The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 10


__ADS_3

Lucien menatap Lucy tajam sedari gadis kecil itu kembali dari membersihkan tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh mulai melindungi tubuh Lucy. Entah apa yang terjadi, Lucy tidak menjawab pertanyaannya saat ia bertanya.


"Lord Lucien, tenang saja. Kekuatan itu melindungi tubuh Master, jadi kau tidak perlu khawatir." ujar Evrard dan Lucien masih menatap tajam Lucy yang sedang berbincang dengan Alice.


"Aku tidak tahu asal kekuatan itu, yang aku harapkan Lucy tidak terluka karena kekuatan itu." jawab Lucien.


"My Lord, Anda seharusnya yang lebih paham daripada kami tentang Master." tukas Evrard dan Lucien hanya menghembuskan napasnya berat.


"Lucy." panggil Lucien, gadis kecil itu menoleh lalu berlari menghampiri Esmelth miliknya.


Lucy langsung memeluk tubuh Lucien, Esmelth itu menggendong tubuh mungil Masternya. Ia ingin mengecap bibir manis Lucy saat melihat wajah ceria gadis kecil itu. Satu sayap miliknya sudah membentang, sayap besar miliknya langsung saja membungkus kedua tubuh itu hingga benar-benar tertutup.


Alice mendekati Evrard yang duduk di pinggir api unggun, gadis Esmelth itu melihat sayap Lucien yang seperti para malaikat miliki. Begitu indah dan sulit untuk di sentuh, sayap milik sang mantan Raja Esmetlh itu bisa berubah menjadi racun yang mematikan jika di sentuh sembarangan.


"Aku jadi iri," Evrard menoleh ke arah Alice yang memperhatikan sayap milik Lucien.


"Untuk apa?" tanya Evrard.


"Lord Lucien sudah mendapatkan pujaan hatinya, lalu aku masih saja sendiri. Meratapi kesendirian tanpa adanya pasangan, aku juga ingin memiliki pasangan." Evrard tertawa kecil saat melihat Alice yang memajukan bibirnya.


"Kau tahu kita ini apa, bukan? Kita adalah Esmelth pilihan Lord Lucien, kita mati pun harus atas izinnya." Jawab Evrard dan Alice hanya mengangguk pasrah.


Sedangkan Lucy yang kini berada di pelukan Lucien tengah tertawa kecil saat Lucien mengigit bibirnya kecil-kecil. Lucien sering sekali menggoda Lucy saat menyantap mana pada tubuh gadis kecil itu. Meski begitu, Esmelth itu tetap berpegang teguh untuk tidak menerjang Lucy yang masih sangat belia.


"Apa kau habis memakan buah ceri?" tanya Lucien yang mengumbar senyum seperti biasanya.


"Alice memberikannya padaku," jawab Lucy sambil tersenyum manis.


Saking manisnya senyuman Lucy, Lucien sudah ingin kembali mengecap bibir mungil itu jika saja Lucy tidak menutupnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya saat Lucien menciumi wajahnya.


"Berhenti, kau membuatku geli, Lucien." kata Lucy sambil menjauhkan wajahnya dari Lucien.


Lucien hanya tertawa kecil allu mulai menggendus leher gadis kecil itu, aroma tubuh Lucy begitu memabukkan sekaligus menenangkan. Lucy kembali menggeliat saat Lucien mulai mengigit kecil lehernya.


"Lucien!"


Lucien tidak mendengarkan, ia kembali membuat Lucy tertawa hingga memukul pundaknya. Merasa sudah cukup bermain dengan Lucy, Lucien sedikit membuka sayap miliknya. Udara dingin mulai menusuk kulit, Lucy langsung saja mendekatkan dirinya untuk memeluk Lucien. Melihat Lucy yang mulai kedinginan, Lucie langsung kembali menutup sayap miliknya.


"Aku lupa kita berada di gurun pasir, jika malam tempat ini memang sangat dingin." gumam Lucien sambil mengelus rambut Lucy yang sudah memanjang.


"Sudah hangat." jawab Lucy sambil memejamkan matanya.


Lucien tersenyum senang, ia kembali memeluk Lucy dengan erat. Entah mengapa perasaannya begitu bahagia saat bersama dengan Lucy, ia tidak pernah sebahagia ini sampai ia tidak ingin melepaskan barang sedetik pun gadis itu.


