The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Chapter 23


__ADS_3

"Hei, apa yang kalian lakukan?"


Semua mata menoleh ke sumber suara, sorang gadis berpakaian aneh muncul dengan kening berkerut. Lucien mengabaikan kehadiran gadis kecil itu dan memberikan isyarat kepada para Jendral untuk melakukan tugas mereka.


"Tunggu, aku harus mengambil rumput obat di sana, kau tidak bisa menghancurkan tempat itu!"


Gadis itu dengan cepat berlari dan mengambil rerumputan yang ia maksud, Lucy hanya menatap gadis itu dengan menaikkan satu alisnya. Setelah selesai mengambil beberapa rumput obat, gadis itu menyingkir dan Lucien kembali memulai pekerjaannya. Tidak lama sebuah altar pemanggilan muncul dari tanah.


Lucy menatap takjub dengan altar besar di hadapannya, Lucien langsung saja merapalkan mantra yang terdengar seperti nyanyian merdu. Tidak berselang lama, cahaya keluar dari tengah altar dan terbang ke atas langit.


"Membutuhkan waktu untuk pemanggilan, kau bisa bersenang-senang terlebih dahulu, Lucy."


Lucy mengangguk, ia melihat gadis yang sedang memilih-milih rerumputan yang telah ia ambil. Lucy mendekat dan mengulurkan tangannya, gadis itu menoleh dan melihat uluran tangan Lucy dengan diam.


"Namaku Lucy Atlanta Chimera, namamu?"


"Xia Rong Ying," jawab gadis itu dan membalas uluran tangan Lucy.


"Aku tidak tahu arti namamu, jadi maaf aku tidak bisa menyanjungmu begitu saja," ujar Lucy dan gadis itu tersenyum dengan memamerkan deretan giginya.


"Ternyata kau gadis yang baik, aku kira kau akan menatapku dengan remeh," ujar Rong Ying yang terlihat senang dengan perilaku Lucy yang berbeda dari orang-orang yang ia kenal.


Lucy tidak mengerti mengapa harus menatap remeh gadis di depannya, Lucy duduk di dekat Rong Ying sambil melihat apa yang sedang gadis itu lakukan. Jika di lihat, usia Rong Ying mungkin sama dengan Lucy. Lucy senang mendapati teman di saat sdang berpetualang seperti ini.


"Dari mana kau datang? Wajahmu tidak seperti orang-orang Kerajaan Xia Qing dan sekitarnya,"


"Aku berasal dari benua Husberg Kerajaan Nightcrow,"


Rong Ying menatap Lucy penuh minat, baru kali ini ia menemui seseorang yang berasal dari luar benua Qwenzy. Tidak ada pengembara yang ingin berkeliling di benua Qwenzy tanpa adanya esmelth di sisi mereka. Karena menjelajahi benua Qwenzy membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan berjalan kaki, berbeda dengan menggunakan portal yang para esmelth bisa keluarkan.


"Kau bisa menggunakan sihir?" tanya Lucy, gadis di depannya mengangguk lalu menoleh ke arah Lucy.


"Hanya sihir penyembuhan, aku tidak bisa memakai sihir lainnya. Mungkin aku tidak dicintai mana," Lucy tertawa kecil lalu menggelengkan kepala.


"Kau dicintai mana, hanya saja ada penghalang untukmu menggunakan sihir," jawab Lucy saat sekilas melihat sebuah segel di tubuh Rong Ying.


"Penghalang? Apa maksudmu, aku tidak mengerti," jawab gadis itu sambil memasukkan rumput obat ke dalam tasnya.


"Tunggu sebentar di sini, biarkan Odette yang melepas segel di tubuhmu," jawab Lucy sambil melihat altar pemanggilan yang mengeluarkan cahaya.


"Odette?" Rong Ying membeo, Lucy menunjuk salah satu esmelth miliknya yang sedang memejamkan mata dengan bibir terus merapal mantra.


"Bukankah dia esmelth?  Apa mungin esmelth lain mau menolong Magia yang bukan tuannya?" Lucy tertawa kecil lalu menjawab.


"Odette akan menuruti perintahku kalau begitu," jawab Lucy dan Rong Ying langsung saja membulatkan kedua matanya.


"Lucy, sebenarnya aku sangat penasaran. Sedang apa kau di hutan ini dengan para esmelth itu?"


Lucy menceritakan semuanya dari pertama kali bertemu dengan Lucien tujuh tahun lalu, tidak ada yang di lewatkan Rong Ying saat Lucy bercerita. Setelah selesai menceritakan perjalannnya, Rong Ying menangis.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka gadis cantik sepertimu akan melalui masa-masa yang kelam, kau gadis yang kuat, Lucy."


