
Sudah 3 minggu setelah mamahnya main kerumah, Andra sudah rapi dengan pakaian rumahnya karna akan mengantar istrinya itu untuk mengecek kandungan dan melakukan USG.
Dia jadi kepikiran omongan mamahnya 3 minggu lalu, yang mengatakan bahwa anak yang dikandung sarah lebih dari satu.
"Udah siap sayang?"
"Udah mas, ayok" ujarnya sambil menyelipkan tangannya dillengan andra.
Mereka pun melajukan kendaranya kerumah sakit langganannya, setelah menempuh waktu 45 menit akhirnya mereka pun sampai.
Tak perlu lagi mengambil nomor antrian karna mereka sudah daftar online.
Setelah menunggu 15, namanya pun dipanggil.
"Ny.Sarah Humaira" panggil suster yang bertugas.
Sarah pun langsung beranjak deengan andra disampingnya.
"Selamat siang, ny.Bagasditya" sapa dokter kyara.
"Siang dok" balasnya.
"Mari nyonya kita berbaring dulu untuk pemeriksaan dan pengecekan kandunganya" ujarnya sambil beranjak dari duduknya dan berjalan kearah brankas.
Sarah pun mengikuti arah dokter kyara, dia berbaring dibrankas dengan dokter kyara yang memeriksa kandungan sarah.
"Detak jantungnya bagus, namun..."
"Namun apa dok?" tanya sarah dan andra yang khawatir.
"Sepertinya bayi ibu punya teman" ucapnya santai dengan bibir yang melengkung.
"Maksudnya dokter istri saya.."
"Iyaaa pak andra, istri andra hamil kembar"
Andra langsung menatap Sarah bahagia dengan mata yang sudah memerah itu.
"Alhamdulilah ya allah. Sayang "
"Iya mas" jawabnya dengan wajah yang sama-sama terharu.
kini dokter kyara juga melakukan USG untuk mengetahui, dan posisi janin yang ada dalam kandungan sarah.
"Bayinya sehat ya bu, posisinya juga bagus" ujarnya dengan alat yang mengarahkan pada janin.
Sarah dan Andra begitu bahagia melihat perkembangan bayi-bayi kecil mereka.
*
*
*
Sepanjang perjalanan Andra terus saja mengenggam tangan sarah yang sesekali mengecup punggung tangannya.
"Mas, nyetir yang bener" keselnya karna sedari tadi Andra terus saja mengengam tangannya bahkan hanya menyetir dengan satu tangan.
__ADS_1
Sarah mengerti Andra bahagia tapi dia juga belum ingin meninggal karna bayi mereka belum lahir.
"Baiklah sayang" ujarnya lembut.
Andra pun melajukan mobilnya kerumahnya, senyuman tak pernah pudar dari bibir tipisnya itu.
Entah harus dengan ekspresi apa dia mengambarkannya.
Setelah 45menit Andra pun sampai dikediamannya, Andra pun langsung membukakan pintu untuk istrinya itu.
"Makasih mas"
"Uuntuk tuan putri apa sih yang engga"
"Gombal aja kamu mas," Ujarnya dengan senyuman yang tertutup.
.
"Bi tolong pindahin barang-barang kekamar bawah ya" ujarnya saat mereka baru duduk disofa ruang keluarga.
"Baik tuan"
"Mau ngapain mas kita pindah kamar?"
"Aku gak mau anak kita kenapa-napa, apalagi harus naik turun tangga" ujarnya lembut dengan tangan yang terus mengelus perut besar sarah itu.
*
*
"Alhamdulilah aby, sarah akhirnya hamil juga dan kita bakalan punya cucu kembar" Ujar umi pipik pada suaminya itu.
"Iyaa umi, aby juga senang semoga keluarga mereka sakinah mawadah warahmah sampai maut yang memisahkan"
"Aamiin aby. Aby juga harus cepat sembuh, emang aby gak mau apa liat anak kita bahagia sama anak-anaknya" ujarnya sendu, karna reyhan yang sudah tidak sesehat dulu, penyakitnya sudah menyebar kemana-mana bahkan reyhan selalu ingin terlihat sehat jika sarah berkunjung kerumahnya bahkan ssekarang pun reyhan tak mau sarah tau kalau abynya ini dirawat dirumah sakit.
"Kita kasih tau sarah ya aby"
"Jangan umi, sarah sedang hamil. Aby gak mau sarah jadi kepikiran karna kesehatan aby, kasian bayi-bayi sarah jika ibunya banyak pikiran"
Umi pipik tak bisa berbuat apa-apa, Mungkin tidak sekarang dia memberitahu sarah.
"Yasudah, aby istirahat aja ya. Umi mau keair dulu" ujarnya lembut sambil menyelimuti suaminya ini.
Pipik keluar dari ruangan suaminya, dia tak bisa terus menerus menyembunyikan sakit suaminya itu dari anaknya tapi dia juga tak mau membuat putrinya itu khawatir.
Dia pun menelpon Andra, setidaknya dia sudah memberitahu suami anaknya itu.
"Assalamualaikum umi"
"Waalaikumsalam dra" Ucapnya parau, karna sangat sulit baginya untuk berkata.
"Maaf umi mengangu ya nak andra"
"Tidak apa-apa umi"
"Apa sarah ada?"
__ADS_1
"Ada umi, tapi sarah baru saja tirdur. Mau andra bangunkan" Ujarnya karna mendengar suara mertuanya itu seperti menahan tangisan.
"Tidak usah, biarkan saja dia kelelahan....!! Umi mau bicara sama dek andra, apa bisa dek andra menjauh dari sarah sebentar" ucapnya memohon.
Andra disebrang sana pun merasa heran, dia menatap istrinya sebelum beranjak kebalkon kamarnya.
"Andra sudah diluar umi"
"Hikkkss...hikssss maafin umi"
"Umi kenapa nangis"
"Maafin umi, mengangu kebahagiaan kalian"
"Umi jangan bicara begitu"
"Aby masuk rumah sakit"
"Tolong jangan bilang ke Sarah kalau aby masuk rumah sakit"
"Memangnya kenapa umi, Sarah harus tau"
"Sarah lagi hamil, umi gak mau dia jadi banyak pikiran, umi mohon nak andra"
" aby dirawat dirumah sakit mana umi"
"Siapa mas yang sakit" Ujarnya mengangetkan Andra.
"Andra tutup ya umi" Assalamualaikum"
Andra pun mematikan sambungan telepon dengan mertuanya itu dan menghampiri istrinya itu.
"Bukan siapa-siapa ko sayang" ucapnya lembut.
"Kenapa bangun hemmm"
"Abisnya kamu gak ada," ujarnya manja
"Ya sudah ayo tidur lagi" ajaknya
"Aku gak mau, pengen puding mas" rengeknya, Andra yang melihat istrinya itu mencubit hidungnya karna gemas.
*
*
Umi pipik sedikit lega setelah memberitahu menantunya itu, dia pun berjalan kearah musola sesuai tujuannya itu.
Segala doa dia panjatkan diatas sejadah untuk suaminya itu, Reyhan adalah lelaki cuek yang dikenalnya 30tahun lalu sebelum mereka menikah dan memiliki sarah.
Rasanya begitu sangat sakit melihat suami yang dia cintai berbaring tak berdaya, seakan nyawanya itu sepi.
*
*
Jangan lupa bantu vote ya, like dan dukungan lainnya.
__ADS_1