Hari menjelang pagi, hawa hangat mulai terasa dan mengusik sayap indah milik Lucien. Lucien membuka sayapnya saat mentari mulai merangkak naik. Lucy terbangun saat Lucien memainkan pipinya yang menggoda.


"Aku masih mengantuk, Lucien." jawab Lucy sambil kembali mengeratkan pelukannya pada Lucien.


"Jika kau tidak bangun, aku akan mencium mu seharian penuh." ancaman Lucien sukses membuat kedua mata lucu itu terbuka lebar.


Lucy menggembungkan kedua pipinya, gadis itu abngkit lalu meninggalkan Lucien yang hanya tertawa sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Lord Lucien, Anda seharusnya membiarkan Master untuk beristirahat. Wajahnya terlihat pucat, aku takut Master jatuh sakit." Evrard mengingatkan.


Lucien tahu tentang itu, tetapi jika di biarkan tubuh Lucy hanya akan melemah jika tidak terbiasa dengan kondisi tempat itu. Lucy kembali melangkahkan kedua kakinya menuju pemandian yang ia temukan kemarin.


Gadis itu kembali merendam seluruh tubuhnya ke dalam air tanpa mengetahui ada seseorang yang sudah berada di sana sejak awal. Lucy menoleh dan mendapati seseorang yang ia temui kemarin sore. Wajah gadis itu berbinar lalu mendekati anak lelaki itu yang hanya diam membiarkan Lucy mendekatinya.


"Tidak menyadari keberadaanku lagi?" tanya anak lelaki itu.


"Maaf," jawab Lucy sambil tersenyum lebar.


Senyuman Lucy menular pada anak lelaki itu, "Lucy, mengapa wajahmu pucat?" Lucy hanya menggeleng, ia tidak tahu jika wajahnya memucat.


"Mungkin karena cuaca," jawab Lucy sekedarnya. "apa yang Osiris lakukan disini?"


"Mengucapkan salam perpisahan," jawab Osiris sambil menarik Lucy untuk duduk di sampingnya.


Mereka saat ini tengah berendam di dalam air yang tidak begitu dalam. Lucy menganguk mengerti, ia juga akan melanjutkan perjalanannya lagi untuk membangun altar pemanggilan.


"Kau akan pergi jauh setelah ini, bukan?" tanya Osiris, Lucy hanya mengangguk sambil menunduk manatap wajahnya yang memucat dari pantulan air.


"Lucy, jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, peluklah diriku dan panggil aku kakak." Lucy mengerutkan keningnya ia tidak tahu untuk apa melakukan itu.


"Baiklah." jawab Lucy yang masih tersenyum lebar ke arahnya.


Osiris tersenyum lalu mengecup kening Lucy, ia kembali memberikan sedikit kekuatannya untuk melindungi di mana gadis itu berada. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu jika sudah jauh dari jangkauannya.


"Entah berapa lama kita akan bertemu kembali, jika saat itu tiba aku akan menjadi pelindungmu." Ujar Osiris, Lucy hanya mengangguk dengan antusias.


"Berjanjilah untuk mengingatku, Osiris. Karena saat kita bertemu kembali, kau sudah menjadi kakakku." Osiris tersenyum sambil mengangguk.


"Sampai jumpa, Osiris." Lucy keluar dari danau kecil itu sambil membalut tubuhnya dengan kain yang ia bawa untuk mengeringkan tubuh.


Gadis itu menoleh ke arah danau untuk melihat Osiris untuk yang terakhir kalinya. Tetapi, anak lelaki itu menghilang bagai hantu. Angin berhembus menerpa wajah munculnya, Lucy terdiam sejenak menikmati alam sekitarnya. Meski terasa panas, tetapi juga terasa sejuk.


"Kita akan bertemu lagi, bukan?" gumam Lucy.


Tidak ada jawaban yang ia dapati, tetapi ia tahu jika Osiris akan mendengarnya. Mendengar pesannya lewat hembusan angin yang menyejukkan. Lucy memakai pakaiannya dengan cepat, ia harus segera ketempat para Esmelth miliknya atau mereka akan membakar habis hutan itu hanya untuk menemukannya.


Setelah kembalinya Lucy ke pelukan Lucien, mereka mulai melanjutkan perjalanan menuju Hutan Ant. Melewati gurun pasir dengan terik matahari yang begitu menyengat.


