
Hantaman ombak semakin menjadi-jadi, kapal mulai terhempas semakin jauh dari rute yang seharusnya mereka lewati. Para penumpang tampak terlihat panik kala melihat puluhan Esmelth keluar dari dalam laut.
"Lucien, apa yang terjadi?" tanya Lucy yang berada dalam pelukan Lucien.
"Sepertinya sedang ada badai, tidurlah aku akan tetap di sisimu," jawab Lucien sambil mengelus lembut surai pirang milik Lucy.
Lucy hanya mengangguk lalu membenamkan wajahnya di curuk leher Lucien. Semakin lama semakin terasa napas Lucy yang teratur, Lucien melihat keluar jendela dan mendapati badai yang luar biasa.
"Lord Lucien, mereka mulai menyerang," ujar Evrard lewat mindlink.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Lucien.
"Master Lucy," jawab Evrard dan sudah pasti membuat Lucien murka.
"Singkirkan mereka semua," titah Lucien.
"Yes, My Lord," jawab Evrard.
Dempuran ombak semakin menjadi, entah apa yang dilakukan Evrard membuat kapal berguncang hebat hingga membangunkan Lucy. Lucien semakin mengeratkan pelukannya, ia sudah membuat Lucy tertidur sebelumnya, tetapi karena guncangan hebat membuat gadis kecil itu terbangun.
"Lucien," panggil Lucy yang terlihat ketakutan.
"Tenang saja, Evrard dan Esmelth lainnya akan melindungi kapal," jawab Lucien menenangkan Lucy.
Lucy hanya mengangguk saat kembali terjadi guncangan yang membuat tubuh Lucien menabrak dinding kamar.
"Tidak bisakah kalian tenang sedikit?" tanya Lucien pada Evrard lewat mindlink.
"Maaf, mereka terlalu banyak. Dan para Esmelth yang berada di kapal hanya bisa melindungi master mereka," jawab Evrard.
Evrard langsung saja membuat kapal besar itu terangkat ke udara, dan membuat shield yang terbuat dari air laut agar tidak terkena serangan dari para Esmelth lautan. Geraint dan Fain yang masih berada di dek kapal hanya bisa melihat pertarungan Evrard dengan para Esmelth lautan.
Evrard mengeluarkan pedang miliknya yang berwarna merah dari dimensi lain, pria bersurai putih itu tidak berniat memakai kekuatan miliknya karena tidak ada izin dari sang Master. Akan tetapi, ia tidak memiliki pilihan lain selain menebas para Esmelth yang pantang menyerah itu.
"Kalian terlalu bodoh untuk berani mendekati Master, Lord Lucien tidak akan mengampuni kalian jika Master terluka."
Slashh
Evrard mulai menebas lautan di hadapannya, pedang yang digenggam Evrard mulai memancarkan cahaya berwarna merah. Puluhan Esmelth tumbang begitu saja saat menerima tebasan dari jarak jauh. Tidak membuang waktu, Evrard mulai menghabisi para Esmelth yang mengganggu. Geraint dan Fain hanya bisa menyaksikan pertarungan sengit antara Evrard dan puluhan Esmelth lautan.
"Spirit illution!" gumam Evrard dan tiba-tiba saja ada beberapa bayangan yang menyerupai Evrard dengan pedang berwarna hitam di tangan mereka.
Spirit illution adalah sihir milik Evrard, sihir yang mampu membuat banyak bayangan seperti dirinya dengan kemampuan yang setara dengan tubuh aslinya. Evrard sering memakai sihir itu untuk membunuh banyak musuh. Sedangkan untuk sihir terkuatnya, Evrard hanya sekali menggunakannya dan dapat membuat tubuhnya terluka parah.
"Aaakkhhh...," teriakan kematian para Esmelth menggema, tetapi tidak akan terdengar bagi mereka yang berada di dalam shield yang Evrard berikan.
"Kau lihat kekuatan Evrard, bukan?" tanya Geraint pada Fain.
"Menakjubkan, para Jendral mantan Raja Esmelth memang menakjubkan," jawab Fain yang merasa takjub dengan apa yang ia lihat di hadapan matanya.
"Dasar bodoh, Evrard bukanlah yang terkuat dalam jajaran para Jendral. Ia bahkan tidak ada tandingannya dengan tiga Jendral terkuat, jika kau mengerti apa yang aku katakan sebaiknya kau menjauhi Lucy," jawab Geraint yang sepertinya gemas dengan kebodohan masternya.
