
Kerajaan Nightcrow terkenal dengan perayaan Reincar, Festival akan di adakan dua hari lagi dan semua orang terlihat antusias menyambut perayaan yang datang satu tahun sekali itu. Lucy ingin melihat perayaan itu, tetapi ia tidak boleh sampai bertemu dengan para petinggi kerajaan.
Gadis itu terlihat murung akhir-akhir ini, Lucien sebisa mungkin menghibur gadisnya sampai ia harus menjatuhkan harga diri di depan para pengkutnya. Lucy hanya tersenyum melihat Lucien yang sepertinya bersemangat untuk pergi meninggalkan benua tandus itu.
"Kulitmu mengering, itu tidak bagus untuk kecantikanmu, Lucy!" itulah yang dikatakan Lucien sampai saat ini.
Lucy hanya menatap datar Lucien yang selalu mempermasalahkan kulitnya, ia tidak terlalu peduli dengan kulitnya yang mulai mengering. Luka-luka di tubuhnya tidak bisa ia rasakan, karena itu Lucy tidak terlalu peduli jika kulitnya terbakar atau bahkan mengering.
Gadis itu meninggalkan rombongan saat mereka sedang membicarakan tujuan selanjutnya. Lucy memasuki hutan yang berada di wilayah kerajaan Nightcrow, hutan yang begitu asri meski dengan tanah berpasir. Angin berhembus menerpa wajah mungil Lucy, suara hewan terdengar seperti alunan musik dengan nada yang membuatnya rindu akan kampung halamannya.
Kesal, Lucy memilih duduk di bawah pohon rindang sambil menatap langit yang begitu cerah. Sebuah kepala wanita cantik tiba-tiba muncul di atas kepala Lucy, Lucy nyaris berteriak saat tangan wanita itu membekap bibir mungilnya.
"Emmm!" wanita itu meletakkan telunjuk jarinya di depan bibir sambil menatap Lucy lekat-lekat.
Lucy mengangguk mengerti dan mulai mencoba meredakan debaran jantungnya yang hampir saja meledak karena wanita itu. Tangan wanita cantik itu melepaskan dekapan di bibir Lucy, ia melayang lalu duduk di samping Lucy.
"Maaf aku mengejutkan dirimu," kata wanita cantik itu yang terlihat anggun dengan pakaian yang begitu mewah.
"Aku pikir hantu, kau membuatku nyaris mati!" jawab Lucy sambil mengelus dadanya yang masih saja berdebar.
Wanita cantik itu tertawa kecil dengan gerakan yang anggun,"Namaku Revina, dan siapa namamu?" tanya wanita cantik itu menatap Lucy dengan tatapan penuh minat.
"Lucy," jawab gadis itu sambil tersenyum menatap Esmelth yang begitu cantik duduk di sebelahnya.
"Nama yang indah," kata Revina sambil menatap Lucy dalam-dalam.
"Jangan katakan kau tertarik dengan manaku?" Revina tertawa merdu, ia mengelus kepala Lucy dengan perasaan penuh kasih sayang.
"Seandainya aku memiliki putri mungkin saat ini sudah seusia dirimu," jawab Revina sambil menatap langit dengan tatapan sendu.
Lucy mengerjapkan kedua matanya, ia tidak pernah mendengar tentang percintaan para Esmelth. Namun, Revina langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Lucy. Lucy menjadi pendengar yang baik, mendengarkan cerita wanita cantik itu seperti dongeng yang sering ia baca di buku yang di bawa Lucien.
Di sisi lain, Lucien mulai khawatir dengan kepergian Lucy yang tak kunjung kembali. Meski ia dapat merasakan mana milik Lucy yang tidak dalam keadaan bahaya. Ia juga dapat merasakan seorang Esmelth yang kini dekat dengan Lucy, tetapi Esmleth itu tidak ada tanda-tanda untuk menyerang Lucy.
"Kau masih ingin melihatnya atau aku yang pergi untuk menjemput Master?" tanya Evrard pada Lucien.
"Biarkan saja, aku ingin melihat apa yang di lakukan Esmelth itu selanjutnya." Jawab Lucien sambil menatap tajam ke arah di mana Lucy berada.
Lucy menceritakan apa yang terjadi padanya, tetapi ia tidak menjelaskan dari mana ia berasal. Semua orang akan menyerahkan dirinya pada kerajaan Xaravine jika mereka tahu ia merupakan seorang Putri yang terbuang.
