The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 19


__ADS_3

Lucy membuka kedua matanya, pertama kali yang ia lihat adalah bibir tipis milik Lucien. Gadis itu memundurkan sedikit wajahnya, hingga dapat melihat wajah tampan Esmelth miliknya. Lucy tahu pria itu tidaklah tidur, Lucien hanya ingin mendekap tubuhnya tanpa ingin diganggu.


"Lucien," panggil Lucy dengan suara serak.


Ia membutuhkan air untuk membasahi kerongkongannya yang seperti sudah beberapa hari tidak sadarkan diri. Lucien membuka kedua matanya dan melihat Lucy dengan wajah pucat.


"Istriku tercinta, kau sudah bangun rupanya!" Lucien memeluk Lucy dengan erat.


"Napasku sesak!" Lucy memukul bahu Lucien agar pria itu melepaskannya.


Lucien melonggarkan pelukannya, ia menciumi wajah Lucy dengan penuh semangat. Lucy yang terus diciumi seperti itu memilih pasrah, karena Lucien pasti akan semakin menjadi jika ia melarangnya.


"Aku haus!" pekik Lucy saat Lucien melemparnya ke atas dan membuat tubuh gadis itu melayang di udara.


Lucien menangkap tubuh Lucy dan kembali menciumi bibir Lucy dengan gemas. Sekali jentikan jarinya, segelas air sudah berada di atas nakas. Lucien mengambil segelas air itu dengan Lucy yang masih di dalam gendongannya. Lucien sudah terlihat seperti seorang ayah yang sedang memanjakan putrinya.


Lucy menghabiskan air minum itu dengan cepat, gadis itu menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Regenerasi luka di tubuhnya sudah selesai bekerja, mana miliknya menyembuhkan luka dalam yang di akibatkan oleh segel yang tertanam di punggungnya.


"Di mana kita?" tanya Lucy sambil memandangai sekelilingnya.


"Dimensi lain milik Kharel," jawab Lucien sambil terus menyundulkan wajahnya ke wajah Lucy.


"Dimensi?" Lucy membeo.


"Seperti yang kau ketahui, alam ini memiliki empat dimensi. Dimensi pertama adalah alam para manusia, esmelth, tumbuhan, hewan, dan makhluk lain yang terlihat oleh mata. Dimensi kedua adalah alam yang hanya dapat dilihat dengan inner. Manusia Idealis, manusia moralis, manusia religius, mempunyai dua penglihatan, yaitu penglihatan mata fisik dan penglihatan inner, oleh karena itu dia hidup dalam alam dua dimensi, yaitu alam realitas dan alam maya."


Lucien berhenti sejenak melihat raut wajah Lucy yang terlihat antusias, ia tersenyum dan mengecup kening Lucy.


"Dimensi ketiga adalah dimensi para Esmelth dan makhluk lain tinggal, hanya magia terpilih yang dapat masuk ke dimensi ketiga. Terakhir adalah dimensi keempat, atau mereka menyebutnya dimensi persona. Dimensi persona adalah dunia lain yang dibuat oleh esmleth, hanya esmelth yang memiliki kekuatan khusus yang dapat membuka dunia mereka sendiri. Esmelth lain pun tidak dapat memasuki dunia esmelth lainnya. Jadi, apa kau sudah paham?" lanjut Lucien.


Lucy mengangguk mengerti, dengan kata lain itu adalah dunia buatan dengan kekuatan esmelth. Lucy dapat melihat kegelapan di luar jendela, kegelapan yang seperti malam hari di penuhi oleh bintang dan aurora.


"Sampai kapan kita akan berada di sini?" tanya Lucy sambil mengeratkan pelukannya.


"Sampai kau sadar, sekarang kau sudah sadar dan kita akan pergi dari tempat ini. Tetapi, sebelum kita keluar aku ingin memakanmu," jawab Lucien yang langsung saja mecium bibir Lucy dengan sedikit kasar.


Rasanya sudah lama Lucien tidak memakan mana Lucy dengan cara seperti ini, ia sangat merindukan saat-saat dirinya hanya berdua saja dengan Lucy. Tidak ada yang mengganggu mereka berdua, tetapi Lucien cukup sadar diri dengan tidak melakukan hal di luar akal sehat. Lucy masih terlalu belia untuk ia nodai, dan akan ada saatnya mereka bersatu untuk selamanya.


Lucy tertawa kecil saat Lucien mulai menautkan lidahnya dan bermain-main dengan lidah Lucy. Menit demi menit terlewati, Lucien tidak sadar akan apa yang di lakukannya sudah memakan waktu yang cukup lama. Setelah merasa cukup, Lucien melepaskan tautan bibir mereka. Lucy terlihat sedikit terengah, karena harus memanjakan Lucien.


