
Malam sudah larut di kediaman Jake Zuruno dan Jason masih di sini, ia putuskan untuk menginap. Namun Cara seakan sengaja tidak pulang karena tahu ia masih di sini.
“Kau akan menginap juga, Cara?” tanya Jake. Mereka sudah duduk di ruang santai setelah kepergian Marcell.
Cara tertawa pelan, ia akan mengiyakan dan ingin meminta izin kepada Jake sebagai tuan rumah tetapi Jason sudah mengintimidasinya untuk tidak menjawab begitu. “Tidak sopan jika aku bermalam di sini.”
“Begitu. Baiklah, aku ingin istirahat. Selamat malam dan sampai jumpa lagi, Cara.”
“Selamat beristirahat, Jake.”
Jake meninggalkan mereka berdua di ruang tengah. Cara langsung duduk di samping Jason, tidak terlalu dekat tapi Jason langsung berdiri dari duduknya dan mengatakan, “pulanglah. Aku akan ke kamarku juga.”
Cara memberengut melihat Jason menaiki tangga.
Dan Jason sudah masuk ke dalam kamarnya yang dulu ia tempati saat masih tinggal bersama Jake.
Jason mengetik pesan untuk Rico yang mengatakan, ia menginap di sini lalu ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tanpa menunggu balasan dari Rico.
•••
Tiffany melihat beker di atas nakas dari sofa—tempat duduknya. Sudah pukul 11 dan ia sudah menanti Jason menyapanya atau apa pun itu. Biasanya pria itu setelah pulang pasti mengecek kamarnya sebentar. Tapi sampai sekarang pria itu tidak muncul.
Dan Tiffany putuskan untuk ke luar kamar. Melihat suasana mansion yang sepi. Ia turun ke lantai dasar, ada Rico yang sudah berubah penampilan, dengan pakaian tidurnya.
“Belum tidur?” tanya Rico, melihat Tiffany datang.
Tiffany menggeleng lalu melihat sekeliling. Tidak seperti yang ada di pikirannya, Tiffany bertanya kepada Rico. “Di sini tidak ada telepon?”
“Kau ingin menelepon seseorang? Malam-malam begini?”
Diam sebentar lalu Tiffany mengangguk ragu.
“Tidak ada semacam itu. Lagipula ini mansion baru yang tidak akan diisi lengkap oleh Jason.”
Ah, pria itu. Mendengar namanya diucapkan Tiffany jadi malas.
“Kalau begitu kenapa kau tidak mengembalikan ponselku saja?”
Rico menatap Tiffany dengan alis terangkat. “Ponselmu? Bukan aku yang menyimpannya. Kau tahu itu. Aku bahkan tidak pernah lihat ponselmu seperti apa.”
“Kau tidak tahu? Kenapa tidak kau tanyakan kepada temanmu itu?”
Rico melipat dahinya dalam. “Kenapa kau tanya aku tentang ponselmu? Sudah kubilang, aku bahkan tidak pernah melihat ponselmu.”
Tiffany melipat tangannya di dada dan berdecak.
“Kau ingin apa dengan ponselmu itu? Menelepon polisi?” tuduh Rico.
Tiffany berjalan mendekat ke sofa. “Tidak.” Ia melihat ke arah ponsel yang tergeletak di samping Rico, tentu saja itu milik Rico.
“Ini ponselku.” Rico mengambil ponselnya setelah melihat arah pandang Tiffany.
“Aku tahu.”
“Kenapa?” tanya Rico menatap Tiffany yang masih menatapnya.
“Pinjam ponselmu.”
“Untuk apa?” tanya Rico dengan nada curiga.
“Pinjam saja. Boleh atau tidak?”
Rico menatap ponselnya lama lalu ke wajah Tiffany yang menunggunya. “Baiklah. Jangan lama-lama.” Rico mendorong ponselnya di meja ke arah Tiffany.
Tiffany mengambil ponsel Rico dan saat itu ada notifikasi yang menariknya di bar notifikasi layar. Ia berdegup saat membuka isi pesannya.
__ADS_1
Jason Zuruno
Aku menginap di mansion Burklatest.
Tiffany menyentuh ikon panggil, jantungnya berdegup kencang, setelahnya terputus karena tidak dijawab oleh Jason.
“Kau masih lama?”
Tiffany mengangkat wajahnya menatap Rico. “Pinjam sebentar. Dasar pelit.”
Rico memberengut dengan gumaman yang tidak terdengar oleh Tiffany.
Tiffany kembali menatap ke layar ponselnya yang masih menampilkan room chat Jason. Ia mencoba memanggil nomor pria itu lagi. Hingga beberapa detik kemudian, panggilan terangkat.
