
Tiffany melilitkan tubuhnya dengan selimut dan berjalan ke kamar mandi di kamar Jason. Melepas selimutnya setelah bathtub terisi dengan air, ia berendam air hangat dan membiarkan tubuhnya yang kaku kembali nyaman.
Tidak lama Tiffany menghabiskan waktu membersihkan dirinya, ia pun keluar dengan handuk yang menutupi tubuhnya.
Melihat pakaian miliknya yang teronggok, Tiffany memungutnya dan menaruhnya di dalam keranjang cucian dengan pakaian milik Jason.
Terpaksa ia juga harus meminjam pakaian Jason lagi. T-shirt yang pas dipakai pria itu lumayan kebesaran untuk tubuh Tiffany yang lebih mungil, tapi tetap saja ia membutuhkan celana untuk menutup bagian bawahnya, jadi ia meminjam celana pendeknya.
Setelah mengganti dan membersihkan ranjang, Tiffany keluar kamar Jason.
“Ah… terjadi sesuatu di sini.”
Tiffany menengok, melihat Rico yang sudah kembali dan bergabung dengan Rico yang sudah duduk di kursi bar. “Bagaimana kabar Selia?”
“Dia baik. Kenapa kau tanya hal itu?”
“Kenapa?”
“Kalian tidak saling kenal.”
Tiffany mengangkat bahunya. “Apa salahnya bertanya kabar seseorang?”
“Kau benar,” putus Rico.
Rico berdiri, berjalan ke arah kulkas dan mengambil air putih.
“Aku bosan.”
Rico meletakkan gelas yang sudah kosong dan menatap Tiffany. “Lalu?” tanyanya menahan tawa.
Tiffany diam. Di sini membosankan, tidak ada yang bisa ia lakukan selain duduk, menunggu Jason pulang. Lalu memutar lagi kegiatan di hari-hari sebelumnya. “Aku tidak boleh keluar? Setidaknya beri aku kebebasan satu hari.”
Rico menggaruk pelipisnya. “Kau ingin kemana?”
“Kau mau mengantarku?” tanya Tiffany belum menjawab pertanyaan Rico.
•••
“Di sini?” tanya Rico, menatap gedung tingkat 3. Tadi Tiffany minta diantar ke alamat St. Wikileak. Pertama kali Rico datang ke sini, melihat langsung tempat yang tadi diceritakan oleh Jake.
Rico menatap Tiffany yang masih diam. Dengan guratan ekspresi wajah—entahlah. Sepertinya ia harus menyembunyikan ini dari Jason. “Sampai di sini kau tidak ingin turun? Membuang waktuku saja.” Rico menyandarkan kepalanya dan mendesah kesal, berpura-pura merasa kesal. Melirik Tiffany yang mulai tersadar, kembali ke kenyataan—benar, wanita itu sedikit melamun dan ia tahu apa yang sedang Tiffany pikirkan.
Wanita ini berbeda dari yang Rico tahu saat di mansion tadi, seperti bukan dirinya.
“Kau tunggu di sini.” Sebelum Tiffany membuka pintu, Rico menghentikannya.
“Tidak mau. Kau bisa kabur nanti.”
Tiffany menoleh. “Baiklah. Kau ikut.”
Rico keluar setelah Tiffany. Mengikuti wanita itu yang sudah berdiri di depan pintu dan lagi-lagi diam, melamun. “Hei. Dasar. Kesadaranmu tertinggal di mansion? Bisa gila aku melihatmu seperti ini.”
Tiffany mengerutkan dahinya, tidak suka.
“Apa?” Rico mengetuk pintu dan menunggu pemiliknya datang. Bisa ia lihat tatapan wanita di sebelahnya menanti.
Detik berikutnya, terdengar ketukan tongkat dan seseorang membuka pintu. Menampilkan pria terlihat lebih tua dari Jake, karena Rico pikir 'teman Jake' ini sepantaran dengan Jake. “Selamat siang, Mr…,” ucapan Rico membuat kedua orang yang bersamanya terfokus padanya.
“Filan Sicardhe.”
__ADS_1
“Senang berkenalan dengan Anda, Mr. Sicardhe. Aku Rico Black, teman Tiffany.”
Setelah itu, mereka duduk di dalam ruang santai di lantai 1. Menurut Rico lantai 1 ini milik Filan Sicardhe sepenuhnya dan dua lantai atas dia sewakan.
“Aku buatkan minum dulu.” Filan dengan bantuan tongkatnya berjalan pelan ke arah dapur.
Rico melihat Tiffany yang masih diam. “Hei. Kau benar-benar… sudah lama tidak bertemu dengan ayahmu kenapa diam saja?”
Kalimat Rico membuat Tiffany terkejut, menatap Rico dengan bola matanya hampir keluar.
