The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 12


__ADS_3

Delight Restaurant.


Sebuah bangunan 4 tingkat di Wall Street. Di dalam gedung lantai 4 itu terdapat restoran mewah yang terkenal mahal. Fasilitas terjamin dan rasa makanan yang lezat membuat beberapa orang rela untuk menggocek uang banyak.


Dan hal ini dilakukan oleh Rico Black. Apa yang ia katakan kepada Jason tadi benar bahwa ia akan makan siang bersama wanita cantik yang baru ia kenal seminggu terakhir. Karena hanya ada waktu luang untuk saat ini, Rico mengajak wanita itu ke restoran Delight.


Rico baru sampai beberapa menit yang lalu, sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. Jam mereka bertemu pada pukul 1. Jadi Rico harus menunggu 30 menit lagi agar wanita itu muncul di sini.


Dan waktupun tiba, Rico melihat wanita cantik dengan rambut hitam bergelombang di ujungnya bergerak sesuai dengan irama jalannya yang seperti model catwalk. Rico melambai agar wanita itu tahu dirinya yang sudah duduk di kursi yang dipesannya.


Rico berdiri, menarik kursi saat wanita cantik itu tiba di hadapannya. Setelah memastikan wanita ini duduk dengan nyaman, Rico kembali duduk di kursinya.


“Apa kabar, Rico?” tanya wanita itu.


Rico terkekeh singkat. “Aku baik. Semakin baik dan senang ketika seorang Selia Kristen mau makan siang denganku.”


Selia tersenyum menggoda dan menumpu dagunya. “Bagaimana aku bisa menolak pria tampan di hadapanku ini?” balasnya dengan nada yang menggoda juga.


Rico tertawa lalu membenarkan duduknya menjadi lebih nyaman. Kemudian ia mengangkat tangan, memanggil waiter untuk datang ke meja mereka.


Setelah menulis pesanan Rico dan Selia, sang waiter pun pergi dari meja mereka.


“Lalu apa kesibukanmu seminggu terakhir ini?” tanya Selia, sedikit mengibaskan rambutnya yang tergelincir.


Rico mengangkat bahu. “Hanya mengekori seseorang. Seperti biasanya.”


“Seperti biasanya? Temanmu itu? Jason Zuruno...?” 


“Kau… ingat dia? Wah, ingatanmu kuat juga. Aku harus berhati-hati.”


Selia tertawa. “Kau bisa saja.”


•••


Tiffany masih bermain dengan Perdo, harimau ini sudah mengambil semua minatnya hingga tidak menyadari pria yang berdiri belakangnya itu menatapnya.


“Kau sudah makan siang?” tanya Jason.


Sempat berhenti tangannya mengusap kepala Perdo, Tiffany tanpa menatap pria itu menjawab, “belum.”


“Ayo kita makan siang.”

__ADS_1


“Kau saja.”


“Aku tidak mengajak, aku menyuruhmu untuk makan siang.”


Tiffany tidak peduli. Ia masih bermain-main dengan harimau ini. “Siapa juga yang menginginkan makan siang dengan seorang pembunuh,” katanya tanpa suara. Ia mencondongkan wajahnya ke bawah, berbicara dengan Perdo. “Kau lebih baik. Manusia itu menyeramkan.”


Tiffany tersentak, tubuhnya ditarik berdiri karena tangannya tiba-tiba ditarik oleh Jason. 


“Apa-apaan kau ini?” decak Tiffany, melepaskan tangannya dari pria itu.


“Jangan membuatku repot karena kau sakit. Ayo makan siang!” perintah Jason. 


Jason beralih menatap Perdo. Kemudian tangannya ia ayunkan sedikit ke atas, memberi isyarat kepada Perdo untuk berdiri. Setelah harimau itu menurut, Jason berjalan melewati Tiffany menuju kandang, Perdo mengikutinya dan Jason mengunci pintu kandang setelah Perdo masuk.


Jason berbalik menatap Tiffany yang menatapnya kesal. Ia berjalan melewati wanita itu dan berkata, “ganti pakaianmu dan ikut makan siang denganku di luar.”


Setelah melihat Jason masuk ke dalam mansion, Tiffany juga berjalan dengan senyuman. Ia sedikit berlari menaiki tiap anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar, ia melihat bag paper dengan tulisan brand terkenal.


