
Setelah meminta pada ayahnya untuk mengirimkan dua penjaga di mansionnya, Jason meninggalkan mansion bersama Rico pergi ke kantor.
Cukup sulit memberi alasan apa yang disembunyikan Jason dari sang ayah, pria 62 tahun itu merasa putranya berkelit di belakangnya. Jika tidak untuk apa, Jason harus menjaga mansion barunya? jika ada yang curiga itu tidak mungkin karena mansionnya berjarak 30 km dari jalanan umum.
Namun hal itu sudah diatasi oleh Jason, walaupun ia percaya ayahnya akan mengetahui hal yang ia sembunyikan secepatnya.
Jika Jason tidak segera menghentikan ayahnya untuk terus mendesaknya, tidak mungkin Jason sudah berada di lantai 42.
Jason menghela napas.
“Kenapa? kau terlihat lesu padahal di mobil kau senyum-senyum seperti orang tidak waras.”
“Aku senyum-senyum?”
“Iya. Kau seperti orang gila.”
Jason tadi di mobil berpikir tentang Tiffany, wanita itu ternyata tidak berani melawan jika Jason menghidangkan tipis-tipis.
“Nah. Kau tersenyum lagi. Apa yang ada di otakmu itu?”
“Apa? Bukan urusanmu.”
Keduanya melihat ke arah sekretaris wanita yang muncul dan mengatakan setelah memberi salam yang hormat. “Seorang karyawan wanita bernama Cara Lunox ini masuk, Sir.”
Rico menatap Jason dengan heran.
Sekretaris itu pergi setelah Jason mempersilahkan Cara masuk.
“Siapa Cara Lunox? ada janji temu dengannya?”
“Wanita yang makan malam denganku kemarin.”
Rico akan membalas perkataan Jason tapi Cara yang dimaksud sudah masuk dan berjalan mendekat ke depan meja Jason.
“Halo, Jason. Aku baru tahu kau CEO yang menggantikan CEO sebelumnya.”
“Ada apa datang ke sini?” tanya Jason langsung ke intinya.
“Ah iya. Kau ingin makan siang denganku nanti?”
“Tidak bisa.” Jason langsung menjawab tanpa berpikir lebih dulu.
“Oh kau sibuk ternyata.”
“Aku sudah ada janji makan siang bersama orang lain.”
Cara mengangguk lambat dan berlatih sekilas menatap Rico yang acuh, seakan tidak mendengar percakapan dua orang yang sedang berlangsung.
“Apakah penting?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Boleh aku bergabung?”
“Tidak.”
Cara terkejut ia ditolak mentah-mentah. “Tidak... boleh?” tanyanya ragu memastikan.
“Tidak boleh.”
“Oh begitu. Baiklah, aku permisi. Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama?”
“Tidak pasti. Tapi lihat keadaan.”
“Semoga bisa,” harapnya.
Setelah sepeninggalan Cara. Rico tergelak tawa. “Dia agresif sekali. Apa wanita itu akan menjadi jodohmu?”
Jason menatap tajam Rico. “Apa maksudmu?”
“Bukankah kau kemarin melakukan semacam kencan buta?”
“Tidak,” jawab Jason tegas. Ia tidak kencan kemarin malam dengan Cara. Itu hanya pertemuan untuk ucapan terima kasih.
“Dia lumayan cantik. Kenapa tidak kau coba kencan dengannya?”
“Aku tidak suka kencan.”
Kemudian Rico berhenti dari tawanya setelah melihat ponselnya yang berdering. Raut wajahnya berubah serius.
“Ah aku ada kencan makan siang dengan wanita baruku.” Rico menyimpan ponsel ke dalam saku dan beranjak dari sofa. Sebelum melangkah keluar. “Lebih baik kau makan siang dengan Cara, Jason. Daripada kau menikmati makan siangmu sendirian.”
Rico berjalan ke luar dengan suara tawanya. Mendengar umpatan dari Jason.
Kepergian Rico membuat Jason kembali mengingat dirinya yang sering dipaksa untuk segera mencari wanita untuk menjadi kekasihnya. “Maria, apa kau juga menginginkan aku memiliki kekasih?” tanyanya menatap langit-langit.
Lalu Jason beralih, membuka brankas di bawah meja. Setelah memasukkan PINnya Jason mengambil barang ia simpan satu-satunya di sana.
