The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 24


__ADS_3

Lucien tidak bisa diam sejak Lucy tidak sadarkan diri, ia hampir saja membakar sekitarnya jika tidak di hentikan oleh Rev. Lucien terlalu panik sehingga tidak bisa membedakan antara pingsan dan mati. Jika Lucy sadar, gadis itu pasti akan tertawa sampai menangis melihat tingkah laku Lucien.


"Sampai kapan Lucy tidak sadarkan diri?" tanya Lucien yang baru kali ini memperlihatkan sisi lemahnya.


"Aku tidak tahu, mana tidak masuk ke dalam tubuhnya. Ini sangat buruk untuk menyembuhkan dari dalam," jawab Odette yang berusaha terlihat tenang.


Tidak ada yang tidak tenang disaat Master mereka sekarat seperti sekarang. Tetapi bagi Rev, Lucy hanya tertidur, gadis itu kelelahan setelah memakai mana yang sangat banyak dari yang seharusnya ia pakai. Waktu sudah menunjukkan pagi hari, dan artinya Lucy sudah tidak sadarkan diri sekitar enam jam. Waktu yang cukup sebentar bagi Rev, tetapi cukup lama bagi esmelth lainnya.


"Aku akan mencoba memanggilnya dari alam bawah sadar, kalian bisa melihat proyeksi diriku  dengan Chanara," ujar Rev sambil memberikan bola bersayap biru yang terbang ke arah Lucien.


"Chanara tidak berbulu," gumam Lucien.


"Chanara bukan hewan!" decak Rev yang menatap malas tuannya.


Rev langsung saja mengambil tangan Lucy dan berbaring di sisi sang Master, ia menutup mata dan mencoba masuk ke dalam alam bawah sadar Lucy.


Pertama kali yang ia lihat adalah sebuah penjara, penjara yang ia lihat saat Hellson di bunuh. Rev mengerutkan dahinya, tempat di mana Hellson terpasung kini berganti menjadi seorang gadis kecil bersurai pirang. Gadis kecil itu penuh dengan luka cambukan di seluruh tubuhnya, bau anyir tempat itu entah mengapa bisa Rev rasakan.


Seseorang masuk dengan membawa cambuk dan senampan roti yang sudah berlumut. Di lemparkannya nampan itu ke wajah sang gadis, dan beberapa kali cambukan ia layangkan untuk membangunkan gadis kecil itu. Entah apa yang di katakan pria bertubuh tambun itu, wajah suramnya terlihat sedang memaki sang gadis hingga beberapa kali memberikan tendangan yang cukup membuat Rev menutup matanya sejenak.


Setelah pria itu keluar, Rev menoleh ke arah sang gadis. Gadis itu hanya diam sambil mengambil roti yang sudah berlumut itu. Dengan susah payah gadis itu memakannya, meski beberapa kali ia hampir tersedak.


Rev mendekat, ia ingin melihat wajah gadis itu, mengapa gadis itu bisa masuk ke dalam alam bawah sadar Lucy. Saat gadis itu mendongak, Rev menghentikan langkahnya. Tubuhnya mematung dan darahnya berdesir saat melihat wajah kumuh gadis itu.


"Ma-master?" Rev membulatkan kedua matanya, gadis kecil itu tersenyum dan berdiri.


Mematahkan rantai yang membelenggu tubuhnya, gadis itu berjalan mendekat ke arah Rev sambil menarik tangan esmelth itu.


"Tolong aku," pinta gadis kecil itu, Rev hanya bisa mengangguk sambil mengikuti langkah kecil gadis itu.


Tempat mereka mulai berganti, saat ini mereka berada di halaman Istana. Gadis kecil itu menunjuk ke arah tengah taman, Rev mengikuti arah tunjuk Lucy dan menemukan gadis kecil itu tengah terikat di sebuah tiang kayu.


"Apa-apaan ini?"


Rev melihat Lucy yang sedang disiram air, bahkan ada yang menyiramnya dengan minyak, cat, dan darah hewan. Semua orang tertawa dan menatap jijik ke arah Lucy, Rev mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu jika itu semua tidak nyata, tetapi ia dapat merasakan genggaman Lucy kecil yang berada di sampingnya.


"Tolong aku,"


Lucy di genggaman Rev menghilang, sedangka Lucy yagn terpasung di tiang kayu menoleh ke arah Rev. Dengan wajah pucat dan juga darah yang keluar dari kepalanya, Lucy melepas ikatan dari tangannya lalu menghampiri Rev.


