
“Bagaimana kondisinya, Dokter Scott?” tanya Jason setelah Dokter Scott turun ke lantai dasar.
“Tidak ada masalah serius. Dia mengalami dehidrasi. Perutnya kosong, dia belum makan? Lebih baik setelah siuman langsung beri dia makanan yang berserat dan bergizi.... Sebenernya apa yang terjadi, Jason? aku melihat kakinya melepuh dan lecet.”
Jason tidak menjawab.
“Ya sudah. Bersihkan lukanya dan oleskan obat yang aku tinggalkan di atas nakas tiap sehari sekali sampai lukanya kering.”
“Baik. Terima kasih, Dokter Scott.”
Jason mengantar Dokter Scott sampai ke depan gerbang lalu ia kembali masuk ke dalam mansion.
•••
“Apa yang kau lakukan? kau memasak?”
“Iya.”
Rico sedikit melompat dan mendaratkan pantatnya di meja sambil memakan kentang goreng.
“Tumben sekali.”
Rico turun dari duduknya dan berjalan mendekati Jason, melihat apa yang dimasak oleh pria itu. “Apa itu? seperti makanan bayi. Kau ingin makan makanan ini?”
“Bukan aku.”
“Kau memasak untuk Tiffany?” tebak Rico.
Jason berdehem. Ia menuangkan hasilnya ke mangkok. “Kau tidak pulang?”
“Lebih baik aku tidak meninggalkanmu dengan seorang wanita.”
Jason menatap Rico dengan dahi berkerut. “Apa maksudmu?”
“Apalagi? jika seseorang pria dan wanita hanya berdua...,”
“Tutup mulutmu dan pulang sana.”
Jason berlalu dengan membawa nampan berisi mangkok dan segelas air putih.
“Tidak. Aku tidak ingin hal apa pun terjadi di sini,” gumam Rico menatap punggung Jason yang berbelok menuju tangga.
Sesampainya Jason di depan pintu kamar Tiffany, ia menahan nampan di lengan kirinya dan membuka pintu dengan tangan kanan. “Permisi, aku masuk.”
Jason masuk dan melihat wanita itu masih terpejam. Ia berjalan ke meja kecil, meletakkan nampan di atasnya. Lalu ia mendekat ke ranjang, melihat wajah tenang wanita itu.
Jason menghela napas. “Merepotkan. Seharusnya dia menuruti perkataanku. Akibat keras kepalanya, dia sendiri yang—”
Jason menutup mulutnya dengan tangan menempel di bibirnya, setelah melihat pergerakan kecil dari mata Tiffany. Tanpa sadar, ia menahan napas.
__ADS_1
Jason melihat tidak ada pergerakan lain. “Lalu barusan apa? dia belum siuman juga?” omelnya.
Kemudian Jason berjalan pelan ke luar kamar. Setelah menatap pintu yang tertutup, ia turun dari lantai 2.
“Sudah kau suapi?”
Jason duduk di sofa dan menggeleng. “Dia bisa makan sendiri.”
“Oh, dia sudah siuman?” tanya Rico antusias.
Jason menatapnya curiga. “Belum...,”
“Ku kira sudah,” sahut Rico memberengut.
“Aku merindukan Perdo, apa dia tidur di dalam mansion saja,” kata Jason mengalihkan topik.
Itu membuat Rico menatap tajam Jason. “Jangan lakukan itu. Ku harap kau dengar permintaanku yang ini. Jangan... oke?”
Jason berdiri, pergi dari ruang santai.
“Jason.... Hei. Jangan bawa dia kemari!” teriak Rico dari tempatnya. Ia mengawasi jalan Jason mengarah kemana. Kemudian menghela napas saat melihat Jason naik ke tangga, bukan ke area belakang.
“Sudah benar tempatnya di luar. Kenapa malah mau membawanya ke dalam?” gumam Rico kesal.
•••
Jason membuka pintu kamar Tiffany. Ia berhenti di ambang pintu, melihat wanita itu duduk diam dan sedang melamun.
“Kenapa aku masih ada di sini?” tanyanya dengan nada mengambang dan ia juga tidak menatap lawan bicaranya.
Tapi sepertinya wanita itu memang tidak berbicara kepada Jason. Lebih ke bergumam.
“Makan.” Jason memajukan mangkok yang ia bawa.
Tiffany menatap lurus mata hitam itu, gejolak marah timbul di hatinya. “Lakukan sesuatu padaku,” kata Tiffany.