Lelah, sudah pasti. Tapi tidak untuk para Esmelth, mereka sudah berjalan selama hampir 5 jam tanpa berhenti. Sedangkan Fain, ia sudah terbiasa dengan perjalanan panjang itu. Tetapi, tidak untuk Lucy yang sudah kelelahan dan berakhir digendongan Lucien.


"Kita tidak tersasar, bukan?" tanya Alice saat melihat jauh ke depan yang hanya ada pasir tanpa pepohonan atau bahkan oasis.


"Tidak, memang sejauh pandang membentang hanya ada pasir dan fatamorgana." Jawab Fain lalu meminum air yang ia sediakan sebelumnya.


Lucy terlihat semakin pucat di dalam gendongan Lucien. Sepertinya tubuhbgadisnkecil itu belum bisa.menerima pergantian cuaca yang ekstrim di tempat itu.


Hingga akhirnya Lucien memilih untuk berisitirahat dan tidak membiarkan Lucy kepanasan.


"Kita berhenti di sini." Kata Lucien sambil menurunkan Lucy dari gendongannya.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk mengerti dan ikut berhenti sejenak meski hawa panas membakar tubuh mereka.


"Lucy, minumlah. Wajahmu sudah sangat pucat, lebih baik kita berteleport agar Lucy dapat di tangani oleh dokter." kata Lucien sambil memberikan air minum.


Lucy menggelengkan kepalanya seraya memeluk Lucien. Ia hanya lelah dan ingin memeluk Lucien. Esmelth itu mendesah kasar, ia juga tidak bisa menolak keinginan Masternya.


"Ada apa denganmu? Kau menjadi manja seperti ini, Lucy." Lucien mengelus lembut surai keemasan milik Lucy.


"Tidak apa-apa, ayo lanjutkan perjalanan." jawab Lucy, Lucien mengecup kepala Lucy san kembali menggendong tubuh gadis kecil itu.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hari sudah menjelang sore dan hawa panas mulai menurun. Lucy melihat kilauan biru jauh di depan sana.


"Turunkan aku," pinta Lucy, Lucien menurunkan Lucy dengan hati-hati.


Gadis itu langsung saja berlari meninggalkan Lucien dan yang lainnya. Evrard dan Alice segera mengikuti kemana Lucy berlari.


"Master!" panggil Evrard, Lucu berhenti berlari dan menoleh ke arah Esmelth tampan itu.


"Ada apa hingga kau berlari seperti itu?" tanya Evrard yang kini sudah berada di hadapannya.


Lucy menunjuk ke arah sebuah batu yang berkilau berwarna biru yang membuatnya tertarik. Tetapi Evrard maupun Alice tidak melihat apapun arah yang dintunjukan oleh Lucy.


"Tidak ada apapun disana, Master." jawab Evrard.


Lucy menatap jengkel ke arah Esmelth tampan itu. Ia kembali berlari meninggalkan Evrard dan Alice.


"Master!" panggil Evrard dan Alice bersamaan.


Lucien mengerutkan keningnya, ia merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya. Tetapi rasanya begitu sangat familiar hingga ia melupakan Lucy yang sudah jauh darinya. Lucy berhenti tepat pada batu hitam yang mengeluarkan sinar biru. Ia berjongkok untuk melihat lebih dekat, tangan kecilnya terulur hingga menyentuh batu hitam itu.


Seketika daratan yang mereka pijaki bergetar, cahaya biru yang keluar dari batu itu semakin berkilauan dan membuat Lucy menutup kedua matanya.


"Master!" Evrard langsung saja memeluk tubuh Lucy dan terbang menjauh.


Sebuah altar terbuat dari batu hitam muncul dari salam pasir. Sebuah batu kristal berwarna biru tua terlihat keluar dari dalam pasir dan membuat gelombang angin yang cukup besar.


Wuuushhh


"Ugh!" Evrard langsung memeluk Tubuh Lucy di udara agar tidak terkenal gelombang angin itu.


Batu kristal itu retak hingga terpecah belah dan menampilkan seseorang dengan zirah perang. Lucien, Evrard, Alice, dan Fain langsung saja membulat satu melihat siapa yang berada di dalam batu kristal tadi.


"Kau ...," gumam Lucien.


"My Lord, hamba kembali padamu."


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2