The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 19


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Rico saat pamit tadi kepada Jason. Pria itu sudah sampai di depan apartemen bangunan tingkat 5 dengan gaya klasik Eropa, daerah St. Greenwall. Ke luar mobil dan melepas kacamatanya, Rico menaiki 5 anak tangga untuk mencapai pintu utama.


“Nomor 25…. Oke,” gumamnya melihat angka yang tertera di samping pintu warna coklat itu.


Saat telunjuknya ingin menekan bel, ponselnya lebih dulu berdering. Rico mengambil benda itu dan mengangkat panggilan dari Selia.


“Langsung masuk saja. Apartemenku di lantai 3, pintu pertama bagian kanan.”


Sesuai instruksi, Rico mengetuk pintu yang ia tebak apartemen yang ditempati Selia. Lalu wanita itu muncul dengan pakaian yang menggoda—chemise, gaun bahan satin warna maroon diatas lutut dengan bagian atasnya yang rendah membuat belahan milik Selia itu mengintip.


“Silahkan masuk.”


Rico masuk dan melihat ruangan utama; sofa panjang dengan meja bundar kecil di sampingnya, lantai dialasi karpet bawah sofa, depan sofa terdapat layar lebar. Rico duduk di sofa cream itu.


“Kopi?” tawar Selia dan dibalas anggukan. Meninggalkan Rico, ia berjalan ke dapur di ruangan kecil lainnya tanpa pintu.


Rico bisa melihat punggung Selia yang sedang membuat kopi untuknya dari tempat duduk. Kembali menghadap layar lebar dengan pantulannya, Rico menggeser tatapannya—jatuh ke bingkai foto kecil terbalik, tidak mencolok karena agak dimasukkan ke dalam ruang kecil di samping elektronik itu. 


Rico berdiri, membalikkan bingkainya. Ia melihat foto pria yang ia tahu, itu adalah Dexian. Dengan Selia yang menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.


Selia yang sudah selesai dari dapur dengan membawa nampan itu tersenyum tipis, berdiri diam di ambang batas melihat punggung Rico. Ia sengaja meletakkan bingkai foto itu di sana.


Selia berjalan mendekat. “Kopimu,” meletakkan cangkirnya di atas meja dan nampannya ia taruh di bawah meja.


Rico sudah berbalik dan berhadapan dengan wajah Selia yang tidak menampilkan ekspresi terkejut, kepergok.


“Kopimu,” tunjuk Selia ke arah cangkir di meja, karena Rico hanya diam menatapnya.


Rico meletakkan bingkai itu lagi di tempatnya, namun posisinya berubah—fotonya jadi terlihat. Ia duduk di sofa dengan meja dengan Selia yang sudah duduk santai di bagian kanannya.


Rico menatap Selia dengan ekspresi biasa menatapnya. “Jadi kita akan berakting seakan kita tidak berniat untuk saling balas dendam?” 


Selia tertawa pelan. “Aku sudah tahu… kau tahu siapa aku sebenarnya. Bukan begitu, Rico? Selia Kristen Peros, kakak dari pria yang dibunuh oleh temanmu.”


Rico mengambil cangkirnya dan menyeruputnya lumayan banyak. “Lalu, apakah kau meracuniku dengan kopi buatanmu ini?” tanya Rico, mengangkat sedikit cangkirnya.


“Kenapa kau minum?” Selia melipat tangannya di dada, bereaksi santai mendengar tuduhan itu.


Rico meletakkan cangkirnya kembali.


“Kita teman,” ucap Selia. “Aku tidak mengincar nyawamu.”


Rico mengakar alisnya saat Selia sudah menempel tubuhnya dan merangkul lehernya. Wanita itu duduk menghadap Rico dengan kedua pahanya terbuka. “Iya, kita teman.”


Selia tersenyum, senyum yang biasa ia tunjukkan kepada orang asing—senyuman manis tampak tidak menyiratkan apa pun. “Benar. Bahkan kau mengajakku kencan kemarin.”

__ADS_1


Rico mengangguk. “Ya. Makan siang itu dan kau bertemu langsung dengan Jason.”


“Friends with benefits?” tanya Selia. Dengan usapan tangannya pada rahang Rico.


Rico terkekeh. “Jika kau ingin hubungan semacam itu… baiklah. Tidak masalah untukku.”


Selia mengecup bibir Rico singkat dan kegiatan panas berikutnya berlanjut saling menguntungkan. Tanpa terlibat perasaan, tanpa ada keinginan untuk membalas dendam.


Satu jam kemudian, ruangan utama itu menjadi berantakan. Pakaian yang dikenakan Rico maupun Selia teronggok asal.


Di sofa panjang itu Rico merangkul tubuh Selia yang memeluknya menyamping, terlihat seperti sepasang kekasih romantis. Selia menengadah lalu bergerak sedikit ke atas, menggapai bibir Rico.


Ciuman terlepas saat ponsel Rico berdering beberapa kali dan diambil oleh pria itu setelah melepas pelukannya.


Melihat Jake Zuruno yang memanggilnya, Rico menatap Selia yang masih santai menatapnya. “Beri aku tisu.”


Selia beranjak, berjalan ke kamar dan kembali dengan handuk kecil yang sudah dibuat basah. “Pakai ini.”


