The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 8


__ADS_3

Kemarin pagi di gedung Hamin Corp.


Setelah meletakkan tasnya di meja. Cara langsung berjalan masuk ke ruangan Dave.


“Dave!”


Cara sedikit berlari, menghampiri Dave yang sudah bekerja di balik meja. “Dave.... Bagaimana ini? Tiffany tidak ada di apartemennya kemarin malam,” heboh Cara Lunox. Tangannya menumpu di atas meja Dave.


Dave menatap Cara Lunox lalu ke layarnya dan melanjutkan pekerjaannya. “Dia mungkin pergi berlibur atau kemana... jangan terlalu berpikir negatif, Cara.”


Cara mendesah kesal. Dari malam ia terus memikirkan Tiffany yang tidak bisa ia kabari. “Dave! Ini aku serius. Tiffany hilang. Dan firasatku selalu benar,”


Dave seakan tidak peduli. Wanita yang berbicara ini adalah Cara Lunox. “Tidak ada bukti apa pun, jika benar diculik. Kita bisa lapor polisi.”


“Benarkan. Kita harus lakukan itu,” Cara membuka ponsel dan mengetik nomor darurat tapi Dave mengatakan sesuatu membuatnya tidak jadi melakukan hal itu.


“Siapa tahu dia ingin bersantai. Dia terlalu bekerja keras, tadi pagi aku mengetahui dari sekuriti bahwa Tiffany pulang paling akhir semalam.”


Cara memasukkan kembali ponselnya. “Begitu? tapi kenapa tidak pulang saja di apartemennya? bahkan pria tua itu—”


“Sudahlah, Cara. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku.”


Jari-jarinya menari di atas keyboard. Sedangkan Cara mendesah pasrah dan pergi dari ruangan Dave dengan lesu.


“Tidak ada Tiffany, aku merasa bosan.”


Cara duduk lemas di kursi kerjanya dan menelungkup wajah.


•••


Hari normal di kediaman Jake Zuruno.


“Marcell, terima kasih sudah membantu putraku.”


Kedua pria berusia 60-an itu sedang menikmati kopi di halaman belakang.


“Tidak masalah, Jake. Kau akan menjadi besanku, aku senang membantu Jason,” balas Marcell Hag, pemilik salah satu perusahaan multimedia terbesar dan paling terpercayai.


Jake tersenyum tipis. Meletakkan cangkir kopinya ke meja dan kembali menikmati udara pagi. “Apa kabar putrimu?”


“Cara, dia baik-baik saja. Terakhir berkabar saat dua hari yang lalu. Aku ingin dia tinggal bersama denganku saja, tapi dilain sisi aku tidak ingin memaksakan kehendak.”


“Seorang ayah memang tidak mudah berpisah dengan putrinya, Marcell.”


Marcell tersenyum, memunculkan sedikit kerutan tipis di pipinya. “Iya. Aku berharap dia selalu bahagia.”


•••


Jason melepas atasannya, berjalan ke kamar mandi dengan kulit mengkilap karena selesai work out.


Beberapa menit kemudian, Jason keluar dengan handuk sepinggang dan rambut basah. Ia menghampiri ponselnya yang berdering.

__ADS_1


“Halo, Dad,” sapa Jason.


“Aku akan datang ke perusahaan baruku.... Ya. Aku harap semuanya aman.... Aku tahu.... Media tidak membicarakan kehilangan orang itu, tapi memunculkan pergantian CEO perusahaan Hamin.... Baiklah.... Iya, aku akan menemuimu setelah pulang dari kantor.... Aku berterima kasih kepadamu, Dad.... Selalu, aku juga,”


Jason menaruh ponselnya di meja dan berjalan ke walk in closet.


Setelah itu, Jason ke luar dengan balutan jas rapi beserta dasi yang senada.


“Rico, jangan sampai kau kecolongan lagi!” perintah Jason, ia pergi dari mansion dengan mobilnya.


·


Cara mendengus melihat nama ayahnya terpampang di layar ponsel.


“Halo,” suara Cara tidak terdengar sopan.


“Aku sedang bekerja. Tolong, jangan ganggu.... Apa? malam ini?.... Kenapa ingin aku datang?.... Tidak tahu, lihat nanti,”


Cara kembali menutup ponselnya. Ayahnya mengatakan ia harus datang ke pertemuan penting. Dengan seorang pria yang penting juga dan Cara tidak langsung menyetujuinya, ia hanya tidak ingin melihat ayahnya.