Lucy tersenyum sambil memberikan sapu tangan miliknya kepada Rong Ying. Gadis bersurai hitam itu menghapus air matanya dan menatap Lucy dengan tatapan sedih.


"Ada satu hal yang harus kau ingat, Rong Ying. Jangan pernah merasa paling buruk di antara orang lain, jika kau melakukan itu, kau hanya akan merendahkan orang lain."


"Mengapa sepert itu?"


"Harusnya kau mengerti mengapa, bukan?"


Rong Ying mencoba mencerna ucapan Lucy, tetapi ia tidak menemukan jawabnnya. Lucy tertawa kecil melihat raut wajah Rong Ying yang mengerutkan dahi, ia melihat ke arah Lucien yang sepertinya sedang melamun dengan menatap altar yang masih terus bercahaya.


"Ahh, aku harus kembali. Ibuku akan memarahiku jika terlalu lama di hutan, meski sebenarnya ia tidak peduli denganku."


"Tunggu, aku akan memanggil Odette."


Lucy menoleh ke arah Odette, esmelth itu  mulai membuka kedua matanya sambil menghentikan pekerjaannya. Odette mendekat ke arah Lucy sambil membungkuk memberi hormat.


"Apakah ada yang bisa saya lakukan, Master?"


"Bisakah kau menghancurkan segel yang ada di tubuh Rong Ying?"


Odette menoleh ke arah gadis itu, ia mendekat lalu menyentuh kening Rong Ying. Odette meneliti segel yang ada di tubuh Rong Ying, dan seperti biasa itu sangat mudah untuknya menghancurkan segel.


Krak


Sangat mudah segel itu pecah di tangan Odette, beruntung hanya sebuah segel yang tidak sulit ia hancurkan. Tetapi, itu merupakan salah satu segel terkuat untuk dipakai dalam kerajaan. Tidak sembarangan orang yang dapat melakukan penyegelan sihir seperti itu.


Wajah Rong Ying memucat, entah apa yang terjadi sehingga ia terdiam cukup lama setelah mendengar perkataan Odette. Lucy tersenyum lebar, ternyata memang benar jika gadis di hadapannya adalah gadis yang hebat.


"Kau dengar? Odette mengatakan kau memiliki mana yang besar dan dapat membuat gerbang teleport," ujar Lucy, Rong Ying menoelh ke arah Lucy.


Gadis itu tersenyum lalu memeluk Lucy, "Kau tidak sendirian, Lucy. Meski aku lebih baik darimu dalam hal sihir, kau tetap bisa memiliki banyak esmelth lebih dari seharusnya."


Lucy hanya diam mendengarkan perkataan Rong Ying. Rong Ying bangkit dan mencoba membuat gerbang portal untuk ia kembali ke rumahnya. Dan dengan cepat ternyata cukup berhasil, Rong Ying berteriak histeris dan menari-nari kegirangan.


"Aku bisa!"


"Terima kasih, Odette."


Odette hanya tersenyum lalu mengangguk. Lucy tertawa kecil melihat wajah riang Rong Ying, gadis itu malambaikan tangannya sambil mengucapkan sampai jumpa. Lucy membalas lambaian tangan Rong Ying, dan gadis itu mulai menghilang di telan portal.


Odette kembali ke tempatnya, ia mulai memejamkan mata dan kembali merapalkan mantra. Lucy duduk di dekat Lucien, ia menatap  tengah altar yang masih mengeluarkan cahaya terang. Lucy tersenyum saat melihat sebuah hologram terbentuk di tengah altar. Itu adalah sebuah pristiwa yang telah terjadi, terlihat sebuah penjara yang terlihat menyeramkan.


Melihat penjara, Lucy mendekatkan diri ke arah Lucien, tubuhnya sedikit gemetar dan ia merasakan sakit seperti tercambuk di setiap jengkal kulit tubuhnya. Lucien memeluk erat Lucy yang sepertinya mengingat masa lalunya, tetapi ia tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi pada Lucy.


Mereka semua melihat seseorang yang terpasung dengan perut yang tertancap sebuah trisula. Lucy menatap ruangan penjara itu, ia mengenal jelas tempat itu. Tubuhnya gemetar di dalam pelukan Lucien, pandangannya berganti ke arah seorang pria bersurai pirang.


