The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 15


__ADS_3

Jason berjalan ke luar setelah membeli buket mawar itu. Ia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya di pusat kota.


“Itu bunga untukku?” tanya Cara. Duduk di samping Jason dengan matanya yang berbinar.


“Bukan,” jawab Jason tanpa melihat ke arah wanita itu yang menampilkan wajah suramnya.


“Lalu untuk siapa, Jason? Tidak mungkin bunga itu untuk wanita lain bukan?”


“Kau tidak perlu tahu.”


Cara mencebik. “Baiklah….”


Lalu wanita itu bergumam sendiri, “bunga mawar mengingatkanku pada Tiffany.”


Mendengar nama yang sama dengan di pikirannya, Jason menoleh. “Tiffany?”


Cara menampilkan wajah sedihnya dan mengangguk. “Tiffany adalah teman sekantorku. Dia menghilang…,” lalu dilanjutkan dengan kalimat, “tapi tidak apa-apa. Karena Dave sudah membantu mencarinya dengan polisi, kenalan Dave juga.”


Tidak ada balasan lagi dari Jason. Pria itu menatap jalanan tanpa ekspresi.


Setelah 40 menit berjalan, Jason menghentikan mobilnya di basement apartemen milik Cara.


“Terima kasih atas waktunya, Jason. Besok bisa kita pergi bersama?”


“Tidak. Cukup sampai disini,” tolak Jason.


“Kenapa? Kau sibuk?”


Jason tidak menjawab.


“Baiklah, mungkin lain kali,” putus Cara. Wanita itu merangkul tasnya di pundak, sekali lagi menatap Jason. Ragu-ragu dengan gerakannya, tapi detik berikutnya ia lakukan. Cara mencium pipi Jason. “Selamat malam, Jason,” pamitnya, membuka pintu dan berjalan ke arah lift.


Tidak ada reaksi apa pun dari Jason. Pria itu menyalakan mesin mobil dan meninggalkan basement.


•••


Jason masuk ke mansionnya dengan buket mawar yang ia pegang hanya dengan satu tangan. Ia melihat Rico yang berbaring di sofa tengah bermain dengan ponselnya.


“Apa dia sudah tidur?” 


Rico mengangkat wajahnya, membuang ponselnya asal ke sofa. Mengubah posisinya menjadi duduk dan menyilangkan tangan di dadanya. “Untuk memberinya bunga huh?”


“Iya.” Jason mengangkat buket itu, menunjukkannya kepada Rico.


“Cek saja di kamarnya.”


Lalu Jason langsung pergi meninggalkan Rico yang mencibir.


Sampai di lantai 2, Jason menatap buket bunga mawar yang ia genggam lalu pintu putih di hadapannya—tidak mendengar suara apa-apa dari balik pintu. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, masih pukul 9. Tiffany tidak mungkin sudah tidur pada jam segini bukan?


Untuk membuktikan, Jason mengetuk pintu itu 3 kali. Tidak mendengar jawaban dari dalam maupun balasan wanita yang menempati ruangan ini.

__ADS_1


Mengetuk lagi 3 kali dan menunggu selama 3 menit, tidak ada balasan. Jason pikir, mungkin Tiffany tidur lebih cepat malam ini. Ia akan memberi buket ini besok saja, kakinya berbalik langkah dan akan meninggalkan tempat sebelum mendengar suara pintu terbuka.


“Ada apa?” 


Jason berbalik, melihat Tiffany dengan sweater-nya dan wajahnya tidak seperti orang bangun tidur yang terganggu tidurnya.


“Aku ingin memberikan buket ini untukmu,” kata Jason. Mengangkat buket itu agar Tiffany melihat barang yang ia bawa.


“Untukku? Kenapa?” tanya Tiffany. Tidak berani menatap kembali manik abu-abu Jason setelah melihat buket mawar di depan dada pria itu karena pipinya terasa menghangat.


Jason bergumam lalu kalimatnya terdengar jelas. “Entahlah. Kau mau atau tidak?” tanyanya, mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.


“Tentu saja mau. Berikan,” balas Tiffany. Mengambil buket itu cepat. Setelah buket itu didekapnya, tangannya menggenggam gagang pintu, ingin rasanya segera bersembunyi. “Sudah?”


Jason mengangkat alisnya lalu mengangguk. “Iya. Hanya itu… aku menemuimu malam-malam.”


“Baiklah. Terima kasih, Jason.” Dengan cepat Tiffany menutup pintunya.


Jason yang masih berdiri di depan pintu yang sudah kembali menutup itu, sempat terkejut. Lalu terkekeh dan pergi dari kamar Tiffany, turun ke lantai dasar.


