The Handsome Evil CEO

The Handsome Evil CEO
THECEO 6


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Jason Zuruno masuk ke perkarangan mansion miliknya yang lain, berbeda dari mansionnya yang baru. Mansion lama ini masih bisa dimasuki oleh tamu dan area nya terletak di tempat terjangkau. Mansion ini juga ada beberapa pelayan yang menjaga dan merawat setiap Jason tinggal maupun tinggalkan.


Jason masuk dan berjalan ke belakang mansion. Di sana ia melihat hewan peliharaannya yang menggeram dan berguling lalu mencakar tiang besinya.


“Halo, Perdo.... Kau merindukanku hm.”


Seperti paham ucapan pemiliknya, Perdo—hewan buas yang sudah dijinakkan itu adalah harimau—dia menunduk agar Jason bisa membelai kepalanya. Spesies kucing besar yang lucu.


Jason melihat karung di dekat rumah Perdo. Ia tahu apa isinya itu. Rico menuruti ucapannya dan membawanya ke sini.


“Kau lapar, Perdo? aku punya hidangan istimewa untukmu hari ini.” Jason membuka pintu kandang lalu di sambut Perdo dengan raungan dan duduk diam, menunggu Jason memberinya daging.


Jason membalik karung itu dan keluarlah. Potongan daging yang darahnya sudah sedikit menggelap.


“Perdo, kau bisa makan itu sekarang,” perintah Jason, ia tersenyum tipis melihat harimaunya memakan daging bajingan tengik.


“Bagaimana rasanya? apakah lezat? kau hanya bisa makan daging ini satu kali ini saja, Perdo. Selanjutnya makan makanan seperti biasanya.”


Jason keluar dari kandang dan menguncinya. Tadi ia sudah berencana akan memindahkan Perdo ke mansion barunya saja. Pikir Jason, ia akan lebih sering tinggal di sana karena sanderanya berada di sana.


Wanita itu... jika diingat. Jason melihatnya tidak asing.


•••


Jason sudah sampai di mansionnya yang baru dan ia membawa Perdo bersamanya.


“Ayo, turun, Perdo. Kau jangan menakuti Rico, kau mengerti?”


Perdo meraung pelan, seolah mengatakan ia mengerti dan menuruti perintah Jason.


Jason kembali menutup pintu box belakang dan berjalan masuk dengan Perdo yang mengikuti di sampingnya.


“Oh, tidak. Jason.... Kau membawanya?!” pekik Rico, ia menyingkirkan dirinya menjauh. Tidak ingin dekat-dekat dengan harimau peliharaan Jason itu.


“Tenanglah, dia tidak akan memakanmu karena dia sudah kenyang,” kata Jason sambil mengelus kepala Perdo.


“Kenapa kau membawanya ke sini?!” Rico masih memekik, nada suaranya yang berat terdengar aneh karena pekikan itu.


“Dia akan tinggal di sini mulai sekarang.”


“Bagaimana? tidak ada kandangnya di sini. Dia bisa menerkam orang lain sewaktu-waktu.” Rico berjalan mundur dan berlindung di balik sofa saat Perdo bergerak pelan.

__ADS_1


Perdo hanya menggeser kaki kanan depannya padahal, tapi bagi Rico itu adalah ancang-ancang hewan mematikan itu.


“Rico, dia tidak sembarang memakan daging manusia. Kecuali, jika aku menyuruhnya langsung dan mengizinkan ia menerkammu.”


“Jason.... Sialan kau brengsek. Jangan ucapkan kalimat itu dengan santai.”


Jason tidak peduli lagi dengan urusan ketakutan Rico, dia duduk di sofa dengan santai menopang dagu. Tapi kemudian ia teringat dengan wanita itu.


“Apa dia aman?” tanya Jason.


Rico sekarang berjongkok di atas sofa sambil melirik ke arah Perdo. “Apa?” tanyanya masih sekilas ia melirik hewan itu dan menatap Jason.


“Wanita itu... dia tidak mencoba kaburkan?” tanya Jason dengan jelas.


“Tiffany? dia sepertinya tenang di kamarnya. Aku tidak melihatnya lagi setelah berbicara dengannya.”


Jason mengangkat alisnya. “Kau tahu namanya?” tanya Jason dengan nada tidak percaya.