Jason menatapnya tidak mengerti. “Apa maksudmu?” Jason menaruh mangkok itu ke atas paha Tiffany yang tertutupi selimut. “Makanlah.”
Jason berbalik dan akan berjalan ke luar, sebelum bantingan mangkok itu terdengar keras menghantam meja. Ia kembali menghadap Tiffany dan sekilas melihat mangkok dan isinya berserakan di lantai. “Apa yang kau lakukan?!” marah Jason, kedua tangannya yang tersimpan di saku terkepal.
Tiffany menatap ganas ke arah manik Jason. “Aku melakukan apa yang aku ingin lakukan. Jadi... lakukanlah apa yang harus kau lakukan padaku,” ucap Tiffany.
“Bicaralah yang jelas.”
“Bunuh aku jika itu yang ingin kau lakukan sekarang! Jangan buat aku harus menanti-nanti waktu. Jika kau ingin membunuhku, bunuh aku sekarang!” teriak Tiffany, matanya memerah.
Jason terkekeh rendah, menggeratukkan giginya geram. “Jangan main-main dengan nyawa, bodoh. Kau masih hidup sampai sekarang, seharusnya kau bersyukur. Tapi kau ingin aku menebasmu dan membuang nyawamu begitu saja?” tanya Jason.
“Kau itu pembunuh.”
__ADS_1
“Ya. Aku memang membunuhnya,” Jason tersenyum. Tapi bukan senyuman yang manis, indah ataupun bahagia. Itu senyuman yang menunjukkan suatu emosi yang masih tertinggal, yang masih ia ingat. “Aku akan buatkan yang baru.”
Jason berjalan ke luar. Setelah menutup pintu, ia berdiri di pagar balkon. Kedua lengan menumpu lalu ia mengusar rambut hitamnya.
Brengsek.
Jason berjalan turun dan kembali ke dapur. Ia membuat lagi bubur dengan sayur dan kacang-kacangan juga. Setelah selesai, ia naik ke lantai dan masuk ke kamar Tiffany.
“Makan,” kata Jason. Ia mengambil satu suapan untuk Tiffany dan mendekatkan ke mulut Tiffany yang enggan terbuka. “Sudah aku dinginkan, ini masih lumayan hangat.”
Tapi Tiffany masih bergeming, bahkan tidak menatap Jason yang duduk di dekat ranjang.
“Buka mulutmu dan terima suapan ini,” ucapnya lagi yang tidak ditanggapi Tiffany.
Jason masih menahan tangannya, sampai Tiffany menerima suapan itu Jason tidak akan menurunkan tangannya.
10 menit berlalu. Tiffany masih enggan dan menatap ke depan, menatap kosong. Seperti tubuh tanpa roh. Bernapas tapi mati.
“Buburnya mulai dingin,” kata Jason, tangannya masih setia memegang sendok, menunggu di depan bibir Tiffany.
15 menit berlalu. Bahkan tangan Jason tidak bergetar di posisinya.
Keduanya diam. Kemudian suara ketukan di pintu datang mengisi kekosongan.
Terdengar tipis teriakan Rico dari balik pintu. “Hei kalian! Kalian tidak melakukan sesuatu yang enak kan?”
“Jason! Sudah kukatakan jangan berdua saja dengan wanita!”
Lalu hening kembali.
•••
“Jason sialan! Apa yang dilakukan mereka di dalam? aku sudah menunggunya sejak 35 menit yang lalu,” gumam Rico, berdiri menatap pintu putih.
Rico maju dan menempelkan telinganya ke pintu. “Tidak terdengar suara apa pun? sebenarnya mereka sedang apa?” tanyanya kepada diri sendiri. Ia kembali berdiri tegak saat seseorang memutar kunci.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Rico curiga, melihat Jason yang menatapnya diam.
Rico melirik ke dalam, ke arah Tiffany yang duduk diam sebelum Jason menutup pintunya.
“Kau tidak tidur?” tanya Jason, ia berlalu melewati Rico dan berjalan turun.
Rico mengikuti langkahnya menuruni tangga. “Tidak terjadi apa-apa? pakaian kalian tidak berantakan.”
Jason mengacuhkan perkataan tidak jelas Rico, ia meneguk air setelah mengambilnya di dalam kulkas.
“Bersihkan pikiranmu, brengsek.”
Jason meninggalkan Rico di dapur, ia berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dasar dekat tangga.
__ADS_1
The Handsome Evil CEO © YAKIYA