
Tahun demi tahun mereka lalui, sejak Lucy menemukan Lucien hingga mendapatkan beberapa esmelth. Lucien melihat perkembangan tubuh Lucy yang setiap hari semakin terlihat mempesona dan indah di matanya. Saat ini usia gadis kecil itu adalah dua belas tahun, tubuhnya juga lebih banyak menyerap mana daripada sebelumnya. Ditambah dengan suara merdu Lucy yang mampu membuat Lucien terpedaya.
Tubuh Lucy pun tidak bermasalah setelah mendapatkan banyak esmelth, yang menjadi masalah adalah apakah ia perlu memanggil jendral miliknya yang terakhir atau tidak. Karena ia sendiri tidak merasakan sang Jendral masih hidup, tetapi ia tidak ingin mengecewakan Lucy yang masih ingin melanjutkan perjalanan.
"Lord Lucien, apa kau masih tetap ingin melanjutkan pembangunan altar pemanggilan? Kau tahu sendiri Iblis itu sudah mati,"
Lucien terdiam saat Rev memberikan pertanyaan, ia jelas sangat tahu tentang semua jendral miliknya. Iblis yang di maksud Rev adalah esmelth yang kekuatannya hampir sebanding dengan dirinya, esmelth yang menyerupai Iblis atau sebut saja sisi buruk Lucien.
"Apa kita harus memberitahukan Lucy tentang hal ini?" tanya Lucien sambil menatap Lucy yang sedang bermain api milik Archen.
Lucy terlihat begitu bahagia bermain dengan para jendrla miliknya, tidak jarang gadis kecil itu membuat para esmelth miliknya khawatir dengan hilangnya sang Master. Disaat mereka mencari Lucy, saat itu juga Lucy sedang berendam di pinggir sungai dengan tenang dan damai. Nyaris saja Archen membakar seluruh daratan jika ia tidak menemukan Lucy yang sedang asik bermain air.
"Cepat atau lambat Master akan mengetahuinya, lebih baik katakan mulai sekarang atau Master akan melakukan hal gila yang tidak pernah kau pikirkan," jawab Rev dengan tatapan serius.
"Aku akan mengatakannya nanti," jawab Lucien ragu.
Rev menghembuskan napasnya berat, ia menoleh ke arah Lucy yang tangannya sudah terbakar hebat karena api Archen. Seketika ia membelakakan matanya dan segera mematikan api di tangan Lucy dengan sihir miliknya.
"Si bodoh satu ini!" Rev menggeram dan membekukan tubuh Archen dalam sekali serang.
Lucy tertawa melihat Archen yang membeku dengan wajah konyolnya, sedangkan yang lainnya hanya duduk sambil tertawa melihat tingkah konyol keduanya. Api di tangan Lucy menghilang dan luka bakar di tangannya sedikit demi sedikit sembuh dengan sendirinya.
"Master, kau baik-baik saja?" tanya Rev yang terlihat begitu khawatir.
"Hahaha, aku baik-baik saja. Api Archen tidak cukup untuk membunuhku," jawab Lucy sambil tersenyum lebar.
"Tidak, tidak, tidak, tidak ada api lagi di tubuhmu, Master!" jawab Rev sambil mendinginkan tangan Lucy dengan kekuatannya.
Lucy hanya tertawa melihat wajah khawatir Rev, pria itu jauh lebih protektif daripada Lucien. Keras kepala miliknya pun membuat Lucy harus meminta Lucien menjauhkan Rev darinya. Keceriaan Lucy menjadi salah satu makanan favorit para esmelth di sekitarnya, sehari saja Lucy murung dapat membuat mereka semua khawatir dan menyalahkan satu sama lain. Dengan akhirnya Lucy kembali yang menjadi penengah dan meleraikan mereka semua.
Malam datang dengan cepat, mereka semua berada di tengah hutan yang rimbun dan tidak akan lama lagi mereka akan sampai di hutan Yuan. Seperti biasa para esmelth berjaga bergiliran, dan kali ini Blue muncul dari dalam tubuh Lucy. Esmelth itu terlihat gelisah dan mulai menjauhi kerumunan. Lucy mengikuti Blue yang bahkan tidak sadar jika sedang di ikuti, Lucy merasakan perasaan gelisah yang saat ini di rasakan oleh Blue.
Esmelth berbaju zirah itu berhenti dan memilih duduk di atas tumpukan batu, ia membuka helm zirah yang selama ini menutupi wajahnya. Surai hitamnya tertiup angin dengan memperlihatkan seluruh wajah di tengah hutan dengan cahaya rembulan. Iris mata sebiru langit itu membuat Lucy seperti terhipnotis untuk mendekat.
