The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 16


__ADS_3

Selia menghisap rokoknya. “Bagaimana denganmu? Tugasmu kau lakukan dengan baik?”


Karena hampir habis, rokoknya Selia buang di asbak atas meja.


“Tidak ada masalah yang harus aku atasi. Jason maupun Rico tidak bergerak lagi,” kata pria dengan pakaian serba hitamnya dan topi juga masker yang senada.


Selia tertawa hambar dan bertepuk tangan. “Dave… Dave…. Hei,” Selia berdiri dari sofa. Berhadapan dengan Dave walaupun tingginya hanya mencapai dada pria itu. “Jangan terlena… ck, ck, ck.” Tangannya menumpu di tembok belakang Dave, mendongak—menatap manik mata Dave yang tersembunyi dalam gelap.


Ruangan ini gelap dengan televisi yang dibiarkan menyala, hanya cahaya itu yang menerangi.


“Lalu apa lagi yang harus aku lakukan, Selia?” tanya Dave. Ia diam, tidak takut juga tidak melawan.


Selia menegakkan tubuhnya, berkacak pinggang lalu kembali duduk di sofa. Menengok, menatap Dave yang masih berdiri. “Duduk di sini. Kita bicara santai.” Selia menepuk tempat kosong di sampingnya dan dituruti Dave—yang sudah duduk di sofa.


“Bagaimana hubungan palsu yang kau buat? Hasilnya bagus?” tanya Dave.


“Tidak perlu khawatir. Aku tahu Rico menyadari ini dan dia tahu siapa aku sebenarnya. Aku akan biarkan itu, karena tujuan utamaku adalah nyawa Jason.”


Hening sejenak. Selia tersenyum sinis. Ia melepas stocking dan heelsnya, menampakkan kakinya yang mulus karena ia hanya memakai rok pendek yang sangat mini. Mengangkat kakinya ke atas sofa dan memindahkan tubuhnya ke atas Dave—duduk di pangkuan pria itu.


“Tenanglah…. Aku hanya bermain-main dengannya,” ucap Selia. Mengusap rahang Dave dan nada sensualnya, mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu.


Dave diam, menerima apa pun yang dilakukan oleh Selia kepadanya.


Selia melepas masker dan topi Dave yang menghalangi wajah tampannya. Masih mengusap rahang Dave, Selia berucap, “kita akan meneruskan apa yang seharusnya terjadi. Dexian mati di tangan Jason, Dave. Kita akan membalas itu juga, hm?” 


Dave mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi. Tangannya menahan pinggang Selia yang ramping dan telapaknya bersentuhan langsung dengan belakang pinggang Selia yang mulus—Selia hanya memakai tanktop.


“Kau ingin membantuku sampai tuntas bukan, Dave?” tanya Selia dan tangannya masih mengusap sensual rahang Dave.


“Iya.”


“Kau bersabar menunggu waktu itu tiba?”


“Iya, Selia.”


“Bagus. Karena aku sangat senang, maka kita akan menghabiskan sisa malam ini dengan panas.”


•••


“Kau akan mati, Jason.” Rico menatap fokus layar lebar yang menampilkan pergulatan karakternya dengan karakter milik Jason. Tangannya tidak berhenti menggerakkan tuas dan tombol stik yang ia mainkan.


Berbeda dengan Rico yang sangat bersemangat, Jason lebih santai dengan karakter pilihannya dengan nyawa lebih banyak. 


Lalu permainan itu berakhir dengan Jason pemenangnya.


Rico melempar stik itu kesal. “Iya. Kau selalu hebat. Memang… memang, tidak terkalahkan.” Rico menyerah setelah melakukan 3 kali ronde permainan yang sama karena Jason pemenangnya dari awal.


Jason tidak mengidahkan. Ia melihat isi pesan dari sang ayah yang lagi-lagi menyuruhnya untuk menerima ajakan Cara dan sekarang ayahnya itu lebih memaksa.

__ADS_1


Rico yang sempat menangkap isi pesan itu mengutarakan kalimatnya. “Bilang saja pada ayahmu. Kau mencintai wanita lain, Jason.”


Jason menoleh ke arah Rico, menatapnya tajam. “Diamlah. Jangan bahas hal itu lagi.” Jason memilih membalas pesan sang ayah.


Setelah itu Jason berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


“Kau akan menemui Cara?” tanya Rico dari tempatnya.


