
6:12 pm
Eren datang membawa beberapa macaron, tak lama Elina juga datang. Segalanya sudah siap lebih awal, begitu banyak makanan di meja mungil itu. Semua duduk di kursi yang telah disiapkan. Mereka makan dengan senang dan berbincang bincang ringan.
"Oh iya, kekasihmu yang tampan itu tidak kau ajak kemari Elieon?" tanya Tuan Karl tiba tiba, hingga membuat Elieon tersedak karena saking terkejutnya mendengar ucapan yang tak diduga itu.
"uhuk.. Kay? Kami bukan seperti itu, hanya berteman sejak lama." Ucap Elieon sambil mengelap mulutnya.
"Sayang sekali. Dia sangat tampan." ucap nyonya Laurent, Elieon hanya tersenyum kecil. Disisi lain Eren merasa sedikit kesal, raut itu terlihat jelas di wajahnya membuat Elina tak tahan.
"Maaf nyonya Laurent, aku ingin ke toilet. Aku harus kemana?" ucap Elina ditengah pembicaraan.
"Oh, kau bisa temukan disamping dapur." ucap nyonya Laurent menunjuk arah dapur.
"Aku ikut. Permisi." Carol mengikuti Elina dari belakang.
__ADS_1
Eren, David dan Elieon melanjutkan makan malam mereka bersama sambil terus berbincang. Elina dan Carol berdua dikamar mandi. Carol berkumur membersihkan mulutnya, sedangkan Elina berdiri terdiam menghadap kaca.
"Jangan membuatnya rumit Elina. Aku tau kau menyukai Eren sejak lama." ucap Carol hingga Elina tersentak dan menatap Carol.
"Dan aku juga tau Eren menyukai Elieon sejak dia pindah dan tinggal bersama kita semua. Tidak perlu heran, semua keliatan diwajah kalian berdua." sambung Carol kemudian menatap Elina. Elina menghela nafas berat.
"Aku harus bagaimana? Elieon tidak salah apa apa, tapi aku malah kesal sendiri." tanya Elina memegang dagunya dengan raut wajah bingung, matanya pun mulai berair. Carol berjalan mendekati Elina dan memeluknya.
"Tidak apa apa, kau tau kan David, Elieon dan Eren itu tidak peka. Jangan berfikir terlalu panjang. Coba kau ungkapkan perasaanmu pada Eren, kalian sering bersama kan." jawab Carol kemudian melepaskan pelukan dan mengusap lengan untuk menenangkan Elina.
Sesekali terkadang Elieon ikut menjawab dan tersenyum. Dia lebih memilih menikmati makanan ketimbang berbincang. Makan malam yang hangat itu berakhir, semua ikut membereskan dan merapikan meja itu dan kembali pulang.
"El.." ucapan Eren terpotong karena sepertinya Elieon tidak mendengar Eren memanggil dirinya dan langsung masukĀ ke kamar. Elina langsung menghampiri Eren yang terlihat sedang berdiri mematung didepan kamarnya.
"Eren." sapa Elina menepuk punggung Eren
__ADS_1
"Oh Elina, ada apa?" Eren berbalik melihat kearah Elina yang ada didepannya sekarang.
"Apa kau ada waktu besok malam? Aku ingin mengajakmu makan malam." ajak Elina penuh harap.
"Maaf Elina, Aku ada urusan besok. Mungkin lain kali." jawab Eren yang matanya terus tertuju ke pintu Elieon.
"Ah begitu, baiklah. Kabari saat kau ada..." timpal Elina kecewa, ucapannya belum selesai tapi Eren meninggalkannya dan menuju kekamar Elieon.
Elina tersenyum getir menahan air matanya, ternyata urusan itu adalah Elieon. Elina melangkah dengan berat menuju kamarnya, dadanya terasa sesak dan nyeri. Ternyata seberat itu bertepuk sebelah tangan, perasaan yang tak terbalas.
Dibalik pintu, Elina terisak menangis sepelan mungkin. Bahkan dia kalah sebelum mulai berperang. Sebelum mencoba perasaannya sudah ditolak tanpa Eren sadari. Elina hanya ingin tidur saja dan tidak ingin bangun lagi.
"Dan dia dengan senyuman yang menyenangkan itu, dia yang menggenggam pikirannya, pada akhirnya dia juga yang menutup jalannya."
-AUTHOR-
__ADS_1