Revina yang mendengarkan kisah perjalan Lucy meneteskan air mata, ia merasa iba dengan keadaan Lucy yang seharunya bermain dengan anak-anak seusianya, harus menanggung beban hidup yang begitu berat. Di buang oleh orangtuanya, bahkan mereka juga ingin membunuh Lucy.
Namun, melihat Lucy yang baik-baik saja hingga saat ini, ia yakin jika para Esmelth yang bertemu dengannya pasti membantu anak kecil itu hidup hingga sampai saat ini. Revina menggenggam tangan Lucy, melihat ketegaran gadis kecil itu benar-benar membuatnya takjub.
"Lucy, apa kau ingin melihat Festival Reincar?" Lucy tertunduk lesu, ia ingin sekali datang.
"Aku tidak bisa, kami harus melanjutkan perjalanan menuju Benua Qwenzy," jawab Lucy sambil menunduk.
Revina menatap Lucy dengan penuh senyuman, ia tahu ada beberapa Esmelth yang berada di dekat mereka saat ini. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja melepaskan gadis mungil itu. Revina membuka portal tepat di sisinya.
__ADS_1
"Kalau begitu kau hanya tinggal mengikutiku agar mereka tidak membawamu pergi," Revina langsung saja menarik tangan Lucy dan membawanya masuk ke dalam portal.
"Lord Lucien," panggil Fay yang menatap hutan dengan khawatir.
"Esmelth itu tidak memiliki niat jahat, tetapi aku kesal jika ada yang menyentuh Lucy. Jadi ... cari Lucy sampai dapat!"
"Yes, My Lord!"
***
Lucy mengerjapkan kedua mata saat mereka sampai di sebuah kebun penuh dengan bunga. Melihat ke sekeliling hanya ada bunga beraneka ragam yang terlihat, Revina terlihat senang karena berhasil membawa Lucy. Wanita Esmelth itu bersenandung kecil sambil berjalan menarik tangan Lucy.
"Ini ... di mana?" tanya Lucy yang kini fokus menatap Revina.
"Istanaku," jawab Revina tersenyum manis.
"Istana?" Lucy mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Namun, ia segera mengerti saat melihat kastil yang begitu megah berdiri kokoh di hadapannya. Seorang pria tampan tersenyum ke arah Revina sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ratuku," pria itu langsung menyambut Revina dengan senyuman lebar.
"Rozario," jawab wanita Esmelth itu lalu terbang memeluk pria bernama Rozario itu, sedangklan Lucy berdiri dengan canggung melihat kemesraan kedua makhluk berbeda di hadapannya.
Rozario melepaskan pelukannya lalu mengecup bibir Revina sekilas, Revina mencubit pipi Rozario sambil berdecak kecil.
"Aku membawa tamu spesial," ujar Revina sambil terbang mendekati Lucy.
"Lucy, ia adalah Rozario, Masterku. Dan Rozario, dia adalah Lucy, gadis kecil yang tidak bisa memakai sihir berkenala untuk bertahan hidup bersama dengan Esmelth miliknya." Terang Revina, Rozario menaikkan satu alisnya, kini ia tahu mengapa Ratunya membawa gadis kecil itu ke Istana.
"Sayang, kau ingin mengadopsinya?" tebak Rozario, Revina tersenyum lebar sambil mengangguk antusias.
"Ya, aku mau. Kau lihat Lucy begitu mungil dan lucu, aku tidak tega membiarkannya berkelana keliling dunia." Jawab Revina dan Lucy langsung saja membulatkan mata.
Pikirannya mulai berkelana ke arah Lucien yang sudah pasti akan mengamuk di Kerajaan orang lain, jika tidak cepat bertemu Lucien, Rozario dan Revina akan dalam masalah besar. Lucy langsung menggenggam tangan Revina.
"Tidak, Lucien akan marah jika aku tidak menurutinya. Dan jika aku tidak kembali padanya, kalian akan dalam masalah besar," Lucy menolak keras, Rozario mengerutkan keningnya, sedangkan Revina terlihat kecewa dan tertunduk lesu.
"Kau tidak ingin memiliki seorang ibu yang merupakan Esmleth?" tanya Revina sambil memainkan kedua jarinya.
