
MRC Group.
Marcell Hag menempati kursi direktur utama di perusahaan media terbesar ini.
Seorang pria dengan berkas di tangannya menyerahkan hasil siaran penayangan itu kepada Marcell.
“Kerja bagus,” pujinya kepada Loren—salah satu staf penanggung jawab penyiaran.
“Lalu bagaimana dengan berita hilangnya Dexian Peros?”
“Tidak perlu disiarkan. Tentang Dexian Peros, kita tidak perlu menyiarkan itu pada publik. Aku harus menjaga nama baik menantuku,” balasnya lalu tertawa. “Kau boleh keluar.”
Loren menunduk sekilas untuk pamit sebelum meninggalkan ruangan Marcell.
“Bagimana menurutmu, Vincent? Aku bisa membuat Cara bahagia dengan cara ini?”
Pria lain yang berdiri di sampingnya dengan tatapan tenang menjawab, “Tentu saja. Putri Anda akan berterima kasih untuk usaha Anda membahagiakannya.”
Marcell tersenyum. Menghela napas lelah mengingat Cara tidak mempedulikannya. “Putri cantikku itu, walaupun aku meninggalkannya saat itu dan aku menyesal, dia tidak memaafkanku hingga kini.”
“Putri Anda pasti sudah memaafkan Anda, Mr. Hag.”
“Aku harap begitu…. Ketika aku melihat matanya yang berbinar karena Jason Zuruno, aku akan mendukungnya, membuatnya bahagia.”
“Anda sudah melakukan yang terbaik, Mr. Hag.”
Dengan tidak menyiarkan berita apapun tentang Dexian Peros, publik tidak akan menyangkut pautkan dengan Jason Zuruno yang sekarang menjadi pengganti pemimpin perusahaan Hamin. Dan tidak akan ada rumor tentang Jason sebagai pelaku karena opini publik sebagai penggiring Jason ingin merebut posisi itu secara paksa jadi Jason menyingkirkan Dexian.
•••
Hamin Crop.
Cara melihat ke arah ruangan Dave yang terlihat dari celah horizontal blind, pria itu ada di kursinya.
Karena itu ia meninggalkan tempatnya dan masuk ke ruangan Dave. “Dave, bagaimana perkembangan polisi yang mencari Tiffany?” tanyanya ketika berdiri di hadapan Dave
“Tunggu saja. Polisi masih tahap pencarian.”
“Masih mencari? Ini sudah seminggu sejak aku datang ke apartemennya.”
Dave tidak menjawab. Bahkan balasannya terdengar acuh.
“Dave….”
“Apa?”
“Bagaimana jika Tiffany diculik oleh gangster? Polisi sulit mencarinya karena gangster itu sudah… menjual organ dalamnya…?” kalimat terakhirnya terdengar dengan takut-takut.
Dave diam, lebih memilih bekerja daripada mendengarkan perkataan Cara.
“Dave!”
Mengangkat kepala, menatap Cara. Dave menampilkan senyum yang menenangkan. “Tiffany pasti baik-baik saja, Cara. Tenanglah.” Melambai, menyuruh Cara untuk keluar dari ruangannya. “Lebih baik kau fokus bekerja.”
Cara keluar dari ruangan Dave dan kembali dengan lemas ke kursinya. Ia melihat ponsel, pikirannya terbang ke Jason. “Jam berapa sekarang?” Melihat lock screen-nya yang menampilkan pukul 11.40. Waktu makan siang akan datang. “Pas sekali. Kita akan makan siang bersama…,” riang Cara mengetik tiap huruf menghasilkan kalimat lalu dikirim ke Jason.
•••
__ADS_1
Kamar dengan dominasi putih, di atas kasur yang sedikit menampilkan hasil pergulatan panas sepasang kekasih.
Jason membuka matanya lebih dulu dan beralih ke arah jam dinding kamarnya. Sudah 1 jam lebih ia terlelap dengan Tiffany yang berada di sampingnya.
Jason mengusap lengan yang melingkar di atas dadanya, baru sesaat ia menikmati wajah kekasihnya yang terlelap. Ponselnya berdering di atas nakas, terpaksa ia hentikan itu dan melihat notifikasi dari Cara.
Cara Lunox
Ayo kita makan siang bersama.
Hanya membacanya, Jason letakkan kembali benda pipih itu ke tempat semula.
Sudah sampai di sini dan Jason tidak menyangka jika ia akan terlibat perasaan dengan Tiffany. Hal yang harus ia tanggung adalah keinginan Marcell. Pria lanjut usia itu menginginkan timbal balik, bagaimana pun Jason memang membutuhkan bantuannya.
“Jason….”
“Hm?”
Jason melihat senyuman Tiffany dengan mata indahnya yang menyipit. “Sudah lebih baik?”