Lucien tersenyum sambil mengecup kening Lucy, ia memberiskahn sisa saliva yang berada di pipi Lucy. Merasa sudah lebih baik, pria itu kembali menggendong tubuh Lucy dan berjalan keluar ruangan. Lucien melangkahkan kedua kakinya memasuki ruangan besar yang ia yakini sebagai ruang tamu.


Semua Jendral tengah duduk dan begitu bahagianya mereka saat melihat Lucy yang telah sadar. Odette segera mendekat dan bersimpuh dengan kedua kakinya di depan Lucien.


"Maafkan saya yang telah menyakiti Anda, Master."


Lucy hanya tersenyum riang, ia tahu semua itu bukan kesalahan Odette. Melainkan segel di tubuhnya yang bereaksi saat Odette ingin menyembuhkannya.


"Kau tidak menyakitiku, lagi pula aku baru mengetahui jika ada segel di tubuhku," jawab Lucy sambil menarik kecil rambut Lucien.

__ADS_1


Odette langsung melirik Lucien, seharusnya Tuannya itu mengetahui jika di tubuh Lucy memiliki beberapa segel. Wanita itu terdiam saat iris berwarna sienna miliknya bersitatap dengan iris rubi milik Lucien. Odette ingin bertanya, tetapi pasti akan membuat suasana saat ini menjadi lebih kacau.


"Kharel, kita pergi sekarang," ujar Lucien sambil tertawa kecil saat Lucy sudah menjadi dirinya sendiri.


Kharel menurut, pria itu membuka portal untuk kembali ke hutan Moa. Sesampainya mereka di hutan Moa, Lucy mendapatkan pesan dari sang Ratu. Lucy tersenyum cerah saat mendapati orangtua angkatnya yang tengah berada di taman bunga kesayangan sang Ratu. Setelah pembangunan batu pemanggilan selesai, saat itu juga Lucy berpamitan kepada sang Ratu untuk pergi secepatnya.


Melanjutan perjalanan ke hutan Yuan yang terdapat di wilayah Kerajaan Mao Song, tetapi secara kepemilikan hutan Yuan adalah milik kerajaan Xia Qing. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama jika berjalan kaki, dan Lucy ingin menikmati  hal itu. Melewati kota-kota yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Lucy berkeliaran sendiri, ia ingin menkmati pemandangan Kota Lao, jalanan berbatu marmer itu terlihat begitu asri dari kota sebelumnya mereka datangi. Langit malam yang bertabur bintang membuat pemandangan kota itu terlihat seperti di surga.


Lucy melanjutkan perjalanannya menuju bukit, ia ingin melihat indahnya Kota Lao dari sana. Setelah mencapai atas bukit, Lucy mendapati pemandangan alam yang begitu indah. Ia tidak pernah melihat keindahan seperti sekarang, pemandangan langit betabur bintang di tambah dengan gemerlap lampu yang dinyalakan dari Kota Lao.


Lucy duduk di rerumputan untuk menikmati terpaan angin yang menerpa wajahnya. Suara hewan malam terdengar seperti alunan musik yang memanjakan telinga. Hingga Lucy tidak sadar ada seseorang bersurai putih yang tengah menatap dirinya tajam.


"Apa yang dilakukan anak kecil sepertimu di sini?"


Lucy menoleh dan menadapati seorang pemuda tampan dengan tatapan tajam menatap dirinya. Lucy kembali menatap arah Kota Lao dan mengabaikan lelaki yang ia rasa seorang Esmelth.


"Kau! Berani-beraninya mengabaikan pertanyaanku!"


Baru saja lelaki itu ingin menarik tubuh Lucy, sebuah shield langsung saja terlihat dan menghantarkan sebuah arus listrik. Lelaki itu mengernyitkan dahi, dan ia baru menyadari jika gadis di depannya memiliki mana yang besar dari pada magia pada umumnya.


"Apa kau seorang Bangsawan atau dirimu adalah anggota Kerajaan?"


Lucy yang merasa terganggu akhirnya kembali menoleh menatap lelaki yang sedikit merintih karena terkena sengatan listrik dari shield milik Blue.


"Bisakah kau diam? Aku sedang menikmati pemandangan malam ini," jawab Lucy ketus.


"Ke mana Esmelth milikmu?" tanya lelaki itu sambil duduk bersila dan membuat sesuatu dari kertas.


