
Kabut dingin mulai menebal dan menyelimuti kota, semakin lama semakin tebal dan dingin. tapi tak pernah ada yang tau hati seorang gadis ternyata lebih dingin dibandingkan salju sekalipun. Elieon mendekap kedua tangannya, kabut kali ini membuatnya merasa akan mati kedinginan mungkin. Dia menyusuri jalan sambil sesekali menghela nafas panjang mencari cari tempat hangat disekitarnya, meskipun sebenarnya dia bisa saja pulang kerumah tapi dia tidak mau. Bersantai sedikit diluar juga cukup bagus baginya. Sampai di persimpangan jalan, Elieon menatap papan promosi yang ada disampingnya, "C(OFF)E" tulisan di papan tersebut tertera jelas dan sedikit aneh. "Ah, sudah lama sekali aku tidak mampir kemari. Aku akan masuk sebentar." benaknya.
Elieon masuk dan mengamati sekeliling meja disudut ruang dengan jendela besar yang menghadap kejalan tempatnya biasa terduduk menenangkan diri, masih terlihat sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Elieon tersenyum kecil, ternyata masih ada yang mengingat kesukaan dirinya dan tidak mengubah sedikitpun. Sedangkan meja meja kecil diseluruh ruangan itu sudah direnovasi dengan bentuk yang lebih mungil. Elieon melangkah sedikit demi sedikit sesekali memperhatikan disekelilingnya, persis seperti dulu. Elieon menghela nafas panjang "akankah dia kembali? aku mulai merindukannya." ucap Elieon dalam hati.
Elieon menuju meja favoritnya, jalanan yang cukup padat diawal musim dingin. Kaca jendela itu mengembun dengan tebal membuat pemandangan di jalan menjadi sedikit samar.
"Permisi senorita, anda mau pesan apa?" seorang pelayan menghampirinya, namun Elieon masih menikmati lamunan tentang sebuah kenangan tua.
__ADS_1
"Nona maaf, apa anda mau memesan sesuatu?" tanya ulang pelayan itu sambil melambaikan tangan kedepan kedua mata gadis cantik yang sibuk memandang jalan. "Ctik" jentikan jari terdengar keras membuat Elieon tersadar.
"Ah maaf, aku pesan secangkir latte coffe tanpa gula dengan tambahan sedikit krim..."
"...dengan suhu tidak terlalu panas dan dingin, juga sendok dan tisu dilengkapi potongan tiramissu" sambung pelayan itu.
"KAY..?" ucap Elieon kaku, air matanya mengalir begitu saja tapi tetap termenung tak percaya.
__ADS_1
"Hey, jangan menangis. Maaf membuatmu sedih." katanya sambil sedikit menunduk. Elieon langsung memeluknya, beruntung kondisi coffeshop sedang sepi.
"Kau benar Kay?" tanya Elieon sambil terisak.
"Ya ini aku, sudah berhenti merengek kau jelek tau." jawab Kay.
Elieon makin terisak dan makin memeluk erat, Kay hanya tersenyum. Tak disangka gadis dingin yang bahkan sangat egois dan tak peduli apapun kini menangis seperti bocah 6 tahun, tapi Kay tau Elieon sebenarnya sangat peduli akan sesuatu hanya saja hatinya dan dingin menutupi semuanya. Coffeshop kini terasa semakin hangat oleh pertemanan tulus mereka yang mau saling menunggu, hawa dingin seakan kalah oleh pertemuan mereka. Seperti latte coffe kental tanpa gula dengan sedikit krim yang gurih tidak manis tapi menyentuh lidah, dan tiramissu sebagai pelengkap dan pengganti rasa manis dari gula yang hilang tadi. Semuanya menggambarkan apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Keduanya saling bercerita, bergurau, tertawa tanpa beban. Elieon disana tidak terlihat seperti gadis dingin, justru terlihat sangat hangat. Setelah merasa sendiri 2 tahun terkahir kini Elieon merasa sangat bahagia, satu-satunya teman sekarang kembali lagi. Begitu juga Kay, tak dipungkiri perasaannya sangat lega melihat Elieon baik baik saja, tak ada yang berubah, semakin dewasa dan semakin manis dibalik sikapnya yang acuh. Musim dingin menjadi musim semi untuk mereka.