The Dandelion

The Dandelion
Apa ini?


__ADS_3

***


Elieon memejamkan matanya sejenak, menikmati salju yang berjatuhan. Lembut dan dingin. Dalam pejamnya Elieon mendengar derap langkah kaki yang makin mendekat. Seketika Elieon membuka mata, terlihat David, Elina dan juga Kay berjalan menuju ke arahnya.


Mereka terlihat senang saat keluar dari wahana rumah hantu, Elieon tersenyum.


"Kami kembali, ternyata sudah turun salju." ucap Elina menatap sekitar.


"Apa tubuhmu sudah merasa baikan?" tanya David.


"Ya, lumayan." jawab Elieon singkat.


Kay hanya menatap sambil tersenyum ke arah Elieon, begitupun Elieon sebaliknya. Mereka terduduk disamping Elieon menikmati salju pertama, tertawa riang.


"Makin dingin sebaiknya kita pulang." ucap Eren memeluk tubuhnya sendiri. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kerumah karena cuaca makin ekstrem. Jalanan pun terlihat mulai penuh dengan salju.


Mereka memilih menaiki kereta bawah tanah yang cukup efisien digunakan saat cuaca dingin. Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai distasiun terdekat dari tempat tinggal. Selebihnya ditempuh dengan jalan kaki.


Setibanya disana, mereka masuk kekamar masing masing untuk mengganti pakaian hangat dan berencana berkumpul dikamar Carol. Sedangkan Kay pamit pulang untuk membereskan toko karena salju sudah turun.


Elieon memasuki kamarnya, pakaiannya langsung ia masukkan ke mesin cuci karena penuh dengan butiran salju dan langsung mandi. Setelah mandi Elieon memakai pakaian hangat lengkap dengan kaus kaki dan meminum coklat panas instan yang sebelumnya sudah dia hangatkan di microwave. Menunggu cucian yang sedang dicuci.


Tok tok tok..


Elieon membuka pintu dan melihat Eren berdiri disana.


"Hei, ayo ke kamar Carol." ajak Eren


"Oh tunggu sebentar, masuklah." Elieon membuka pintunya lebar lebar. Eren berjalan masuk, pemanas dikamar Elieon bekerja dengan baik, kamar itu terasa hangat.


"Apa kau mau coklat instan? duduklah." tawar Elieon


"Tidak usah, Carol menyiapkan jahe hangat untuk kita semua. Aku hanya disuruh menjemput." jawab Eren sambil duduk dikasur Elieon.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar aku harus menjemur pakaianku didalam kamar mandi." Elieon berjalan meninggalkan Eren.


Eren menatap sekitar, kedua kalinya dia memasuki kamar gadis itu. Tapi untuk pertama kalinya juga Eren datang sendirian kekamar Elieon. Eren tidak melihat satu foto pun terpampang didinding.


Pria Rusia ini sebenarnya cukup manis, hanya saja dia juga jarang berbicara seperti Elieon. Sujujurnya Eren cukup tertarik dengan Elieon sejak Elieon pindah kesana. Wajah Elieon yang manis juga datar membuat terlihat istimewa dimata Eren. Namun semenjak melihat kedekatan Kay dengan Elieon, Eren memilih diam.


"Eren, apa ada masalah?" tanya Elieon membangunkan lamunan pria itu.


"Oh, tidak apa. Ayo." Eren bangkit dari lamunannya dan berjalan bersama Elieon menuju ke kamar Carol.


Kamar Carol tidak jauh berbeda dari Elieon tapi tidak sepolos kamar Elieon, disana sungguh manis dan tertata dengan rapih selayaknya kamar seorang putri. Terlihat wajah David dan Elina yang sedang duduk menyeruput jahe hangat yang sudah disiapkan Carol.


"Kalian sudah datang, duduklah aku sudah buat jahe hangat." pinta carol lembut


Elieon dan Eren langsung ikut bergabung bersama dengan yang lainnya. Nampak beberapa makanan ringan seperti keripik, kacang kering, dan beberapa jenis kukis diatas meja mungil itu.


Carol pergi mengambil kue yang masih dipanggang olehnya, kembali membawa nampan yang Elieon tahu betul itu kue kesukaannya.


Elieon menatap kukis itu cukup lama, Carol tersenyum melihat tingkah Elieon.