Tiffany mengangguk. Pengalaman pertama yang ia lakukan dengan Jason, walaupun pria itu melakukannya dengan baik, Tiffany tidak menyangkal bahwa hal semacam ini menyakitkan bahkan badannya terasa sangat lelah.
“Masih ingin berbaring?”
“Iya.” Tiffany menempelkan pipinya di dada Jason. Tersenyum mendengar detak jantung pria ini.
“Kau tidak ingin mandi?” tanya Jason.
Tiffany menengadah, menangkap iris abu-abu milik Jason. “Kau?”
“Aku ingin. Karena aku akan pergi keluar.”
“Kita bisa mandi bersama jika—aaaw.” Jason menahan tangan Tiffany yang sudah mencubit perutnya.
“Tidak. Kau lebih dulu, aku bisa nanti.”
Jason terkekeh. “Baiklah.” Jason duduk, meraih celana dan memakainya.
20 menit kemudian, Jason keluar kamar mandi dengan balutan bathrobe. Melihat Tiffany memunggunginya Jason berlalu ke walk in closet. Ia memakai atasan kemeja putih dan celana kain berwarna navy.
Jason berjalan ke arah nakas, saat itu ia melihat Tiffany yang memejamkan matanya. Mengambil ponsel lalu mengecup kening Tiffany untuk pamit dan membiarkan wanita itu tetap tidur.
Pintu tertutup, Tiffany membuka matanya. Ia sedari tadi tidak tidur. Melihat ponsel Jason yang berdering menampilkan notifikasi pesan dari Cara. “Apa salah bilang ingin makan siang dengan Cara?”
•••
Mobil Jason sudah terparkir di basement Hamin Corp. Menunggu wanita yang akan makan siang bersama dengannya turun.
2 menit kemudian, Cara muncul dan berjalan ke arah mobil Bugatti hitam milik Jason.
“Hai,” sapa Cara setelah masuk ke dalam mobil.
Tanpa membalas sapa dan membuka topik untuk berbincang, Jason menyalakan mesin mobil dan mengendarai mobilnya ke luar basement.
Hanya menjawab beberapa kata untuk pertanyaan Cara saat di perjalanan menuju restoran, mobil itu akhirnya tiba di sebuah private outdoor restaurant.
Setelah keduanya ke luar mobil, Cara mendapat telpon dari Marcell. Terpaksa Cara akan lebih dulu dan membiarkan Jason masuk.
__ADS_1
Cara menempelkan ponselnya di telinga. Ia tidak membuka salam untuk menyapa karena Marcell lebih dulu melakukan hal tersebut.
“Halo, Sayang. Sedang makan siang bersama Jason?”
Cara mengernyit. Belum menjawab, Marcell kembali bicara.
*Terdengar tawa Marcell. “Daddy* selalu tahu apa kau inginkan, Cara. Jadi jangan sungkan untuk bicara apa saja yang ingin kau bicarakan pada Daddy.”
Cara berdecak. “Langsung saja. Apa yang ingin kau bicarakan? Untuk apa menelponku?”
*“Baiklah. Daddy*, mengirim paparazi ke tempatmu. Untuk memotret putriku dengan pria idamannya, jika putriku ingin publik tahu hubungan kalian.”
“Bagiamana kau tahu aku sedang di sini?”
“Daddy selalu tahu kemana pun putriku pergi. Bagaimana?”
“Tidak. Aku tidak ingin membuat Jason membenciku karena kau melakukan hal itu.”
“Begitu? Baiklah….”
Diam sejenak. Dengan Cara yang memikirkan usul ayahnya tentang potret candid itu.
“Baiklah.”
“Baiklah…?”
“Paparazi itu boleh mengambil fotoku dengan Jason secara diam-diam. Tapi jangan berikan pada publik, aku ingin menyimpannya sendiri.”
“Jika itu keinginan putriku, maka Daddy akan menurutinya.”
Sambungan telpon berakhir. Cara bergabung ke meja di mana Jason sudah duduk di sana dengan menatap pemandangan tebing.
Cara duduk di hadapannya dan tersenyum.
Setelah waiters menyiapkan hidangannya, Cara melihat sekeliling dengan tidak terlalu mencolok. Ketika matanya menangkap seorang pria dengan kamera dan lensanya membidik ke arahnya, Cara kembali menatap Jason yang sedang makan.
Cara ingin membuat kenangan yang indah dengan berbagai pose. Mungkin bisa dicoba cara ini.
“Cobalah…. Aaa,” Cara memberikan suapan keduanya untuk Jason.
Jason yang terdiam, hanya melihat suapan yang disodorkan Cara, membuat Cara kembali melontarkan kata-kata.
“Jason, terimalah.”
Jason pun memajukan tubuhnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Cara tersenyum. Hasilnya pasti bagus, batinnya.
“Ini menyenangkan,” ucap Cara riang.
·
·
·
·
__ADS_1
The Handsome Evil CEO © YAKIYA