Blue berjengkit kaget saat menyadari Lucy sudah berada di sisinya, gadis kecil itu tersenyum lebar dan merasa tidak kaku sama sekali. Dengan cepat Blue kembali menutupi wajahnya, tetapi tangannya tertahan oleh tangan Lucy yang sudah berada di hadapannya.
"Mengapa kau menutupinya?" tanya Lucy.
Blue memalingkan wajahnya menahan malu, selama ini yang melihat wajahnya hanya Lucien. Tidak ada yang tahu wajah aslinya, karena selama ini ia selalu memakai pakaian zirah.
"A-aku hanya tidak terbiasa wajahku di lihat orang lain, Master," jawab Blue sedikit terbata-bata.
"Padahal kau sama tampannya dengan Lucien, mengapa kau menutupinya?" perkataan Lucy membuat wajah Blue memerah, baru kali ini ia di sanjung akan wajahnya.
__ADS_1
"Aku hanya suka memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhku, hanya itu saja, Master." Jawab Blue dengan singkat dan jelas agar Lucy tidak bertanya jauh.
Lucy hanya tersenyum dan mengangguk, gadis kecil itu duduk bersandar pada bebatuan yang di duduki Blue. Suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara hewan malam yang menggema. Lucy dan Blue menikmati kesunyian itu, hingga Blue akhirnya membuka suara.
"Master, apa kau tidak bersama Lord Lucien? Ia akan mencarimu jika kau tidak kembali,"
"Lucien sedang berbicara serius dengan yang lainnya, aku melihatmu pergi sendiri jadi aku mengikutimu saja,"
"Seperti biasa, kau selalu penasaran pada kami,"
"Bukankah kalian milikku? Jadi aku harus tahu tentang kalian,"
Blue tersenyum sambil menarik Lucy untuk duduk di pangkuannya, Lucy yang terkejut hanya bisa berpegangan pada bahu dan tangan Blue. Lucy baru mengingat sesuatu, Blue belum memakan mana miliknya beberapa hari ini. Pasti Blue sudah kelaparan sehingga ingin menyendiri di hutan ini.
Lucy mengerti, Blue selalu memakai kekuatannya untuk melindungi Lucy. Dan karena itu ia harus memakan ekstra mana dari yang lainnya. Dan seperti inilah Blue memakan mana Lucy, dengan memangku Lucy dan membiarkan mana Lucy masuk ke dalam tubuhnya.
"Mengapa kau tidak bilang jika kau lapar?"
"Aku hanya malu mengatakannya,"
Lucy tertawa ringan mendengarnya, Blue memang pemalu jika meminta mana miliknya. Ia membiarkan Blue memeluk tubuhnya dari belakang, biasanya ia tidak merasakan hembusan napas Blue. Tetapi, setelah Blue melepas helm zirahnya, terasa sekali hembusan napas esmelth itu yang menggelitik belakang leher Lucy.
Luce menggeser kepalanya dan mendongak ke langit dengan kepalanya yang bertumpu di bahu kanan Blue. Melihat langit bertabur bintang dengan posisi seperti ini cukup menyenangkan. Lucy menggesekkan kepalanya ke pipi Blue yang masih berfokus memakan mana Lucy.
"Master," panggil Blue dengan suara yang sidikit serak.
"Hmm?" Lucy hanya menjawab dengan gumaman.
"Aku akan selalu melindungimu," jawab Blue dan mendapat tawa kecil dari Lucy.
"Haha, bukankah itu memang sudah seharusnya? Karena kau adalah milikku," jawab Lucy sambil tersenyum lebar.
Blue tersenyum dan salah mengartikan apa yang di katakan Lucy, lelaki beriris aquamarine itu tersenyum dan membalikkan tubuh Lucy. Lucy mengerjapakan kedua matanya saat melihat wajah tampan Blue yang begitu dekat dengannya.
"Sebentar saja, aku masih sedikit lapar,"
"Sebentar?" Lucy membeo tidak mengerti maksud dari esmelth berbaju zirah itu.
Detik selanjutnya Lucy merasakan bibir dingin milik Blue yang menyentuh bibir mungilnya, Lucy langsung mengerti. Karena Lucien suka memakan mananya lewat ciuman, Lucy mengira Blue melakukan hal yang sama dengan Lucien.
