki orangtua lain selain orangtua kandungnya yang tega memburunya, dan juga para Esmleth miliknya yang sudah ia anggap seperti keluarga.
"Aku benar-benar sungguh memaksa, aku tidak ingin gadis sepertimu terluka, membayangkannya saja aku sudah ingin mengurungmu dalam kamarku!" ujar Revina yang terlihat polos dengan semua perkataan jujurnya.
"Untuk menghindari dari serangan Kerajaan Xeravine, aku yakin kalian bisa melakukannya. Tetapi, akan sulit jika terus menerus membunuh dan menghindari mereka. Bagaimana jika Lucy memiliki status baru? Dengan kedudukan dan marga baru, kau dalam perlindungan Kerajaan Nightcrow," ujar Rozario mencoba meyakinkan.
Lucien tampak berpikir, Lucy hanya menunggu keputusan Lucien. Ia tidak ingin Lucien marah dengan apa yang ia pilih. Evrard bangkit dari berlutut dan mendekati Lucien, Blue melakukan hal yang sama. Mereka bertiga kini saling beradu pandang, Evrard memulai berdiskusi lewat mindlink. Meski Lucy mendengarnya, ia hanya diam dan menunggu keputusan Lucien. Apapun hasil yang di tentukan Lucien, ia hanya akan menuruti perintah Esmelth yang menolongnya itu.
Setelah berdebat cukup lama, Lucien akhirnya mendapat jawaban yang memuaskan dari kedua pengikutnya. Mantan Raja Esmelth itu kembali menatap Rozario, memang tingkahnya tidaklah sopan terhadap sang Raja, tetapi itulah gaya Lucien menghadapi semua orang. Magia atau bukan, mereka sama di mata Lucien. Hanya Lucy yang berbeda, apakah itu pengaruh cinta pada sang Master? Lucien tidak ingin memusingkannya.
"Aku menerimanya, lagi pula Lucy harus memiliki kedudukan untuk memasuki Akademi Magia," ujar Lucien sambil mengelus kepala Lucy lembut.
"Akademi Magia? Jadi Lucy ingin belajar sihir di sana?" tanya Revina yang terlihat antusias.
Lucien hanya mengangguk. Akademi Magia, berupa sekolah sihir untuk memperlihatkan seberapa kuat sihir dan para Esmelth dari seluruh penjuru dunia. Bagi yang mencapai peringkat tertinggi, ia memiliki akses untuk bertemu dengan Raja Esmelth dan mencoba membuat kontrak untuk mengikat sang Raja Esmelth. Namun, hingga saat ini tidak ada yang bisa mengikat kontrak dengan sang Raja. Kekuatan dan mana mereka tidak sebanding dengan perjanjian kontrak yang di inginkan oleh sang Raja Esmelth.
"Aku tidak begitu tertarik dengan Akademi itu, tetapi jika Lucien yang menginginkannya ... aku hanya bisa menurutinya." jawab Lucy.
Rozario menatap aneh ke arah Lucy, gadis itu adalah seorang Master. Seharusnya ia dapat mengendalikan semua para esmelth miliknya sesuka hati. Namun, gadis itu justru menuruti salah satu Esmelth miliknya.
"Jika semua sudah kita sepakati, aku akan membuat surat pernyataan pengangkatan Putri untuk Lucy. Revina, kau bisa menemani Lucy dan berikan apa yang ia butuhkan. Lord Lucien, Anda bisa ikut denganku," ujar Rozario sambil memberi hormat pada Lucien.
"Kalian, jaga Lucy dan Ratu," ujar Lucien pada keempat pengikutnya.
*"Yes, My lord.*" jawab mereka serentak.
Selepas kepergian Lucien dan Rozario, Revina langsung saja memeluk Lucy. Wajah haru Revina terlihat jelas di wajah cantik Esmelth itu, Lucy tidak tahu harus berekspresi seperti apa kali ini. Ia senang jika Revina senang, dan mengenai keluarga baru, Lucy tidak tahu harus bersikap seperti apa. Beberapa tahun ini ia hidup dengan bebas, ia tidak pernah di layani atau bahkan di perlakukan baik selain dengan para Esmelth miliknya dan juga Fain yang merupakan teman barunya.
"Akhirnya aku memiliki putri!" Lucy tersenyum melihat wajah bahagia Revina.