"Tolong," ucap gadis kecil itu, ia memegang tangan Rev dengan darah yang masih mengalir.


Rev tidak bisa berkata-kata, ia mengikuti langkah Lucy yang menarik tangannya. Tempat mereka kembali berubah, kali ini berada di aula singgasana. Rev dapat melihat Lucy yang masih kecil di cambuk berkali-kali, darah segar keluar begitu deras dari tubuh ringkih Lucy. Tidak ada isak tangis ataupun rasa sakit yang keluar dari bibir Lucy.

__ADS_1


"Aku ... selalu hampir mati," ujar Lucy yang berada di sebelah Rev.


Seorang gadis bersurai pirang seperti Lucy datang menghampiri dan melindungi Lucy. Terlihat ia sedang berdebat dan akhirnya membawa Lucy pergi ke dalam sebuah kamar. Kamar Lucy terlihat seperti kamar pelayan, tidak ada barang mewah bahkan tempat tidur pun terlihat rapuh tidak terurus. Setelah gadis pirang itu pergi, seseorang masuk dan mulai menyiksa Lucy.


Lagi dan lagi, tidak ada ekspresi lain selain tersenyum yang gadis kecil itu lakukan. Lucy tidak merasakan sakit, karena itu mereka semua mulai menyakiti Lucy sepuas mereka. Rev tidak tahan melihatnya, tetapi Lucy yang berada di sebelahnya kembali menghilang. Ia menoleh ke arah gadis yang sedang merangkak mendekatinya.


"Tolong ... jangan lagi,"


Rev tidak mengerti dengan yang di maksud Lucy, tetapi tempat mereka kembali berubah yang menjelaskan keraguan Rev. Mereka kembali ke ruang pertama, penjara bawah tanah. Ia melihat beberapa orang berjubah hitam menutupi kepala dan hanya menyisakan mata. Mereka memasung Lucy dan menyayat punggung Lucy dengan batu sihir, batu yang terbentuk menjadi pisau yang begitu tumpul. Karena tumpul, mereka dapat menggoreskan luka di punggung Lucy tanpa membuat Lucy mati.


Mereka mengukir luka di punggung Lucy dengan tawa di wajah mereka, Rev meneteskan air mata saat melihat tubuh Lucy tidak berdaya dengan tatapan kosong. Dan lagi-lagi, Lucy di sisinya menghilang, sedangkan gadis dengan tubuh penuh luka jauh di hadapannya mulai mendekati Rev dengan berusaha menarik kedua kakinya.


"Pergi," ujar Lucy kecil yang memegang kaki Rev.


"Apa?" Rev tidak mengerti dengan perkataan Lucy kecil di kakinya.


"Dia ... akan datang, pergilah sebelum ia menemukanmu," jawab gadis kecil itu.


"Siapa yang kau maksud?" tany Rev yang tidak mengerti.


"Lucy," jawab gadis itu sambil bergerak mundur dengan tatapan takut melihat ke arah Rev.


"Lucy?" Rev membeo, ia menoleh ke belakang dan mendapati sang Master dengan wajah pucat.


"Tidak ada yang boleh melihat kenanganku!" desis Lucy dan kedua iris matanya berubah menjadi merah.


"PERGI!" teriakan Lucy mampu menarik kesadaran Rev kembali ke permukaan.


Rev terbangun dengan cepat, ia terbatuk-batuk saat merasakan kekuatan lemah yang terpancar dari tubuh Lucy. Rev melihat tubuh Lucy yang masih tetap tidak sadarkan diri, apa yang ia lihat adalah sebuah kenangan yang di lalui Lucy.


Rev mulai merasakan hawa membunuh yang begitu hebat di sekitarnya, saat ia melihat sekelilingnya, ia baru menyadari mereka yang manahan amarah mereka sedang mengeluarkan aura membunuh di sekitarnya. Ia paham mengapa mereka semua terlihat marah, bahkan ingin membunuh manusia-manusia yang melukai Lucy.


"Mereka ... aku harus memastikan untuk menghabisi mereka secara perlahan!" desis Lucien.


Para Esmelth lainnya mengangguk setuju, tidak perlu cepat-cepat membunuh mereka yang telah melukai Lucy. Tetapi, yang terpenting saat ini adlah bagaimana cara mereka membangunkan Lucy.


"Hei, kalian masih berada di sini?" suara seorang gadis membuyarkan lamunan mereka.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lucien sambil menatap tajam gadis itu.


