The Dandelion

The Dandelion
PAST


__ADS_3

08:12 am


Pagi ini Elieon sudah membersihkan dan merapikan kamarnya lebih awal, salju juga tidak turun selebat sebelumnya. Jalanan sudah dibersihkan sejak kemarin, truk pembersih salju terlihat sibuk membersihkan ulang jalan yang masih tertutup salju.


Elieon bahkan sudah bersiap diri sambil meminum teh, pintu kamarnya dibiarkan terbuka sedikit untuk menghilangkan bau di kamar. Tak lama Eren muncul didepan pintu, Elieon mempersilahkan masuk.


"Masih ada waktu kan?" tanya Elieon


"Ya masih ada waktu." Eren duduk dikasur Elieon.


"Apa kita bisa berangkat lebih awal?" tanya Elieon masih sibuk merapikan sesuatu.


"Jika maumu begitu kita bisa berangkat sekarang, aku sudah memanaskan mesin mobil." jawab Eren sambil terus memperhatikan Elieon yang sangat kasual dan tanpa riasan, wajah manisnya yang tetap terlihat itu tipe yang paling Eren sukai.


"Ayo berangkat sekarang." ajak Elieon.

__ADS_1


"Kenapa kau terlihat begitu terburu buru?" tanya Eren.


"Malam ini aku harus ke rumah orangtuaku. Ayahku ulang tahun." jawab Elieon, Eren mengangguk tanda mengerti.


Mereka berdua berjalan keluar ke tempat memarkir mobil, terlihat tuan Karl sedang membuat perapian sederhana di halaman depan rumahnya. Terlihat juga David dan Carol duduk dekat perapian bersama Tuan Karl.


"Hai Eren, El." sapa David


"Kalian berdua akan pergi kemana?" tanya Carol


"Kami mau pergi ke suatu tempat." jawab Eren singkat.


"Tidak apa apa." Carol menepuk pundak Elina, Elina hanya tersenyum pahit. Padahal perasaannya tidak ringan namun terasa sakit dan hampa, terlihat sekali diwajah Eren bahwa dia sangat senang pergi dengan Elieon hari ini bahkan sampai menolak ajakannya untuk makan malam. Dan itu membuat hati Elina semakin teriris.


"Aku masuk dulu." ucap Elina lirih sambil mengusap matanya. Carol ikut prihatin melihat temannya itu. Carol kembali menuju David yang masih berada didekat perapian.

__ADS_1


"Oh Elina tidak ikut bergabung dengan kita? Padahal dikamar membosankan sekali." tanya David terus memakan kripik kentang ditangannya. Carol hanya menggelengkan kepala.


'Dasar bodoh dan tidak peka' batin Carol. Mereka bertiga kenal lebih dulu sebelum Eren dan Elieon datang. Carol mendengus kesal melihat tingkah David yang sama sekali tak menyadari bahwa Elina menyukai Eren, padahal mereka sering bersama.


"Kurasa Elina menyukai Eren, namun dari pengamatanku sepertinya Eren menyukai Elieon." ucap David tiba tiba, pernyataan itu mengejutkan Carol. David memang tidak peka tapi sekali menebak sangat tepat.


"Rupanya kau sadar juga, bagaimana menurutmu? Apa kita harus membantu Elina? Elieon, anak itu kan juga tidak tau apa apa perihal Eren atau Elina." tanya Carol mulai serius.


"Entahlah, tapi kurasa Eren tahu perasaan Elina. Bisa jadi dia sangat sadar, oleh karena itu Eren terkesan menghindar." jawab David santai


"Eren menghindar? bagaimana kau tau?" tanya Carol lagi mendekatkan kursinya ke arah David.


"Insting laki-laki." jawab David.


"Cih!" umpat Carol

__ADS_1


"Elina harus menjauh, itu lebih baik daripada menyakiti hati sendiri setiap hari. Atau mengubur perasaannya dan lupakan. Karena aku tau Eren orang seperti apa." sambung David.


"Mudah berkata." timpal Carol. David hanya menaikkan bahunya pelan menunjukkan ucapannya itu hanya sebuah saran.


__ADS_2