Esmelth wanita itu memeluk Lucy erat-erat, Lucy dapat merasakan pelukan hangat yang selama ini ia idamkan dari seorang yang berstatus Ibu. Bolehkah kali ini ia menangis, Lucy meneteskan air mata bahagianya. Setegar apapun Lucy selama ini, ia tetaplah gadis kecil yang rapuh. Untuk yang pertama dan terakhir kalinya, mereka semua melihat Lucy yang menangis dengan kerasnya.
Di pelukan Revina, gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya. Alice dan Fay yang melihat itu menutup mulut mereka dengan tangan, perasaan rindu yang mereka rasakan dari sang Master begitu menyakitkan. Di sisi lain, Lucien menitikkan air matanya tanpa sebab. Ia merasakan apa yang Lucy rasakan yang sebenarnya kali ini. Rozario yang melihat air mata Lucien sedikit terkejut dan bahkan ia bungkam dengan senyuman Lucien yang mengarah padanya.
"Gadis kecil itu benar-benar memendamnya selama ini," ujar Lucien sambil menghapus jejak air matanya.
__ADS_1
Wajahnya kembali mendingin setelah merasa lebih baik, "Aku tidak ingin melakukannya dengan ancaman," ujar Lucien menatap serius Rozario.
"Hamba hanya ingin melihat Ratu hamba bahagia, Lord Lucien. Apapun persyaratan yang Anda berikan, asal tidak melukai Ratu hamba ... Anda akan mendapatkannya tanpa perlu mengancam." Jawab Rozario, Lucien tersenyum miring, inilah yang ia suka dari Kerajaan Nightcrow.
Rozario de Chimera, Raja dari kerajaan Nightcrow selama puluhan tahun. Ia sudah menjadi Raja sejak usia belia, dan karena itu Rozario merupakan Raja yang sudah matang dengan segala aspek tentang sihir dan juga Kerajaan. Memiliki Ratu yang telah lama tiada, dan mendapatkan renkarnasi sang Ratu yang menjadi Esmelth merupakan hal yang paling beruntung untuk sang Raja. Kerajaan Nightcrow termasuk Kerajaan yang mampu melawan kerajaan-kerajaan lain dengan keunggulannya pada sihir mereka yang mengendalikan alam sekitar.
Lucien yang sebagai Esmelth dan merupakan Wali dari Lucy akhirnya menandatangi perubahan nama Lucy. Lucy Atlanta Xeravine berubah menjadi Lucy Atlanta Chimera. Tidak terlalu banyak perubahan, karena Lucien memiliki rencana untuk Lucy.
Lucy di ajak berkekeliling Istana oleh Revina, bahkan kamar Lucy sudah di siapkan dengan kilat oleh para Esmelth milik para Magia yang merupakan pelayan pribadi sang Ratu. Kamar yang begitu luas itu membuat Lucy sedikit canggung, Revina dapat merasakan kecanggungan Lucy saat melihat raut wajah gadis kecil itu.
"Ada apa, Lucy? Apa kau tidak suka?" tanya Revina sambil berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Lucy.
"Bukan, aku hanya tidak terbiasa. Sebelumnya aku tinggal di ruang bawah tanah kerajaan dan gubuk tua bersama Lucien," jawab Lucy sambil tertawa kecil.
Evrard, Blue, Alice dan Fay yang mendengarnya hanya bisa menahan amarah dan mengepalkan kedua tangan mereka. Tidak baik jika Lucy melihat kemarahan mereka disaat seperti ini. Namun, tidak dengan Revina. Ratu kerajaan Nightcrow itu terlihat murka dengan mengeluarkan aura membunuh yang cukup kuat untuk menggetarkan Istana.
"Revina, jaga amarahmu!" ujar Lucy yang merasa takut dengan kemarahan sang Ratu.
"Beraninya mereka memperlakukanmu seperti sampah! Kerajaan itu harus di musnahakan!" Lucy tidak dapat berkata-kata saat Revina membelanya.
"Mama," Lucy mencoba menenangkan sang Ratu, dan beruntung panggil Lucy membuat Esmelth itu menghentikan aura membunuh yang ia keluarkan.
Revina menatap Lucy dengan tatapan berseri-seri, lagi-lagi wanita Esmelth itu menggendongnya lalu mengajaknya berputar-putar.
"Panggil aku sekali lagi," pinta Revina sambil tersenyum lebar.
"Mama," jawab Lucy, lagi-lagi Revina mengajak Lucy berputar sampai Lucien datang dengan raut wajah khawatir.
