The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 13


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jason, ketika hanya ada dirinya dan Rico di sini.


Beberapa menit yang lalu Tiffany pamit ke toilet dan disusul Selia yang juga pergi ke sana.


“Aku melakukan tugasku. Lalu apa yang kau lakukan? Kau malah menikmati waktumu dan berkencan?”


Jason mengangkat alisnya. “Berkencan? Aku mengajaknya makan siang. Hanya itu.” Memasukkan sepotong daging yang sudah dipotong ke dalam mulutnya. “Bukankah kau yang berkencan?”


Rico bersandar. “Berkencan itu kata lain saja. Aku katakan aku sedang melakukan tugasku. Kau diamlah, wanita itu cerdas walaupun bertindak seperti ******.”


Jason meletakkan alat makannya, menatap Rico. “Apa maksudmu?”


“Sebenarnya, setelah makan siang ini. Aku akan memberitahukan tentang antek-antek Dexian.”


“Lalu apa hubungannya dengan kencan yang kau lakukan?”


“Setelah aku selidiki. Tidak hanya salah satu karyawan di perusahaanmu itu ada antek-anteknya, tapi wanita yang bernama Selia ini juga termasuk. Tapi anehnya, dia tidak pernah bertindak langsung. Kau paham maksudku?”


“Dia orang penting?”


Rico berpikir sebentar sebelum ia mengatakan, “latar belakangnya? Aku belum cek secara keseluruhan, tapi dia mengaku padaku hanya tinggal di New York di sebuah apartemen kelas sedang.”


“Kita bicarakan hal ini nanti.”


Setelah Jason memutuskan kalimat terakhir pembicaraan dengan Rico, Tiffany datang, kembali bergabung.


Jason melihat ponselnya sekilas setelah berdering pendek, lalu ia kembali masukkan ke dalam jasnya dan menikmati makan siangnya yang belum habis.


•••


“Aku akan mengantar Selia dulu,” kata Rico.


“Bye, Jason.” Selia melayangkan kecupan angin dan membiarkan Rico merangkul pundaknya, berjalan beriringan masuk ke dalam mobil BMW hitam milik Rico.


Jason berdiri menatap dua orang yang sudah masuk ke dalam mobil itu, mendesah pusing. Lalu ia beralih ke wanita yang sekarang sudah duduk di kursi penumpang samping kemudi. Ia berjalan ke pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan pulang melewati pusat kota lalu perbatasan kota New York. Lalu mobil melaju dengan cepat di jalanan sepi yang Tiffany pernah lewati.


“Jangan hafalkan jalanannya,” kata Jason.


“Tidak. Karena aku akan terjebak di sini selamanya.”


Jason melihat sekilas ke wajah Tiffany yang tidak berekspresi. “Apa yang kalian bicarakan di toilet?”


“Hanya basa-basi perkenalan.”


Mobil berhenti di sebuah mansion. Tiffany lebih dulu ke luar tanpa menunggu Jason membuka pintunya. Ia seperti sudah terbiasa tinggal lama di sini. Sudah menganggapnya seperti rumah sendiri.


Tiffany mengunci pintu kamar dan berjalan ke walk in closet. Membuka dressnya dan mengganti pakaiannya dengan kemeja besar—ini milik Jason, belum ia kembalikan, pertama kali datang kemari Tiffany tidak memiliki pakaian apa pun.

__ADS_1


Tidak ada yang Tiffany lakukan selain duduk, berdiam diri di kamarnya. Membuka jendela dan menikmati pemandangan luar. Ia melihat sekilas ke kurungan hijau milik Perdo. Lalu pikirannya membawanya ke pertanyaan Selia di toilet restoran tadi.


“Tiffany? Bukankah kau karyawan di Hamin Corp?” tanya Selia. Mencuci tangannya dan menambahkan warna merah di bibirnya yang mulai pudar.


Tiffany menyangka Selia tahu tentang dirinya dari Rico.


“Dan kau sedang disekap oleh Jason,” tambah Selia karena Tiffany tidak mengindahkan kalimatnya.


“Lebih baik jangan bicarakan hal ini di tempat umum.”


Selia terkekeh, Tiffany yang melihat respon itu merasa aneh karena Selia terlihat tidak tahu menahu tentang dirinya saat di meja makan.


“Kau butuh bantuanku untuk keluar dari mansion Jason, Tiffany?” tawar Selia.


Tiffany butuh. Tapi ia tidak mengenal Selia. Bisa saja wanita ini lebih jahat. Nasib buruk Tiffany, keluar kandang harimau, masuk kandang singa. “Tidak perlu.”


