
Eren berdiri didepan pintu Elieon dan terdiam cukup lama disana, meyakinkan dirinya sendiri untuk berani. Tiba tiba pintu kamar Elieon terbuka, terlihat Elieon sudah mengganti bajunya dengan setelan baju tidur yang menggemaskan sambil membawa sekantung plastik berwarna hitam.
Eren terkejut begitu juga dengan Elieon, mereka berdua saling menatap. Eren langsung memalingkan muka kesmaping, terlihat telinganya merah dan tangannya menutup mulut dan hidungnya. Elieon yang melihat itu hanya diam dan memperhatikan.
"Eren? Sejak kapan disini?" tanya Elieon heran.
"Bu-bukan begitu, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bukan stalker. Su-sungguh." Eren masih memalingkan mukanya yang tersipu dan tidak berani menatap kearah Elieon yang tampak imut saat itu.
"Ha? maksudnya?" Elieon memiringkan kepalanya masih terheran dengan sikap Eren. Eren langsung menatap Elieon malu-malu.
"Maaf, aku tidak berniat buruk sungguh. Aku baru akan mengetuk karena sepertinya kau tidak mendengarku saat aku memanggil tadi. Tapi tiba tiba kau membuka pintunya, aku hanya terkejut." ucap Eren pelan, kini tangannya terus memegang tengkuk belakang.
"Aku mau membuang sampah." jelas Elieon.
" Ah begitu, akan kutemani." timpal Eren. Eren dan Elieon melangkah bersama keluar dari bangunan sewa menuju box tempat pembuangan sampah umum yang ada disebrang jalan.
Sepanjang jalan mereka berdua terdiam, Eren hanya mengikuti langkah Elieon. Tidak ada percakapan diantara keduanya sampai ke tempat pembuangan sampah. Ketika akan kembali Eren memegang pergelangan Elieon.
"El apa kau mau duduk sebentar denganku ditaman?" tanya Eren
"Aku tidak mau. Dingin dan pakaianku tipis. Kita bicara dikamarku." tungkas Elieon. Keduanya kembali kekamar Elieon, Eren duduk dan menikmati air hangat yang disuguhkan Elieon.
"Apa yang mau kau katakan?" tanya Elieon.
"Besok kau mulai libur musim dingin kan, aku ingin mengajakmu jalan jalan dan makan malam diluar." ajak Eren.
"Kemana?" tanya Elieon lagi
"Ada satu tempat yang ingin kukunjungi, kurasa akan bagus jika mengajakmu. Sekalian mengunjungi ayah dan ibuku, besok kau tidka ada janji kan?" ungkap Eren
__ADS_1
"Tidak ada janji. Aku bisa ikut, kita berangkat pukul berapa?" ucap Elieon santai.
"Karena letaknya yang cukup jauh, kita akan berangkat pukul 9 pagi." ucap Eren puas.
"Siapa saja yang akan ikut?"tanya Elieon penasaran.
"Ha-hanya berdua.Tidak masalah kan?" tanya Eren gugup
"Kenapa?" tanya Elieon lagi
"Bukan apa apa. Aku hanya ingin mengajakmu keluar saja. Jika kau merasa tidak nyaman, aku bisa mengerti." jelas Eren dengan sedikit nada sedih
"Baiklah. Aku ikut." ucap Elieon yang membuat Eren kegirangan. Wajahnya yang putih itu terlihat lebih cerah saat tersenyum. Elieon pun ikut tersenyum.
Tak lama mengobrol Eren pamit untuk tidur lebih awal. Eren meninggalkan kamar Elieon penuh rasa puas karena bisa mengajak Elieon pergi bersama hanya berdua, lebih tepatnya berkencan.
'Sudah lama aku tidak keluar. Orang tua... hmm sepertinya aku juga perlu mengunjungi ayah dan ibu' batin Elieon. Sudah lama dia tidak mengunjungi rumah orang tuanya. Terakhir Elieon pergi kesana sekitar 1 tahun yang lalu.
Elieon menghela nafas parau. Dia rindu keluarga, tapi orang tuanya hanya menelfon beberapakali saja untuk memastikan kondisinya. Ditengah lamunannya hp Elieon bergetar terpampang jelas ada 1 pesan dari Kay dan 1 pesa tak terduga lainnya. Yaitu dari Eddie pamannya sendiri.
1st messages
El..
