The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 27


__ADS_3

Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk Lucy belajar tentang tata krama istana dan di Akademi Magia, Lucy yang jenius dan cepat belajar mempermudah para pembimbing mengajarinya. Tidak jarang para pembimbing justru berdiskusi dengan Lucy tentang sihir yang dapat mereka gunakan.


Kecantikan dan kecerdasan yang Lucy miliki menjadi daya tarik bagi Kerajaan Night Crow, sudah beberapa kali pinangan di layangkan kepadanya. Namun, Rozario menolak dengan halus, jika Lucy akan menikah dengan seorang Esmelth seperti dirinya yang menikah dengan Esmelth miliknya sendiri.


Lucy tidak bosan membaca semua buku yang ada di seluruh negeri Night Crow, ia akan membaca dengan cepat dan semua informasi dapat ia tampung dengan baik di kepala cantiknya. Lucien yang selalu memperhatikan tumbuh kembang Lucy, begitu senang dengan perkembangan anak kecil yang dulu ia asuh itu.


Senyum Lucien tidak pernah pudar selama tiga tahun terakhir ini, ia selalu senang melihat Lucy yang begitu bahagia dengan kehidupannya saat ini. Lucien ingin sekali mengurung Lucy untuk menjadi miliknya sendiri, tetapi ia tidak ingin menjadi pria egois yang dapat membuat Lucy membencinya.


"Lucien, apakah kita akan membalas masa lalu Lucy?" tanya Sylvester.


Mereka berdua saat ini berada di perpustakaan kota, menjaga Lucy yang sedang membaca buku dan sesekali membantu penduduk yang meminta bantuannya. Lucy sudah menjadi seorang Putri yang sangat digemari oleh semua kalangan. Tidak hanya para kalangan bawah, para bangsawan juga menghormati sang Putri yang memiliki kedreabilitas yang tinggi. Pengetahuan gadis itu benar-benar di luar nalar para orang dewasa.


"Tentu saja, kita akan membuat mereka yang menyakti Lucy mati dengan cara yang keji."


Sylvester melirik ke arah Lucien yang hanya tersenyum kecil sambil menatap Lucy, meski tatapan Lucien terus terarah ke arah Lucy, pikirannya tetap terhubung ke sekitarnya. Ia juga melirik ke sekitar, di mana para teman-temannya sedang membaca bahkan ada yang sedang bermain di luar perpustakaan. Sedikit membosankan, Sylvester memilih untuk pergi keluar dan melihat matahari yang tepat di atas kepalanya.


Seluruh kota sedang bersiap-siap untuk membuat perayaan pernikahan sang Putri, tinggal beberapa hari saja acara sakral itu harus di selenggarakan. Acara untuk menolong Lucy dari masa depan akan kematiannya. Perayaan kali ini akan jauh lebih meriah daripada perayaan lainnya. Namun, sayangnya kerajaan lain tidak dapat menghadiri karena tidak ada undangan yang dibuat oleh pihak Kerajaan Night Crow.


"Sepertinya kau tidak bisa menikmati hari-hari tenang."


Suara Lucy mengejutkan Sylvester yang sedang fokus melihat-lihat sekitarnya, ia menoleh dan mendapati Lucy yang sedang bergelayut manja pada Lucien. Pemandangan yang sudah biasa ia temui selama beberapa tahun terakhir ini.


"Aku tidak suka ketenangan," jawab Sylvester sambil merenggangkan otot tubuhnya yang terasa pegal karena tidak bisa mengeluarkan kekuatannya dengan bebas.


"Karena kau sering mengamuk, kau lebih mudah tertangkap oleh mereka."


Sylvester menatap kesal Lucy yang hanya bisa tertawa kecil akan perkataan Lucien.


"Aku akan memasuki Akademi Magia, aku yakin kau akan mendapatkan lawan yang pantas untukmu di sana, Sylvester."

__ADS_1


Sylvester hanya bisa mengangguk mendengar perkataan Masternya, mungkin ia dapat menemukan lawan yang seimbang seperti seorang esmleth yang ia benci. Tetapi, ada satu hal yang membuat Sylvester tidak mengerti dengan Lucy, ia tidak bisa membaca pikiran terdalam sang Master.


