
“Adikmu?”
“Maria Zuruno. Dia mencintai Dexian.”
Tiffany masih tidak mengerti.
“Lalu….”
Jason menambahi. “Lalu aku membunuh Dexian karena bajingan itu membunuh adikku.”
“Apa alasan Dexian membunuhnya?” tanya Tiffany hati-hati.
“Aku belum mengetahui itu, tapi....” Jason sempat diam sejenak. “Malam itu, Maria meneleponku saat mabuk dan aku marah padanya karena dia akan menyelesaikan kuliahnya besok paginya. Aku tidak bisa membantu apa-apa saat itu. Aku berada di Rusia…. Aku menghubunginya lagi untuk menyuruhnya pulang, tapi yang mengangkat seorang pria yang tidak aku ketahui itu siapa. Lalu ponselnya dimatikan setelah pria itu mengatakan, akan menghabiskan malamnya bersama Maria.”
Jason memutuskan pandangan dari Tiffany, ia masih menghadap wanita di depannya tapi tatapannya mengarah ke jendela.
“Aku marah…. Aku menghubunginya lagi tapi tidak aktif. Aku tidak bisa melakukan apa pun, jika aku terbang dengan helikopter saat itu juga, aku sudah terlambat. Lalu aku menelpon ayahku, aku memberitahunya tentang Maria…. Aku menunggu kabar dari ayahku hingga pagi. Aku membatalkan semua pekerjaan di hari itu dan aku hanya memastikan ponselku berdering dari ayah. Tapi aku mendapat kabar dari Rico, pencarian Maria hingga siang saat Rico menghubungiku, belum menemukan Maria. Ternyata bajingan itu membawa Maria pergi, setelah mereka memberitahuku.”
“Mereka?” tanya Tiffany.
“Selain Dexian, ada pria lainnya yang bersama Maria…. Setelah mendengar kabar itu, aku langsung terbang ke New York, bersama temanku, Arthur. Dia yang membantuku, menyelesaikan semuanya. Hingga aku tahu pelakunya adalah Dexian dengan bawahannya dan aku sendiri yang menghabisi pria itu, dengan tanganku sendiri.”
Jason melihat telapak tangannya. “Aku pertama kali lepas kendali karena Maria. Maria… dia satu-satunya wanita yang ada dan selalu aku nomor satukan karena Maria sangat mirip dengan ibuku. Karena Maria, aku tidak terlalu merindukan ibuku lagi. Bahkan ayahku bertahan karena Maria.”
Jason membuang wajahnya dan menghirup udara yang banyak karena menahan emosi; amarah, kesedihan dan rasa ingin menangis.
“Aku ada janji dengan seseorang,” akhir pembicaraannya dengan Tiffany.
Tiffany tidak bisa mencegah pria itu dan membiarkan Jason pergi dari kamarnya.
Tiffany menekuk kakinya dan mengusap wajahnya. Oh, Tuhan. Ia tidak akan tahu jika Jason mengalami hal semacam ini. Apa sekarang lebih baik? Ia sekarang tahu alasan Jason melakukan itu. Jika Tiffany tidak melihat dari sisi Jason, maka Tiffany akan selalu berpikiran buruk tentang pria itu. Tapi bagaimanapun juga, tindakan Jason tidak dibenarkan.
•••
Malam tiba, Tiffany berada di walk in closet. Mengganti pakaiannya dengan yang lebih hangat. Ia mengambil sweater turtleneck warna hitam—ini milik Jason juga.
Tiffany menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Ia memasak dengan bahan lengkap yang tersedia di kulkas. Selesai dengan semuanya, Tiffany menyusun masakannya di meja.
“Wah, aromanya menggoda perutku. Boleh aku makan?” tanya Rico, datang dengan pakaian lebih santai; t-shirt hitam dan celana jogger yang senada.
Tiffany mengangguk dan bergabung, duduk berhadapan dengan Rico. Mengambil piring dan mulai makan.
__ADS_1
“Jason tidak makan malam?” tanya Tiffany.
Rico mengangkat wajahnya dengan alis terangkat lalu ia menunjukkan ekspresi mengingat. “Dia makan malam di luar dengan Cara, kurasa. Karena dari sore tadi di belum kembali, menemui wanita itu.”
Tiffany tertegun. “Cara?”
“Iya. Mungkin kau mengenal wanita itu juga, karena dia juga karyawan di Hamin.”
Tiffany mengangguk. “Ya. Aku kenal Cara Lunox.”
“Iya, dia. Miss Lunox,” balas Rico, menikmati makannya dan tidak menyadari raut Tiffany yang berubah.
“Dan dia salah satu wanita yang sudah menggilai seorang Jason,” gumam Rico.