Jantung Tiffany semakin berdegup, ragu menempelkan ponselnya ke telinga. Setelah menempelkan ponselnya, Tiffany diam, tidak mengeluarkan suara.
“Halo….”
Degupannya seakan berhenti mendengar suara wanita yang menjawab panggilannya.
“Halo, Rico…? Kenapa tidak menjawab?”
Tiffany tidak membalas. Membiarkan Cara berbicara.
“Jika kau ingin berbicara dengan Jason…” berhenti lalu Cara melanjutkan. “Dia sedang mandi.”
“Halo…?”
“Halo… Rico?”
“Ha—”
Tiffany memutus panggilannya. Dengan ekspresi datarnya, ia mengembalikan ponsel Rico. “Terima kasih.” Tanpa menunggu Rico yang sudah ingin membuka mulut, Tiffany meninggalkan lantai dasar dan berjalan naik ke lantai 2.
Rico mengerutkan alisnya. “Wanita itu kenapa seenaknya pergi…. Siapa yang dia telepon?” gumamnya. Rico melihat panggilan terakhir dan menemukan nama Jason di sana. Lalu ia melihat room chat-nya dengan Jason. “Ah…. Dasar Jason. Membiarkan aku tinggal di sini dengan wanita labil.”
•••
Jason ke luar kamar mandi, melihat punggung Cara yang berdiri di samping nakasnya dengan ponsel. Jason mengerutkan alis saat menyadari itu ponselnya. Langsung saja ia ambil dari tangan wanita itu. “Tidak sopan. Apa yang ingin kau lakukan melihat isi ponselku?”
Cara tersenyum kikuk. “Aku sudah mengetuk tadi. Tapi kau tidak membuka pintunya dan ternyata kau sedang mandi.”
“Kenapa kau masuk ke kamarku padahal aku belum mengizinkan?”
“Kau sedang mandi.”
“Iya. Aku mandi. Kenapa kau lancang masuk?”
“Aku ingin pamit pulang.”
Jason membuang napas kasar. “Aku sudah menyuruhmu pulang. Kau tidak perlu pamit.”
Jason meninggalkan Cara, menuju walk in closet-nya dengan handuk yang menempel di bagian tubuh bawahnya.
“Jason….”
Tanpa berbalik Jason membalas, “pulanglah, Cara. Ini sudah larut malam.”
“Kau tahu ini sudah larut. Kenapa tidak berniat mengantarku?”
“Minta antar Canda.” Jason menutup pintu walk in closet-nya.
Setelah mendengar pintu kamarnya ditutup kembali, Jason berkacak pinggang dengan tangan kirinya dan tangannya yang kanan menggenggam ponsel.
Layarnya menampilkan panggilan masuk terakhir dari Rico. Karena takut itu adalah hal penting. Jason menelepon temannya itu.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Kenapa kau tadi menelponku? Ada hal penting?”
“Bukan aku.”
Jason mengerutkan alisnya. “Bukan kau? Tapi ini nomormu yang masuk.”
“Tiffany yang menelponmu menggunakan ponselku.”
Jason membuka matanya lebar mendengar nama itu. “Kenapa dia meneleponku?”
“Entahlah.”
“Aku matikan panggilannya. Aku ingin tidur.”
Jason menatap ponselnya dengan alis berkerut.
Tunggu. Berarti tadi yang mengangkat panggilannya Cara? Dia mengangkat panggilan dari Tiffany.
“Tapi reaksi Cara seakan tidak terjadi apa-apa,” gumamnya.
Jason meletakkan ponselnya di atas pakaiannya dan mengambil atasan santai lalu memakainya dan celana hitam panjangnya.
Jason sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan ponsel yang ia tatap lama. Lalu ia kembali menghubungi nomor Rico.
“Hei, brengsek! Sudah malam, kenapa kau menelponku?!”
“Ambil ponsel Tiffany di dalam laci nakas kamarku dan kembalikan padanya.”
“Kau saja. Besok berikan sendiri. Kenapa harus menggangguku? Menyebalkan—”
“Kalau begitu tidurlah di luar. Jangan masuk ke dalam mansionku.”
Terdengar decakan di seberang sana.
“Laci nakas?”
Jason berdehem.
2 menit kemudian.
“Warna hitam?”
“Kau lihat ponsel lainnya di sana selain ponsel hitam itu?”
“Tidak.”
“Berarti itu, bodoh!”
“Lalu kau ingin aku berikan padanya sekarang? Disaat waktu orang seharusnya tertidur?”
“Cepat berikan saja padanya.”
4 menit kemudian.
“Dia sudah tidur. Kembalikan besok saja,” kata Rico setelah terdengar ketukan pintu yang ditimbulkannya.
·
·
·
·
__ADS_1
The Handsome Evil CEO © YAKIYA