"Hellson!" Evrard menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


Hellson, yang merupakan Jendral tertinggi milik Lucien tengah terpasung di sebuah penjara bawah tanah. Terlihat seorang Esmelth yang datang bersurai putih dan tentu mereka semua kenali kecuali Lucy, seorang gadis berdiri tegap di sebelahnya dan kini Lucy mengetahui siapa gadis itu.


Esmelth itu menarik trisula yang tertancap di perut lelaki yang sedang terpasung. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu, hingga Lucy menyadari jika gadis itu memerintahkan sesuatu pada esmelth di sisinya. Dan dalam sekejap mata, kepala esmelth yang terpasung itu terputus dari tempatnya, perlahan tubuh esmelth itu menjadi serpihan cahaya yang terbang meninggalakan kekosongan pada tempatnya semula.


"Hellson!" pekik para esmelth wanita milik Lucy, Lucy tidak dapat melihat raut wajah gadis yang tertutup bayang hitam itu. Detik berikutnya hologram itu menghilang dan menyisakan rasa sesak di hati mereka semua.


Tidak ada yang berani bersuara, air mata para esmelth mulai terjatuh tanpa mereka sadari. Lucy dapat merasakan persaan sedih yang semua esmelth miliknya rasakan. Lucien pun semakin mengeratkan pelukannya pada Lucy dan menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher gadis itu.


Lucy mengepalkan kedua tangannya, teman mereka terbunuh dan ia tidak bisa melakukan apapun. Lucy melepaskan pelukan Lucien, ia berlari ke tengah altar pemanggilan. Jiwa esmelth yang telah mati masih terus berada di langit. Itulah yang ia pelajari dari buku-buku yang diberikan oleh Lucien.


Lucy merapalkan sebuah mantra terlarang yang selama ini ia pelajari secara diam-diam. Dengan penuh penekanan mana, ia membuat dinding mana untuk memperkuat mantranya.


"Lucy!" Lucien berteriak memanggil gadis itu.


Lucien mendekat untuk menarik tubuh Lucy, tetapi tubuhnya terpental dan menghantam pilar altar.


"Lucy, apa yang kau lakukan?!" teriak Lucien, sebuah sinar dari langit turun dan menyinari tubuh Lucy.


"Master!" para esmelth juga berusaha mendekat, tetapi sia-sia.


"Lahirlah ... Hellson!" teriak Lucy.


Seluruh mana berkumpul ke tengah altar di mana lucy berada. Langit mulai menggelap, tatanan bumi mulai sedikit berubah. Dengan sekuat tenaga, Lucy mengambil energi dari inti sihir yang menjadi penopang daratan Ether Land.


Energi sihir berkumpul di atas kepala Lucy, semua mata menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapan mereka. Menghidupkan seorang esmelth dari kematian adalah mantra terlarang dengan mengorbankan sejumlah besar mana. Tetapi, tidak ada yang bisa menghidupkan esmelth selama ini karena pengorbanan mana tidak bisa hanya dengan mana sebesar milik seorang Raja.


Cahaya itu semakin bersinar dan membentuk sesosok tubuh lelaki, setelah penyempurnaan terakhir tubuh lelaki itu terjatuh di dekat Lucy dengan mata yang masih tertutup. Napas Lucy memburu, dinding mana yang ia buat hancur setelah sosok lelaki itu terjatuh.


Pandangan Lucy mulai mengabur, ia tidak bisa melihat siapa yang berada di hadapannya, dengan napas yang mulai semakin sesak, Lucy mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangan.


"Master!"


Lucien segera mendekat dan menggendong tubuh Lucy dalam dekapannya, Lucy masih bernapas dengan susah payah. Ia terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah, Lucien langsung saja membersihkan darah dari bibir Lucy.


"Apa yang kau lakukan, Lucy?" tanya Lucien dengan suara yang tercekat.


"Esmelth itu ... bukankah temanmu?" jawab Lucy sambil mengelus pipi Lucien yang mengeluarkan air mata.


"Tapi kau tidak perlu menghidupkannya!" Lucien memeluk tubuh Lucy dengan tubuh gemetar.


Ia merasa takut, takut lebih dari apapun saat melihat lucy yang seperti di hadapannya ini. Lemah dan hanya bisa tersenyum dengan tubuh yang mulai mendingin.


"Aku ... hanya ingin ... melihat senyummu," jawab Lucy yang langsung saja menutup matanya.


"Lucy ... Lucy ... jangan bercanda denganku!" Lucien menggoncangkan tubuh Lucy berkali-kali.


"LUCY ... LUCY!!!"


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2