
Jason keluar dari rumah ayahnya setelah sarapan bersama. Ia membuka ponselnya saat ia sudah berada di dalam mobil. Pesan pertama yang ia buka adalah dari Marchell—calon ayah mertuanya.
Kau tidak berniat untuk mengajak Cara ke Bridh? Lebih baik kalian merancang pakaian pernikahan sendiri.
Bridh adalah toko perancang gaun pernikahan yang paling terkenal. Brittny, wanita berusia 47 tahun adalah pemilik sekaligus seorang desainer yang andal.
Jason menyetujui hal itu karena setelah pulang dari kantor, ia mengirim pesan kepada Cara untuk mengetahui keberadaan wanita itu dan menanyakan kesediaan waktu luangnya hari ini.
Tidak lama Jason menunggu, Cara langsung membalas pesannya dengan menyetujui dan menyuruh Jason untuk menjemputnya di apartemen wanita itu.
Setibanya di apartemen Cara, Jason tampak tidak terlalu peduli dengan Cara. Penampilan wanita itu terlihat cantik dan menawan dengan dress selutut berwarna coklat gelap serasi dengan high heels yang wanita itu kenakan. Berbeda dengan Jason yang hanya mengenakan kemeja yang terlihat tidak terlalu rapi karena kaitan bagian atas pria itu sengaja dibuka dan bagian lengannya sudah setengah kusut.
Tapi sepertinya Cara tidak peduli dengan hal itu. Ia bahkan menampilkan wajah berseri dan senyuman yang manis. Sungguh, jika pria yang benar-benar mencintainya pasti akan jatuh cinta kepada Cara, namun pria itu bukanlah Jason—untuk melihat Cara sekilas saja Jason tidak tertarik.
"Kau terlihat lelah, Jason. Kita bisa pergi besok saja, kau harus istirahat." Kalimat itu Cara ucapkan dengan sungguh-sungguh, ia peduli dengan Jason. Iya, karena wanita itupun mencintai pria ini.
Cara akhirnya bisa bertatapan dengan manik mata gelap itu dan ia menatap dengan mata yang ikut tersenyum. Tapi detik berikutnya senyuman itu berakhir dengan senyuman pahit karena ucapan Jason.
"Tidak usah pedulikan aku. Selesaikan hari ini dengan cepat," kata Jason. Kemudian, pria itu menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen Cara.
Sampai di gedung Bridh yang berada di tengah kota. Cara sibuk dengan Brittny yang membantunya memilih beberapa konsep gaun yang sesuai. Sesekali Cara menanyakan pendapat tentang gaun yang menurutnya cocok untuk dirinya—Cara hanya ingin memastikan Jason juga suka gaun pilihannya.
"Bagimana dengan ini?" Cara menempelkan gaun yang Brittny bawakan dan menunjukkan gaun itu ke hadapan Jason. Gaun cantik dengan taburan kristal kecil yang berkilau karena terpantul cahaya itu terlihat elegan. "Cantik sekali," puji Cara dengan sendirinya.
Jason hanya melihatnya sekilas karena detik berikutnya pria itu mengangkat telpon dan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Cara barusan.
Menghindar dari keadaan canggung Cara beralasan kepada Brittny bahwa ia ingin kembali melihat model lain. Tentu Cara tahu bahwa interaksi barusan bisa membuat Brittny berspekulasi tentang hubungan yang sedang ia jalani. Lagipula siapa yang tidak mengenal keluarga mereka. Bisa saja Brittny membocorkan kejadian barusan kepada media dan masyarakat dan berakhir dengan berita yang menampilkan head line—Perlakuan Jason Zuruno Kepada Cara Lunox Sang Calon Dinilai Buruk. Apakah Ini Pernikahan Bisnis?
Kegiatan pesan gaun pengantin itu berakhir hingga tengah malam. Walaupun Jason tidak berkontribusi banyak dalam pemilihan gaun dan tuxedo tapi bagi Cara pria itu sudah cukup membantu dengan menunggunya sampai selesai.
"Kita makan malam dulu di Bite Steak? Aku sangat lapar." Cara mengajak Jason untuk pergi ke restoran daging yang tengah banyak digandrungi oleh anak-anak muda saat ini.
__ADS_1
"Lain kali saja. Aku lelah."
"Bagaimana jika take away?" Tawar Cara. Ia sempat mengusap perutnya karena lapar. Ia tidak berbohong agar bisa bersama dengan Jason lebih lama karena mereka sudah menghabiskan selama 3 jam di Bridh ditambah semakin malam membuat perut semakin lapar.
