
Lucy memainkan api di jari Poizaru, setelah mendapatkan tendangan dan pukulan telak dari Lucien, pria bersurai putih itu memohon ampun kepada sang Tuan. Poizaru yang melihat Lucy tidak merasakan sakit dengan api miliknya, mulai mengerutkan kening sambil menatap penuh tanda tanya gadis di hadapannya.
"Master, apa tanganmu tidak merasakan sakit?" tanya Poizaru, ia blum menjadi esmelth milik Lucy saat ini.
Lucy sedang menilai pria itu, ia tidak ingin terburu-buru membuat kontrak dengan para esmelth milik Lucien. Meskipun mereka tidak akan menyakiti Lucien, tetapi di masa depan mereka belum tentu akan kembali setia kepada Lucien.
"Tidak sama sekali," jawab Lucy yang ia sendiri tidak mengerti dengan kondisi tubuhnya.
Terkadang ia akan merasakan sakit, dan hidup layaknya orang biasa yang dapat merasakan kesakitan. Tetapi ia juga lebih sering tidak merasakan sakit pada tubuhnya, entah itu merupakan sebuah segel yang berada di punggungnya atau bukan.
"Kita akan pergi melewati pegunungan Jian Mo, di sana banyak hewan buas dan kau harus berhati-hati, Master." Ujar Poizaru dan Lucy mengangguk mengerti.
"Tenang saja, Lucien lebih buas daripada hewan buas sekali pun," jawaban enteng Lucy membua para esmelth miliknya menahan tawa.
Sedangkan Lucien mulai menatap sengit Lucy yang justru tersenyum lebar. Anak kecil tetaplah anak kecil, menyebalkan dan merepotkan, tetapi bagi Lucien gadis itu adalah teman sehidup dan sematinya.
Pegunungan Jian Mo adalah jalan pintas menuju Hutan Yuan, meski berjudul jalan pintas, tetap saja membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai di Hutan Yuan dengan berjalan kaki. Lucy ingin menikmati hari-harinya dan Lucien mendukung keinginan Lucy.
Tidak terasa sudah satu tahun Lucy meninggalkan orangtua angkatnya, mereka masih terus berkomunikasi dengan baik hingga saat ini. Beberapa kali Revina meminta Lucy untuk pulang sejenak, karena Ibu angkatnya itu begitu merindukan gadis kecilnya. Tentu saja Lucy senang, mendengar kata rindu ia kembali berpikir apakah kakak perempuannya merindukan dirinya.
"Master," Kharel mendekat sambil memberikan permen lolipop kepada Lucy.
"Apa Anda akan membiarkannya menjadi esmelth liar?" tanya Kharel sambil menunjuk Poizaru yang sedang berbincang dengan Lucien.
Lucy tidak menjawab, gadis itu hanya fokus kepada permen manis yang sedang ia makan saat ini. Memikirkan Poizaru bisa kapan saja, ia tidak terlalu memikirkannya. Kharel menghembuskan napasnya berat, setidaknya ia sudah menjadi esmelth Lucy.
"Master, aku membawakan pakaian musim dingin. Kau harus memakainya, sebelum salju pertama turun." Ujar Zoe sambil menyerahkan jaket kulit beruang yang entah dari mana esmelthnya itu dapatkan.
"Terimakasih, Zoe," jawab Lucy sambil tersenyum lebar.
Sudah lama ia tidak merasakan salju berada di genggamannya, selama perjalanan ini ia tidak menemukan musim dingin di berbagai wilayah. Di wilayah benua Qwenzy mungkin ia akan menemukan musim dingin.
"Salju," gumam Lucy, ia mengingat kejadian mengerikan saat musim bersalju di kerajaannya.
Lucy segera mengenyahkan pikirannya, esmelth terhubung dengan sang Master, karena itu Lucy harus berhati-hati agar Lucien tidak mengetahui apapun tentangnya. Pikirannya kembali tetuju pada Poizaru yang sedang menyalahkan api unggun menggunakan kekuatannya.
Tanpa pikir panjang, Lucy merentangkan satu tangannya ke arah Poizaru sambil membuat kontrak dengan esmelth itu.
"Dengan ini kau menjadi esmelth milikku, dan namamu adalah ... Archen!"
