
"ehem ehem.." isyarat Kay membuat Elieon tersadar, Elieon terkejut melihat ekspresi Kay yang mengernyitkan alisnya menatap seolah menangkap kekasih yang sedang memperhatikan pria lain.
"Ada apa? jangan menatapku seperti itu Kay." tanya Elieon
"Wah wah apa ini, putri es memperhatikan pria, bukan hanya satu" goda Kay terkekeh menahan tawa
"Jangan panggil aku seperti itu" Elieon mendekapkan kedua tangannya
"Itu memang julukanmu kan ahhaha" Kay tak bisa menahan tawanya
"Bocah sial!" Elieon cemberut
Kay terus tertawa sampai Elieon memasukkan tiramisu langsung masuk kemulutnya hingga membuat Kay tesedak
Elieon tersenyum.
"uhukk uhukk, kau gila uhukk.." Kay langsung meninggalkan meja Elieon untuk mengambil air didapur. Elieon tertawa kecil melihat Kay batuk batuk. Elieon kembali memperhatikan ruangan juga tiramisu dan latte di hadapannya, sudah lama dia tidak merasakan makanan kesukaannya itu.
"Hangat,apa aku boleh seperti ini terus" batinnya. Elieon kembali menatap kembali ke jendela melihat jalan yang begitu tenang. Sejujurnya Elieon juga takut selalu sendirian dan menjadi kesepian tapi kondisinya memang seperti itu, Kay dan kahangatan yang dia rasakan hari ini sungguh membuatnya merasa sangat bersyukur. Elieon tidak mengharapkan lebih dari ini, baginya ini sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Kay masuk kembali ke ruangan menghampiri Elieon,
"Dasar gila, untung aku tidak mati" ucap Kay ketus sembari duduk kembali di depan Elieon
"Jangan mati, aku tidak mau kehilangan my free tiramisu hihi" goda Elieon
"Tidak ada lain kali, kau harus bayar untuk selanjutnya" ucap Kay
"Pelit" caci Elieon
Mereka tertawa sampai memenuhi seluruh ruangan, cuaca yang indah dalam sebuah ruangan terselimuti udara dingin dari luar. Kay merasa senang bisa kembali bersama Elieon sebelum waktu hidupnya berakhir beberapa tahun lagi.
Elieon berpamitan karena waktu sudah sore, Kay mengantar Elieon sampai depan pintu kafe. Kafe mulai rame pengunjung Kay tak bisa mengantar Elieon pulang dan memberikan sebungkus cashew chocolate kesukaannya.
"Hati hati, sampai jumpa besok!" teriak Kay
"Byee..." lambai Elieon
Elieon melangkah pulang sembari bersenandung sepanjang jalan dan menikmati suasana yang sangat ia suka itu.
__ADS_1
Elieon tersenyum melihat coklat ditangannya, ternyata Kay tidak melupakan hal ini. Tentu saja itu membuat Elieon sangat senang,seperti memiliki kakak laki laki yang melindungi dan mampu mengerti dirinya.
"Kau baik sekali, jika seperti ini aku makin bergantung padamu Kay." ucap Elieon pelan menatap coklat. Elieon makin cemas jika suatu saat Kay pergi atau menikah siapa yang akan menemaninya nanti. Rasanya Elieon ingin sedikit egois dan melarangnya menikah tapi itu tak mungkin. Karena Elieon juga masih sadar Kay harus punya rasa bahagia bersama orang terkasih sampai hari tua.
Udara makin dingin, tapi kehangatan bisa menetap dalam hati seseorang sangat lama. Bahkan bisa jadi akan sangat lama dari perkiraan.
Elieon merasa kehangatan yg hilang cukup lama darinya kini mulai kembali, dia tak berniat untuk melepas apa yang dia dapat saat ini. Bagaimanapun caranya dia ingin hidup lebih baik dan bahagia meski hanya sedikit, dan itu sudah cukup untuknya. Elieon tak mpernah meminta ataupun mendapatkan hal itu dari kedua orang tuanya, orang tuanya memiliki kebahagian sendiri dan Elieon tak ingin mencampuri kebahagiaan mereka.
Namun tanpa ia sadari karena hal itu ia menyakiti kehidupannya sendiri, dan orang tuanya cukup egois untuk mengetahui hal itu. Hanya sahabatnya Kay lah yang mampu memberikan rasa selayaknya keluarga ketimbang keluarganya sendiri.
Dan Elieon bersyukur untuk itu.
"Jangan bilang hatimu sendirian, masih ada hal lain seperti kehangatan. Tulislah ulang semuanya, maka kamu akan tau bahwa kamu masih memiliki cinta. Hatimu."
-Author-
__ADS_1