__ADS_1
"Lucy sudah aku anggap sebagai adikku, aku juga akan melindunginya seperti para Esmelth miliknya." Jawaban Fain membuat Geraint tidak habis pikir.
Geraint akhirnya memilih untuk menonton kembali pertempuran antara Evrard dan para Esmelth lautan. Masternya tidak akan semudah itu menurut padanya, karena itu Geraint tidak ingin ambil pusing dengan apa yang akan dilakukan Fain.
Salah satu pedang milik bayangan Evrard terlempar dan menancap di shield milik Evrard. Dengan cepat Evrard mengambil pedang itu kembali dan menutup lubang di shield. Melihat kondisi pertarungan yang sudah dipastikan dirinya menang, Evrard mengambil langkah pemusnahan massal. Ia tidak bisa berlama-lama menahan serangan para Esmelth lautan dan melindungi kapal yang berada di belakangnya.
"Musnahkan mereka!" titah Evrard pada semua bayangan miliknya.
Sebelum para bayangan Evrard mengeluarkan kekuatan mereka tiba-tiba saja para Esmelth itu menghilang dan laut kembali menjadi tenang. Evrard mengerjapkan kedua matanya, ada yang tidak beres dengan apa yang terjadi. Esmelth itu menurunkan kapal besar dan melepaskan shield yang ia pasang sejak tadi di atas lautan.
Evrard ingin mencari jawaban apa yang terjadi, tetapi tubuhnya memerlukan mana Lucy karena telah mengerluarkan banyak kekuatan. Esmelth bersurai putih itu menapakkan kedua kakinya di dek kapal, melihat Evrard kembali, Fain dan Geraint datang menghampiri.
"Kau hebat sekali memusnahkan para Esmelth itu tanpa kami sadari," ujar Fain yang kini menatap Evrard begitu takjub.
Evrard hanya melirik Fain dan melangkah menjauh, ia akan kembali ke kamar Lucy dan Lucien berada. Ia akan melaporkan apa yang terjadi pada Lucien, terlebih lagi saat ini ia membutuhkan mana yang banyak untuk mengisi kembali energi tubuhnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Fain pada Geraint.
"Aku tidak tahu, setidaknya kita sudah selamat dan dapat melanjutkan perjalanan," jawab Geraint yang masih menatap punggung Evrard yang semakin menjauh.
Ketukan pintu terdengar dari luar kamar Lucy. "Ada apa?" tanya Lucien dari dalam kamar.
"Saya kapten kapal ini, Lord Lucien. Maafkan ketidak nyamanan dengan apa yang baru saja terjadi, My Lord," ujar seorang pria dari luar kamar.
"Lanjutkan pelayaran, jangan membuang waktu," jawab Lucien acuh.
"Baiklah, Lord Lucien. Saya permisi," jawab pria itu dan langkah sepatu pria itu terdengar semakin menjauh.
Tok tok tok
"Aku Evrard, My Lord," jawab Evrard dan mendapatkan jawaban dari Lucien untuk segera masuk.
"Kau terlihat kacau," kekeh Lucien saat melihat beberapa luka dari tubuh Evrard.
"Aku akan merapikannya nanti, sebelum itu ada yang ingin aku laporkan padamu, Lord Lucien," jawab Evrard dengan raut wajah serius.
Lucien mengangguk sambil melepaskan pelukan Lucy, terlihat Lucy yang mengantuk dan mengerjapkan kedua matanya lucu.
"Paman, kau kembali?" Lucy langsung saja melompat turun dari pelukan Lucien dan memeluk tubuh Evrard.
"Kau terluka, Paman." Evrard tersenyum sambil mengelus kepala Lucy dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, Master. Hanya membutuhkan sedikit makanan," jawab Evrard dan Lucy mengerti.
Gadis kecil itu tersenyum lalu memeluk Evrard dari belakang, kini Lucy lebih suka bergelayut manja dengan memeluk punggung Evrard. Esmelth bersurai putih itu pun tidak menyia-nyiakan waktu, ia menyerap mana Lucy selagi ia berbicara pada Lucien.
"Mereka menghilang tepat saat aku ingin memusnahkan mereka semua," ujar Evrard membuat Lucien berpikir.
"Mereka mencari Lucy, di saat setelah Lucy sudah tidak menyerap mana lautan," gumam Lucien.