Lucien menarik tangan Lucy untuk mengikutinya, beberapa hari lagi mereka berdua akan menikah. Tetapi, Lucy seperti tidak tertarik dengan pernikahan tersebut, dan semua itu membuat Lucien menjadi gelisah meski ia tutupi.


"Lucy," panggil Lucien saat mereka sudah sampai di padang rumput menuju istana.


"Ada apa?" jawab Lucy sambil menarik tangan Lucien dan membiarkan tangan esmleth itu mengelus wajahnya.


"Sepertinya kau tidak tertarik dengan pernikahan kita, apa kau berubah pikiran?" tanya Lucien dengan wajah serius.


Lucy mengerjapkan kedua matanya, gadis itu menatap Lucien dengan pandangan yang mengatakan 'Mengapa kau bertanya hal seperti itu?'.


"Aku bukan tidak tertarik atau tidak, lagi pula itu adalah keinginanmu untuk menikahiku sejak dulu, bukan?"


"Jadi ... kau tidak ingin menikah denganku?"


"Tentu saja aku mau menikah denganmu, aku adalah milikmu, Lucien. Ada apa denganmu hari ini?"


"Lucien ... apa kau meragukanku?"


"Lucy."


Lucien langsung saja merengkuh tubuh ramping Lucy, ia hanya ingin mendapatkan Lucy seutuhnya. Ia ingin seluruh jiwa, raga, bahkan hati Lucy hanya untuk dirinya. Kekhawatiran Lucien terlihat begitu nyata di mata Lucy. Gadis itu tersenyum lalu membalas pelukan Lucien dengan hangat.


"Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Lucien. Mengapa kau setakut itu?"


"Aku ... aku ... aku hanya ingin kau merasakan hal yang sama sepertiku," gumam Lucien.


"Berapa lama kita sudah tinggal bersama?" tanya Lucy.

__ADS_1


"Hampir tiga belas tahun," jawab Lucien lirih.


"Berapa lama aku tidur bersama denganmu?"


"Hampir tiga belas tahun," jawab Lucien lagi.


"Dan selama itu aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu di sisiku, Lucien. Aku tidak akan terbiasa jika kau jauh dariku, apa sekarang kau memahaminya?"


"Jadi kau ingin aku menjauhimu?"


"Bukan itu yang aku maksud, jika kau menghilang aku akan kehilangan cahaya hidupku. Jika kau jauh dariku, aku tidak dapat tenang sendiri meski banyak orang di sekelilingku. Kau adalah segalanya untukku, kau adalah cahaya hidupku, aku tidak bisa hidup tanpamu, Lucien."


Mendenger pernyataan dari Lucy, Lucien tersenyum lebar dan sedikit menutup bibir dengan punggung tangannya. Wajah Lucien memerah  dan ia sedikit demi sedikit melangkah mundur. Lucy memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah Lucien, tetapi Lucien justru menghilang dan masuk ke dalam tubuh Lucy.


"Ada apa dengannya?" gumam Lucy, ia berbalik dan segera kembali ke istana.


Tidak jauh dari tempat mereka berdua, para esmelth Lucy berkumpul dan hanya bisa tertawa melihat tingkah Lucien yang malu-malu dengan pernyataan Lucy.


"Aku tidak tahu harus berkata apa," ujar Sylvester.


"Mereka memang seperti itu, jadi abaikan saja. Lebih baik kita kembali," jawab Kharel dengan senyum khasnya.


"Zoe, Fay, Rev, dan Archen, kalian awasi seluruh wilayah kerajaan. Jangan sampai ada yang terlewatkan," titah Sylvester.


"Dalam satu jam kami akan kembali, sampaikan pada Master."


Mereka berempat langsung saja berpencar dan mulai mengawasi wilayah Kerajaan Night Crow.


 

__ADS_1


***


Full chapter tersedia di Joylada :*


__ADS_2