
Satu tahun berlalu dan Lucy sudah berusia tiga belas tahun menuju empat belas tahun. Usia yang diharuskan untuknya kembali ke Istana Nightcrow. Revina sudah berkali-kali memanggil Lucy untuk kembali dengan segera, karena Lucy harus melakukan pelatihan untuk memasuki Akademi Magia. Tetapi, Lucy mengabaikannya untuk berlatih di alam terbuka.
"Lucy sudah handal memakai pedang, tetapi itu tidak cukup. Ia harus berlatih menggunakan kekuatan para Esmelth miliknya," ujar Sylvester yang sedang melihat Lucy berlatih dengan Evrard, Blue, dan Veryl.
"Maksudmu dengan kita yang mengalirkan kekuatan kita pada Lucy?" tanya Lucien.
"Tentu saja, selama ini para Esmelth tidak akan mengalirkan kekuatan mereka. Mereka tidak bisa mengalirkan kekuatan mereka, saat mereka sedang dalam keadaan bertempur. Dengan kata lain, kita meminjamkan kekuatan kita pada Master. Karena dalam arena hanya memperbolehkan satu sampai dua esmelth saja yang dapat mendampingi Magia," terang Sylvester, Lucien mengangguk mengerti.
"Dengan kata lain, Master harus bisa mengendalikan kekuatan yang kita pinjamkan padanya?" tanya Alice.
"Tepat sekali," jawab Sylvester yang bangkit dan mendekati Lucy.
Memang tidak ada Magia yang sanggup menggunakan kekuatan Esmelth mereka saat dalam mode bertempur. Karena Esmelth mereka sendiri harus bisa mengeluarkan kekuatan mereka untuk menyerang dan berlindung. Dan lagi pula para Magia sudah dapat memakai sihir mereka. Hanya Lucy saja yang tidak dapat memakai sihir karena sudah di takdirkan sejak terlahir ke dunia.
Berlatih dengan giat adalah kebiasaan Lucy akhir-akhir ini, tubuhnya sudah tidak lemah seperti dulu. Kali ini Lucien cukup tenang dan melonggarkan cengkramannya pada Lucy. Gadis itu bukan anak kecil tujuh tahun yang lalu, dan Lucien terkadang tidak bisa menguasai perasannya yang terus menganggap Lucy masih seperti anak balita.
Sama halnya dengan Lucy, gadis itu masih seperti tujuh tahun lalu yang selalu menuruti perintah Lucien. Bahkan Lucy tidak pernah memerintah Lucien lagi setelah penangkapan Alice. Lucien memang tidak suka diperintah, tetapi Lucien pun tidak akan bisa melanggar perintah Lucy.
Bledummm
Ledakan terjadi saat Lucy mengayunkan pedangnya, ledakan yang cukup kuat untuk menghabisi monster tingkat tinggi. Lucy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kekuatan yang dialirkan Sylvester melebihi dari perkiraannya.
"Itu terlalu kuat, Master. Kau bisa membayangkan sayatan tipis yang membelah tubuh lawanmu, apa kau bisa melakukannya?" ujar Sylvester dan Lucy mengangguk mengerti.
"Ahh, Lucy setiap hari semakin cantik saja," gumam Lucien yang sedari tadi memandang Lucy dengan tatapan penuh cinta.
Alice yang berada di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya, entah sejak kapan tuannya menjadi esmelth yang mesum seperti itu. Padahal dahulu kala, Lucien tidak pernah tertarik dengan manusia ataupun esmleth berjenis kelamin wanita. Tuannya tidak tertarik pada hal-hal seperti itu, tetapi saat ini entah mengapa hanya dengan melihat Lucy, Alice dapat menebak apa yang ada di kepala tuannya.
"Zoe, ada apa dengan raut wajahmu itu?" tanya Alice.
Zoe yang sedang duduk tidak jauh dari mereka, menoleh ke arah Alice. Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali melihat Lucy yang sedang berlatih. Saat ini mereka sedang berada di tengah padang pasir. Dengan begitu Lucy dapat leluasa memakai kekuatan para esmelth untuk ia pelajari lebih lanjut.
Zoe seperti ingin mencoba memberikan kekuatannya pada Lucy, terlihat sekali dari kedua mata kucing miliknya yang memandang Lucy dengan penuh keinginan. Tidak hanya Zoe, sepertinya esmelth lainnya juga ingin meminjamkan kekuatan mereka kepada Lucy.
