The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 12


__ADS_3

"Katakan itu di Neraka!"


"Evrard!"


Lucy menghentikan pergerakan tangan Evrard yang ingin menebas kepala Fain, Evrard menoleh ke arah Lucy yang langsung saja gadis kecil itu menggelengkan kepalanya kuat. Evrard menurut, ia segera menggendong Lucy dan menjauh dari Fain.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Jangan berbuat kasar pada Fain atau siapa pun tanpa perintahku," ujar Lucy sambil mengelus dada bidang Evrard.


"Baiklah, Master," jawab Evrard sambil mengelus kepala Lucy lembut.


Lucy menoleh ke arah Fain, mungkin ia akan bertemu dengan Fain suatu saat nanti. Karena itu ia harus bertahan hidup sampai saat itu tiba.


"Kita akan bertemu lagi, bukan?" tanya Lucy pada Fain, anak lelaki itu mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi," jawab Lucy sambil melambaikan tangannya ke arah Fain.


"Kau harus menjaga kesehatanmu, jangan memakan makanan dari Lucien, dan jangan jauh-jauh dari Evrard. Tetap tersenyum sesakit apapun penderitaanmu, kau mengerti?" Lucy mengangguk sambil tertawa kecil.


Fain mengecup kening hadis itu lalu melambaikan tangannya, di sampingnya sudah melayang Esmelth miliknya. Geraint membuka sebuah portal untuk berteleportasi, Esmelth itu melambaikan tangannya pada Lucy dan memasuki portal itu bersama Fain.


Mereka berdua menghilang begitu portal tertutup, Lucy menyandarkan kepalanya ke dada bidang Evrard. Kepalanya terasa pusing dan ia mulai menarik mana di sekitarnya.


"Master, apa kau ingin minum teh hangat?" tanya Evrard, Lucy hanya mengangguk dan meminta turun untuk duduk di atas ranjang.


Evrard menurunkan Lucy di atas ranjang, ia segera meninggalkan Lucy dan memintah teh hangat untuk Lucy. Tidak berselang lama Evrard kembali masuk dengan secangkir teh hangat di tangannya. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, saat ini Lucy lebih ingin diam memfokuskan diri untuk menyerap mana di sekitarnya.


Menoleh ke arah jendela, ia dapat melihat orang-orang sedang bercengkrama satu sama lain dan terlihat senyum merekah di wajah mereka. Kota yang cukup damai tetapi gersang itu tidak terlihat buruk sedikit pun di mata Lucy.


Senyumnya terkembang saat tubuhnya merasa lebih baik, mana mulai dengan cepat masuk dalam tubuhnya seperti biasa. Evrard hanya memperhatikan Lucy yang sepertinya sedang menikmati sore hari dengan melihat pemandangan kota di dalam kamarnya. Alice dan Blue berada di dalam tubuh Lucy, jadi tidak akan memberatkan Lucy untuk saat ini.


Langit sore hari mulai terlihat berwana jingga, hawa dingin mulai menyelimuti daratan dan menusuk hingga ketulang. Evrard langsung saja menyalakan perapian agar suhu ruangan itu tetap terjaga. Ia tidak akan membiarkan Masternya kedinginan dan jatuh sakit.


Lucien kembali ke kamar dan mendapati Evrard yang terlihat sedang memainkan bara api di perapian. Ia menoleh ke arah Lucy yang masih diam sambil menatap luar jendela, entah apa yang dipikirkan sang Master hingga tidak memperdulikan Evrard di sekitarnya.


Biasanya gadis itu akan bergelayut manja sambil memainkan rambut putih Evrard yang terlihat indah di matanya. Namun, kali ini suasana hati Lucy terlihat seperti awan yang mendung. Andai saja tidak ada penghalang, mungkin hujan akan turun.


"Lucy," panggil Lucien yang mendekati Lucy lalu duduk di samping gadis kecil itu.


Lucy menoleh lalu merentangkan kedua tangannya, ia ingin Lucien memeluk tubuhnya dan membiarkan Esmelth itu memakan mananya seperti biasa. Tetapi Lucien tidak ingin memakan mana Lucy yang tidak stabil saat ini. Jadi ia hanya akan mencium Lucy untuk melampiaskan hasratnya.