Tiffany kembali mengangkat wajahnya mendengar kalimat Jason. “Apa?”
Rico menatap diam Tiffany. “Apa?” tanyanya tidak paham. “Apa yang aku katakan tadi?” berpikir lalu kembali menambahkan. “Ah, ya. Wanita itu memang terlihat menggilai Jason. Pertama aku lihat perilakunya di depan Jason saat di kantor, aku langsung bisa menilainya begitu.”
“Bagaimana kau mengatasi kasus itu?” tanya Tiffany mengubah topik. Jika ia mendengar tentang Cara—padahal wanita itu adalah temannya juga—Tiffany tidak bisa merasa kenyang. Apa salah wanita itu? Tidak tahu, Tiffany saat ini tidak dalam suasana yang baik. Ia melihat makanan di mejanya yang ia masak dengan senang. Tunggu, senang? Kenapa Tiffany memasak makanan ini dengan senang? Tapi saat ini tidak lagi senang, brengsek itu malah makan di luar!
“Kasus apa yang kau maksud?”
Rico terlihat terkejut sebentar. Ia meletakkan sendoknya. “Jadi Jason sudah terbuka denganmu?”
“Aku mendesaknya.” Walaupun tidak seperti itu juga yang terjadi, tapi menurut Tiffany itu lebih baik daripada Rico memikirkan hal lainnya.
“Tapi Jason tidak mungkin menuruti keinginan orang lain, jika dia tidak ingin. Pasti Jason yang—”
“Bagaimana ceritanya, aku ingin tahu.”
“Apa lagi? Seperti Jason yang bercerita kepadamu.”
“Lanjutannya. Aku belum mengetahui lanjutannya…,” karena Jason pergi mengingat janjinya dengan Cara. Kalimat miring itu Tiffany ucapkan dalam hati.
“Kenapa kau seakan marah kepadaku? Jason yang cerita saja. Aku malas merangkai kejadiannya. Aku juga marah kepada Dexian Peros, Maria sudah seperti adikku sendiri—apa-apaan kau ini? Datang bulan huh?”
Tiffany tiba-tiba saja meletakkan sendoknya dengan kasar, seperti membanting. Rico yang sedang berbicara itu terpaksa berhenti, menatap Tiffany tajam.
Tiffany mengambil piringnya dan sendok baru lalu pergi begitu saja, naik ke lantai 2.
“Datang bulan? Sialan jika benar. Kenapa tidak marah kepada Jason saja, jika cemburu,” dengus Rico. Ia sudah menyadari ini dari wajah Tiffany dan topik yang tiba-tiba diubah oleh wanita itu.
__ADS_1
Rico melanjutkan makannya sendirian. “Aku habiskan?” gumamnya melihat semua makanan yang lumayan membuat ia kekenyangan jika dimakan sendiri.
“Tapi, omong-omong. Kenapa Jason sering menemui wanita itu? Dia meninggalkan yang lainnya di sini.”
Rico memasukkan satu sendok sayuran ke dalam mulutnya dan membuatnya penuh tapi tetap bicara sendiri. “Jason sudah membuat keduanya tergila-gila? Apa sekarang Jason sudah satu tingkat lebih tinggi daripada aku? Karena akhir-akhir ini tidak ada wanita yang datang padaku seperti biasanya,” katanya dengan sesekali mengunyah.
“Iya. Aku menyadari Jason lebih tampan, aku akui itu sedari dulu. Tapi aku lebih menarik. Apa sekarang Jason lebih menarik dibanding aku?” tanyanya dengan dirinya. Mengingat wanita-wanita lainnya yang lebih memilih dirinya daripada Jason.
“Sepertinya auraku mulai memudar.” Rico menghabiskan satu piring nasi dan menu lainnya yang sesekali ia cicipi.
Rico meletakkan sendoknya di meja, mengambil ponselnya yang berada di dalam saku. “Apa ini?”
Jason mengirim beberapa foto bunga.
Lalu Rico putuskan menelepon pria itu.
“Apa maksudmu? Kau ingin memberiku bunga atau apa?” tanya Rico saat teleponnya tersambung.
“Kira-kira mana yang disukai wanita dari pilihan bunga-bunga yang aku kirimkan?”
“Wah, kemajuan pesat, bung? Tanya padanya sendiri, kau kan sedang bersamanya.”
Rico mengambil gelas dan meminum airnya.
“Apa maksudmu? Ini untuk Tiffany.”
Rico tersedak. “Apa ini? Kenapa janjian di hari yang sama. Aku merasa gagal.”
“Apa maksudmu?”
“Tidak. Beli saja mawar merah.” Rico mematikan sambungan telepon. “Auraku benar-benar menurun.”
·
·
·
·
The Handsome Evil CEO © YAKIYA
__ADS_1