Jika kau sempat, datanglah ke kafe besok pagi. Ada croissant keju yang ingin kuberikan padamu. Aku tunggu."
from: Kay
2nd messages
__ADS_1
Sayang, besok adalah ultah ayahmu. Kau ingat kan? Paman harap kau bisa hadir diacara makan malam keluarga. Semoga kau sehat selalu, paman akan menunggumu. Jadi datanglah dan temui pamanmu ini."
from: Uncle Ed
Kebetulan yang luar biasa 'sepertinya besok akan jadi hari yang melelahkan' pikir Elieon. Eddie D Loyard adalah paman Elieon, adik angkat ayahnya dan satu satunya keluarga yang selalu menemaninya sewaktu kecil.
Elieon melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 9:00 pm. Elieon merapikan ruangan dan bersiap istirahat karena besok banyak yang akan dilakukannya, dia merasa mungkin tidak cukup sehari. Elieon berencana menemui Kay dulu baru melanjutkan perjalanan dengan Eren, kemudian lanjut pergi kerumah orang tuanya.
Bisa jadi Elieon akan sampai sedikit lebih terlambat untuk bertemu orang tuanya. Eddie, pamannya mengabarkan bahwa ibu dan keluarga barunya juga akan hadir. Elieon merebahkan tubuhnya dan berfikir sejenak, tentang ibunya Clarina Enderson.
Pernikahan Clarina belum lama terjalin, belum genap 2 tahun. Tapi Elieon juga sebelumnya mendapatkan kabar bahwa Clarina sudah memiliki satu anak laki-laki dari pria yang bersamanya sekarang. Usia bocah kecil itu sekitar satu tahun, Elieon berfikir berarti bocah itu juga adiknya.
Sedangkan ayahnya tidak memikirkan untuk menikah lagi dan memilih membesarkan Elieon. Hanya saja ayahnya sering bermain main dengan wanita pub untuk melampiaskan rasa stressnya. Ibunya menemukan keluarga baru, dan ayahnya memiliki kehidupan malam yang berantakan. Namun bagi Elieon ayahnya lebih baik, karena selama ini yang memenuhi kebutuhan dan menanyakan kabar hanya ayahnya.
Ibunya hanya pernah 2 kali menelfon semenjak dia pergi meninggalkan Elieon yang masih kecil. Yang pertama seminggu setelah dirinya pergi, yang kedua saat dirinya mengadakan pernikahan. Namun Elieon tidak hadir dalam acara pernikahan itu.
Belasan tahun Elieon merindukan ibunya, tapi ibunya malah sama sekali tidak peduli dan tak pernah mencarinya atau penasaran tentang kehidupannya. Muncul lagi ketika menemukan pria lain untuk kebahagiaan dirinya sendiri, dan itu membuat Elieon muak.
Elieon tak bisa membayangkan besok akan seperti apa, raut wajah apa yang harus dia pakai saat bertemu Clarina. Sedih, haru, bahagia atau malah raut masam yang harus dia keluarkan. Seperti apa wajah ibunya itu sekarang, bertambah cantik atau mulai menua.
Clarina menikah dengan Jein saat usia mereka benar benar masih muda dan memiliki Elieon, mungkin pikiran masa muda itu juga penyebab ayah dan ibunya bercerai. Kondisi mental dan pemikiran dimana belum siap sepenuhnya, tapi memilih menikah yang pada akhirnya menyiksa anaknya sendiri dengan perceraian.
Jika bisa Elieon berharap tidak bertemu ibunya saat pesta ulang tahun ayahnya. Rasanya mustahil, karena seperti biasa ketika ada yang merayakan ulang tahun keluarga akan duduk bersama dimeja makan termasuk ibunya.
Meskipun sudah bercerai, Clarina harus ikut hadir dan duduk di meja makan itu karena memiliki hubungan darah dengan Elieon. Sekalipun Clarina memiliki keluarga baru, tradisi tetaplah tradisi. Keluarga Loyard memang memiliki tradisi keluarga yang lekat.
Dalam keheningan dan pikirannya yang tak karuan itu Elieon tertidur. Elieon berharap esok dia bisa menguatkan hatinya. Sungguh Elieon hanya berharap itu.
"Dia yang pernah berjanji akan tetap disisi, pada akhirnya pamit pergi tanpa permisi."
__ADS_1
-Author-