The Dandelion

The Dandelion
NOTHING


__ADS_3

9:50 pm


Malam mulai larut, Eileon masih terpaku dengan album tua ditangannya. Dadanya sesak mengingat semua kenangan tua, tapi dia tetap membuka lembaran berikutnya dan terus membalikkan halaman. Semua foto tua itu berisi kenangan indah yang hanya terjadi sekejap, amat manis dan terlihat bahagia. Foto sejak Elieon bayi semuanya tertera bahkan foto pernikahan orangtuanya masih nampak jelas meski sudah usang. Pahit memang, namun Elieon tetap tersenyum karena itu adalah satu satunya kenangan yang Elieon miliki, tapi Elieon tetap bersyukur pada apa yang ia miliki sekarang teman yang sedikit namun memiliki kehangatan sebuah keluarga yang tak dia miliki belasan tahun dari keluarga yang sebenarnya.


"Orang asing kadang terasa seperti keluarga, keluarga justru terasa seperti orang asing." gumamnya lirih.


ddrrrtttt.. ddrrttt... ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt...ddrrrtttt.. ddrrttt... ponsel Elieon bergetar terus menerus.


"Ughh, sial! Mengganggu saja!" ucap Elieon kesal sambil mengusap matanya yang mulai basah. Ada banyak pesan yang masuk, semua adalah nomor telepon teman teman barunya David, Elina, Eren, dan juga Carol. Elieon baru ingat meskipun carol sering memberinya coklat tapi mereka belum pernah bertukar nomor ponsel, wahh sekarang hatinya merasa geli dulu diponselnya hanya ada nomor orang tua, pamandan bibi, sanak saudara, Kay, dan kini bertambah lagi teman.


bzzzttt..kringg.. kali ini ponselnya berdering, tertera nama Kay dilayar ponsel, dia hanya menggerutu.


"Kau tidak lihat jam? come on Kay aku ingin tidur!" rengek Elieon.


"kkkkkk... baiklah aku cuma ingin bilang jangan lupa datang ke cafe besok." jawab Kay terkekeh.

__ADS_1


"oh god! akan kubakar cafemu itu! Sialan! Dasar tidak waras!" pik,, Elieon menutup panggilan dengan kesal, lalu menghela nafas memandang kembali album tua ditangannya.


Kay mengernyitkan alisnya, "Gadis dingin!" ucapnya sambil tersenyum.


"aishh,, bagaimana dia bisa dapat pacar jika sikapnya begitu. Sangat acuh dan terlihat angkuh, apa salahnya aku mengingatkan dia? aku hanya rindu tapi tak bisa bilang, apa harus dengan nada kesal begitu menjawab telpon." gumam Kay.


Kay sangat tau luka Elieon, luka itu seperti tamparan berulangkali diwajah Elieon atau seperti dihujam puluhan pedang ditubuhnya namun tak membuatnya mati justru membuatnya terasa semakin tersiksa. Elieon cukup lama mengubur semua rasa sakitnya tapi tetap saja luka dan kenangan tak mudah dilupakan, Kay hanya khawatir pada kondisi psikis dan mental Elieon. Meski sikapnya menjadi dingin dan tak banyak bicara, otak atau pikirannya tidak kacau dan terganggu juga sudah cukup bagi Kay. Setidaknya dia bisa menikmati hidup yang sedikit normal sekarang.


**


"uhhh leherku sakit, jam 6? ternyata sudah pagi. eegghhh badanku sakit semua." keluh Elieon sambil mematikan jam alaram dimejanya. Sepanjang malam Elieon tertidur sambil duduk disamping tempat tidur dengan posisi kepala menengadah bersandar dipinggiran kasur, dan membuat semua badan juga lehernya sangat sakit dipagi hari.


ting..


Elieon melihat notifikasi di layar ponselnya, pesan pemberitahuan perubahan kelas oleh Mr.Samuel. Elieon masih terduduk mengumpulkan kesadarannya, "haa, aku harus bersiap-siap, kelas kali ini sangat ketat." keluhnya. Tak sampai setengah jam Elieon usai bersiap, seperti biasa Elieon berpakaian casual. Levis, t-shirt polos, juga mantel tebal dan syal yang melingkar dileher jugta sepatu boot tinggi membuatnya terlihat sangat ramping. Jarak universitas dari tempatnya tinggal tidak terlalu jauh hanya berjarak sekitar km dan sebenarnya Elieon juga senang menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ketimbang naik taksi atau lainnya.

__ADS_1


Universitas terbaik  ini adalah universitas pilihannya, memang bagi orang lain universitas ini bukan favorit karena peraturan pembelajaran yang ketat, tapi memiliki akreditasi yang bagus. Awalnya Mr. Jein ayah Elieon tidak setuju dengan keputusan putrinya untuk masuk kesana, tapi Elieon bersikeras jika tidak disetujui Elieon tridak akan pernah menerima sepersenpun dari keluarganya dan akan mencari kerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada akhirnya Mr. Jein menyerah karena putri semata wayangnya sangat keras kepala seperti dirinya, namun ia bersyukur setidaknya putrinya itu tak seperti anak orang kaya lainnya yang manja juga memamerkan harta  milik orang tua mereka. Dimata ayahnya, Elieon adalah gadis manis dan sederhana seperti ibunya Ms. Clarina. Bagi Mr. Jein putrtinya tak membencinya saja ia sudah amat bersukur. Begitu juga Elieon, meskipun orang tuanya telah lama berpisah dan jarang menemuinya tapi masih menganggapnya sebagai putri mereka itu sudah cukup.


 


 


 


 


"Tak ada satu pun yang tau apa yang akan terjadi, tak ada yang tau kapan sesuatu pergi dan kapan ia datang, tak ada yang tau bahkan hati kita sendiri. Sungguh tidak ada."


-Author-


***

__ADS_1


__ADS_2