The Curse Of Esmelth

The Curse Of Esmelth
Episode 15


__ADS_3

Sebulan telah berlalu dari masa pengangkatannya menjadi Tuan Putri kerajaan Nightcrow, Lucien terlihat tidak nyaman tinggal di Istana dan Esmelth itu ingin segera pergi untuk kembali berpetualang menemukan para Jendral miliknya. Lucy mengamati tingkah Lucien yang merajuk seperti anak kecil, gadis itu tertawa kecil lalu menghampiri mantan Raja Esmelth itu.


"Lucien, kau masih marah padaku?" tanya Lucy sambil memegang tangan Lucien.


"Tidak, aku marah pada Ibumu, ia mengekangmu untuk tinggal di sini. Aku ingin pergi dan mengumpulkan para Jendralku untuk melindungimu," jawab Lucien sambil memajukan bibirnya.


Lucy tertawa melihat wajah imut Lucien yang jarang sekali ia lihat, gadis kecil itu mengelus tangan Lucien lalu menganguk.


"Kita pergi sekarang, tidak baik menunda lebih lama lagi,"


"Tetapi, kau baru akan kembali saat usiamu enam belas tahun, apa kau tidak masalah dengan hal itu?"


Lucy mengeleng pelan, ia tidak masalah jika berada di sisi Lucien. Selama Lucien berada di sisinya, ia akan terus mengikuti Lucien pergi. Esmelth itu langsung saja tersenyum lebar dan memeluk Lucy, ia senang akan keluar dari Istana itu dan mencari teman-temannya.


"Ke mana kita akan pergi?" tanya Lucy menatap Lucien yang kini sedang berpikir.


"Benua Qwenzy, kita akan pergi ke tebing Rocky. Di sana letak yang tepat untuk membangun batu pemanggilan, dan titik terakhir adalah di hutan Yuan. Arrgghh, aku membenci Ratu Kerajaan Xia Qing," Lucy menatap tidak mengerti ke arah Lucien.


"Ada apa?" tanya Lucy, Lucien menggelengkan kepalanya.


Sudah berabad-abad berlalu, ia yakin Ratu dari kerajaan itu mungkin lebih baik dari yang dulu. Nenek sihir yang menyebalkan bagi Lucien, Magia itu terus menerus ingin menangkap Lucien untuk jadi Esmelth miliknya, tetapi selalu saja gagal.


"Cepat berpamitan pada Ibu dan Ayahmu, kita harus bergegas pergi mencari mereka," ujar Lucien, Lucy mengangguk dan berlari kecil meninggalkan Lucien.


Menuju ruang singgasana, beberapa pelayan membungkuk hormat saat Lucy melewatinya dengan riang. Sapaan kecil Lucy lontarkan untuk para pelayan yang menyukai Lucy karena keramahan gadis kecil itu.


"Yang Mulia, Putri Lucy datang ingin bertemu Anda," ujar pelayan pribadi sang Raja.


"Biarkan dia masuk, aku ingin melihat Putriku," jawab Rozario dengan senyum mengembang.


Lucy memasuki ruang singgasana lalu memberi hormat kepada sang Raja dan Ratu yang sepertinya tidak bisa diam jika ada Lucy di hadapannya.


"Selamat siang Ayahanda, Ibunda," sapa Lucy yang begitu mengerti tata krama kerajaan.


Rozario dan Revina tersenyum bangga akan kecerdasan Lucy dan sikap sopan santunnya terhadap orang lain. Putri kecil mereka itu terlalu pintar untuk seukuran gadis kecil sepertinya. Namun, mereka sangat menyukai Lucy apa adanya.


"Ada apa Putriku sampai harus datang ke singgasanaku?" tanya Rozario yang bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Lucy.


Revina mengikuti sang Raja Nightcrow dengan melayang di belakangnya.


"Aku ingin meminta izin kalian untuk meneruskan perjalanan mencari Jendral milik Lucien, apakah Ayahanda dan Ibunda mengizinkannya?" ujar Lucy menatap kedua orangtua angkatnya, Rozario dan Revina saling berpandangan.


Mereka berdua tidak rela kehilangan Putri mereka yang baru saja mereka resmikan menjadi anggota keluarga Kerajaan Nighcrow. Namun, tugas yang di emban Lucy sejak awal memanglah mengekang gadis kecil itu.


"Kapan kau akan kembali?" tanya Revina yang memeluk Lucy dari belakang.


"Paling lambat delapan tahun lagi aku akan kembali, tetapi bisa di percepat jika Lucien langsung teleportasi ke tempat tujuannya," jawab Lucy.


Rozario menghembuskan napasnya, menjelajahi dunia mungkin adalah pilihan terbaik untuk Lucy. Gadis itu dapat melatih mana miliknya untuk menjadi pelindung suatu saat nanti. Rozario mengelus kepala Lucy dengan sayang, ia memang belum lama mengenal Lucy, tetapi ia begitu menyayangi Lucy layaknya putri kandungnya.