"Ini juga enak, aku sedang kehabisan chococips dan dark chocolate. Lain kali akan kubuatkan seperti biasanya." jelas Carol sambil menatap Elieon. Elieon hanya tersenyum.


"Aku heran kenapa Eli suka makan kukis gosong seperti ini." ucap David sambil memegang dan memutar memperhatikan kukis yang memang selalu ada bagian gosong dibawahnya.


Yang lain hanya tertawa, sedang Carol sibuk memukul lengan David karena kesal diejek soal kukis miliknya.


"Enak." tiba tiba Elieon berbicara singkat sambil memakan kukis. Kedua tanganya memegang masing masing satu. Yang lain saling menatap dan tertawa.


"Baiklah, ini memang enak." timpal Elina yang masih tertawa namun ikut mencicipi kukis tersebut. Carol kesal sekaligus bangga, tampak menyeringai puas menatap David. David menyipitkan mata melihat tingkah Carol dan kawan kawannya.


"Makan pelan pelan, tidak ada yang akan merebutnya." ucap Eren menggeser piring kukis tersebut mendekat ke arah Elieon. Elieon semakin senang, yang lain sempat terdiam melihat tingkah Eren. Namun tidak dengan Elina, dia terdiam memperhatikan ekspresi wajah Eren.


Dadanya terasa sedikit sesak, perasaannya sedikit tidak enak. Ada sesuatu yang lain dihatinya. Elina merasakan perasaan aneh, sejak awal dirinya berteman baik dengan Carol dan David begitu pula Eren tapi tidak dengan Elieon. Elina senang bisa berteman dan akrab dengan mereka.

__ADS_1


Entah mengapa sesuatu yang lain itu membuat Elina merasa sedikit mengesalkan dan menyesakkan. Namun dirinya sendiri pun bingung dengan apa yang dirasakannya. Elina berusaha menepis semuanya, dan mencoba menikmati momen kebersamaan. Melihat Elieon yang mulai membuka dirinya juga membuat Elina senang.


"Elina, kau sakit?" tanya David tiba tiba.


"ah tidak." Elina mengelak menunduk.


"Wajahmu pucat." timpal Carol memperhatikan. Elina tersenyum kecut, yang lain mulai menatap Elina penuh makna. Sedangkan Elieon yang sedari tadi masih memakan kukis pun ikut menatap kearah Elina.


"Apa kau marah karena aku memakan semuanya?" tanya Elieon dengan wajah datarnya. Seketika yang lain tertawa. Elina pun menatap Elieon dengan tersenyum, bagaimana dia mampu membenci Elieon yang tidak peka itu.


"Haha, kau sungguh pandai bercanda." jawab Elina terkekeh. Elieon terlihat bingung. Eren makin merasa gemas melihat ekspresi Elieon. Begitu juga yang lain.


Eren, Carol dan Elina adalah mahasiswa dengan tingkat yang berbeda dan kampus yang berbeda dengan Elieon. Tanpa disangka mereka semua merupakan mahasiswa dari universitas negeri unggulan dan terfavorit.


Sedangkan David mahasiswa dari fakultas teknik, rupanya satu kampus dengan Elieon. Elieon dan David berbeda satu tingkat, David merupakan senior Elieon. Elieon juga cukup terkejut, begitu juga dengan David tak kalah terkejutnya.


Gedung fakultas teknik dan hukum letaknya tidak berjauhan bahkan kantin dikampus mereka pun hanya satu dengan ukuran yang besar dan luas. Selama ini mereka tidak pernah bertemu itu sungguh aneh. Yang lain pun hanya merasa geli melihat kebetulan yang cukup aneh itu.


"El, jika ada yang mengganggumu. Telfon aku, aku akan menolong temanku yang sedang kesulitan. Aku juga akan membawa kaka tingkat kenalanku." dengan bangga David memamerkan pergaulannya.


"Hentikan bodoh, kau mau menolong atau pamer? Jika aku Elieon aku tidak akan pernah meneleponmu." tungkas Elina. David menekuk mukanya, gagal untuk bangga.


"Saat kau tak bisa lagi berfikir, rasakan lah dengan hatimu! Maka kau


akan menemukan ketenangan, merasakan kebahagiaan bahwa kau masih bisa


hidup meski hanya sejenak. Dan yakinlah ada seseorang yang masih merasa


bahagia saat bersamamu walau hanya saling menatap tanpa berkata."


-AUTHOR-


.

__ADS_1


__ADS_2