
Jason menuruni tiap anak tangga dan berhenti di ujung tangga saat ayahnya memanggil.
“Kau tidak ingin sarapan? Kemarilah, kita sarapan bersama.”
Jason berjalan ke arah meja makan dekat dapur—ada dua orang pelayan yang sedang sibuk di sana. Ia menarik kursi di depan Jake.
“Kau terlihat terburu-buru pulang.”
“Tidak juga.” Jason mengusap hidungnya dengan punggung tangan. Mengeluarkan ponselnya dari saku yang terasa mengganjal dan meletakkan benda itu di meja.
Jake melihat wajah putranya sekilas. “Begitu? Kenapa kau menculik seorang wanita?”
Jason menggaruk tengkuknya dan melirik Canda yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
“Iya, aku tahu darinya. Aku tanya padanya, apa yang terjadi di mansionmu, kenapa kau membutuhkan Canda untuk menjaga mansion barumu dan dia menceritakan detailnya.”
Jason menghirup udara pagi yang masih dingin, mendengar kalimat ayahnya.
“Aneh bukan jika mansion kosong itu perlu dijaga? Ternyata… ada 'barang berharga'.”
Jason menggigit halus bibir bawah bagian dalamnya. “Bukan barang berharga,” elaknya. “Aku hanya ingin dia tidak merepotkanku lagi.”
Jake menghentikan tangannya yang menyendok sup. “Kenapa?”
“Dia sempat kabur. Aku hanya tidak ingin mengeluarkan uang untuk memanggil Dokter Scott.”
Jake mendesis paham. “Tapi kurasa tidak begitu.”
“Kau tidak akan mempercayai kalimatku, Dad.”
“Ya… sedikit percaya. Merepotkan, hanya kata itu saja.”
Jason diam.
“Kau tidak ingin sarapan?”
Pertanyaan itu membuat Jason menerima mangkok dari pelayan dan mengambil sesendok sup jagung.
“Apa alasanmu menyekapnya, Jason?”
Jason menelan sup-nya dan berkata. “Dia tahu aku membunuh pemimpin perusahaan tempatnya bekerja.”
“Hanya itu?”
“Dad? Apa maksudmu, hanya- itu?”
“Kau cukup menutup mulutnya atau mungkin membunuhnya jika kau takut dia buka mulut.”
Jason menatap ayahnya tidak percaya. “Seriously?”
Jake tertawa. “Kau dengan mudah melakukan hal itu pada Dexian.”
“Kau tahu Dad…. Dia orang yang sudah menyebabkan Maria tidak bergabung sekarang bersama kita.”
“Jadi segalanya perlu alasan bagimu, Jason?”
“Tentu saja.”
Kalimat terakhir Jason tidak menghentikan pembicaraan mereka.
“Kau tahu? Ibumu juga melakukan hal yang sama. Jika Maria menyalin fisiknya, maka kau karakternya. Jangan tanya aku, bagaimana aku tahu apa yang ada dalam hatimu.”
“Apa yang ingin Daddy bicarakan padaku?”
__ADS_1
“Dia menarik bagimu, Jason.”
•••
Jason melangkah masuk ke dalam mansionnya. Mendapati Rico yang sedang makan sereal sendirian.
“Dia tidak memasak?” tanya Jason melangkah mendekat ke pantri.
Rico mengangkat bahunya. “Aku bahkan belum melihatnya pagi ini.”
“Dimana kau letakkan ponselnya?”
“Aku kembalikan ke dalam laci nakasmu.”
Jason masuk ke dalam kamarnya. Mengambil ponsel Tiffany dalam laci dan ke luar kamar. Berjalan menaiki tangga.
Sampai di depan pintu kamar Tiffany. Jason mengetuknya 3 kali dan tidak mendapat jawaban. Ia menggapai tuas pintu dan membuka pintunya.
Terlihat wanita itu masih tidur menghadap pintu dengan selimut tebal yang meninggalkan kepalanya saja.
Jason berjalan mendekat dan berdiri di sisi ranjang. Menunduk lalu melipat lututnya. “Aku tahu…,” gumamnya mengingat kalimat sang ayah.
Jason menjumput helaian rambut yang menghalangi wajah cantiknya; bulu matanya lentik, alisnya tebal membentuk ujung yang runcing, hidung mancung yang sesuai dengan wajahnya dan bibir merah mudanya alami sedikit mengerucut karena pipinya yang tertekan.
Telapak tangan Jason mengusap samping wajahnya pelan, ia sudah terpesona.
Karena ibu jarinya mengusap pipi Tiffany, membuat wanita itu langsung terkejut membuka matanya—menampilkan manik hitam yang teduh dipayungi bulu lentik bergerak naik turun.
Jason terkekeh. “Kau terbangun….”
