
Kehilang seorang ayah membuat sarah murung, bahkan dia sudah seminggu ini tidak makan seperti biasanya. Dia begitu syok saat mendengar ayahnya meninggal, dia juga kecewa kepada keluarganya yang tidak memberitahukan prihal sakit ayahnya itu, bahkan suaminya juga ikut-ikutan menutupinya.
"Sayang"
Sudah ratusan kali Andra memanggil Sarah, tapi dia tetep saja dengan lamunannya.
"Sayang, Maafin aku."
"Percuma mas, aby udah gak ada" Ujarnya dingin.
"Iya aku tau, tapi itu keingin aby, dia gak mau bikin kamu kepikiran,"
"Tapi apa mas nyatanya, Aku tetap kepikiran kan" ujarnya sambil menatap sendu suaminya itu dia mengeleng-gelengkan kepalanya karna begitu kecewa.
"Aku kecewa mas, aku kecewa sama diri aku"
Andra langsung memeluk istrinya itu, Saat Sarah menangis.
"Sudah sayang, Aby sudah tenang"
*
*
Dikediaman Keluarga sarah, Tak jauh beda dari Sarah, umi pipik juga masih saja meratapi kepergian suaminya itu.
Begitu sakit, Bahkan sekarang sarah marah padanya karna tak memberitahu abynya yang sakit itu.
"Umi" Ucap pelan seseorang yang membukakan pintu kamarnya, Umi pipik pun menengok kebelakang.
"Sarah" Umi pipik langsung memeluk anaknya itu.
"Maafin Sarah umi!"
"Umi yang harusnya minta maaf sayang"
"Iya umi,," umi juga harus ikhlas"
__ADS_1
"Iya sayang,"
Kehadiran sarah membuat umi Pipik kembali tersenyum, Apalagi kandungan sarah yang sudah membesar.
"Umi tinggal sama Sarah saja ya" Ajaknya
"Iya umi," timpal andra.
Umi pipik menatap anaknya.
"Sarah tau, umi gak mungkin mau. Tapi sarah butuh umi, takut sewaktu-waktu sarah lahiran, mas Andra sedang kerja" bujuknya, agar Uminya itu mau.
"Iya sayang, umi mau"
Umi Pipik membereskan pakaianya untuk dibawa kekediaman anaknya itu, Sarah hanya menyemil buah sambil menunggu uminya dikamar, Bahkan sarah sudah menghabiskan 3 piring cemilan.
"Cucu oma, apa masih lapar" Tanyanya saat Sarah akan makan cake.
"Hehehe, Umi sarah gak jelek kan kalau makan terus?" Tanyanya, karna berat badan yang setiap harinya itu bertambah, Bahkan sekarang badannya sudah melar dengan pipi yang chuby.
"Kamu kan gemuk karna aku" Ujar andra yang baru saja masuk kamar.
"Sudah nak andra"
Andra pun langsung berjalan kearah Sarah, Dia mengecup kening istrinya itu sebelum mengambil koper-koper mertuanya itu.
"Kamu mau beli cemilan dulu yang" Tanya Andra saat mereka dijalan.
"Boleh mas"
"Boleh dong, apasih yang enggak buat Bunda" Godanya, Sarah yang mendengar suaminya itu menyebut bunda membuat dia merona. Ada perasaan bahagia yang tak bisa dia jabarkan.
Umi pipik yang melihat kemesraan anaknya itu begitu bahagia, Karna anaknya itu bahagia. Apalagi Andra yang begitu mencintai anaknya itu.
Kebahagian seorang ibu adalah saat melihat anaknya bahagia, seperti yang sekarang umi pipik lihat.
Senyum itu tak pudar dari wajah tuanya, Dia bahagia jika suatu saatnanti dia pergi, Sarah sudah ada yang menjaganya.
__ADS_1
"Umi,mau beli sesuatu?" Tanya sarah.
"Gak usah, umi gak suka nyemil"
"Aku mau turun ya mas"
"kenapa?"
"Aku mau beli makanan yang aku mau"
"Baiklah tuan putri"
Andra pun memarkirkan mobilnya diSupermarket, Sarah langsung turun disusul dengan Andra.
"Umi mau ikut" Ajaknya
"Umi tunggu dimobil saja"
Andra punmeninggalkan mertuanya itu dan menyusul istrinya itu.
Dia sudah melihat sarah yang sudah mendorpng troli dengan perut buncitnya itu.
"Aku aja ya dong" ujar Andra yang mengambil troli istrinya itu. Sarah pun mengandeng Suaminya itu, Bahkan membuat pengunjung disana iri melihat kemesraan suami istri itu.
"Manja banget sih istri aku ini" Ujarnya sambil menarik hidung sarah yang tertutup cadar itu.
"Ihh mas, sakita tau" Rengeknya
"Biar gak liatin cewe lain" Ujarnya lagi.
Andra terkekeh mendengar penuturan Sarah itu, Istrinya ini semakin mengemaskan saja sejak hamil, Ada saja tingkahnya yang membuat dia geleng-geleng.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...