The Dandelion

The Dandelion
Old Memories


__ADS_3

Keramaian yang biasanya hanya dirasakan berdua dengan Kay kini bisa dirasakan lebih oleh Elieon. Waktu sangat cepat berlalu tak terasa waktu menunjukkan pukul 9:15 malam, semuanya kembali ke kamar. Elieon kembali menjadi diam, sebenarnya dia sama sekali tak keberatan dengan apa yang terjadi tentang keramaian, tertawa hanya saja saat seperti sekarang Elieon berpikir kapan kira kira terakhir kali dia merasakan itu. Sangat lama, hingga ia lupa seperti apa rasanya, dan sekarang dia bisa merasakannya lagi. Kay masih berada didalam kamar Elieon untuk membantunya membersihkan sisa kekacauan yang ada, sambil tetap memperhatikan Elieon yang sedang melamun di atas kasurnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Kay menghampiri dan duduk disamping Elieon dengan sapu ditangannya.


"Ini aneh." jawab Elieon. Kay mengernyitkan alisnya, yang aneh itu pikiran Elieon atau memang pikirannya yang tak bisa mengerti? tidak ada yang aneh. Apa maksud kata aneh dalam pikiran Elieon, Kay sungguh tak paham.


"El, apa kau besok ada kelas?jika tidak, datanglah ke kafe ada tiramissu baru yang aku yakin kau pasti suka!." ucap Kay sembari kembali membersihkan kamar Elieon.

__ADS_1


"Okay!Mengundangku itu tidak gratis." ucap Elieon datar menengok sambil tersenyum ke arah Kay.


"hahh ya ya baiklah, aku sangat mengerti cara licikmu itu. Tiramissunya aku yang bayar!" gerutu Kay. Elieon terkekeh melihat muka cemberut kay yang terus menyapu kamarnya.


Elieon juga kini bergerak membantu membersihkan istana kecilnya agar dia bisa tidur dengan cepat. Lima belas menit berlalu, akhirnya semuanya selesai. Kay pamit pulang karena esok pagi dia harus sudah berada di kafe.


Elieon terduduk, teringat masa saat pertama kali dia ketakutan berada didalam kamar sendirian dan orang tuanya sibuk oleh pertengkaran. "Hufft..." Elieon menghela nafas sambil melirik ke meja kecil samping tempat tidur miliknya, terlihat album foto berukuran sedang yang sedikit berdebu menghuni celah meja itu. Elieon menyipitkan matanya lalu tersenyum "Ah album itu, kenangan yang membuatku semakin berharap lalu jatuh terpuruk". Elieon menengadahkan kepalanya dan kembali melirik album foto usang itu,dengan ragu menggigit bibirnya dia mengambil album foto yang sudah lama tak dijamah olehnya.

__ADS_1


Elieon membuka album secra perlahan, terlihat pada halaman pertama foto dirinya dan kedua orang tuanya juga keluarga besar Loyard. Loyard adalah nama keluarga besar dari ayahnya Jein Loyard murni keturunan keluarga berada. Sedangkan ibunya Clarina Enderson adalah wanita campuran yang berasal dari keluarga yang biasa, hanya saja difoto tersebut keluarga besar itu terlihat layaknya keluarga bangsawan tinggi kerajaan. Patut diakui ayah Elieon memang orang yang sangat berada, bahkan Elieon belum lulus universitas jengjang pertama belum selesai pun ayahnya sudah memiliki rencana lain setelah Elieon lulus. Yaitu mengirim putrinya melanjutkan sekolah ke Amterdam. "Cih, aku benar benar tidak butuh ini. Apa tidak bisa semuanya kembali saat seperti aku masih kecil? apa tidak bisa kalian bersama lagi ayah ibu? jika aku tidak lahir akankah kalian masih bersama?andai saja aku bisa mengembalikan waktu, akan aku kembalikan waktu itu saat kita bersama. Lalu akan kuhentikan untuk selamanya, agar kita tetap bersama." batin Elieon.


 


 


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2