“Begitu? Kau bisa mengatasi Jason sendirian? Kau yakin? Pria itu licik.”


Tiffany memang tahu Jason seorang pembunuh, tapi pria itu tidak melakukan hal lebih kepada dirinya. Padahal Tiffany selalu menunggu Jason melakukan tindakan apa pun yang membuat Tiffany takut. Tapi semakin hari, Tiffany tinggal di mansionnya. Tiffany tidak pernah lagi takut pada sosok Jason.


“Kau bisa mengatasi pria jahat itu? Dia yang sudah membunuh pemimpin Hamin Corp.”


Tiffany melempar tatapan tanpa emosi ke arah Selia. “Jangan bicarakan itu di tempat umum.”


“Kenapa? Jika orang lain tahu. Kau yang akan menanggung kemarahan Jason? Kau yang tahu fakta ini kan? Sehingga membuat Jason menyekapmu.”


Tidak ingin Selia membuka mulut lebih banyak. Tiffany meninggalkan toilet dan kembali ke mejanya.


Tiffany tersentak dan menghadap waspada ke arah pria yang masuk ke dalam kamarnya.


“Bagaimana kau bisa masuk?” tanya Tiffany. Menatap pintu dan kembali menatap ke arah Jason dengan alis berkerut.


Jason berjalan ke pinggir ranjang dan duduk di sana, menghadap Tiffany. “Ini mansion milikku.”


“Aku sudah menguncinya.”


“Iya. Lalu kenapa? Aku punya kunci cadangan.” Jason memperlihatkan 5 kunci yang sudah menjadi satu dan menggoyangkannya di depan wajahnya.


Tiffany mendengus kesal. “Setidaknya beri aku privasi.”


Jason berpikir sejenak. “Sekarang?”


Menyipitkan matanya, Tiffany bertanya, “maksudmu?”


“Kau katakan ingin privasi. Apa kau membutuhkan hal itu sekarang? Jika iya, maka aku akan keluar. Membiarkanmu sendiri,” jelas Jason, menunggu jawaban Tiffany.


“Tidak hanya sekarang. Tapi hari berikutnya, selama aku tinggal di sini.”


“Baiklah. Aku akan memberimu hal itu. Aku akan minta izin tiap kali masuk ke dalam kamar ini dan kamar ini kuasamu.” Setelah mengatakan kalimat ini, Jason berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


“Apa alasanmu membunuhnya?” 


Pertanyaan Tiffany membuat Jason menghentikan langkahnya. Tiffany menatap punggung itu yang hanya diam, tidak berbalik untuk menjelaskan alasannya.


Jason berbalik. “Kau berani bertanya alasannya kepadaku?”


“Kenapa? Apa aku akan dibunuh jika tahu alasanmu melakukan itu?”


Jason kembali ke ranjang yang ia duduki sebelumnya. “Kenapa kau ingin tahu?”


“Aku mencoba melihat dari sisi yang lain. Kenapa bisa seseorang membuang nyawa orang lain? Pasti ada alasannya kenapa kau berani melakukan itu.”


“Kenapa kau berpikir begitu? Bisa saja karena aku psikopat yang tidak memiliki alasan yang jelas dan karena aku menyukai hal semacam itu.”


Jason melihat manik mata hitam itu. Mereka saling melempar tatapan dan mata keduanya beradu, saling menyatu, melempar emosi ingin tahu.


“Jika kau begitu. Kenapa kau tidak membunuh Rico lalu aku? Kenapa kau memiliki ayah dan teman… dan harimau itu?”


“Psikopat juga memiliki itu semua, Tiffany.”


“Tapi kau bukan psikopat.”


“Kau yakin?”


“Kalau begitu bunuh aku sekarang.”


“Tidak ada alasan aku membunuhmu,” balas Jason.


“Maka dari itu, kau bukan psikopat. Lalu apa alasanmu, Jason?”


Tidak ada jawaban, namun keduanya enggan memutuskan pandangan mereka.


“Kau ingin tahu?”


Tiffany mengangguk. “Ya, aku ingin tahu. Maka beritahu aku.”


Hening beberapa detik.


“Karena cinta.”


Tiffany mengerutkan alisnya. “Apa maksudnya itu?”


“Karena adikku mencintai bajingan sepertinya, Tiffany.”


·


·


·

__ADS_1


The Handsome Evil CEO © YAKIYA


__ADS_2