Rico mengangguk setelah melihat apa yang dilakukan Perdo saat ini, hewan itu masih duduk tenang mengarahkan tatapannya ke arah Jason. Rico menghela napas. “Ya. Aku mengajaknya berkenalan. Tapi dia cuek terhadapku. Padahal kau juga tahu, para wanita gampang dekat denganku yang tampan dan humoris ini.”


Jason berdiri dan berjalan ke arah tangga dan menyimpan kedua tangannya ke dalam saku.


“Dia harimau bodoh.” Terdengar balasan Jason dari atas.


Jason melangkah ke pintu kamar itu. Sebelum menyentuh gagang pintunya, ia merasa jika lebih baik ia mengetuknya terlebih dahulu.


“Hei, wanita. Boleh aku masuk?” tanya Jason setelah mengetuk pintunya tiga kali.


Tidak ada balasan.


Apa Jason panggil namanya saja?


“Tiff-fanny?” panggilnya canggung.


Lalu ia mengulang lagi dengan sedikit lebih keras. “Tiffany.”


Tidak ada jawaban.


Jason tidak sabaran itu akhirnya tanpa pikir lagi, ia membuka pintunya dan berkata. “Kau bisu? ke—”


Dia tidak ada. Sial.

__ADS_1


Jason membuka kamar mandi dan mengecek ke walk in closet tapi tidak ia temukan sosok wanita itu. Ia juga mengecek jendela kamar, masih terkunci dan tidak ada bekas membobol paksa.


Sial, kemana dia?!


Jason ke luar kamar berjalan turun dan menatap Rico marah. “Dimana dia, Rico?!” geram Jason.


Rico mengerutkan alisnya. “Dia tidak ada? kau sudah mencarinya. Siapa tahu dia—”


“Tidak ada. Sial, dia kabur.” Jason berkacak pinggang dan mengusap kasar mulutnya.


Jason berjalan ke pintu tanpa mendengar ocehan Rico tentang dirinya yang ditinggal lagi di sini bersama Perdo.


Jason masuk ke dalam mobilnya dan langsung menjalankan mobil itu ke luar mansion.


“Sial. Dia pasti tidak jauh dari sini kan?” gumamnya murka.


“Aku harus menemukan wanita itu. Dia boleh keluar jika dia lupa ingatan tentang aku.”


Sial. Jason menginjak pedal gasnya. Rico brengsek, tidak becus.


Jason sudah mengendarai mobilnya sejauh 5 kilometer dan ia masih belum melihat keberadaan wanita itu. Ia terus mengumpat dalam hatinya. “Aku harus menemukanya. Aku harus menemukan wanita yang memegang hidupku.”


Hidupnya berada ditangan wanita itu. Dia tahu kejahatan yang dilakukan Jason. Walaupun Jason tidak salah sepenuhnya, karena korbannya juga membunuh adiknya. Jason hanya ingin balas dendam.


Jason menyipitkan matanya melihat wanita dengan pakaian yang ia kenali terduduk di jalan. Ia ke luar mobil dan berlari mendekati wanita itu yang sekarang terjatuh pingsan.


Setelah melihat wajah wanita itu Jason bernapas lega. Ia menemukannya.


Jason membawa wanita itu ke dalam mobil dan menidurkan di bagian penumpang.


Jason masuk ke kursi kemudi dan menyetir mobilnya kembali ke mansion.


Sampai di dalam mansion, Jason menggendong wanita itu dengan gaya bridal berjalan melewati Rico yang masih di posisinya yang sekarang berubah ekspresi menjadi ingin tahu.


“Kenapa dengannya? dia pingsan?” tanya Rico, ia mengikuti langkah lebar Jason naik ke lantai atas. Rico melupakan Perdo yang ia takuti.


Jason menaruh tubuh Tiffany di atas kasur dan ke luar setelah mengatakan, “jaga dia. Aku akan menelepon Dokter Scott.”


Jason berdiri di balkon yang menghadap lantai bawah. Ia menempelkan ponselnya di telinga kanan. “Dokter Scott, bisa kau datang ke tempatku?.... Bukan, bukan aku. Tapi orang lain.... Iya, baiklah.... Tidak, aku tidak di mansion itu. Aku berada di tempat lain.... Aku akan mengirim alamatku padamu....”


The Handsome Evil CEO © YAKIYA

__ADS_1


__ADS_2