"Mencari bahan untuk obat-obatan, apa yang kalian lakukan berkumpul di sini?" tanya Rong Ying sambil mencari keberadaan Lucy.


"Ahh, apa kau bisa membantu kami?" Rong Ying menatap curiga pada Lucien.

__ADS_1


"Bisakah kau melihat keadaan Lucy?  Sejak kemarin malam ia tidak sadarkan diri," lanjut Lucien yang terlihat terpaksa meminta bantuan gadis di depannya.


Rong Ying mengerutkan dahinya, dengan segera ia menghampiri Lucien dan mendapati Lucy yang terbaring lemah. Dengan cekatan Rong Ying memeriksa tubuh Lucy, mana tidak memasuki tubuh Lucy.


Rong Ying mulai menggunakan sihirnya, ia mencoba berbagai metode dan sihir untuk menyelamatkan Lucy. Tetapi ia gagal, Rong Ying terlihat frustasi kali ini.


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan pada Lucy?" tanya Rong Ying menatap tajam Lucien.


"Master memakai kontrak sihir mana untuk menghidupkan teman kami," jawab Lucien sabil menunjuk Hellson yang masih tidak sadarkan diri.


Rong Ying menepuk keningnya, ia ingin bertanya lebih tentang kontrak sihir mana. Kontrak sihir mana adalah membuat kontrak pada mana dengan taruhan jiwa mereka jika kebutuhan mana dalam menghidupkan seseorang kekurangan. Kontrak sihir mana bukanlah sihir yang biasa di gunakan oleh para Magia. Tanpa menggunakan sihir, magia yang tidak bisa memakai sihir pun dapat menggunakannya. Mengingat Lucy yang memiliki kapasitas mana melebihi para Raja ataupun petinggi kerajaan, Lucy dapat saja hidup meski mana miliknya terkuras habis.


Rong Ying memikirkan kembali apa yang dapat menyelamatkan Lucy. Dan tepat saat ia hampir menyerah, Rong Ying mengingat sesuatu.


"Aku membutuhkan malaleuca leucadendra!" gumam Rong Ying, Lucien mengernyitkan dahinya.


"Bukankah itu pepohonan yang langka?" tanya Odette yang akhirnya bersuara.


"Tepat sekali, aku akan membuat oleum melaleuca cajeputi. Aku tidak terlalu yakin dapat membuatnya dengan cepat, karena menyuling daun dan ranting malaleuca leucadendra membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama." Jawab Rong Ying.


"Aku akan membantu!" Odette dengan cepat berdiri di sebelah Rong Ying.


"Tetapi, bukankah minyak itu sudah terjual di pasaran? Kau bahkan akan mendapatkannya dengan mudah," tanya Kharel.


"Tentu saja berbeda, khasiat oleum melaleuca cajeputi yang berada di pasaran hanya untuk menghangatkan tubuh dan semacamnya. Aku akan membuat oleum melaleuca cajeputi untuk menarik mana untuk masuk ke dalam tubuh Lucy secara paksa. Jika tidak, Lucy akan terus tertidur seperti orang sekarat," terang Rong Ying, Kharel kini mengangguk mengerti.


"Odette, aku membutuhkan setidaknya lima puluh kilogram daun dan ranting malaleuca leucadendra. Aku akan membuatnya di rumahku agar lebih mudah, karena aku tidak mungkin membuatnya di sini."


"Kharel!" panggil Lucien, Kharel mengangguk mengerti.


"Nona, kau bisa membuatnya di dalam dimensiku. Aku dapat mengatur waktu dimensiku dengan dunia ini, satu hari di dalam dimensiku sama dengan satu jam di dunia ini," terang Kharel, Rong Ying mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, kau bisa siapkan benda-benda yang di perlukan, ketel penyulingan, kondensor, tungku dan alat penampung minyak." Lucien mengangguk menyanggupi.


"Odette, kau bisa mencarinya sekarang!"


"Yes, My Lord."


Lucien kembali menoleh ke arah Rong Ying, "Selamatkan Lucy, aku akan membantumu untuk memakai sihir."


"Tanpa kau memberi imbalan pun aku akan menyelamatkan Lucy!" desis Rong Ying, Lucien tersenyum dengan menampilkan wajah tampannya.


"Lakukan saja dan kau akan segera mendapatkan Esmelth milikmu sendiri."

__ADS_1



__ADS_2