Lucy menepuk keningnya, bukan itu yang ia maksud. Lagi pula mereka baru saja bertemu dan Lucy tidak ingin para petinggi kerajaan melihatnya lebih lama lagi.
"Bukan itu," jawab Lucy sambil menarik tangan Revina.
Rozario kini menatap Lucy penuh dengan penilaian, ia tidak ingin mengadopsi sembarang orang hanya karena Ratunya menginginkannya. Ia harus melihat apakah gadis kecil itu memiliki motif mendekati sang Ratu atau tidak.
"Kami harus pergi ke Benua Qwenzy, kami harus mencari beberapa orang dan mengumpulkan mereka semua. Lucien ingin memanggil mereka semua untuk melindungiku, aku harap kau mengerti, Revina. Dan cepat kembalikan aku atau Lucien akan-"
Debuummm
__ADS_1
Belum selesai Lucy berbicara, sebuah ledakan terdengar dari arah lain Istana. Rozario langsung menarik tangan Lucy dan menggendongnya erat. Revina langsung saja mensejajarkan terbangnya dengan langkah kaki Rozario.
"Penyusup?" tanya Riozario, Revina mengangguk membenarkan.
"Ahh, terlambat. Aku yakin saat ini Lucien tengah mengamuk," gumam Lucy yang dapat di dengar oleh Rozario.
Rozario sampai tepat di halaman Istana, para prajurit kerajaan terlihat begitu mengenaskan mati di atas tanah. Tidak hanya itu, sebagian bangunan telah hancur karena ledakan tadi. Rozario melihat ada lima Esmelth dengan kekuatan tinggi berkumpul di hadapan mereka.
"Lepaskan gadis itu," ujar Lucien yang begitu dingin dan membuat Rozario tanpa bisa menahan dirinya mulai melepaskan Lucy.
Lucy berlari mendekati Lucien untuk memerintahkan Esmelth itu dan yang lainnya untuk tidak menyerang.
"Kalian, aku perintahkan untuk tidak menyerang Istana dan orang-orang yang berada di dalamnya!"
Lucien dan yang lainnya langsung berhenti dan bertingkah seperti robot mematuhi penciptanya.
"Yes, Master." jawab mereka serentak.
Rozario dan Revina saling menatap, para Esmelth itu menuruti perintah Lucy. Dan mereka berdua baru menyadari jika Lucy adalah Magia yang memiliki banyak Esmelth.
"Lima? Apa aku tidak salah lihat?" gumam Rozario menatap Lucien yang berlutut ke arah Lucy.
Sedangkan Revina baru menyadari sesuatu, ia menata Lucien dan langsung berlutut ke arah Esmelth itu.
"My Lord, akhirnya Anda terlepas dari segel, selamat datang di dunia baru, Lord Lucien." ujar Revina menatap takut ke arah Lucien.
"Kau-"
"Lucien," potong Lucy, ia tahu Lucien akan memaki Esmelth cantik itu, dan Lucy tidak mau ada yang tersinggung karena ucapan Lucien.
"Lucy, kau tidak apa-apa?" tanya Lucien yang langsung memeluk tubuh gadis kecil itu.
"Aku baik-baik saja, kau saja yang berlebihan, Lucien," jawab Lucy yang tertawa kecil karena tubuhnya di periksa oleh Lucien.
Revina tidak dapat mengerti apa yang terjadi, mantan Raja Esmelth memiliki seorang Master berusia sekitar delapan tahun. Bahkan gadis kecil itu memiliki mana yang besar, entah apa yang terjadi ia tidak mengerti. Namun, satu hal yang tetap ingin ia lakukan.
"Lord Lucien, hamba ingin mengadopsi Master Anda, apakah Anda mengizinkan?" tanya Revina sambil menundukkan wajahnya.
"Mengadopsi?" tanya Lucien sambil menaikkan satu alisnya.
"Ya, Lord Lucien. Hamba ingin memberikan yang terbaik untuk Lucy sebagai pengganti bayiku yang telah tiada," Lucien menoleh ke arah Lucy, gadis itu terdiam sesaat lalu mulai berbicara.
"Revina, aku adalah Putri dari kerajaan Xeravine. Aku adalah putri yang di buru mereka, apa kau benar-benar ingin mengadopsiku?" ujar Lucy dengan wajah datarnya, Rozario membulatkan kedua mata setelah mendengarkan perkataan Lucy.
"A-apa?"
***
__ADS_1