
Jason ke luar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam mansion.
Tadi saat masih di restoran, Jason pamit kepada Cara ketika jamnya sudah habis bersama wanita itu. Tapi ternyata, Cara tidak ingin makan malam mereka hanya sampai di sana, dia ingin Jason bisa lebih dekat dengannya. Karena Jason ingin segera pulang, ia menyetujui untuk bertemu dengan Cara lain kali.
Sampai di dalam mansion, Jason melihat punggung Rico dan di sebelahnya Tiffany duduk di sana. Kenapa mereka terlihat akrab? Jason baru sekarang mendengar wanita itu dengan suara bicaranya yang santai.
“Masakanmu memang lezat, rasanya seperti dimasak oleh chef-chef terkenal di luaran sana.”
“Terima kasih, tapi itu berlebih.”
“Benar, aku tidak sedang merayu.”
Jason melangkah ke depan mereka. Setelah sekilas melihat Tiffany yang diam dan wanita itu tidak menatapnya, Jason bergabung dan duduk di depan Rico.
“Boleh aku mencobanya juga?”
Tiffany tidak menjawab, melainkan Rico yang membalasnya.
“Ini...,” Rico mendorong satu mangkoknya ke hadapan Jason yang masih terisi rapi. “Aku sudah katakan kepada Tiffany, kau ingin mencoba masakannya juga.”
Jason menatap Tiffany yang masih diam, wanita itu sama sekali tidak minat membuka suara untuk Jason. “Luka kakimu sudah sembuh? kenapa memasak makanan sendiri? kau bisa menyuruh Rico untuk beli makan di luar.”
Rico mendengus. Memang hanya dia yang ada di sini, menjadi korban, pesuruh.
“Bagaimana makan malammu? apa berjalan lancar?”
Pertanyaan Rico mengalihkan tatapan Jason dari Tiffany.
“Iya.” Jason memakan satu suap kartoffelsalat buatan Tiffany.
“Apakah dia cantik?” tanya Rico, menampilkan wajah menggoda Jason.
“Biasa saja. Seperti wanita pada umumnya,” balas Jason malas.
“Makanannya pasti tidak enak, karena itu dia masih meminta makan di rumah,” bisik Rico kepada Tiffany, bibirnya sedikit didekatkan ke telinga wanita itu.
__ADS_1
“Masakanmu lezat. Bagaimana cara kau membuatnya?” tanya Jason, menatap Tiffany yang enggan membalas tatapannya.
Tidak ada jawaban atas pertanyaan Jason dan Tiffany tidak harus menjawab pertanyaan dari pria pembunuh itu. Setidaknya Rico lebih baik, ia bisa menganggap Rico sebagai teman.
Namanya Jason, dia CEO di perusahaanmu. Tiffany tahu dari Rico. Apa karena ingin jadi CEO, pria itu membunuh Dexian Peros?
Tiffany berjalan ke westafel dengan mangkok bekas makannya.
“Sepertinya wanita itu tidak mau mengenalmu lebih jauh, Jason. Tadi aku sedikit membicarakanmu dengannya. Tapi dia seakan tidak peduli siapa kau. Reputasimu sudah jelek,” desah Rico dengan gelengan kepala, ia sedikit memelankan suaranya agar Tiffany tidak mendengar. “Jadilah pria humoris sepertiku.”
· · ·
Tiffany mendekat ke jendela kamarnya dan membuka jendela itu. Ia merasakan angin malam dari luar baru-baru ini. Melakukan hal seperti ini, menghalau pikiran negatifnya.
Tiffany tidak bisa keluar. Tidak bisa, sampai ada orang yang ingin membantunya pergi dari sini. Percuma saja kabur jika ia tidak tahu ini dimana dan ke arah mana ia harus pergi.
Tidak ada yang akan mencarinya. Bibinya yang sibuk dengan keluarganya, tidak pernah tahu seperti apa kehidupan Tiffany sejak ia memutuskan mandiri.
Jika ada yang menghubunginya pun, tidak bisa berbicara dengannya karena ponselnya entah dimana. Lalu bagaimana kabar karirnya? kedepannya hidupnya bagaimana? apa Tiffany akan terus terjebak lama di sini? tanpa tahu seperti apa lagi kehidupan dunia luar.
“Boleh aku masuk?”