Lucy merasakan mana miliknya mulai keluar lebih cepat, ia juga merasakan lumatan bibir Blue semakin dalam dan membuat Lucy sedikit kewalahan. Tidak menunggu lama, Blue melepaskan pungutan bibirnya. Blue menyempatkan mencium bibir Lucy sebelum menutup kepalanya dengan helm zirah miliknya.
"Sudah?" tanya Lucy sambil menatap Blue yang langsung menggendong tubuhnya.
__ADS_1
"Sudah cukup, Master," jawab Blue sedikit kaku.
"Tidak ingin tambah lagi?" tanya Lucy dengan suara polosnya.
"Ti-tidak, tolong jangan menggodaku," jawab Blue yang langsung mempercepat terbangnya untuk menyerahkan Lucy pada Lucien.
"Menggoda? Siapa yang menggodamu?" tanya Lucy sambil menatap tidak mengerti ke arah esmelthnya.
Mereka sampai di perkemahan dan mendapati Lucien yang sepertinya telah selesai berbicara dengan para jendral miliknya. Lucien tersenyum lalu mengambil tubuh Lucy dari Blue, Blue langsung saja masuk ke dalam tubuh Lucy.
"Apa Blue baru saja makan malam?" tanya Lucien sambil menggesekkan hidungnya ke wajah Lucy.
"Ya, ia seperti kelaparan karena sudah beberapa hari tidak memakan mana-ku. Aku master yang buruk," jawab Lucy sambil menundukkan wajahnya.
Lucien tersenyum, ia tahu Lucy sangat perhatian terhadap semua esmelth milik gadis itu. Tetapi, Blue memang sedikit berbeda, Blue adalah tipe pria pemalu jika sudah mengabdi pada seseorang. Pria yang kaku dan juga sulit membuatnya membuka helm zirah yang pria itu kenakan. Karena itu banyak orang yang salah paham jika wujud Blue bukan manusia.
"Kau adalah Master terbaik yang kami miliki, Lucy. Karena selama ini tidak ada yang dapat menjadikan kami esmleth pribadi," Lucien menghibur Lucy.
Wajah gadis itu tersenyum cerah, jika Lucien yang berkata maka ia akan percaya dengan mudah. Lucy masih tetap saja polos di hadapan Lucien. Waktu jam tidur Lucy telah tiba, seperti biasa Lucy akan berada di dalam pelukan Lucien saat tidur.
Rev sudah mencoba untuk membuat Lucy terbiasa tidur di dalam tenda, tetapi percuma saja usahanya. Lucy lebih nyaman tidur dalam pelukan Lucien, dan sudah pasti Lucien tersenyum penuh dengan kemenangan.
Hari berganti pagi, mereka sudah siap melanjutkan perjalanan yang hampir saja sampai di hutan Yuan. Hutan yang memiliki batu sihir yang cukup untuk membuat seorang magia mengeluarkan sihr tinggi. Tetapi, kristal batu itu langsung saja membatu saat Lucy memegangnya.
Lucy tidak mengerti apa yang terjadi, begitu pun dengan Lucien. Seakan-akan sihir yang ada di dalam kristal itu terserap oleh tubuh Lucy, setelah berhari-hari mencoba menelitinya, Lucien mendapatkan hasilnya. Tubuh Lucy benar-benar menyerap mana yang ada di dalam batu sihir itu.
"Padahal keristal itu indah, aku ingin memberikannya pada Mama," gumam Lucy sambil mencabut kristal sihir dari tanah dan seketika berubah menjadi batu.
"Aku akan menyimpannya, Master. Batu kristal itu tidak berpengaruh terhadapku," ujar Zoe dan yang lainnya mengangguk.
"Baiklah, bawakan beberapa untuk Mama," jawab Lucy dengan antusias.
Lucy mengedarkan pandangannya hingga ia merasakan sihir di lokasi yang cukup jauh, Lucy langsung menarik tangan Lucien untuk mengikutinya. Dan tepat saja Lucy berhenti di sebuah padang rerumputan yang cukup luas.
"Tempat ini titik yang tepat untuk membangun altar pemanggilan, kau bisa melakukannya sekarang, Lucien."
Lucien mengangguk dan dengan sekali tepukan tangannya semua esmelth milik Lucy pergi ke tempatnya masing-masing membuat sebuah lingkaran yang cukup besar. Lucien menjentikkan jarinya dan para esmleth mulai merapalkan mantra. Bumi sedikit berguncang hingga sebuah suara menginteruksi apa yang di lakukan Lucien.
"Hei, apa yang kalian lakukan?!"
***
__ADS_1