The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 22


__ADS_3

Jason melihat jam di pergelangan tanggannya, tepat waktu. Pukul lima sore, matanya menatap gedung dengan naman MRC Group itu dengan menajam.


Mobilnya ia jalankan masuk kedalam basement dan keluar dari sana. Setelah menutup pintunya, Jason membenarkan jasnya dengan rapi.


Setelah sampai di lantai 35 dan sudah memasuki ruangan besar, Jason masih harus menunggu pria paruh baya itu.


"Jason." Marcell dengan tongkatnya berjalan dan duduk di kursi kebesaran miliknya dengan gaya pemimpin pada umumnya. "Kau tidak perlu kesini," dilanjutkan dengan tawa singkat, "menantuku...," ucapnya dengan bangga memberi label itu kepada Jason.


"Bisa kita bicara berdua saja, Marcell?" Tanyanya dengan arti bahwa Loren—tangan kanan Marcell itu—untuk meninggalkan mereka.


Setelah Loren pergi, Jason kembali melihat kearah Marcell namun ekspresi pria itu memang tidak dapat dibaca, hal tersehut membuat Marcell paham sifat Jason yang seperti ini yang membuatnya tertarik untuk menjadi bagiannya.

__ADS_1


"Masalah berita itu, jika kau ingin aku tidak menyiarkannya. Sudah aku simpan rahasia itu baik-baik. Kau tenang saja...," ujarnya lagi dengan tawa.


"Lalu dengan menikah dengan putrimu, dengan itu bayarannya?" Tebak Jason, ia mengetuk pelan sol sepatunya ke lantai.


"Benar sekali. Itu juga adalah persetujuan aku dan ayahmu. Kita memang berniat untuk menjadi besan."


Jason tampak lama berpikir, hingga Marcell merasa was-was jika Jason ingin menolak perjodohan ini. "Jason, menantuku..., calon menantuku. Putriku itu cantik...."


Kalimat Jason membuat Marcell membuka lebar matanya dan senyum itu terbit dengan kerutan yang terlihat jelas. Pria paruh baya itu bahkan berdiri dari duduknya tanpa tongkat, namun dengan tindakan pelan Marcell menghampiri Jason dan menepuk dengan tegas pundak Jason yang lebar.


"Hahahaha... aku senang sekali mendengarnya, nak. Aku akan membuat janji dengan ayahmu nanti."

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Jason sudah di dalam mobilnya. Saat ini tidak ada orang yang tahu dimana ia berada. Jason sudah menghabiskan waktu yang banyak tanpa berbuat sesuatu. Tapi pikirannya benar-benar ribut, bahkan hatinya seperti sedang bertengkar dengan pikirannya sekarang.


Jason mematikan ponselnya sejak ia pergi dari gedung MRC Group. Ia melihat ponsel mati itu dengan pikiran, apa yang wanita itu lakukan sekarang?


Jason ingin menghubunginya, tapi pikirannya seperti menyuruhnya untuk segera menyelesaikan masalah yang ia tidak rencanakan ini—yaitu rencana menyekap Tiffany—memang benar bahwa hal ini bukan kejadian yang ia rencakan. Entah apa yang tuhan inginkan untuk takdirnya. Bukan begini seharusnya.


Jason menjalankan mobilnya, tujuannya sekarang adalah ke rumah ayahnya. Tidak mungkin ia menuruti kata hatinya yang meronta untuk menemui Tiffany untuk saat ini. Yang dipikirannya saat ini adalah logika, dengan berjalannya waktu, perasaannya dengan Tiffany yang mulai tumbuh itu pasti akan hilang dengan sendiri. Lalu ia akan hidup dengan rencana tujuan yang sudah ia siapkan dengan matang. Yaitu menikahi Cara.


Mobilnya terpakir di depan rumah besar ayahnya itu. Lalu ia masuk ke dalam setelah melihat seorang pelayan membawa nampan bekas piring sisa makan malam dari arah ruang makan.


Jason melihat Jake sedang mengusap bibirnya dengan sapu tangan dan meletakkannya lagi di meja makan, ia menghampiri pria paruh baya itu. "Dad, kau makan sendirian?"

__ADS_1


Jake mengangkat kepalanya, melihat putranya itu duduk di sebelahnya. "Kau tumben sering mengunjungiku sekarang. Ada apa?"


__ADS_2