The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 7


__ADS_3

Sudah satu minggu Lucy dan Lucien berada di kapal laut, Lucy yang tidak pernah terlihat bosan itu menikmati kebersamaannya dengan Alice. Lucien sengaja membiarkan Lucy bersama Alice agar mereka berdua menjadi lebih dekat. Sedangkan dirinya hanya bisa mengawasi dari jarak jauh bersama Evrard.


Terlihat banyak Esmelth yang mulai mendekati Lucy gagal begitu saja, karena mereka melihat keberadaan Lucien yang tidak jauh dari Lucy. Tatapan mengintimidasi milik Lucien memang benar-benar bisa membuat orang lain ketakutan.


"Dengan kecepatan seperti ini membutuhkan waktu berlayar setidaknya empat bulan, itu pun jika tidak ada badai yang dapat menggangu perjalanan kita," ujar Evrard sambil menatap Lucy yang tengah sibuk bermain dengan Alice.


"Tenang saja, para Esmelth tidak akan tinggal diam jika terjadi badai. Lagi pula aku dapat menghapus badai dengan kekuatanku," jawab Lucien sambil menutup kedua matanya.


"Apa kekuatanmu sudah pulih sepenuhnya?" tanya Evrard dan Lucien hanya menjawab dengan gumaman.


"Lucien," panggil Lucy yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


"Kau mengagetkanku," gerutu Lucien yang terkejut dengan apa yang dilakukan Lucy.


Lucy hanya terkekeh lalu duduk di pangkuan Lucien, sudah beberapa hari ini Lucien tidak memangkunya seperti dulu. Tangan halus Lucien mulai mengelus lembut kepala gadis kecil itu, senyuman Esmelth itu terus mengembang kala Lucy terlihat senang dengan sentuhan tangannya. Lucien dapat menebak tingkah Lucy saat ini, pria itu terlihat merona kala mengerti tingkah imut Lucy saat ini.


Lucy merindukannya, sudah jelas terlihat dengan tingkah gadis itu saat ini. Dan Lucien tidak dapat menutupi kebahagiaannya, ingin sekali Lucien menciumi wajah Lucy saat ini. Raut wajah Lucien tak lepas dari pengamatan Evrard dan Alice, baru kali ini mereka berdua melihat wajah Lucien yang memerah. Dan sikap lembut Lucien yang tetap membuat mereka berdua terkesima.


"Apa aku terlalu mengkhawatirkan dirimu?" tanya Lucien pada Lucy, gadis kecil itu memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.


"Lucy, kau senang berada di dekatku?"


"Tentu saja, karena Lucien adalah seseorang yang mau menerimaku."


"Apa kau tidak takut jika aku berbuat kejam pada orang lain?"


"Tidak."


"Lalu apa yang kau takutkan dariku?"


"Jika kau meninggalkanku."


Jawaban Lucy membuat Lucien tertegun, mantan Raja Esmelth itu terkekeh. Bagaimana bisa ia meninggalkan masternya yang tidak bisa memakai sihir itu. Dan bagaimana bisa ia melepaskan orang yang ia cintai begitu saja. Meski harus berlumur darah dan masuk ke dalam kegelapan dunia sekalipun, ia tidak akan sanggup meninggalkan Lucy.


"Kau lihat betapa manisnya Lord Lucien?" bisik Alice pada Evrard.


"Aku sudah sering melihatnya setelah tinggal bersama mereka," jawab Evrard yang kini memandang lautan yang lagi-lagi mengusiknya.


"Aku takut jika Lord Lucien akan kembali mengamuk seperti dahulu, kau ingat manusia itu, 'kan?" lanjut Alice.


"Meskipun manusia itu bukan seorang Magia, manusia itu tetap dapat membuat Lord Lucien murka. Jika terjadi sesuatu pada Master, aku tidak dapat membayangkannya," ujar Evrard.


Alice mengangguk membenarkan, ia mengingat jelas bagaimana perang saat itu terjadi. Kematian seseorang yang dikagumi Lucien bersamaan dengan dirinya yang merasa tidak akan pernah mendapatkan seorang master. Lucien merasa dirinya terbuang dan tidak ada yang menginginkannya.