Lucy melirik dengan ekor matanya, lelaki itu tengah serius membuat sesuatu dan akhirnya selesai hanya dalam beberapa detik. Lucy menoleh penuh dan menatap tangan lelaki itu, sebuah lampion dengan api yang keluar dari jari telunjuk lelaki itu.


Lucy mengerutkan keningnya, ia kembali meneliti pakaian lelaki itu yang lebih mirip seperti berandalan. Ia bahkan yakin, lelaki itu hanya suka akan keributan dan membuat onar di sekelilingnya. Lelaki itu menoleh ke arah Lucy dan tersenyum miring, lelaki itu menarik tangan Lucy agar dapat memegang lampion.


"Berdiri dan terbangkanlah."


Lucy menurut, ia berdiri lalu melepaskan lampion itu ke udara. Seketika banyak lampion yang terbang ke langit dari berbagai tempat, gadis itu tersenyum lebar dan kilauan di matanya tidak dapat di bohongi, jika gadis itu tengah terpukau akan keindahan ribuan lampion yang terbang ke atas langit.


"Hari ini adalah Festival Tanshu, para penduduk Kota Lao memiliki tradisi menerbangkan lampion untuk menghantarkan doa pada Dewa langit. Dan aku biasanya yang akan memandu mereka untuk menerbangkan lampion dari bukit ini," jelas lelaki itu sambil tersenyum simpul ke arah langit.


"Siapa namamu?" tanya Lucy yang kini mulai tertarik pada Esmelth di sebelahnya.


"Poziaru, Tuanku menamaiku seperti itu," jawab lelaki itu sambil menoleh kearah Lucy.


"Aku-"


"Master!"


Ucapan Lucy terpotong saat Blue yang langsung saja keluar dari dalam tubuhnya. Lucy mengerutkan kening saat Blue mulai bersiaga seperti hendak melindungi dirinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Lucy menatap heran ke arah Blue.


"Lelaki itu berbahaya, jika kau memberi tahu namamu ... tubuhmu bisa terbakar hingga habis karena kutukan darinya." Terang Blue.


"Blockazard?" Poziaru tercengang saat melihat kehadiran teman lamanya yang telah menghilang selama beberapa ratus tahun terakhir.


"Namaku bukan lagi Blockazard, Master telah memberi nama baru untukku," jawab Blue sambil menancapkan tameng besar miliknya ke tanah.


Poziaru tertawa kecil, ia tidak menyangka temannya yang memiliki sifat sekeras batu itu ternyata telah memiliki seorang Master yang hanya seorang gadis kecil yang memiliki mana berlebih.


"Apa yang kau lakukan dengan gadis itu di sini?" tanya Poziaru sambil melipat kedua tnagannya ke depan dada.


"Kami semua sedang melihat-lihat kota sebelum menuju Hutan Yuan," jawab Blue seadanya.


"Apa yang kalian lakukan dengan perjalanan jauh seperti itu?" tanya Poziaru menatap curiga.


"Membangun altar pemanggilan, Lord Lucien akan mengumpulkan semua Jendral miliknya kembali untuk mengabdi kepada Master."


Poziaru mengerutkan keningnya, setelah beberapa saat ia paham akan siapa yang dimaksud dengan Lord Lucien. Lelaki bersurai putih itu membulatkan kedua matanya, merasa tidak mungkin ia mencoba memberi kutukan kepada esmelth bernama Lucien.


"Lucien von de Luch!" setelah mengucapkan kalimat kutukan sebuah kobaran api terlihat di tengah kota.


Blue yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, betapa bodoh temannya yang telah mencoba memberi kutukan kematian kepada tuannya sendiri. Tidak sampai beberapa lama kobaran api itu menghilang, tetapi saat itu juga Lucien yang terbakar oleh api muncul di hadapan Poziaru.


 


 


Bugh!


Kretak


 


 


Lucien langsung saja menendang leher Poziaru dan terdengar suara retakan yang mungkin adalah tulang lehernya yang patah. Blue lantas dengan cepat menutup mata Lucy agar tidak melihat Lucien yang sedang terlihat kesal. Lucien berdiri dengan tegap, api yang membakar tubuhnya perlahan menghilang dan tidak melukai tubuhnya sedikit pun. Dengan tatapan tajam, Lucien menatap jendral miliknya yang sudah dengan berani mencoba mengutuknya.


"Berani-beraninya kau bermain api denganku, Poziaru!"


Poizaru yang menerima tendangan dahsyat itu mencoba berdiri setelah menabrak pohon besar, kedua matanya terbuka lebar dan menatap tidak percaya siapa yang berdiri di hadapannya.


"Lo-Lord Lucien?"


 


 


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2