
"Hah! Kemana semua orang dimusim dingin? sepi dan bosan!" Kay menghela nafas panjang. Banyak orang berlalu lalang tapi sekedar lewat saja, memasuki pertengahan bulan suhu udara makin dingin. Kaca jendela di kafe tersebut juga mulai mengembun dengan tebal, hingga Kay harus berulang kali mengelap kaca agar tetap tembus pandang. Kay terus saja melihat jam dinding, menunggu kapan Elieon datang. Apakah ada kelas tambahan? apa ada halangan dijalan? atau Elieon punya urusan lain? atau ikut kencan buta? pikiran Kay berkecamuk, namun dia tertawa memikirkan hal terakhir "kencan buta", sungguh tidak mungkin. Jika gadis seperti Elieon mengikuti kencan buta itu adalah sebuah keajaiban dunia. Kay terkekeh membayangkan hal itu, bisa saja bukan Elieon yang lari dari kencan buta tapi lawan prianya lah yang lari karena bertemu gadis dengan sikap sedingin salju. Dimata beberapa lelaki mungkin akan terlihat menarik tapi sebagian besar akan merasa Elieon membosankan, karena biasanya lelaki menyukai wanita ceria dan aktif atau mungkin hyperaktif.
Kliingg...
Pintu kafe terbuka tanda ada pengunjung, namun siapa sangka pengunjung itu adalah gadis yang baru saja Kay pikirkan.
" Haissh buka dulu mantelmu disini ada penghangat ruangan tidak akan dingin". Kay menghampiri Elieon.
"Dingin sekali diluar, rasanya hampir mati kedinginan hufft." keluh Elieon
"Ya, sangat dingin dan sepi bahkan aku berfikir untuk tutup kafe tapi bosku takkan suka. Katanya orang orang akan mencari minuman hangat saat dingin, jadi dia menyediakan bahan-bahan untuk kopi dan makanan hangat lebih banyak." timpal Kay sambil kembali ke mejanya untuk mengambil jahe hangat untuk Elieon.
__ADS_1
"oh ya Kay, apa kau sendirian? tidak ada pekerja lain?" tanya Elieon sambil menuju meja favoritnya disudut kafe.
"Tidak ada, dia percaya padaku untuk mengolah kafe ini aku juga tinggal dikamar belakang jadi aku tak perlu memikirkan biaya tempat tinggal." Kay berjalan menuju Elieon dengan jahe hangat ditangannya, "Minumlah selagi hangat, ini akan meringankan hawa dingin ditubuhmu." Kay memberikannya kepada Elieon lalu duduk didepan Elieon.
"Trims! oh mana tiramissu gratisku?" ucap Elieon sambil mengangkat satu alisnya menggoda Kay.
"Cih, rugi aku. Jika bukan karena aku bilang janji kemarin malam aku tidak akan memberi tiramissu gratis padamu!" rengek Kay
Kay beranjak dari kursinya lalu kembali lagi kemejanya untuk mengambil Tiramissu sambil menggerutu, Elieon yang melihatnya hanya tertawa kecil. "Disini hangat." batin Elieon lalu menatap keluar jendela. Salju belum turun tapi suhu semakin dingin, perkiraan salju turun lusa atau 3 hari lagi. Elieon teringat kelas konseling beberapa saat lalu dan cukup membuatnya kesal lagi.
"Hei, kau kesal? Ini Tiramissu mu." tanya Kay
__ADS_1
"eumm, ya sedikit tak masalah itu tak penting. Trims lagi untuk ini." jawab Elieon sembari mengambil tiramissu yang diberi Kay.
"Sama sama bukan masalah." ucap Kay
Elieon merasa bersyukur sekali lagi karena adanya Kay dia tak harus merenung sendirian, meskipun tetap saja sulit baginya menceritakan segalanya dan ada beberapa yang tak ia ceritakan.Tentu Kay sangat paham soal itu. Berteman dengan Elieon untuk waktu yang cukup lama membuatnya berpikir bahwa ada yang memiliki kehidupan jauh lebih sulit dari kehidupannya. Dulu dia tak kekurangan kasih sayang dari orang tuanya meskipun kini Kay berada jauh dari orang tuanya, dan hanya mengeluh kenapa ia tak punya banyak uang atau jadi kaya atau jadi anak orang kaya.
Namun melihat Elieon Kay merasa betapa beruntungnya dia dibandingkan gadis yang ada didepannya yang bahkan tak mendapat kasih sayang secara utuh, Elieon terlahir dari keluarga kaya tapi ia tak mendapatkan kasih sayang seperti dirinya. Awalnya Kay hanya melihat mungkin kasih sayang orang tuanya mempunyai cara berbeda, tetapi tidak. Elieon mempunya banyak uang dari orang tuanya namun ia juga bingung untuk apa hal itu jika harinya sepi dan hidup dalam kesendirian bahkan tak ada kehangatan seorangpun. Kay bersyukur setidaknya dia bisa menemani Elieon meski mungkin tak membantu mengurangi lukanya. Tapi saat melihat nya tersenyum Kay tau itu sudah lebih dari apapun.
"Begitu banyak bintang dilangit, tapi tak ada yang tau bintang mana yang paling redup. Karena disekelilingnya begitu banyak bintang yang berkilau, sehingga dia menjadi yang tak terlihat."
-Author-
__ADS_1