Tiffany berjalan ke kasur, membuka tas itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah bingkisan yang Tiffany sering lihat di postingan pecinta glamour. Ia membuka penutupnya dan pakaian warna mint terlihat. 


Tiffany mengeluarkan pakaian itu yang ternyata adalah dress selutut, elegan. “Wah… cantik sekali.” Ia tahu barang ini pasti pemberian Jason untuknya. Ternyata pria itu sudah menyiapkan makan siang ini.


Tiffany berjalan ke depan cermin, menempelkan dress elegan itu. Kegiatannya berhenti saat mendengar pintu yang diketuk dan mendengar suara yang sedikit teredam.


Seakan perintah, Tiffany berjalan ke walk in closet dan mengganti pakaiannya.


•••


Jason berdiri dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku, melihat ke arah atas tangga, menanti seseorang muncul di sana.


Penantiannya berujung dengan perasaan senang melihat Tiffany memakai dress yang ia belikan.


“Kau terlihat cantik.”


Kalimat itu keluar tiba-tiba diambang kesadarannya. Merasa aneh dengan dirinya, Jason berjalan lebih dulu ke luar mansion setelah mengatakan. “Ayo kita berangkat.”


Beberapa menit kemudian mereka sampai di lantai 3, salah satu restoran yang terkenal akhir-akhir ini, Delight Restaurant.


Mereka terlihat serasi walaupun datang tanpa saling bergandengan. Jason berjalan sedikit lebih maju dan Tiffany mengekori pria itu.


“Kau tidak takut ketahuan seseorang? Kau sedang menyekapku jika kau lupa.”

__ADS_1


Tanpa peduli, Jason tersenyum menerima pelayanan seorang waiter yang menunggu di pintu. Mereka diarahkan ke meja paling ujung dan dekat jendela. 


Namun Jason berhenti melangkah, melihat seorang yang ia kenali melambai ke arahnya. Menghela napas, Jason mengabaikan orang itu dan menuju meja yang ditunjukkan oleh sang waiter.


“Makanan akan disajikan sekarang atau nanti Mr. Zuruno?” tanya sang waiter setelah pemesan duduk di kursi.


“Sekarang.”


Mendengar intrupsi itu, sang waiter pun membawa beberapa menu yang dipesan oleh Jason. Meletakkan di meja dengan susunan rapi.


“Silahkan, menikmati hidangannya.”


Waiter itu meninggalkan meja mereka.


“Makanlah,” 


Jason mengambil alat makannya dan mengambil suapan pertama dengan tenang. Melihat wanita di depannya, Jason tersenyum tipis. “Table manner-mu lumayan bagus.”


Melihat bagaimana Tiffany mengambil soup dengan sedok kecil dan memakannya tanpa membungkuk.


Belum menyelesaikan makan siang mereka, seorang pria datang mengganggu.


“Permisi Mr. Zuruno dan Miss Clandezo, apa kalian tidak melihatku duduk di meja belakang kalian.”


Rico tanpa mendapat respon kedua orang itu kembali membuka suara. “Anda membawa seorang wanita makan siang, itu kemajuan yang sangat bagus, Mr. Zuruno.”


“Rico, kau tidak sopan. Kembali ke mejamu.”


Sebelum Rico menjawab pasangannya datang, ikut mengganggu. “Halo, Jason.”


Sapa seorang wanita yang tidak Jason kenal. Jason menatapnya sekilas tanpa minat.


“Boleh bergabung?” tanya Rico, ia sudah menarik kursi dan duduk di salah satunya yang kosong. Tersisa satu, itu ditempati wanitanya. Pasangan serasi.


Tiap meja memang berisi 4 kursi dan seharusnya tidak masalah jika ada tamu yang tidak diundang bergabung jika kenal dan tidak menganggu, itu point pentingnya.


Jason bisa melihat ketidaknyamanan Tiffany berada di sini. Wanita itu beberapa kali mengelap mulutnya. Apalagi wanita yang bersama Rico itu secara terang-terangan menggodanya.


“Dia bukan kekasihmu bukan, Jason? Aku tidak masalah jika lain kali mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama?”


Jason menatap sekilas, memberinya senyuman. Lalu ia beralih menatap Rico tajam tapi hanya mendapat gendikan bahunya acuh.

__ADS_1


The Handsome Evil CEO © YAKIYA


__ADS_2