__ADS_1


Setelah Evrard dan Alice melihat interaksi Lucien dan Lucy, mereka berdua berpikir jika akan ada hubungan indah di antara Magia dan Esmelth. Tidak jarang kasus itu terjadi di antara para Esmelth dan master mereka sendiri. Meski pada akhirnya mereka tidak akan mendapatkan keturunan.


***


Satu bulan telah berlalu dan mereka masih tetap berlayar di lautan menuju Benua Husberg, kini Lucy mendapatkan teman baru di atas kapal. Seorang Magia laki-laki berusia belasan tahun, anak laki-laki itu bernama Fain. Anak yang begitu ceria dan banyak mengajari Lucy berbagai hal, anak laki-laki itu memiliki Esmelth berwujud anak kecil yang bernama Geraint. Lucien tentu saja mengenal siapa itu Geraint, Esmelth yang tidak suka memperlihatkan wujud aslinya, itulah Geraint.


"Lucy, jika sudah besar nanti siapa yang akan kau nikahi?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Fain.


Lucy yang sedang membaca buku menoleh dan menatap wajah Fain, anak lelaki tampan dengan wajah yang sedikit berandalan itu mampu membuat Lucy meliriknya. Surai hitam yang jarang ia temui selama ini kini terlihat begitu membuatnya tertarik.


"Lucien," jawab Lucy dengan polosnya.


Fain terlihat membelalakan kedua matanya, sedangkan para Esmelth hanya diam tanpa merasa terkejut dengan jawaban Lucy. Geraint sendiri sudah mengetahuinya saat melihat interaksi antara Lucy dan Lucien, Lucien terlihat jelas sangat menyayangi dan mencintai Lucy dari kedua iris rubi miliknya.


"Ahh, padahal aku ingin melamarmu jika kau sudah dewasa nanti," desah Fain yang terlihat menyesal karena Lucy memilih seorang Esmelth.


"Jangan harap," desis Lucien dengan senyuman dan sontak membuat Lucy dan Fain tertawa bersamaan.


Lucy sudah sering melihat Lucien cemburu, tetapi Esmelth itu masih berkelakuan dalam tahap wajar. Walaupun kadang ia sering kali memutuskan tangan Evrard tanpa alasan jelas, Evrard dan Lucy dapat memakluminya. Lagi pula tangan Evrard akan tersambung dengan mudahnya, jadi Lucy tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.


Fain berasal dari Kota Milith yang berada di Kerajaan Night Crow, ia berpetualang bersama Geraint hanya untuk melihat berbagai macam jenis Esmelth, dan budaya antar Kerajaan yang sudah pasti berbeda-beda. Kali ini ia harus kembali ke kampung halamannya untuk memperingati hari kematian orangtuanya. Lucy berencana untuk ikut pergi bersama Fain karena anak laki-laki itu menjanjikan akan ada festival besar di Kota Milith.


"Festival Reincar, festival yang memperingati kembalinya sang Ratu seteleh bereinkarnasi menjadi Esmelth. Raja sangat mencintai sang Ratu, hingga akhirnya sang Raja menemukan kembali sang Ratu dalam bentuk Esmelth," jelas Fain pada saat itu, dan tentunya Lucy sangat tertarik dengan hal itu.


"Lucy, apa kau memiliki orangtua?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Fain tanpa melihat reaksi wajah Lucy yang mendingin.


"Tidak," jawab Lucy sambil tersenyum ke arah Lucien yang tidak jauh berdiri darinya.


"Yang aku miliki saat ini hanyalah Lucien, Paman Evrard dan Alice. Mereka adalah keluargaku." Jawaban Lucy membuat perasaan Fain tidak enak, suasana menjadi canggung karena raut wajah Lucy yang tiba-tiba saja datar menatap lautan.


Lucien mendekat lalu menggendong Lucy dari belakang, ia tidak pernah melihat Lucy yang seperti ini. Lucy tidak pernah membicarakan tentang keluarganya selama ini, mengingat bekas luka di punggung tubuhnya membuat Lucien mengerti mengapa Lucy tidak pernah membicarakannya.


"Evrard," panggil Lucien dan Esmelth bersurai putih itu keluar dari tubuh Lucy.


"Tunggulah di sini, aku akan pergi ke kamar bersama Lucy," titah Lucien, Evrard mengangguk mengerti.