Tubuh esmelth itu mulai bersinar terang dan mulai berubah dengan sinar yang mulai berpendar. Semua mata kini menatap Lucy yang berdiri di sebelah Zoe, gadis itu langsung saja membalikkan tubuhnya dan pergi sambil menarik tangan Zoe.
"Aku ingin mencari salju," ujar Lucy yang sepertinya enggan untuk membahas apa yang terjadi.
Setelah cukup jauh, Lucy berhenti di tempat. Zoe yang melihat gelagat Lucy mulai menatap aneh sang master. Lucy menundukkan kepalanya, sesuatu mulai menetes dari hidung dan matanya. Tangan kecilnya bergetar saat melihat cairan merah begitu banyak menetes dari wajahnya, kilasan masa lalu kembali terbayang dan menyampaikan betapa sakit dirinya di masa lalu kepada para esmelth miliknya.
"MASTER!"
__ADS_1
Zoe terlihat khawatir dengan keadaan Lucy yang menatap kosong tanah di bawahnya. Dengan cepat Zoe menarik Lucy ke dalam pelukan, ia membersihkan darah yang menetes dari hidung dan mata Lucy.
"Master!" desis Zoe saat merasakan rasa sakit di kepalanya.
Dingin dan menyesakkan, seperti terkena hipotermia, semua esmelth dengan cepat berkumpul mengerubungi tubuh Zoe dan Lucy yang masih terbuka kedua matanya. Tatapannya kosong dan membuat Lucien kalang kabut karena cemas. Dengan cepat ia meraih tubuh Lucy ke dalam dekapannya.
"Lucy sayang, sadarlah ... aku mohon," ujar Lucien sambil menciumi wajah Lucy dengan lembut.
Lucy mengerjapkan kedua matanya saat merasakan kecupan-kecupan kecil dari bibir Lucien. Lucy tersenyum sambil menangkup wajah Lucien, ia dapat melihat raut wajah Lucien yang hampir menangis.
"Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit syok," jawab Lucy sambil tersenyum.
"Lucy!" Lucien langsung memeluk tubuh gadis kecil itu.
Lucy dengan mudah memikirkan hal lain agar Lucien tidak dapat menebak pikirannya yang tengah kacau saat melihat salju. Lucien menatap tidak percaya pada Lucy, gadis itu masih belum terbuka padanya sampai saat ini.
"Aku di sini untukmu, Lucy," kata Lucien menatap lembut gadis kecilnya.
"Aku tahu," jawab Lucy setengah tersenyum.
"Kharel!" panggil Lucien tanpa menoleh.
Kharel mengangguk mengerti lalu membawa Lucy ke dalam dimensi milik esmelth itu. Tanpa banyak kata, Lucien menggendong Lucy. Ia ingin Lucy menjelaskan apa yang terjadi pada gadis itu. Lucien juga membuat Lucy tertidur dalam dekapannya.
"Istirahatlah, Lucy."
***
Seorang lelaki yang rupawan, surai berwarna goldenrod miliknya menambah kesan manis dan tenang. Iris matanya berwarna azure seperti warna bola kecil yang melayang di dekatnya. Lelaki itu menoleh ke arah Lucy. Gadis kecil itu terdiam sejenak dengan wajah tanpa ekspresi, lelaki itu tersenyum lalu membenarkan duduknya.
"Gadis kecil, apa yang kau lakukan di dimensiku?" tanya pria itu.
"Tidak tahu," jawab Lucy sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"Apa kau tiba-tiba datang ke tempat ini?" tanya lelaki itu lagi.
Lucy hanya menjawab dengan anggukkan, lelaki itu tersenyum lalu mendekat. Ia berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Lucy.
"Jika kau tiba-tiba datang, mungkin kita akan segera bertemu. Di mana tubuh aslimu?"
"Bersama Lucien."
"Lucien?"
"Esmelth pertamaku,"
"Esmelth pertama?"
Lucy hanya mengangguk, perlahan tubuhnya berubah menjadi serpihan cahaya. Lucy tersenyum saat sebelum tubuhnya benar-benar hilang. Lelaki itu tersenyum kecil, gadis kecil yang manis dan terlihat polos itu membuatnya ingin mengetahui lebih.
__ADS_1
"Apa gadis itu memiliki Esmelth lain?" gumamnya.
Lelaki kembali duduk di kursi kristal es miliknya, tersenyum lebar dan semakin lama memperlihatkan seringaiannya.
"Menarik ... kita akan bertemu lagi, Gadis Kecil."