Tiffany tidak akan menjawab. Walaupun Tiffany larang, pria itu tetap bisa masuk karena mansion ini miliknya dan hak privasi Tiffany tidak ada di sini. Kamar ini pun sering di masuki oleh pria itu.
Tiffany menengok ke arah pintu yang masih ia kunci. Tidak lagi terdengar suara pria itu, sepertinya pria itu mengira dirinya sudah tidur. Baguslah, Tiffany tidak ingin melihat orangnya atau pun wajahnya.
Tiffany menghela napas. Lalu saat dirinya menetap ke bawah, ia melihat kurungan besi. Karena gelap dan tidak terkena lampu taman, Tiffany tidak tahu apa di dalam kurungan itu.
Tiffany berjalan ke kasur tanpa menutup jendelanya kembali. Ia tidur menyamping, menghadap jendela yang menampilkan langit gelap dan hanya ada satu bulan, hanya cahaya itu yang paling terang diantara warna gelap.
Tiffany tidak bisa tidur, ia membiarkan matanya tetap terbuka hingga kantuk menyerang. Bulan terang masih menemaninya dengan setia.
Sudah berapa jam Tiffany menatap bulan ini yang diam di tempatnya. Matanya mulai berat lalu menutup, Tiffany tertidur dengan sendirinya.
Saat Tiffany kembali membuka mata, bulan itu hilang. Langit juga berganti terang, di temani kapas putih yang banyak.
__ADS_1
“Aku berharap hidupku berubah secepat itu. Dari gelap menjadi terang, aku akan berterima kasih kepada orang yang mengubah hidupku, aku tidak bisa mengubahnya sendiri,” gumamnya serak.
•••
Jason berdecak, ia tidak menemukan pakaian untuk pergi ke kantor. Lalu Jason memutuskan ke luar kamar dan meminjam pakaian pria itu.
Jason berjalan ke arah pintu seberang kamarnya, namun langkahnya terhenti mendengar seseorang berada di dapur. Jason pergi ke dapur, untuk mengecek. Ia menemukan Tiffany sedang berusaha mengambil mangkok di kabinet.
Kabinet itu memang tinggi, tapi untuk Jason mengambil barang di dalam kabinet atas itu mudah. Sedangkan Tiffany tingginya sebatas pundak Jason.
Jason berjalan mendekat, karena ia tidak memakai alas kaki suara melangkahnya tidak timbul sama sekali.
“Apa yang akan kau buat lagi?” tanya Jason di belakang tubuh Tiffany yang membeku.
Tiffany terkejut, tapi saat ia mencium aroma sabun pria itu membuatnya tahu pria itu berada dekat di belakangnya dan itu membuat Tiffany tidak bisa bergerak.
Jason mengambil mangkok putih itu, lalu menutup kembali pintu kabinetnya. Mangkoknya ia serahkan kepada Tiffany. Karena wanita itu tidak menerima mangkoknya, Jason meletakkan mangkok itu di meja kompor, depan Tiffany. Jason pergi dari dapur, karena ia harus segera berpakaian untuk bekerja.
Jason tidak menyadari, kelakuannya itu membuat Tiffany merasakan hal aneh. Pria itu tidak ada tanggung jawabnya karena ia tidak tahu.
Tiffany masih diam di tempatnya. Setelah ia tidak menangkap aroma milik pria itu, Tiffany menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegup. “Apa ini? kenapa jantungku berdetak cepat?” tanya Tiffany dengan dirinya.
Tiffany mengusap-usap dadanya, berharap degupannya berdetak normal.
Ketika Tiffany sudah mulai biasa, ia mengambil buah-buahan yang sudah ia bekukan di freezer. Selesai buah-buahan itu di-blender, ia tuangkan ke mangkok.
Tiffany kembali tersentak saat Jason datang dari arah belakang, pria itu sudah membawa sebuah sendok.
Jason berdiri di belakang Tiffany dan melihat isi mangkok itu. “Boleh aku cicipi smoothie-nya?” tanpa menunggu jawaban dari Tiffany, Jason mengambil sesendok dan memasukkannya ke dalam mulut. “Terima kasih sarapannya,” ucap Jason lalu pergi dari dapur.
Lagi-lagi Tiffany tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak bisa bergerak saat pria itu berdiri dekat seperti tadi.
Bukan aura pembunuh yang Tiffany rasakan, tapi hal lain yang membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia diam tanpa perlawanan.
The Handsome Evil CEO © YAKIYA
__ADS_1