Don't touch my diary, whoever it's! —M
Jason tersenyum kecut melihat tulisan di sampul buku itu. “Aku sudah menyentuhnya, apa kau bisa memarahiku karena sudah berbuat hal ini?”
Jason membuka halaman pertama.
Jason menyebalkan. Dia mengambil kueku yang masih di pemanggang. Akan aku bunuh dia dan memberikannya kepada Perdo saat harimau itu sudah agak besar.
Jason ingat hari itu. Setelah ia pulang sekolah, ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum di kulkas. Tetapi pemanggang yang berbunyi itu menarik pandangannya untuk melihat. Jason mengintip dan sebuah loyang terlihat dibalik kaca yang sedikit buram.
Jason tahu jika ini buatan Maria karena adiknya itu kemarin mengatakan akan coba membuat kue untuk ulang tahun sahabatnya. Ia juga tahu Maria akan marah jika Jason mengambilnya tanpa izin. Dipikir lagi jika Jason izin pun Maria tidak akan membiarkan Jason menyicipinya.
__ADS_1
Jason membuka pemanggangnya dan mengeluarkan loyang itu dari pemanggang yang masih panas. Dengan alas tangan tangan Jason meletakkan loyang di atas meja. Mengambil garpu dan mengerok sebagian kecil... hanya sebagian kecil di pinggir loyang lalu ia masukkan ke dalam mulutnya setelah ia tiup sebentar.
Mengejutkan. Rasanya lezat. Maria memiliki bakat ini langsung dicobaan pertamanya dan Jason bangga. Karena lezat, Jason kembali mengambil satu suapan garpu besar dan memakannya. Lagi... lagi dan lagi... ia lapar sebenarnya. Hingga suara langkah alas kaki dengan irama sedikit cepat berjalan di mansion yang sepi, Jason kembali memasukkan loyang ke dalam pemanggang dan meletakkan bekas garpunya di meja lalu ia pergi dari dapur.
Tentu saja, sebelum itu ia sempat mendengar teriakan menggema di langit-langit suara Maria yang mengomel.
“Jason! Aku tahu ini ulahmu, laknat. Ku cincang-cincang jika aku menemukanmu, Jason!”
Ingatan singkat itu menempel jelas di memorinya. Suara teriakan Maria dengan nadanya juga Jason ingat.
“Maaf, Maria. Aku tidak bisa menjagamu.”
Air matanya mengenang di pelupuk.
Jason terus membaca tiap halamannya.
Aku merindukan Mommy.
Halaman berikutnya.
Pergi ke mall dengan Jason tidak terlalu buruk. Apalagi jika nanti dia kaya, aku akan ke mall dengannya saja daripada dengan temanku.
Halaman berikutnya.
Aku naik kelas dengan nilai memuaskan, aku memilih hadiah buku fantasi The Tales of Beedle The Bard dari Daddy.
Halaman berikutnya.
Aku harap Jason memiliki kekasih agar tidak hanya aku seorang wanita yang tinggal di rumah ini.
Halaman berikutnya.
Jason, aku merindukanmu. Aku ingin cepat-cepat dia menyelesaikan sekolahnya di Toronto.
Halaman berikutnya.
Aku sudah lama tidak menulis diary lagi. Kali ini bukan tentang keluargaku ataupun temanku. Ini tentang orang asing. Orang asing yang menggangguku. Kenapa dia menggodaku dengan cara yang langka? tidak seperti pria lainnya yang pernah aku ketahui. Dia diam hanya menatapku dan tersenyum saat aku menatapnya lalu ketika aku di kafe dia yang membayar tagihanku tanpa aku ketahui. Dan aku bertemu dengannya hanya di kafe itu. Padahal itu kafe favorite-ku. Aku menghabiskan hari yang melelahkan setelah kuliah ke sana. Sial, pria itu selalu datang di jam aku berkunjung. Apa dia penguntit? kurasa tidak, pakaiannya mahal. Kemeja brand terkenal. Sepatunya juga seperti Daddy. Jika dia tidak menggodaku dengan cara seperti itu, aku pasti akan jatuh cinta kepadanya. Dia tampan, menarik. Saat aku tahu dia juga tertarik kepadaku, aku senang.
Halaman berikutnya.
Baiklah, dia melakukan hal yang sama. Terima kasih untuk hari ini, D.
Jason menutup buku itu. Emosinya yang awal sedih berubah marah.
“Adikku mencintainya tapi bajingan ini... brengsek!” umpatnya geram.
·
·
__ADS_1
·
The Handsome Evil CEO © YAKIYA