Merasa nyaman Tiffany tidak berniat bangun. Ia membiarkan Jason mengusap area kepalanya. Menatap iris abu-abu yang penuh minat. Ia tersenyum.
Namun wajah Jason semakin mendekat. Tiffany membuka lebar matanya dan langsung menutup mulutnya dengan tangan. “A-aku belum mandi.”
Diam bagai patung. Detik berikutnya, Jason terkekeh lagi dan menjauhkan wajahnya. Ia berdiri, menunduk—menatap wajah Tiffany. “Aku kembalikan ponselmu,” katanya, meletakkan ponsel hitam itu di atas nakas.
“Kau tidak akan melakukannya.”
Mereka diam. Saling beradu pandangan sebelum Jason lebih dulu bergerak.
“Mandilah. Aku akan menyiapkan sarapanmu.” Jason berbalik dan menghilang setelah menutup pintunya.
Tiffany mengeluarkan kakinya dari dalam selimut. Menatap ponselnya lalu mengambil benda itu. “Ah, baterainya habis,” keluhnya saat layar itu menampilkan ikon merah.
Tiffany kembali meletakkan ponselnya di nakas dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
•••
“Kau sarapan sereal?” tanya Rico yang datang dengan wajah lebih segar, terlihat sehabis mandi.
Karena Jason tidak akan sarapan jika hanya ada sereal, maka pertanyaan itu terlontar dari Rico.
“Untuk Tiffany.”
Rico mendengus. “Lalu? Kau jatuh cinta padanya sekarang?”
Jason tidak menjawab. Membuang bungkus sereal itu ke tempat sampah di dekat kakinya.
Terdengar alas kaki yang menuruni tangga lalu sosok Tiffany pun terlihat oleh kedua pria itu.
Jason meletakkan mangkuk berisi sereal di depan Tiffany yang sudah duduk di kursi. Kemudian Jason membuka kulkas, mengambil botol susu dan menuangkan susunya ke dalam mangkok.
“Terima kasih.”
__ADS_1
Dan Rico yang melihat adegan itu, menatap tidak percaya. Lebih ke arah Jason tatapan itu terlontarkan.
“Apa?” tanya Jason kepada Rico.
Rico mendengus, ia pergi dari sana berjalan entah kemana.
Jason mengambil duduk di samping Tiffany yang memakan sarapannya.
“Jangan menatapku begitu.”
Jason mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya mendekat ke telinga Tiffany. Kini ujung hidungnya yang mancung sudah mengusap cuping telinga Tiffany. Ia jauhkan wajahnya dan matanya melihat ke arah leher Tiffany. Tersenyum, Jason kembali mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu dan berbisik serak. “Kau meremang….”
Tiffany menyamping. “Jason. Hentikan.”
“Baiklah. Habiskan sarapanmu.”
Tiffany sudah menghabiskan sarapannya dengan Jason yang masih menunggu di sampingnya.
Tiffany mencuci bekas alat makannya dan Jason berdiri di belakangnya. Tiffany yang merasakan keberadaan pria itu langsung berbalik setelah meletakkan alat makan di tempatnya. “Ada apa denganmu?”
Jason mengangkat alisnya. “Ada apa? Aku hanya diam.”
“Kau mengikutiku.”
Jason semakin mendekatkan tubuhnya dan menyentuh pinggang Tiffany membuat wanita itu sedikit berjengit.
“Kau….”
“Aku ingin menciummu.”
“Apa?!”
Jason menempelkan bibirnya ke bibir merah liptint itu hanya beberapa detik sebagai permulaan dan berikutnya pasangan itu beradu, saling mencecap.
“Hei brengsek! Kalian!”
Teriakan itu membuat Tiffany menjauhkan dirinya dari Jason menatap terkejut ke arah Rico yang menatap marah, tangannya menutup bibirnya seakan menyembunyikan bekas dari adegan barusan.
“Kenapa kalian melakukannya di sini?! Saat masih ada aku?! Disaat aku tidak memiliki pasangan?!”
Jason berdecak. “Kau bisa melakukannya dengan Selia.”
Rico diam sebentar. Tadi ia ingin pamit untuk menemui Selia karena wanita itu mengirimkan pesan. “Kau tahu aku akan menemuinya?” tanya Rico dengan nada normal.
Jason mengangkat bahu. Ia hanya bicara asal, karena wanita itu yang terakhir kali bersama dengan Rico.
“Aku boleh menemuinya?” izin Rico kepada Jason, seperti seorang anak yang minta izin main pulang malam kepada orang tuanya.
“Terserah padamu, jika kau bisa mengatasinya.”
“Baiklah. Aku pergi.” Rico berjalan ke luar mansion meninggalkan dua insan yang berubah canggung.
Jason mengusap tengkuknya. “Kau….”
“Hm?”
“Tidak jadi.”
·
·
·
__ADS_1
·
The Handsome Evil CEO © YAKIYA