***
Lucy terbangun dengan rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya. Kini ia berada di tengah hutan dengan salju yang mulai bertumpuk. Gadis itu menghela napas, ia merasa tidak asing dengan apa yang terjadi padanya saat ini.
Lucy melihat luka sayatan yang menghiasi seluruh tangan dan kakinya, tubuhnya setengah terlanjang dan hanya menutupi bagian yang harus ditutupi. Putihnya salju selalu mengingatkan hal di musim dingin, mengingatkan hal yang selalu ia rasakan saat berusia dua tahun.
Lucy dapat melihat punggung seorang gadis yang membelakanginya, gadis itu seperti tengah menghadang dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah cambukan mengenai wajahnya yang mulus, tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Seharusnya ia tidak dapat melihat, tetapi entah mengapa saat ini ia dapat melihat dengan jelas.
Ia dapat melihat dengan jelas raut wajah gadis itu yang menyeringai menatapnya. Lucy melihat raut wajah gadis itu dalam diam, tangannya sedikit gemetar seperti ingin menggapai. Ekspresi Lucy masih tetaplah sama, tidak ada raut kecewa ataupun bahagia.
Rantai-rantai itu mulai menariknya, menarik kuat hingga seperti ingin membelah tubuhnya. Lucy lagi-lagi hanya melihat ekspresi wajah gadis itu, tidak ada raut wajah sedih ataupun kasihan. Hanya ada seringaian yang menghiasi wajah gadis itu, dengan kata-kata manis akan menolong dirinya.
Seperti ilusi, ia kembali berpindah dan kini tepat berada di hadapan Lucien. Esmelth itu menatap Lucy dengan tatapan tajam, Lucy mencoba menggerakkan tubuhnya kembali. Namun, sia-sia saja ia lakukan, rantai yang membelenggu tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Lucy melihat gadis itu datang dan berdiri di sebelah Lucien. Ia menggandeng tangan Lucien dan tersenyum remeh ke arah Lucy.
Tanpa banyak kata, Lucien menggendong tubuh gadis itu dan mendekapnya penuh kasih sayang. Saat itulah perasaan aneh muncul dalam diri Lucy. Perasaaan yang tidak rela jika Lucien dekat dengan orang lain. Lucien berbalik dan meninggalkan Lucy yang masih terbelenggu, gadis di gendongan Lucien tersenyum puas ke arah Lucy sambil melambaikan tangannya.
Lucy mulai memberontak, ia berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut kecilnya. Ia memanggil nama Lucien berkali-kali untuk sedikit saja menoleh ke arahnya. Namun, Lucien seperti tidak mendengarnya, Esmelth itu berjalan semakin jauh meninggalkan Lucy. Hingga sebuah rasa sakit di tubuhnya membuatnya berteriak memanggil nama Lucien, dan kegelapan pun kembali mengusai kesadarannya.
Lucy kembali terbangun dalam dekapan Lucien, seperti biasa Lucien tidak akan melepaskannya saat tidak sadarkan diri ataupun tidur sejenak. Meski begitu, Lucy merasakan kehangatan yang diberikan Lucien padanya. Mimpi yang ia lihat seperti nyata, tangannya gemetar sambil mengeratkan genggamannya pada baju Lucien.
"Kau sudah bangun?" tanya Lucien sambil menciumi wajah Lucy.
"Lucien," panggil Lucy dengan suara lirih.
"Hmmm?"
"Aku tidak ingin melihat salju, biarkan aku di sini selama musim dingin,"
Lucien memandang wajah Lucy yang pucat, di belainya wajah gadis kecil itu dengan lembut. Seharunya hanya ada keceriaan di wajahnya, tetapi saat ini yang ia lihat adalah sebuah trauma yang sedang di hadapi oleh Lucy.
"Baiklah, tapi apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku?"
Lucy menggelengkan kepalanya, ia kembali memejamkan kedua matanya dan bersandar pada dada bidang Lucien. Lagi, Lucien merasa ditolak berkali-kali oleh Lucy, gadis itu terlalu banyak menyimpan rahasia dari dirinya.
"Kau tidak mencintaiku, Lucy," gumam Lucien menatap sendu sang Master.
"Aku menyayangimu," balas Lucy ia mencium bibir Lucien dan tersenyum lucu pada esmelth miliknya.
"Jangan tinggalkan aku, Lucien!"
***
__ADS_1