Jason tidak menjawab. Menutup pintu kamarnya dan menghilang dari pandangan Rico yang sekarang mendengus.


Jason membersihkan diri dan memakai pakaian semi formal; kemeja abu-abu dan celana kain hitam. Selesai bersiap, ia ke luar kamar.


“Wah… langsung tampan. Harus berbeda bertemu dengan kekasih pujaan,” ledek Rico.


Jason tidak mempedulikan kalimat Rico. Sebelum melangkah keluar mansion, matanya menangkap Tiffany di ujung tangga, menatap dirinya. “Ingin titip sesuatu?” tanya Jason.


Tiffany menggeleng lalu berlalu ke dapur.


“Aku. Aku,” sela Rico. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


“Apa?” balas Jason malas.


“Mungkin kau bisa bawa satu wanita saja. Jika—hei Jason!”


Jason sudah berjalan ke arah pintu.


“Satu wanita, bawa dia kemari dan kenalkan padaku, brengsek!” teriak Rico.


•••


Jason ke luar dari mobil ketika sampai di depan mansion Jake Zuruno.


Jason melangkah sampai ruang tengah, tidak melihat ayahnya dan ia bertanya kepada pelayan di sana yang dijawab—ayahnya berada di perkarangan belakang.


Jason berjalan ke arah belakang mansion dan melihat ayahnya duduk di kursi meja santai di bawah peneduh bersama pria yang Jason kenal, dia adalah Marcell Hag.


“Halo, Marcell,” sapa Jason dan menarik kursinya. Bergabung dengan kedua pria itu.


“Kau terlihat bugar, Jason.”


Jason tersenyum mendengar balasan Marcell. “Aku jarang olahraga akhir-akhir ini.”


“Apa kau sibuk, Jason? Maaf aku memaksamu untuk datang menemuiku.”


“Tidak masalah, Marcell. Aku punya waktu banyak luang dan aku juga berniat bertemu ayahku.”


Jason menatap ayahnya. “Bagaimana keadaanmu, Dad?” 


“Terlihat sehat bukan? Aku sering bersantai hingga terlihat lebih sehat,” balas Jake lalu tertawa.

__ADS_1


“Jangan sering minum kopi murahan itu, Dad.”


Jake tidak menyukai kopi asli yang Jason pesan untuknya. Tidak manis dan terlalu pahit.


“Aku kemarin tidak meminum ini. Aku baru minum ini sekarang,” adu Jake.


“Tetap saja.”


Setelah itu terdengar suara wanita datang dengan riang.


“Halo, tuan-tuan.”


Jason tahu suara wanita ini. Tanpa menoleh pun Cara sudah duduk di hadapannya setelah menyapa Jake Zuruno.


“Kau riang sekali, Cara.”


Cara tersenyum lebar dan sedikit tertawa menanggapi kalimat Jake. “Aku semakin riang ketika bersama Jason.”


Jason menyimpan kedua tangannya ke dalam saku.


“Kalian serasi,” kata Marcell, menyenangkan hati putrinya.


Namun Cara yang mendengar itu, seakan alasan saja untuk Marcell menarik kembali hatinya. “Jason, kau tampan sekali.”


Jason tersenyum tipis dalam sekali anggukan meresponnya.


Marcell tertawa pelan. “Kalian bisa berbincang bersama di luar. Kita orang tua tidak sanggup mendengar ungkapan cinta.”


Jason mendesah pelan, membuat Jake menyadari ketidaknyamanan putranya. 


“Bagaimana hubungan kalian?” tanya Marcell.


“Teman baik,” balas Jason sebelum Cara melontarkan kalimat asalnya.


Marcell tertawa, entah apa yang membuatnya menanggapi ini adalah bahan candaan. “Kalian akan semakin dekat seiring berjalannya waktu.”


“Sudah cukup dekat,” kata Jason, menanggapi kalimat Marcell lagi.


“Iya. Sudah dekat. Aku senang dekat dengan Jason. Mungkin kita bisa lebih dekat lagi, Jason.” Cara langsung menambahkan mendapat tatapan dingin Jason ke arahnya. “Kita jalani ini pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Aku juga masih ingin berkarir.”


“Setelah menikah. Kau masih bisa berkarir, Sayang…,” kata Marcell, menyenangkan hati Cara lagi.


·


·


·


·

__ADS_1


The Handsome Evil CEO © YAKIYA


__ADS_2