The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 26


__ADS_3

Jason telah mengucapkan janji suci diikuti oleh Cara yang juga bersumpah atas penikahan mereka.


Pada hari ini status Cara pun berubah menjadi istri Jason Zuruno. Nama Cara yang sebelumnya adalah Cara Lunox juga berubah menjadi Cara Lunox Zuruno.


Bayangan saat-saat Cara akan melakukan kegiatan sebagai istri yang patuh kepada suaminya itu pun terlihat jelas saat ini. Wanita itu sedang melepas gaun pengantin dibantu oleh Jason yang menurunkan resleting gaun pengantinnya.


"Terima kasih," ucap Cara malu-malu.


Sedangkan Jason berbalik memunggungi Cara. Terlihat dari cermin bagaimana Jason melepas jasnya dan menggulung lengannya sampai siku. Kemudian, pria itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Selama lebih dua puluh menit Cara menunggu, Jason akhirnya keluar.


Jason melihat Cara yang sudah siap dengan gaun malamnya.


Cara yang melihat Jason juga sudah membersihkan diri, ia pun berharap tentang malam pertamanya yang indah. Namun hal itu hanya seperti harapan, karena Jason tidak menghampirinya, pria itu berjalan ke walk in closet dan mengambil pakaian atasan polos dan celana santai. Cara yang melihat keanehan itupun bertanya, "kau akan pergi?"


Jason hanya menjawab seadanya tanpa melihat kearah Cara dan meninggalkan kamar pengantin mereka begitu saja.


Di rumah Jason yang ditempati oleh Tiffany, wanita itu berdiam di balkon dengan selimut yang ia peluk karena udaranya dingin.


"Aku tidak meminta apapun," Tiffany bermonolog. Pikirannya melalang buana kepada pria yang meninggalkannya tanpa kabar.


"Seperti seonggok sampah?" Wanita itu memiringkan kepalanya seakan berpikir. "Yang diambil lalu dibuang. Kemudian diambil lagi dan dibuang lagi?"


Apapun yang Tiffany ucapkan seakan tidak masuk akal. Tapi kemungkinan kenyataannya memang seperti itu.


Tiffany membuka ponselnya dan melihat layar ponselnya itu lama. "Aku bahkan tidak bisa menghubunginya? Bajingan sialan itu memberikan aku nomor palsu?!"


Rico memberikan nomor yang katanya milik Jason. Tapi Tiffany memang bodoh percaya pada omongannya.


Keesokkan Tiffany berdebat dengan Rico tentang masalah nomor itu dan menyalahkan Rico yang mencoba menipunya. Ia bahkan berlari mengejar pria itu yang terus menghindar darinya.


"Aku sudah terlalu tua untuk bergabung untuk permainan lari-lari begitu," ucap seorang yang tidak diundang tiba-tiba itu menghentikan langkah kaki Tiffany.

__ADS_1


Tiffany mengernyit menatap pria paruh baya dengan tongkat. Berbeda dengan Rico yang langsung diam dan membenarkan tingkah lakukanya—yang sebelumnya seperti pria yang main-main, kini Rico seakan sedang berhadapan dengan bos besar.


"Maaf, Jake. Kau sudah dari tadi berdiri di situ?" Rico berjalan menhampiri Jake dan menuntun pria parih baya itu untuk duduk di sofa. Dan Tiffany mengikutinya dan duduk berhadapan dengan mereka.


"Tiffany?" Jake seakan memastikan bahwa nama wanita itu adalah Tiffany.


"Iya. Mr. Jake...?"


"Zuruno. Panggil saja aku, Jake, Tiffany,"


Tiffany terdiam setelah mengetahui hal itu. Artinya pria paruh baya ini adalah ayah dari Jason. Lalu untuk apa datang kemari sedangkan anaknya saja tidak ada di sini. Jake tidak mencarinya kan? Jika tidak berarti Jake tahu dimana putranya?


"Putramu tidak ada di sini," kalimat itu terlintar begitu saja dari mulut Tiffany. Namun wanita itu seakan tidak merasa bahwa ia tidak sadar mengucapkannya.


Jake tersenyum. "Aku tahu."


Jake beralih menatap Rico dan menyuruh pria itu untuk membiarkan mereka bicara.


"Aku tidak boleh tahu?" Rico seakan tidak percaya, Jake masih tidak percaya padanya. Haruskah Rico beritahu bahwa ia tahu seperti apa kelakuan putranya. Namun ia menatap kearah Tiffany yang sedang menatapnya seakan menunggu.


Seakan perintah, Rico meninggalkan mereka dan pergi keluar.