Evrard yang mengetahui kedatangan Lucien mendekatinya, "Tidak ada masalah," ujar Evrard.
"Aku merasakan aura membunuh yang kuat dan kau mengatakan tidak ada masalah?!" raut khawatir Lucien dapat Evrard mengerti, pria bersurai silver itu mulai menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
"Tentang master yang selama ini tinggal di ruang bawah tanah Kerajaan Xaravine, wanita itu marah besar saat mengetahui masa kelam Master." Jawab Evrard, kini Lucien dapat mengerti dengan apa yang terjadi.
Lucien memijat kepalanya yang terasa pening, ia membutuhkan mana Lucy saat ini untuk menyegarkan kepalanya. Lucien berjalan mendekat lalu menatap Revina yang tengah asik berbincang dengan Lucy.
"Lucy," panggil Lucien, Lucy menoleh dan mendapati wajah pucat Lucien.
Sedikit terkejut dengan wajah Lucien yang memucat, gadis itu meminta turun dari Revina dan membiarkan Lucien menggendongnya.
__ADS_1
"Bisa kalian keluar dari ruangan ini?" tanya Lucien sambil membentangkan kedua sayapnya, ia tidak ingin di lihat orang lain saat memakan mana Lucy.
"Yes, My Lord." Jawab mereka serentak, Lucien langsung membungkus tubuhnya dan Lucy dengan kedua sayap hitam miliknya.
Mereka semua keluar ruangan sampai Revina mngerutkan dahinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Mantan Raja Esmelth itu.
"Apa yang terjadi? Dan apa yang mereka sedang lakukan di dalam sana?" tanya Revina kepada Evrard.
Evrard menoleh lalu memberi membungkuk hormat sekilas pada sang Ratu, "Ada yang bisa saya lakukan, Yang Mulia Ratu?" tanya Evrard.
"Jawab pertanyaanku!" jawab Revina yang ingin tahu apa yang terjadi.
"Master sedang memberi makan Lord Lucien," jawab Evrard dengan raut wajah datarnya.
"Makan? Dengan cara?" pertanyaan Revina membuat Evrard tidak bisa berkata-kata.
Apa yang harus ia katakan? Mengatakan bahwa Lucien mencium Masternya hingga selesai? Sudah pasti Lucien akan di cap sebagai pedhopil jika mereka mengetahuinya. Evrard kembali berpikir untuk memilah kata yang pas untuk diucapkan, tetapi ia tidak mendapatkan kata-kata yang baik untuk di terangkan pada sang Ratu.
"Berciuman, Lord Lucien sudah mengklaim jika Master adalah pengantinnya." Jawab Alice dengan polosnya.
Revina langsung saja membulatkan kedua matanya, sedangkan Evrard langsung saja mengusap wajahnya kasar. Entah apa yang di pikirkan oleh sang Ratu, tetapi dari raut wajah Esmelth wanita itu menandakan suatu hal yang baik. Terdapat sinar binar terlihat di iris kedua matanya.
"Lucy akan menikah dengan Lord Lucien? Itu bagus sekali, benar-benar bagus, aku akan merancang pesta pernikahan untuk putriku dengan Lord Lucien!" jawab Revina yang langsung saja membuat Evrard menganga.
"Tunggu-tunggu, bicarakan itu nanti, Lucy masih terlalu kecil untuk mengenal yang namanya pernikahan. Sebaiknya Master menikmati kehidupannya saat ini," ujar Evrard.
Revina tampak terlihat berpikir, kali ini ia setuju dengan Evrard, banyak hal yang ingin ia tunjukan kepada Lucy sebagai seorang Ibu. Wajah Revina berseri-seri dan ia meninggalkan tempat itu untuk menemui Rozario membicarakan tentang pernikahan Lucy suatu hari nanti.
"Aku harap Lord Lucien baik-baik saja, akhir-akhir ini ia terlalu menekan kekuatannya." Kata Blue yang bersandar pada dinding.
"Lord Lucien butuh pelampiasan mengeluarkan kekuatannya, kau memiliki ide?" tanya Fay kepada Evrard.
"Mudah saja, arahkan saja kekuatan Lord Lucien ke segala penjuru arah untuk menemukan para Jendral yang tersisa." jawab Evraed yang seperti biasa tidak memiliki hati untuk menumbalkan banyak orang.
"Kita tunggu sampai Lord Lucien selesai dengan urusannya," lanjut Blue yang menghilang untuk melihat keadaaan sekitar kerajaan.
***
__ADS_1