Sampai di sofa yang masih ada Rico menatapnya sinis itu, Jason duduk di depannya.


“Sudah kau berikan?” tanya Rico dengan sinis.


“Sudah. Ada apa denganmu menampilkan wajah jelek itu?”


Rico menormalkan ekspresinya. “Kenapa kau mencoba mendekatinya?”


“Ah ya, aku lupa. Kau terlalu banyak wanita sekarang.”


Jason tidak mengindahkan. Membalas pesan dari ayahnya yang ia abaikan karena masih bersama Cara tadi.


“Kenapa kau sering menerima tawarannya untuk kencan?”


“Siapa yang kau bicarakan? Sebut namanya ketika membicarakan orangnya. Membuatku bingung,” ucap Jason. Menyimpan kembali ponselnya dan menatap Rico dengan alisnya berkerut.


“Jelas-jelas aku membicarakan Cara.”


Jason menggeleng. “Tidak. Yang awal kau membicarakan Tiffany.”


“Itu kau tahu, brengsek. Kenapa perlu aku sebut juga namanya,” balas Rico kesal.


“Agar jelas.”


“Sudahlah. Kenapa kau membuat dua wanita itu menggilaimu?”


“Kau mengganti pertanyaanmu.”


“Iya. Sekarang kita membicarakan dua wanita itu. Tiffany dan Cara. Mana yang kau pilih?”


Jason semakin mengerutkan alisnya. “Aku tidak memilih keduanya.”

__ADS_1


“Wow…. Sekarang kau mencoba menjadi bajingan?”


Jason berdecak tidak suka. “Berhentilah menanyai hal semacam itu padaku. Aku tidak tahu. Tentang Cara yang sering aku terima ajakan untuk pergi bersama, karena ayahnya yang sudah membantuku menutupi kasusku dari media. Kau tahu Marcell Hag pemilik perusahaan media terbesar di New York? Cara adalah putrinya.”


“Benarkah? Tapi Lunox adalah nama belakangnya.”


Jason tidak lebih jelas. “Marcell meninggalkan Mrs. Lunox dan Cara ikut ibunya.”


“Begitu….?” lalu Rico menambahkan. “Lalu Tiffany?”


Jason diam, mencerna otaknya untuk menjawab tapi ia tidak menemukan ungkapan yang pas. Ia menatap Rico lalu mengangkat bahunya acuh. “Entahlah.”


Rico menyipitkan matanya. “Kau yakin? Tidak mengarah pada hubungan kekasih dengan Tiffany?”


Jason melipat dahinya dalam dan matanya melebar mendengar kalimat Rico. “Aku… tidak pernah berpikir. Tidak. Aku tidak pernah mengarah ke sana dengannya.”


“Kau belum sadar saja.”


•••


Jason ke luar kamarnya dengan pakaian kusut dan celana selutut. Setelah cuci wajah, menyegarkan melihat jelas pemandangan wanita dengan apron yang memunggunginya.


Jason berjalan ke dapur dan duduk di kursi dengan Rico yang sudah menantikan sarapan yang akan Tiffany hidangkan.


Jason melihat bunga mawar yang sudah dimasukkan beralih tinggal di dalam vas putih susu. Senyumnya tersungging di wajahnya dan Rico melihat hal ini.


“Tiffany. Kenapa tiba-tiba ada bunga di dapur? Bukankah akan berubah jelek jika diletakkan di sini?” tanya Rico, sesekali melihat reaksi Jason yang berubah ekspresi menjadi diam—seakan tidak minat dengan topik yang dilontarkan Rico.


Tiffany yang memunggungi kedua pria itu berbalik, melihat ke arah Rico dan bunga mawar yang ia pindah tempatnya tadi pagi. “Akan layu?” 


Rico mengangguk.


Tapi Tiffany tidak jadi melakukan aksinya yang akan memindahkan bunga itu dari dapur, karena matanya menangkap Jason—orang yang memberikan bunga itu padanya. Tiffany jadi kikuk sendiri. Lalu ia kembali berbalik, menyelesaikan masakannya.


Diam-diam Rico berbisik. “Dia menyukaimu. Kau lihat perilakunya.”


“Dia melanjutkan pekerjaannya. Apa yang salah?” elak Jason.


“Baiklah.” Rico angkat tangan. Biarkan dua orang itu saling pura-pura tidak menyadarinya.


Dan beberapa menit kemudian mereka sarapan dengan tenang.


·


·


·


·


The Handsome Evil CEO © YAKIYA

__ADS_1


__ADS_2