"Kau harus berjanji untuk kembali secepatnya, karena aku harus banyak mengajarimu tentang dunia ini, Lucy." Lucy mengangguk menatap Rozario dengan penuh haru, baru kali ini ia merasakan memiliki seorang ayah.


"Aku berjanji, Ayahanda. Enam, tidak. Empat tahun lagi aku akan kembali dan Ayahanda harus banyak mengajariku tentang banyak hal."


"Berjanjilah untuk kembali hidup-hidup," Revina menyela dan menatap Putri angkatnya dengan pandangan berkaca-kaca.


"Mama, aku tidak akan mati semudah itu," jawab Lucy dengan panggilan sayangnya kepada Revina.


Revina tersenyum tetapi air matanya terus mengalir, ia tidak ingin Lucy terluka apalagi mati karena Kerajaan Xeravine terus mengincarnya. Lucy menghapus air mata Revina, ia sudah menyiapkan beberapa hal sebelum ini untuk Revina. Ia tahu Ibu angkatnya itu akan terus menangis mengkhawatirkan dirinya.


"Mama bisa memakai ini," Lucy memberikan sebuah cincin berwarna hitam legam.


"Apa ini?" tanya Revina menatap cincin itu seperti mengalir sebuah mana.

__ADS_1


"Cincin itu berasal dari shield milik Blue, cincin itu menghantarkan mana milikku, jadi Mama tidak perlu khawatir. Kita bisa berkomunikasi lewat sihir seperti ini," Lucy menjauh lalu meminta Revina untuk merapalkan mantra yang di buat oleh Lucy.


Kemudian sebuah hologram muncul menampilkan Lucy di atas cincin hitam itu. Rozario membulatkan kedua matanya, ini merupakan penemuan terbaru di abad ini. Lucy benar-benar cerdas dan dapat memikirkan semua hal yang tidak pernah terbanyangkan sebelumnya.


"Mana itu tidak akan habis karena aku terus mengalirinya lewat tubuh Blue, sehingga kapan pun Mama dapat menghubungiku," jawab Lucy dengan riangnya, Revina langsung saja mencium wajah Lucy berkali-kali.


"Putri Mama memang hebat, kau menggemaskan sekali jika seperti itu, Lucy." jawab Revina lalu memeluk tubuh Lucy erat-erat.


"Tetapi, jika mana itu habis ... tandanya aku telah mati." Ucapan Lucy membuat tubuh Revina dan Rozario menegang.


"Tidak, tidak, tidak, kami percaya mereka akan melindungimu. Kau tidak akan mati semudah itu, bukan?"  jawab Rozario yang ingin sekali mengurung Lucy dalam istananya.


Lucy hanya tersenyum lalu memeluk kaki Rozario, sang Raja menghembuskan napasnya kasar dan mengelus kepala Putri angkatnya. Ia tidak ingin kehilangan senyuman Revina dan juga Lucy yang seperti matahari di hidupnya saat ini.


Kepergian Lucy memang tidak bisa di hindari, Rozario dan Revina akhirnya melepas kepergian Lucy dengan air mata. Lucy meminta Lucien untuk segera pergi dan memakai teleport untuk memepercepat kepergian mereka. Dan saat itu juga, Revina merasakan banyaknya tentara kerajaan Xeravine yang akan datang ke Istana.


"Mereka datang," ujar Revina yang mulai memasang shield di sekitar Rozario dan dirinya.


"Tidak perlu setakut itu, kami hanya ingin bertanya," ujar seseorang yang baru saja tiba menggunakan teleport.


"Jendral tertinggi Xeravine, lancang sekali kalian datang tanpa melewati prosedur seharusnya," ujar Revina sambil mengeluarkan pedang miliknya.


"Tunggu, aku tidak ingin mencari masalah denganmu. Ini di luar perintah Kerajaan Xeravine," ujar sang Jendral.


"Lalu apa tujuanmu?" tanya  Rozario yang masih terlihat santai.


"Aku hanya ingin bertanya satu hal pada kalian," jawab sang Jendral.


"Jika mengenai Lucy, aku tidak akan mengatakan di mana saat ini mereka berada," jawab Revina dengan tatapan penuh amarah.


"Tidak, aku hanya ingin bertanya ... apa Putri Lucy baik-baik saja?" tanya sang Jendral dengan tatapan serius.


"Tentu saja Lucy baik-baik saja bersama dengan mereka, apa yang kau harap-"


"Eh?"


Sang Jendral tersenyum dengan air mata yang menetes di kedua pipinya, Revina dan Rozario menatap tidak mengerti Jendral yang terkenal dengan kekejamannya itu dari kerajaan Xeravine.