"Astaga mereka itu," Alice menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kita akan segera berpindah tempat, tempat yang tandus seperti padang pasir tetapi memiliki banyak tebing. Aku sudah menemukannya, apa kalian siap untuk kembali berpetualang?" ujar Kharel dan mereka semua semangat mengatakan 'ya'.
Perjalanan di lakukan keesokan harinya, Lucy terlihat lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Kulitnya yang kini terlihat eksotis membuat Lucien harus menahan diri tidak menarik Lucy ke dalam pelukannya.
Kali ini mereka memakai teleport untuk pergi ke tempat bertandus itu, karena mereka tidak memiliki waktu banyak dan harus kembali ke istana sebelum usia Lucy lima belas tahun. Lucy kembali berlatih di antara tebing yang menjulang tinggi dengan menghadapi esmelth miliknya sendiri. Berlari di antara tebing bukan lagi suatu masalah untuk Lucy setelah beberapa minggu mencoba dan terus mencoba membiasakan tubuhnya.
Surai putih milik Lucy berkibar diterpa angin milik Evrard, esmelth itu tanpa ampun menyerang Lucy. Melompat tinggi bukan lagi menjadi hal yang sulit untuk Lucy, gadis itu dengan lincah menghindar dan menyerang balik dengan meminjam kekuatan Archen.
__ADS_1
Serangan Lucy dapat dengan mudah dihindari oleh Evrard, tetapi serangan berikutnya Evrard terluka di bagian pelipisnya saat ingin menghindari serangan mematikan dari Lucy. Sayatan yang membuka paksa dimensi lain, dari dimensi tersebut akan keluar monster seperti mayat hidup yang tunduk dengan perintah Lucy.
Jika saja sayatan pembuka dimensi itu terkena pada tubuh seseorang, sudah di pastikan monster-monster itu akan memakan organ dalam tubuh korban dan membawanya masuk ke dalam dimensi lain. Dan dimensi tersebut disebut dengan dimensi kematian, kekuatan sejati milik Sylvester yang merupakan penghuni dari dimensi kematian. Para Monster itu menuruti Lucy karena Lucy dipercaya untuk memakai kekautan Sylvester. Monster-monster itu diberi nama Zombie.
"Master, kau hampir saja membunuhku dengan serangan itu!" gerutu Evrard sambil menghindari serangan para zombie yang keluar dari dimensi kematian.
"Maaf, tiba-tiba saja Sylvester mengalirkan kekuatannya padaku," jawab Lucy sambil tertawa kecil.
Lucy kembali menyerang Evrard dengan memakai kekuatan milik Fay, kekuatan alam yang dipakai untuk menumbuhkan pepohonan. Tetapi Lucy memakainya dengan cara berbeda, Lucy mengeluarkan kekuatan sejati milik Fay. Angel’s trumpet dan Daphne, kedua bunga itu mengandung zat hallucinogen, yang dapat menyebabkan seseorang mengalami halusinasi.
Evrard yang tidak mengetahui jika tumbuhan itu beracun mulai berhalusinasi, tubuhnya jatuh terduduk dan napasnya tercekat. Lucy kembali menebas pintu dimensi dengan meminjam kekuatan Sylvester untuk menutup dimensi kematian.
"Sudah cukup, Evrard bisa mati."
Lucy mengangguk menuruti perkataan Lucien, gadis itu segera menghilangkan bunga-bunga itu dan memberikan Evrard penawar racun. Setelah Evrard meminum penawar racun, ia segera masuk ke dalam tubuh Lucy untuk beristirahat total.
"Aku tidak tahu jika serangan itu begitu mematikan untuk Esmelth," gumam Lucy sambil terlihat berpikir.
"Tidak terlalu mematikan, ada beberapa Esmelth yang bisa menangkal racun itu. Jadi Kau harus benar-benar memikirkan cara lain," jawab Lucien sambil mengusap kepala Lucy.
"Baiklah," jawab Lucy dengan senyuman manisnya.
Lucien duduk di sebuah batu yang berbentuk kursi, ia menarik tangan Lucy dan membiarkan gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Sedangkan esmelth lainnya keluar dari tubuh Lucy dan menyiapkan tenda untuk Lucy dan Lucien tidur bersama.
Rozario dengan segera menyapa Lucy yang baru saja sampai di pintu utama istana, tidak ada perubahan dari wajah Rozario selama beberapa tahun terakhir. Melihat Lucy yang sudah tumbuh besar membuatnya merindukan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
"Putri Lucy," panggil Rozario yang tersenyum ke arah Lucy.
"Selamat pagi, Ayahanda," jawab Lucy sambil mengangkat seidikit gaunnya.