Evrard mengangguk sambil sesekali melirik Lucy yang sedang memainkan rambut putihnya. Evrard kembali menceritakan apa yang terjadi, dan Lucien dengan serius menyimaknya. Sedangkan Lucy yang tidak mengerti pembicaraan kedua Esmelth miliknya itu, lebih memilih memainkan rambut Evrard yang begitu halus dan lembab.
__ADS_1
"Alice, kau bisa menyembuhkan Paman Evrard?" tanya Lucy.
"Tidak perlu, para Jendral milik Lord Lucien dapat menyembuhkan diri sendiri," jawab Alice yang terdengar bosan.
Lucy memperhatikan luka-luka pada tubuh Evrard yang memang sembuh dengan sendirinya. Lucy mencoba mengalirkan mana miliknya pada tubuh Evrard dan benar saja dugaannya. Luka-luka pada tubuh Evrard dengan cepat berangsur pulih. Lucien yang memperhatikan Lucy sedari tadi tersenyum dengan apa yang baru saja dilakukan Lucy.
"Kau memang tidak bisa memakai sihir untuk menyerang, tetapi kau bisa memakai mana-mu untuk menyembuhkan," ujar Lucien.
Lucy menoleh dan mendapati senyuman Lucien yang tampan itu padanya. Evrard yang menyadari lukanya cepat sembuh kini menatap Lucy yang bermanja-manja di bahunya. Evrard tanpa sadar mengelus kepala Lucy dengan lembut sambil berterima kasih. Lucy yang mendapat perlakuan lembut seperti itu langsung saja memeluk Evrard dari depan.
"Berhenti bermanja-manja seperti itu," gerutu Lucien sambil menarik baju belakang Lucy.
"Aku masih ingin memeluk Paman," rengek Lucy sambil memberontak dari tarikan Lucien.
Lucien hanya berdecih sambil melempar Lucy dalam pelukan Evrard. Sedangkan Lucy hanya terkekeh dengan tingkah Lucien yang cemburu pada Evrard. Evrard hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah cukup menyerap mana milik Lucy. Tubuhnya pun sudah pulih dari luka-luka yang ia dapat.
"Master, sebaiknya aku masuk dalam tubuhmu. Aku butuh sedikit istirahat," ujar Evrard, Lucy sudah siap memasang wajah sedihnya.
"Baiklah lupakan, kau bisa memelukku sepuasmu," lanjut Evrard saat melihat wajah manja Lucy yang dapat membuatnya terbunuh di tempat oleh Lucien jika tidak menurutinya.
Lucy hanya tertawa kecil lalu kembali memeluk Evrard dari belakang sambil memainkan surai putih Evrard. Sedangkan Lucien yang sudah terbakar cemburu memilih keluar kamar.
***
Di sisi lain.
"My Lord, terima kasih atas bantuanmu karena menyelamatkan kami," ujar seorang Esmelth bersurai biru yang berlutut pada seorang pria bersurai putih.
Pria bersurai putih itu hanya tersenyum miring, saat ini ia berada di dalam gua dasar laut.
"Padahal itu baru Jendral biasa milik mantan Raja Esmelth, tetapi ia sekuat itu. Ternyata memusnahkan kalian mudah untuknya," jawab pria bersurai putih itu.
"Sebelum Anda terlahir, terjadi perang besar di bumi ini, mantan Raja Esmelth pada saat itu bisa saja memenangkan peperangan jika Lord Velarian tidak berkhianat."
"Aku tahu, tatapannya pada saat itu menceritakan semuanya. Apa ada kemiripan antara aku dan Lord Velarian?"
"Aura dan surai putih Anda yang memiliki kesamaan dengan Lord Velarian, My Lord."
"Pantas saja ia menatapku benci, ternyata ia melihat adiknya sendiri dalam diriku. Aku tidak bisa mengelaknya, karena aku terlahir untuk melindungi Lord Velarian. Dan itu membuatku membenci dengan takdirku sendiri."
"Apa karena itu Anda pergi menyendiri seperti ini, My Lord?"
"Sepertinya aku terlalu banyak bicara. Pergilah, aku ingin menyendiri."
"Yes, My Lord."
Esmelth bersurai putih itu mengembuskan napasnya lega, kini ia tahu jika mantan Raja Esmelth itu benar-benar melindungi seorang Magia yang merupakan masternya.
"Jadi seperti itukah jika memiliki master? Kau akan melindunginya dengan cara apa pun," gumam Esmelth itu lalu tersenyum menatap langit-langit goa.
***
__ADS_1