Rico menggapai handuk itu dan membersihkan sisa-sisa permainan mereka. Selesai memakai pakaian lengkap, Rico mengangkat panggilan itu.


“Hai, Jake.”


Rico melihat Selia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


“Aku?” Rico menggaruk pelipisnya lalu berkacak pinggang. “Baiklah…. Aku akan sampai dalam 30 menit…. Ya. Aku sedang di tempat temanku…. Baiklah, sampai jumpa.”


“Ada apa?” teriak Selia dari dalam.


“Aku akan pergi.”


“Pergilah.”


Rico pun berjalan ke luar dan mengendarai mobilnya pergi dari St. Greenwall.


•••


Rico menaiki tangga mansion Jake Zuruno. Kata pelayan Jake sudah menunggunya di ruangannya—di lantai 2, pintunya berbeda dari yang lain; terbuat dari kayu quebracho dan gagang ukiran harimau.


Rico masuk tanpa mengetuk lebih dulu, seperti biasanya.


“Rico, duduklah.”


Ruangan ini tidak ada yang spesial, hanya dua single sofa saling berhadapan dengan meja bundar sebagai penghalang. Rico selalu masuk ke ruangan ini, tidak ada benda apa pun yang terletak di atas meja itu, seakan memang terjaga agar terlihat baru dan bersih.


Rico duduk di hadapan Jake yang sudah menunggunya. “Jake, kita bisa bicara di tempat terbuka saja, jika kau ingin bicara seperti biasanya.”

__ADS_1


Jake melipat bibirnya yang tipis itu, seakan memikirkan usul Rico. Lalu menggeleng. “Di sini lebih nyaman.”


Rico mendesah pasrah. Seakan penting, ruangan ini hanya bercahayakan satu lampu karena cahaya seperti matahari tidak akan masuk, jendela hingga ventilasinya terhalang gorden tebal dan besar. Pikir Rico, Jake memang selalu berlebihan. “Lalu apa yang ingin kau bicarakan? Tentang putramu?”


“Iya. Aku ingin dengar dari sudut pandangmu dan tentang Tiffany.”


“Aku pikir kau sudah tahu dari cerita Canda….”


“Iya. Tapi seperti biasanya, aku ingin kau bercerita tentang Jason.”


Rico mengerucutkan bibirnya. “Seperti yang sudah kau tahu sebelumnya. Benar, mereka dekat… bahkan sudah menjalin hubungan, kurasa. Dan aku ucapkan selamat untukmu, Jake. Karena kau berhasil merencanakan ini semua.”


“Hanya itu?”


“Lalu apa yang ingin kau lakukan lagi? Mereka sudah dekat.”


Jake diam. Mendengar kelanjutan kalimat Rico.


“Dia meminta bantuan untuk itu dan aku hanya memberitahu tempat tinggalnya, Tiffany yang menjadi karyawan di Hamin Corp. Jason juga tidak peduli lagi, dia masih fokus pada antek-antek Dexian.” Rico menelan ludahnya karena sedikit haus, Jake tidak menyiapkan minum. Ia sudah bicara panjang. “Bagaimana dengan kau yang ingin Tiffany Clandezo menjadi menantumu?”


“Nama aslinya Tiffany Sicardhe. Aku minta pada Filan Sicardhe, meminjam cucunya sementara.”


Rico membuka lebar matanya. “Dia punya keluarga?”


“Tentu saja. Filan, pria tua itu sahabatku.”


“Dan membiarkan cucunya, menyerahkannya kepadamu begitu saja?” tanya Rico tidak percaya.


“Kita sudah sepakat.”


“Hah? Sepakat apanya? Dan kenapa Tiffany tidak khawatir tentang Filan yang akan mencarinya?”


“Mereka memiliki hubungan buruk. Alasan itu yang membuat Tiffany menyembunyikan nama belakang aslinya.”


“Bagaimana dengan kedua orang tuanya?”


“Tiffany tidak punya mereka sedari bayi.”


“Dia yatim piatu?”


Pembicaraan mulai serius.


“Filan mengambil hak asuh di panti, lebih tepatnya mendiang istrinya yang menginginkan anak karena mereka tidak mendapat kesempatan itu. Saat Tiffany dikirim sekolah tinggi dan tinggal jauh dari mereka, kabar kematian istrinya tidak Filan beritahu pada Tiffany. Karena sedari kecil Filan tidak menganggap Tiffany anak, hubungan mereka sudah buruk sejak pertama kali dan semakin buruk saat Filan menyembunyikan kabar itu. Filan menuruti semua keinginan mendiang istrinya dan pria tua itu menjadikan Tiffany sebagai cucu. Namun mereka tetap tidak berhubungan baik dan Tiffany ikut dengan Filan yang sekarang memiliki apartemen di daerah Wikileak. Orang-orang tahu mereka hanya sebatas pemilik apartemen dan penyewa,” jelas Jake panjang.


Rico menghela napas kasar dengan memijat pangkal hidungnya. “Rumit sekali hidupnya.”

__ADS_1


“Maka dari itu. Aku menjadikannya menantu,” balas Jake dengan santai.


The Handsome Evil CEO © YAKIYA


__ADS_2