Setelah kepergian Lucien, kini hanya tinggal dirinya bersama Fain dan Geraint. Entah mengapa suasana menjadi mencekam, membuat Fain merasa sesak napas dan Geraint yang sudah menatap tajam Evrard. Pria Esmelth bersurai putih itu hanya mengembuskan napasnya pelan sambil menghilangkan hawa membunuh yang ia keluarkan tadi.


"Jangan pernah menanyakan tentang hal itu lagi," ujar Evrard.


"Master memiliki masa kecil yang menyakitkan hingga akhirnya bertemu dengan Lord Lucien. Aku harap kau tidak pernah menanyakannya lagi, karena Master pun tidak pernah mengatakan tentang keluarganya pada kami," lanjut Evrard dan membuat Fain mengangguk mengerti.


Fain terdiam sambil menatap laut, membayangkan apa yang terjadi pada gadis kecil seperti Lucy membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Sedangkan Geraint hanya mengembuskan napasnya lega, setidaknya Evrard mengatakan dengan cara baik-baik.

__ADS_1


Tidak ada yang tidak mengenal Evrard, Esmelth yang memusnahkan apa pun tanpa banyak bicara. Saat perang beberapa ratus tahun lalu, Evrard mampu memusnahkan puluhan Esmelth dan manusia dalam sekali tebasan. Meski Evrard bukanlah terkuat dalam jajaran jendral milik mantan Raja Esmelth, Evrard termasuk yang paling disegani dalam dunia Esmelth.


"Maaf, lain kali aku akan hati-hati. Lagi pula aku cukup menyukai gadis kecil itu, ia seperti adikku sendiri," ujar Fain.


Mendengar perkataan Fain membuat Evrard sedikit merasa lega, ia mungkin saja dapat menerima. Tetapi tidak dengan Lucien, Evrard takut Lucien akan melakukan sesuatu di belakang Lucy. mengingat Lucien sangat protektif menjaga Lucy, ada kemungkinan mantan Raja Esmelth itu tidak akan tinggal diam dengan masalah kali ini.


"Satu hal lagi, jangan memberikannya boneka. Tanyakan apa yang ia inginkan, jangan mengambil inisiatif sendiri. Karena jika saja kau salah memberikan sesuatu pada Master, Lord Lucien tidak akan tinggal diam," jawab Evrard.


"Aku mengerti, akan aku ingat itu," jawab Fain yang semakin dilema dengan keadaan Lucy saat ini.


"Master akan baik-baik saja bersama Lord Lucien, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Besok pasti Master akan kembali seperti semula," jawab Evrard saat melihat wajah Fain yang tidak bersemangat.


Fain hanya mengangguk, ia kembali memikirkan bagaimana nanti di saat festival reincar. ia merasakan firasat buruk tengah mengintainya jika tetap membawa Lucy. Fain merenggangkan otot-ototnya, ia akan memikirkan masalah itu nanti. Saat ini adalah bagaimana mengubah mood Lucy.


Tiba-tiba saja kapal berguncang hebat, awan hitam terlihat datang begitu saja dengan segala petir yang menyambar ke permukaan laut. Evrard, Fain dan juga Geraint mulai waspada dengan apa yang terjadi.


"Badai?" tanya Fain dan Evrard menggelengkan kepalanya.


"Kalian tunggu di sini dan berjagalah, aku akan mencari tahu apa yang terjadi," ujar Evrard yang langsung saja terbang ke atas langit untuk memeriksa.


Sedangkan Fain hanya bisa memegang pilar besar agar dirinya tidak terjatuh ke dalam lautan. Ombak besar mulai terlihat menggulung dan menerjang kapal. Fain berdecak kesal kala Geraint hanya melihat sekitarnya.


"Geraint!" teriakan Fain membuat Esmelth itu mengerti.


"Ck, para Esmelth yang berada di laut sepertinya sedang murka. Entah apa yang terjadi, kita harus selamat dari amukan mereka!" jawab Geraint yang langsung saja menyelam ke dalam air.


"Sepuluh, tiga puluh ... sial, mengapa banyak Esmelth di sini!" gumam Geraint saat melihat para Esmelth di hadapannya dengan pandangan marah ke arahnya.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Geraint, salah satu Esmelth maju dan menghadap di depan Geraint.


"Berikan Magia itu pada kami."


 


 


 


 


***


 

__ADS_1


__ADS_2