Tak peduli jika ia di sebut pedophil seperti yang dikatakan Fain padanya, baginya ini adalah cintanya pada Lucy. Tidak ada yang boleh protes atau memaksanya untuk berubah, Lucy hanya miliknya dan terlahir untuknya. Mereka ditakdirkan untuk bersama, maka tidak ada yang bisa memisahkan mereka.


"Lucien, kau membuatku geli,"

__ADS_1


Lucy tertawa saat Lucien menggigit bibir munggilnya, tangannya menggelitik pinggang gadis itu agar fokusnya teralihkan. Suara gelak tawa terdengar di ruangan itu, Evrard hanya memainkan kayu bakar di perapiham agar suhu ruangan tetap hangat. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Lucien, semua itu hanya akan membuatnya iri.


Seperti biasa Lucien akan membungkus tubuhnya bersama Lucy dengan sayap miliknya. Ia tidak ingin ada orang yang mengganggu aktivitasnya bermain bersama Lucy. Meski konteks 'bermain' miliknya berbeda dengan orang lain.


Hari terlihat semakin gelap dan Lucy sudah tertidur dalam pelukan Lucien. Mantan Raja Esmelth itu tersenyum saat melihat wajah lelap Lucy di pelukannya. Lucien memejamkan matanya untuk mengisi kekuatan miliknya yang menghilang, hingga hari mulai berganti.


Matahari mulai merangkak naik, Lucy terbangun saat merasakan bibir Lucien yang lagi-lagi mengganggu. Kecupan hangat di dapat Lucy tepat di seluruh wajahnya, ingin sekali Lucy menjauhkan wajah Lucien dari wajahnya.


"Aku ingin mandi, menjauh dariku," ujar Lucy sambil menjauhkan wajah Lucien.


Lucien tertawa kecil dan lagi-lagi mengecup bibir Lucy. Lucy berlari ke arah kamar mandi setelah Lucien melepaskan dirinya. Mereka akan melakukan perjalanan kembali, mengingat mereka harus cepat mengumpulkan para Jendral milik Lucien.


Setelah Lucy selesai membersihkan diri dan sarapan, Lucien langsung mengajak Lucy untuk pergi dan melanjutkan perjalanan. Blue sudah memberikan shield yang tidak terlihat pada Lucy, jadi tidak akan ada yang bisa menyentuhnya dengan niat jahat.


Mereka kembali melewati gurun pasir dan juga badai di malam hari. Lucy benar-benar menikmati perjalanan mereka hingga sebuah hutan terlihat cukup lebat dan pepohonan yang sangat rindang. Evrard mengangkat satu alisnya, ia merasakan kekuatan Esmelth yang cukup besar seperti dirinya tinggal di dalam hutan itu.


"Doroti di dalam sana," ujar Lucien yang tentu saja tahu siapa Esmelth yang dengan mudah membentuk hutan di tengah gurun pasir.


Lucy menatap Lucien dengan pandangan bertanya-tanya, pasalnya Lucien memang tidak pernah menceritakan para Jendral yang pria Esmelth itu kenal. Bahkan Evrard tidak pernah menyinggung soal teman-temannya.


"Doroti adalah Esmelth yang seperti peri hutan, Master," terang Alice yang keluar dari tubuh Lucy untuk bersiaga.


"Salah satu Jendral milik Lord Lucien yang dapat mengendalikan kehidupan tanaman sesuka hati," sambung Blue yang muncul di samping Lucy.


"Tenang saja, Master. Lord Lucien tidak akan lama meninggalkanmu," kata Alice yang sebenarnya tidak di butuhkan Lucy.


Lucy hanya mengangguk lalu meminta Blue menggendongnya dengan kedua tangannya yang mengarah ke arah Esmelth itu. Blue langsung mengangkat tubuh mungil Lucy yang seperti kertas, ia langsung mengangkat Lucy di pundaknya agar Lucy dapat melihat lebih jelas apa yang ada di depan sana.


Debummm


Suara ledakan terdengar dari dalam hutan, seperti yang diduga Evrard. Doroti tidak akan percaya begitu saja pada Lucien yang berada di hadapannya. Namun, Doroti akan menjadi Esmelth yang bodoh jika tidak menyadari kekuatan Lucien saat ini.


Terlihat tumbuhan mulai mengering dan beberapa pepohonan yang langsung saja mati. Lucien keluar dari dalam hutan sambil menyeret tubuh Esmelth wanita bersurai hijau. Alice hanya menggelengkan kepalanya, betapa bodohnya Doroti hingga menyerang Lucien.