"Syukurlah Putri baik-baik saja,"  pria itu jatuh terduduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Apa maksudmu?" tanya Rozario menatap heran sang Jendral.


"Tolong lindungi Tuan Putri Lucy, setidaknya jangan sampai Kerajaan Xeravine kembali menemukannya," ujar sang Jendral sambil bangkit berdiri menghapus air matanya.


"Apa maksudmu?" Rozario mengulang pertanyaannya.


"Seperti yang kalian ketahui, Putri Lucy adalah aib keluarga Kerajaan Xeravine. Karena itu bagaimanapun ia harus di bunuh, itulah perintah dari Raja dan Ratu. Beberapa tahun lalu aku membuatnya pergi sejauh mungkin menuju hutan Lugia agar ia selamat. Putri Lucy tidak bersalah, semua ini karena Putri Liviana yang membuat Putri Lucy kehilangan mana besar miliknya." Terang sang Jendral.


"Apa katamu? Putri Liviana yang membuat Lucy kehilangan mana?" Rozario menatap tidak percaya ke arah sang Jendral.


"Suatu saat nanti kebenaran akan terungkap, jagalah Putri Lucy sebaik mungkin. Karena pada akhirnya, mereka akan membalaskan dendam Putri Lucy. Dan saat itu juga aku akan melindungi Putri Lucy. Anggap pertemuan kita tidak pernah terjadi," ujar sang Jendral yang menghilang dengan berteleportasi.


Di sisi lain, Lucien mendengarkan semua yang dikatakan Jendral itu dan juga orangtua angkat Lucy, ia mengeratkan gendongannya pada Lucy setelah memahami apa yang terjadi. Segel di kening Lucy yang ia pecahkan adalah segel buatan anak kecil yang merupakan kakak Lucy. Lucien tertawa kencang hingga membuat Lucy mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Lucy, Lucien menggelengkan kepalanya.


'Bedebah itu, aku akan membuat mereka mati di tanganku!' batin Lucien memantapkan diri.


"Lucy," panggil Lucien, Lucy mendongak dan menatap Esmelth miliknya.


"Apa kau menyayangi Kakakmu?" tanya Lucien, Lucy mengangguk antusias.


"Kakak yang selalu menolongku disaat aku disiksa oleh mereka," jawab Lucy sambil tersenyum menatap Lucien.

__ADS_1


Lucien menghentikan langkahnya, ia menatap Lucy yang sepertinya sangat senang sekali membicarakan Kakaknya. Lucien mendengkus, ia tidak suka saat Lucy kelak nanti harus memilih di antara dirinya dan juga Kakak perempuannya.


"Lucy, kau menyayangiku?"


"Tentu saja,"


"Siapa aku di matamu?"


"Cayaha penolongku,"


"Siapa kau di mataku?"


"Pengantinmu,"


"Siapa yang harus kau turuti?"


"Lucien,"


"Siapa pelindungmu?"


"Lucien,"


"Jika suatu saat nanti aku harus bertarung dengan Kakakmu, siapa yang kau pilih?"


"Dirimu."


Lucien menyipitkan matanya, ia mencari kebohongan di mata mungil milik Lucy, tetapi seperti biasanya ia tidak menemukan kebohongan sekecil apapun.


"Jika kakakmu mati di tanganku, apa kau akan membenciku?"


"Lucien, suatu hari nanti kau akan melihat apa yang aku alami. Jika saat itu tiba, kau bisa mengetahui jawaban dari pertanyaanmu itu."


"Kau tidak ingin menjawabnya?"


"Waktu yang akan menjawabnya, Lucien."


"Terakhir ... apa kau mencintaiku?"


"Apa yang ingin kau buktikan, Lucien?"


"Aku ingin kau menyerahkan seluruh hidup dan matimu, juga beserta ragamu menjadi milikku!"


"Kau hanya tinggal mengambilnya, Lucien."


"Lucy, kau tidak mengerti!"


"Kalau begitu biarkan waktu yang membuatku mengerti!"


Lucien menatap Lucy dengan pandangan kecewa, tetapi hatinya menghangat saat Lucy memeluknya erat.


"Aku tahu apa yang kau takutkan, Lucien. Jadi besabarlah,"


"Saat usiamu delapan belas tahun, kita akan langsung menikah!"


Lucy hanya mengangguk pasrah, Esmelth miliknya yang satu ini memang pintar membuat sakit kepala. Lucy tidak masalah jika dengan pernikahan yang dibicarakan oleh Lucien, entah apa yang membuat lucien ketakutan seperti itu.


"Lucien, apa kau takut aku meninggalkan dirimu?"


Lucien tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukan pada Lucy. Lucy hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah. Mereka kembali memasuki portal untuk berteleportasi menuju Benua Qwenzy.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2