The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 23


__ADS_3

"Kau tumben sering mengunjungiku sekarang. Ada apa?"


Jason mengalihkan manik matanya dari sang ayah nyaris sedetik saja. "Tidak ada."


"Jangan sepertiku, nak." Jake menegakkan punggungnya dari sandaran kursi dan melanjutkan, "kau bisa melihat masa depanmu sekarang. Lihat aku, beginilah...."


Jason bergeming namun tatapan matanya meneduh, tidak ada lagi mata dengan tatapan tajam yang dingin tanpa ekspresi itu. Jason memijit pangkal hidungnya dan mulai bernapas secara teratur karena tiba-tiba saja emosinya seakan meluap. Bahunya bahkan bergetar sekarang, dan Jason menangis.


Jake berdiri dari kursinya dan menghampiri Jason, memeluk tubuh gagah putranya itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Aku mencintainya, Dad...," bisiknya tertahan. "Aku mencintainya. Hingga aku tidak ingin jika dia tinggal denganku. Tapi rasanya sakit sekali." Ada batu besar yang menghantam dada Jason, pria itu merasakan hal semacam itu terakhir kali saat ia kehilangan ibunya. Kali ini Jason merasakan hal yang sama lagi, Tiffany berhasil membuatnya lemah.


"Aku tidak bisa berbuat apapun. Kau tahu itu. Itu adalah keputusanmu. Aku memang selalu mendukungmu, nak... dan aku akan selalu mendukungmu. Bukan salahmu, jangan merasa bersalah sendirian."

__ADS_1


Kalimat ayahnya benar-benar membuat tembok pertahanan Jason itu luruh.


***


Tengah malam, Rico mengunjungi rumah Jason yang Tiffany tempati. Setelah turun dari mobil dan menutup pintu. Ia lebih dulu menatap kearah jendela kamar Tiffany yang sudah mati dan Rico berpikir bahwa wanita itu sudah terlelap tidur. "Perempuan malang...," ucapnya, lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah.


Pintu besar itu Rico buka dan hawa yang sebelumnya dingin dari rumah ini berganti menjadi hawa dengan suasana tempat yang ditinggali sejak Tiffany itu tinggal di sini. "Perempuan ini memang mengubah segala hidup pria bajingan itu ya," ucapnya dengan sedikit kagum. Namun saat kakinya akan sudah menginjak anak tangga untuk naik ke lantai 2, suara Tiffany menghentikan geraknya. Rico merasa tertangkap basah seperti maling yang datang menyelinap malam-malam.


"Kau datang sendirian?" Tanya Tiffany.


"Kau sendirian saja datang ke sini?" Tanya Tiffany lagi karena Rico belum menjawab pertanyaannya.


"Tidak...," jawab Rico.

__ADS_1


Hal itu membuat Tiffany menoleh ke belakang, namun matanya tidak menangkap sosok manusia siapapun.


"Tidak ada," kata Rico paham dengan Tiffany yang mencari temannya yang bajingan itu.


Tiffany kembali menatap Rico dengan sedikit mendongak, karena pria itu sudah tinggi dan Tiffany berdiri di bagian lantai dasar sedangkan Rico berdiri di anak tangga. "Dimana Jason?" Tanya wanita itu akhirnya.


"Coba tebak...."


Tiffany menatap malas kearah Rico. "Aku sedang tidak ingin bercanda. Sekarang sudah malam dan aku lelah jika kau mengajakku untuk bermain, aku tidak menanggapinya. Dimana Jason?"


"Tidak tau." Rico mengangkat kedua bahunya kemudian berbalik badan dan berjalan menaiki tangga. "Dia tidak menghubungimu?" Tanyanya.


Melihat itu, Tiffany mengekori Rico sampai di lantai dua.

__ADS_1


"Pergi ke kamarmu dan beristirahatlah. Tidak ada gunanya kau menunggu dia," ujar Rico sebulum ia menggapai gagang pintu kamar Jason.


"Kau tahu, aku paling benci dengan pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab...," ucapan Tiffany membuat Rico menghentikan tangannya yang akan membuka knop pintu kamar Jason.


__ADS_2