"Ugh *M*y Lord, ampuni aku," pinta wanita Esmelth itu yang terlihat kesakitan saat Lucien menarik rambutnya.


"Seperti biasa kau membuatku kesal, kau tahu aku sedang tidak ingin membuang waktu!" jawab Lucien sambil melemparkan tubuh Doroti tepat di depan Evrard.


"Kejam seperti biasanya," gerutu Doroti lalu berlutut ke arah Lucien.


"Maafkan kesalahan hamba, My Lord." Lucien hanya berdecih lalu menatap Lucy yang masih asik duduk di pundak Blue.


"Lucy," panggil Lucien, gadis itu mengangguk lalu turun dari pundak Blue, ia berlari menghampiri Lucien dan memeluk pingang Esmelth itu.

__ADS_1


Doroti menatap Lucy dengan wajah datarnya, gadis kecil yang memiliki mana besar sudah pasti dapat membuat Tuannya menjadi Esmelth gadis itu. Lucy langsung saja membuat kontrak dengan dengan Doroti tanpa permisi, Doroti yang melihat itu ingin mengelak , tetapi mendapat tatapan tajam dari Lucien.


Ancaman yang mengesalkan, Lucien lebih mengerikan dari apapun ketika mantan Raja Esmleth itu marah.


"Dan kini namamu adalah Fay,"


Doroti yang baru saja berganti nama menjadi Fay mulai berganti wujud menjadi sosok Esmelth yang manis seperti Alice. Fay mengerjapakan kedua matanya, sebuah energi mulai masuk ke dalam tubuhnya. Dan ia merasakan jika tubuhnya menjadi terasa enteng dari biasanya.


 


"Perjalanan menuju Hutan Atn akan memakan waktu yang lebih lama, Lucy apa kau akan tetap melihat perayaan Raincar?" tanya Lucien pada Lucy.


Lucy hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Fay yang masih terdiam dan tidak mengerti situasi yang terjadi kini mulai menatap satu persatu temannya. Dari mereka semua tidak ada yang berbicara, sampai Lucy dan Lucien berjalan memasuki hutan untuk melanjutkan perjalanan.


"Hei, bisakah kalian mengatakan sesuatu? Aku tidak tahu apa yang terjadi!" protes Fay sambil menatap teman-temannya.


"Aku sudah berkali-kali menceritakan apa yang terjadi, lebih baik kau bertanya pada Blue," jawab Evrard sambil menunjuk Blue yang tentu saja tidak bisa menebak ekspresi Esmelth berzirah itu.


"Blue?" Fay menatap tidak mengerti ke arah Evrard.


"Namaku sekarang adalah Evrard, dia Alice, dan ia adalah Blue. Sedangkan yang menyeretmu tadi adalah Lord Lucien, kami semua sudah berganti nama sesuai yang Master berikan," terang Evrard.


"Apa? Jadi gadis kecil itu adalah Master kita semua?" tanya Fay menatap tidak percaya ke arah Evrard.


Evrard hanya mengangguk membenarkan, sedangkan Fay menggelengkan kepalanya menatap takjub ke arah Lucy dan Lucien yang sudah semakin menjauh.


"Ayo, kita harus mengikuti mereka, karena mengumpulkan kalian adalah tugas yang cukup rumit mengingat kalian tersebar di penjuru dunia." Kata Everard mengakhiri pembicaraan.


Mereka semua berjalan mengikuti Lucien yang membawa Lucy, perjalanan kembali memakan waktu di saat mereka tengah dihadang beberapa monster gurun. Tidak sulit mengalahkan para monster itu karena ada Evrard dan Blue yang merupakan tombak dan perisai dalam rombongan mereka. Sedangkan tugas Fay adalah menyembuhkan luka-luka di tubuh sahabatnya, karena ia adalah seorang healer yang handal dalam medan perang.


Dan akhirnya mereka sampai di Hutan Ant, hutan yang begitu asri dan tidak berpasir sedikit pun di wilayah benua bergurun. Evrard dan Blue membuat batu pemanggilan dengan sempurna, sedangkan Lucy berbincang-bincang dengan Fay untuk memperkenalkan dirinya.


"Oh akhirnya aku memiliki seorang Master yang imut," ujar Fay sambil memeluk Lucy.


"Salam kenal, Master." Ujar Fay sambil melepaskan pelukannya dan menatap Lucy dengan penuh senyuman.


"Salam kenal, Fay."


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2