Setelah kepergian Rico, Tiffany lumayan gugup untuk berhadapan hanya berdua dengan Jake. Tiffany memang tidak tahu siapa paruh baya ini tapi Jake bisa mempengaruhinya begini dan auranya memang terasa kuat.


Jake tersenyum lembut. "Maaf tentang putraku, Tiffany. Aku harap kau mengerti."


"Maaf tuan. Aku tidak paham kenapa Anda memintaku agar mengerti? Tentang apa? Jika Anda meminta maaf tentang hilangnya Jason. Aku tidak akan menerima maaf Anda. Karena aku hanya ingin berbicara padanya dan mengetahui alasannya sendiri."


Jake melepas tangannya dari tongkat dan menumpuk kedua tangannya di atas paha. "Tentang dimana keberadaan putraku aku tidak bisa memberitahumu. Aku hanya bisa mendukungnya."


Tiffany tersenyum samar. "Mendukung untuk tidak bertanggung jawab dan meninggalkan kekasihnya tanpa kabar apapun? Bahkan temannya yang biasa pria itu andalkan tidak bisa memberitahuku?"


"Karena hal itu, aku datang untuk mengizinkanmu meninggalkan rumah ini. Kau bisa menjalani kehidupanmu seperti sedia kala."

__ADS_1


"Kalimat Anda tidak masuk akal, Tuan. Itu terdengar seperti kalian membuangku dan lari dari tanggung jawab."


"Tidak seperti itu, nak. Aku hanya ingin kau merasa nyaman—"


Perkataan Jake terpotong oleh Tiffany. Wanita itu merasakan dirinya sudah emosi dan tidak bisa mengatakan hal yang ingin ia katakan. "Nyaman? Sebelumnya aku bahkan tidak merasa nyaman sama sekali di dekatnya. Tapi saat aku sidah nyaman kenapa malah seperti ini? Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, kepada kalian, tidak ada yang memberitahuku tentang alasan dia meninggalkanku begini. Aku seperti tidak memiliki harga diri, dibuang begitu saja," kalimatnya terucap dengan napas yang terengah-engah dan matanya juga berair karena emosi yang meluap.


Jake diam menatap wanita itu. Menunggu Tiffany menenangkan dirinya. Kemudian Jake menyerahkan dokumen yang dibawanya dan memberikan isinya kepada Tiffany.


Tiffany pun mengambil kertas itu dan membacanya. Surat undangan pekerjaan? ZRN Entertainment? Karena tidak paham, Tiffany menatap kearah Jake.


Jake yang paham pun menjelaskan, "bisakah kau kerja di perusahaanku sebagai artis?"


Tiffany menaruh kembali kertas itu di meja dan ia menggeleng. "Sebelumnya aku kerja di perusahaan yang dipimpin oleh Jason. Aku rasa Anda tahu akan hal itu?"


Jake mengangguk. "Kau tidak akan menolak tawaranku karena ini bukan tentang pekerjaan biasa."


"Apa maksudnya? Aku menghilang dari perusahaan tempatku bekerja sebelumnya, yang artinya aku masih menjadi bagian karyawan di perusahaan itu. Jika aku pindah begitu saja, aku bisa menjdapat sanksi karena keluar tanpa surat pengunduran diri."


"Hal itu sudah aku urus sebelumnya, Tiffany." Jake melanjutkan, "aku memberi pekerjaan ini bukan hanya untuk bisnisku. Tapi ini untukmu."


"Aku tidak bisa menerimanya. Selain itu bukankah rekan kerjaku akan terkejut jika aku muncul begitu saja sebagai artis? Lagipula aku tidak suka tersorot masyarakat. Mereka akan mengorek privasiku dan hubunganku dengan putramu, juga nama keluargamu akan terseret."


"Itu sudah aku pikirkan," kata Jake sambil tersenyum tenang.


"Masyarakat akan tahu kau sebagai Nia Oscar. Aku bahkan sudah membuatkanmu nama panggung," Jake mengatakan dengan tenang tapi kalimat Jake membuat Tiffany memikirkan masa depannya.


"Hal ini tidak bisa membayar ulah putramu kepadaku, Tuan."


"Panggil aku, Jake. Aku lebih suka itu." Jake menepuk pahanya, bereaksi lega. "Kalau setuju, berikan cap di atas namamu."


Pembicaraan itu selesai. Bisa dibilang itu adalah terakhir kalinya wanita itu memiliki identitas sebagai Tiffany. Karena kedepannya ia hidup sebagai Nia Oscar.


__ADS_1


Like dong abis baca buat kasih semangat. Thanks 😘


__ADS_2