Ayahnya dan ibunya bercerai saat ia masih remaja. Cara tahu jika keduanya berpisah karena ayahnya yang tidur bersama wanita lain kala itu. Dan Cara sebagai seorang wanita dan anak dari wanita yang dikhianati pria, Cara tidak terima. Cara masih tidak menyukai ayahnya sampai sekarang.


“Cara, kenapa melamun? ambil ini. Aku sudah menyelesaikan sebagian kau bisa tambah hasil kemarin yang kau simpan,”


“Oh, baik.”


Cara mengambil berkas dari teman sekantornya dan ia harus menyelesaikan ini agar bisa datang ke pertemuan penting itu.


Cara masuk ke dalam taksi dan taksi pun mengantarnya ke tempat tujuan.


Sebuah restoran outdoor mewah. Cara masuk setelah mengatakan kepada waiters meja yang dipesan dengan nama Zuruno dan waiters mengantarnya.


Melewati kolam dengan pancuran tinggi dan lampu-lampu yang menerangi jalan Cara ke arah mejanya.


Cara melihat punggung tegap seorang pria. Dilihat dari belakang pria itu tampan, tapi jangan salah nilai Cara siapa tahu depannya biasa saja.


“Silahkan,” waiters meninggalkan keduanya.


Cara melihat pria itu berdiri dan menarik kursinya untuk Cara duduki.


“Jason Zuruno,”


Cara menerima tangan pria tampan itu dan mengenalkan dirinya juga. “Cara Lunox.”


“Senang bertemu denganmu, Cara.”


Cara sedikit tertawa dan membalas ucapan Jason. “Aku juga senang berkenalan denganmu, Jason.”


Jason tersenyum tipis. Ia terpaksa datang kemari, mematuhi keinginan ayahnya. Ayahnya mengatakan ia harus makan malam dengan putri Marcell Hag, pria itu sudah menolongnya. Sebagai ucapan terima kasih tentu saja Jason datang.


“Apa kau memiliki kekasih?” tanya Cara, ia mengucapkannya sedikit malu karena tangannya bergerak membelai belakang telinga.

__ADS_1


“Tidak.”


Waiters datang mengantarkan makanan mereka, lalu pergi setelah selesai.


“Aku harap kau tidak keberatan aku sudah memesannya terlebih dahulu,” ucap Jason.


“Tidak masalah, aku juga menyukai menu ini.”


Baguette dengan daging domba dan ratatouille untuk side dish-nya.


Mereka menghabiskan makanannya dengan santai.


Dari tadi Cara mencoba mengulik segala hal tentang Jason. Sangat terlihat, wanita itu sudah terpikat pada pria tampan ini.


“Badanmu bagus, apa kau sering olahraga?” tanya Cara, ia melihat otot lengan di balik kemeja pria itu dan tangan berurat yang timbul. Sangat maskulin.


“Iya. Mungkin karena lebih sering work out.”


“Aku suka pria yang berolahraga. Mereka mementingkan kesehatan,” tambah Cara.


Jason melirik jam tangannya sekilas. Kenapa waktu berjalan lambat? ia menunggu pukul 10. Hanya sampai jam itu ia bisa meninggalkan wanita ini.


Jason melihat pesan dari Rico, layarnya menyala sekali lagi.


*Dia lapar.


Tapi aku tidak bisa memasak. Jadi dia masak makanan sendiri dan aku makan dengannya.


Ternyata dia pintar memasak. Masakannya sangat lezat*.


Lalu Rico mengirim sebuah foto.


Kartoffelsalat, makanan khas Jerman itu terlihat menarik di mata Jason.


“Aku ingin mencicipinya,” gumam Jason pelan, hampir berbisik.


Cara mengangkat wajahnya mendengar Jason berbicara. “Apa?”


Jason beralih dan mengangkat alisnya.


“Kau bicara apa barusan?”


“Tidak. Bukan apa-apa.”


Jason kembali melihat ponselnya, lalu beralih menatap jam. Masih 15 menit lagi.


Jason membalas pesan Rico.


Sisakan aku satu mangkok. Aku lapar.


The Handsome Evil CEO © YAKIYA

__ADS_1


__ADS_2