Jason tidak mengatakan hal apapun tapi pria itu mengarahkan mobilnya ke jalan menuju Bite Steak. Melihat itu Cara tersenyum menengok ke arah Jason seakan mengatakan—terima kasih—dan senang seperti anak kecil yang dituruti kemauannya.
•
Waktu cepat berlalu, bohong jika selama 3 minggu itu Jason tidak pernah sekalipun memikirkan dan merindukan sosok wanita yang ada di hatinya.
"Apa yang dia lakukan sekarang?" Jason menelpon Rico yang saat ini sedang bersama Tiffany.
Selama beberapa minggu terakhir, hanya Jason yang tahu aktivitas apa saja yang wanita itu lakukan tapi sebaliknya Tiffany tidak dapat kabar apapun dari pria itu.
"Mencoba menghitung berapa kelopak bunga mawar. Ini bahkan sudah ke—"
"57," sambung Jason.
Satu kegiatan baru yang dilakukan oleh Tiffany adalah mencabut dan menghitung kelopak mawar. Kegiatan baru itu dilakukan setelah Jason 'meninggalkannya'.
*"Kenapa aku? Jika dia mau dia akan ke sana sendiri. Omong-omong pernikahanmu akan dimulai beberapa menit kedepan. Aku ucapkan sekarang saja, selamat atas pernikahanmu, brengsek. Aku harap bertahan lama dan lupakan saja kekasihmu ini,"* terdengar Rico berdeham. "Maaf, mantan kekasih."
"Pastikan Tiffany tidak mendengar ucapanmu tentang pernikahan ataupun kata itu. Dia tetap menjadi kekasihku."
Terdengar brengsek memang.
Sebenarnya Rico sudah menjauh sejak tadi dari Tiffany, seakan ia menerima telpon dari klien. Namun Jason tidak tahu akan hal itu maka ia biarkan Jason berpikir yang hal semacam itu.
"Bukankah bagus. Dia akan meninggalkanmu dan bebas berkencan dengan pria lain yang mencintainya."
"Tidak perlu memprovokasiku. Perlu diingat dia tidak akan pernah mencintai pria lain dan aku pun tidak akan membiarkan pria manapun berhubungan dengannya," kata Jason dengan memberikan penekan di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Kau seyakin itu dengan omonganmu. Kau percaya padaku, Jason? Karena aku bisa saja mengkhianatimu dan merebut Tiffany darimu."
"Jika tidak, maka aku tidak akan membiarkanmu menjaganya dari awal." Kalimat yang Jason sampaikan terdengar santai tapi tangan pria itu sudah terkepal dibalik celana kainnya, mendengar perkataan Rico membuat hatinya serasa diremas.
Namun Rico tahu, pria itu sedang mencoba berpikir positif karena ia memprovokasinya. Walaupun Jason adalah sahabatnya, tetap saja apa yang dilakukan Jason adalah hal paling brengsek.
"Sudahlah. Kau fokus saja pada acara saklar itu. Kau akan berjanji pada Tuhan untuk menjaga calonmu itu, cukup sekali saja kau bertindak brengsek."
"Kenapa kau seakan memberi petuah kepadaku?"
"Aku memang sedang memberi petuah kepadamu, bodoh!"
"Aku tidak benar-benar meninggalkannya. Aku hanya mencintainya, tidak ada wanita yang bisa menggantikannya." Jason yakin mengucapkan kalimat tersebut.
"Kalimat itu terdengar omong kosong karena sekarang kau akan menikahi wanita lain. Sekali lagi aku ucapkan selamat dan hiduplah dengan sungguh-sungguh dengan calonmu."
"Berhenti mengucapkan kalimat selamat kepadaku. Pernikahan ini kulakukan dengan alasan. Kau bahkan tidak perlu tau alasan apa itu."
"Rico?" Jason melihat panggilan di layar ponselnya sudah terputus. "Tidak sopan." Lalu ia kembali memasukkan ponsel itu ke dalam celananya.
"Jason, anakku." Jake datang dengan balutan jas hitam, walaupun ayahnya itu berjalan dengan tongkat yang membantu menyangga tubuhnya namun pria paruh baya itu terlihat gagah.
Jake menepuk pundak Jason—seakan memberi dukungan. "Ternyata aku masih bisa melihatmu mengenakan pakaian ini di altar."
Jason terkekeh. "Kau akan berumur panjang dan bisa melihatku menggunakan tongkat sepertimu. Jangan bicara hal konyol begitu."
Jake mengangguk dan Jason berjalan bersisian dengan ayahnya itu keluar untuk melakukan upacara penikahan.
***
Halo!!!!!!!!! Cerita ini nganggur lama ya. Pasti ada yang lupa sama alurnya. Makasih buat yang udah nungguin cerita ini update.
__ADS_1
Sorry,
YAKIYA.