The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 24


__ADS_3

"Dan pengecut sepertimu!" Kata Tiffany melanjutkan setelah mengeratkan lilitan selimutnya yang berat.


Rico kembali berbalik menatap Tiffany dengan kedua tangannya ia masukkan ke saku, matanya menatap atap dengan dagu terangkat, ia seperti menimang-nimang hal apa yang akan ia sampaikan kepada Tiffany.


"Kau tau, bahwa hidupku sebelumnya tidak seru. Tapi saat aku bertemu dengan Jason, hidupku berubah. Karena dia sering mengajakku bermain. Jadi jika kau ingin sepertiku, ikuti saja permainan ini...," Rico mengacungkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberikan isyarat kepada Tiffany untuk tidak memberikan komentar saat wanita itu sudah membuka mulutnya.


"Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan beristirahatlah, karena aku juga ingin tidur," ucapnya dengan telapak tangannya menutupi mulutnya yang menguap.


Sebelum menutup pintunya, Rico menyampaikan ucapan selamat malam kepada Tiffany. Sedangkan wanita itu hanya diam menatap pintu berwarna coklat yang sekarang sudah tertutup itu.


Setelah itu Tiffany berjalan menuju kamarnya dengan selimut yang sekarang ujungnya terseret-seret di lantai. Rumah sebesar ini kadang ditinggali oleh Tiffany sendirian dan ia juga kesepian jika tidak ada Jason maupun Rico. Lalu sekarang saat ia bertanya dimana kekasihnya itu, Rico tidak memberitahunya.

__ADS_1


***


Keesokan paginya Tiffany bangun pukul sembilan karena semalam tidur tidak nyenyak, ia baru bisa tidur pukul 5 pagi setelah ia menangis karena otaknya berpikiran kemungkinan terburuk tentang dirinya dan Jason.


"Selamat pagi," sapa Rico, pria itu mengenakan celemek dan menuangkan pasta yang sudah ia buat ke dua mangkok dengan sajian yang sama.


Rico meletakkan satu mangkok berisi pasta itu di depan Tiffany setelah wanita itu duduk dan sempat tertangkap oleh oleh Rico, mata Tiffany bengkak. Pria itu menyadarinya bahwa mata bengkat Tiffany bukan karena wanita itu bangun tidur tetapi wanita itu pasti menangis semalam.


Lalu Rico mengambil tempat duduk di depan Tiffany, ia menyuapkan satu sendok pasta hasil masakannya. "Emm..., tidak buruk. Bagaimana rasanya? Sesuai seleramu?" Tanya Rico meminta penilaian atas masakannya.


Namun dari suaranya wanita itu terdengar tidak berselera. Sehingga Rico menyuruhnya untuk tidak perlu memaksakan memakan masakannya tersebut.

__ADS_1


"Ini enak dan aku lapar," cegah Tiffany ketika Rico akan mengambil mangkoknya.


Kegiatan makan itupun berlangsung sunyi, karena Tiffany pikir Ruco akan menanyakan keadaannya atau mungkin penyebab dari mata sembab yang ia dapat pagi ini. Nyatanya pria itu hanya diam menikmati sarapannya seolah wajah Tiffany tidak terlihat berbeda.


"Hari ini kau akan bekerja?" Tanya Tiffany.


Rico mengurungkan tangannya yang akan menyuap sesendok pasta ke mulutnya. "Mmm... sebenarnya, bukankah kau tahu bahwa aku 'tidak punya pekerjaan'?"


Tiffany menganggu dengan ekspresi biasa karena ia tahu akan hal itu, tapi maksudnya bukan begitu. "Maksudku, apakah hari ini kau akan keluar? Melakukan kegiatan di luar? Atau semacam hal itu?"


"Tidak ada kegiatan yang akan aku lakukan di sini bukan. Mungkin iya, aku akan pergi pukul 11 nanti." Karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. "Ada apa kau menanyakanku tentang itu? Kau ingin aku mengantarmu ke suatu tempat?"

__ADS_1


Tiffany mengangguk dan menjawab, "aku ingin bertemu Jason."


Tidak ada jawaban dari Rico mendengar kalimat yang Tiffany lontarkan. Namun tidak ada wajah terkejut juga yang pria itu tampilkan, memang kalimat itu hanyalah kalimat biasa sebenarnya. Tidak ada yang aneh tentang seorang wanita yang merindukan kekasihnya dan ingin menemuinya bukan?


__ADS_2