Meski sudah beberapa tahun Lucy berpergian, gadis itu tidak melupakan tata krama kerajaan. Semua itu membuat Rozario semakin mengagumi putri angkatnya, ia segera melebarkan kedua tangannya ke samping dan Lucy segera berlari memeluk Rozario.
"Aku kembali, Ayah."
"Selamat datang kembali, Putriku."
Seakan tidak ingin kembali putrinya pergi, Rozaria menggendong Lucy untuk masuk ke dalam Istana. Semua mata merasa takjub dengan kehadiran Lucy, para pelayan dan pengawal menunduk dan memberi hormat kepada Rozario dan Lucy.
Di belakang mereka berdua, Lucien menatap datar ke arah ayah dan anak di hadapannya. Rasa cemburu sudah menguasainya, tetapi ia harus menahannya untuk tidak membakar tubuh Rozario.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Rozario.
"Sangat menyenangkan, aku belajar banyak hal dan mendapatkan teman baru. Sedikit melelahkan tetapi aku senang dapat belajar banyak tentang dunia ini," jelas Lucy.
__ADS_1
"Kau tahu, Ratu sangat merindukanmu. Terkadang ia menangis ingin menemuimu, sekarang waktunya kau bermanja-manja dengannya. Enam bulan cukup untuk meruntuhkan pertahanannya agar kau dapat belajar dengan serius," ujar Rozario dan Lucy mengangguk senang lalu memeluk leher sang Raja.
Rozario tersenyum hangat dan memeluk sang Putri, ia mengelus surai panjang Lucy dengan lembut. Langkah kakinya mengantarkannya ke ruang kerja sang Raja, di dalam sana sudah ada Revina yang sedari tadi tidak bisa diam di tempatnya.
"Ratuku, berhenti terlihat cemas seperti itu, putri kita telah kembali."
Revina menoleh cepat dan tersenyum saat Lucy di turunkan dari gendongan sang Raja. Revina memeluk erat Lucy sampai ia pun juga menggendong tubuh Lucy.
"Ibunda!" pekik Lucy saat tubuhnya terlempar ke atas dan segera di tangkap oleh Revina.
"Aku bukan anak kecil lagi," gerutu Lucy dan Revina tertawa dengan air matanya yang menetes.
"Aku dengar kau hampir mati, aku sangat takut kehilanganmu. Bagaimana bisa aku kehilangan putriku, aku ingin sekali mengurungmu sejak saat itu!" Revina mulai berceloteh panjang lebar dan Lucy hanya bisa mendnegarkan dengan senyumannya.
"Lucy, kau tidak mendengarkanku?"
"Aku mendengarkanmu, Ibunda. Aku hanya merindukanmu."
Revina yang mendengar itu mengendurkan otot di wajahnya, ia juga merindukan putrinya yang menggemaskan. Esmelth wanita itu langsung saja memeluk Lucy, Lucy dapat merasakan kehangatan yang ada dalam pelukan Revina. Ia merindukan sosok Ibu yang seharusnya mengajarkan apapun padanya.
"Kau pasti lelah, aku sudah menyiapkan kamar untukmu dan Lucien."
Lucy mengangguk mengerti, Revina segera membawa Lucy pergi dan meninggalkan Rozario bersama dengan Lucien. Rozario yang mengerti dengan pandangan Lucien, langsung saja duduk di sebuah sofa dan menatap Lucien dengan senyuman.
"Apa lagi yang kau inginkan, Lord Lucien?" tanya Rozario.
"Sebelum Lucy menginjak usia delapan belas tahun, kami harus menikah." Terang Lucien yang sudah duduk di hadapan Rozario
"Mengapa kalian harus menikah secepat itu?" tanya Rozario sambil mengerutkan kening.
"Semua ini berhubungan dengan segel yang tertanam di tubuh Lucy. Segel kematian ... jika kita terlambat menghancurkannya, Lucy akan mati."
Rozario membulatkan kedua matanya, ia bangkit dari duduknya dan segera mengambil beberapa dokumen di atas meja kerjanya.
"Aku akan menyiapkan pernikahanmu tiga tahun lagi, aku akan menjadwalkan semuanya dengan sempurna. Kau bisa beristirahat dengan tenang, Lord Lucien."
"Baiklah, jangan sampai kerajaan lain mengetahui tentang ini, Xeravine akan benar-benar menghancurkan kerajaanmu jika kau lengah."
"Sesuai permintaanmu, Lord Lucien."
__ADS_1