“Aku tahu,” kata Rico santai.
Tiffany menghela napas panjang. Ia melihat ke arah dapur, sesekali tubuh rapuh Filan terlihat oleh pandangannya.
Mereka kembali diam, Rico melihat ke arah dapur dan beranjak. Masuk ke dalam dapur, melihat punggung rapuh Filan yang bergerak ingin mengangkat nampannya. “Biar aku bantu.” Rico mengambil alih nampan itu dan berjalan lebih dulu ke ruang santai, meletakkan tiga cangkir di meja.
“Apartemen Anda terlihat sepi, Mr. Sicardhe.”
“Ketika malam kurasa tidak. Mungkin karena penyewa atas sedang bekerja.”
“Oh. Ada penyewa?” tanya Tiffany.
Filan berdehem. “Ya. Penyewa baru, dia seorang pria.”
Rico menikmati tehnya, mendengar dialog kedua orang yang tidak canggung lagi.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu khawatir.” Tiffany melihat ke arah Rico yang diam saja.
Lama hingga teh yang Rico minum habis. “Tehku habis.”
“Aku buatkan.” Tiffany berdiri dan meninggalkan Rico dengan Filan.
“Terima kasih, Rico. Aku menyayanginya, aku tidak ingin dia kesulitan maupun sedih.”
“Aku paham. Anda berbuat seperti ini memang karena menyayangi putri Anda.”
“Jake sudah memberitahumu?”
Rico mengangguk. “Semua akan berjalan baik-baik saja.”
“Apakah Jason menerima?”
“Jika tidak, pria itu sudah dibuang oleh Jake.” Rico tertawa.
•••
“Tidak perlu mengantar. Kau istirahat saja,” cegah Tiffany.
Lalu Rico dan Tiffany berpamitan tanpa Filan yang mengantar mereka keluar.
“Oh.”
Seorang pria dengan mantel hitamnya muncul ketika Tiffany menarik pintu.
“Halo…. Penyewa baru?” tanya pria itu.
“Bukan. Permisi,” Rico lebih dulu keluar dengan Tiffany yang berjalan mengikuti dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil mereka meninggalkan St. Wikileak. Tanpa menyadari mobil lewat yang tiba-tiba berhenti.
“Tiffany?”
Mobil Ford putih berhenti di depan apartemen yang ditinggalkan Tiffany, si pengemudi keluar dan berjalan mendekat ke arah pria mantel hitam. “Halo….”
Pria mantel hitam itu menatap Dave dengan alis berkerut. “Ya?”
“Aku melihatmu dengan wanita bersama pria tadi. Apakah kau mengenalnya?”
“Tidak. Ada hal apa? Kau mengenalnya?”
“Iya. Kita teman sekantor dan dia tinggal di sini. Aku kira kau mengenal Tiffany.”
Pria mantel hitam itu mengulurkan tangannya. “Jay Smith.”
“Dave Wilson. Jadi….” Dave menunjukkan bangunan ini dengan matanya.
“Ah ya. Aku juga tinggal di sini. Tapi sepertinya wanita bernama Tiffany itu sudah tidak tinggal di apartemen ini.”
Dave mengangkat alisnya. “Benarkah?”
Jay mengangguk. “Omong-omong. Jika kau temannya kenapa tidak menelpon saja? Pasti kau punya nomornya.”
Dave tersenyum. “Mungkin dia sedang bersembunyi.”
“Apa maksudnya…?”
“Sudah beberapa hari Tiffany tidak berangkat kantor dan tidak memberi kabar apapun. Hari sebelumnya juga ponselnya tidak aktif, jadi temannya yang lain khawatir.”
Jay terlihat heran. “Begitu?”
“Iya. Bahkan kami kira dia diculik.”
Jay melihat jalan bekas kepergian mobil BMW, menatap ambang lalu kembali menatap Dave. “Dia terlihat baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu yang lain?”
Dave diam.
“Begini, jika kau merasa temanmu terlibat masalah mungkin aku bisa membantu. Aku seorang polisi.”
Dave terkejutnya sesaat tapi ia menormalkan kembali ekspresinya. “Kau… polisi?”
“Iya. Aku dipanggil ke kantor cabang untuk patroli. Jika—”
Dave mengangkat kedua tangannya depan dada. “Tidak terjadi sesuatu. Aku rasa semua sudah kembali normal. Aku juga sudah melihat Tiffany baik-baik saja. Mungkin dia hanya butuh waktu luang karena terlalu tertekan bekerja.”
Jay mengangguk pelan.
“Kalau begitu aku permisi. Senang berkenalan denganmu, Jay Smith.”
Dave berjalan ke mobil dan masuk. Memberi klakson lalu mobil yang ia kendarai meninggalkan Jay dengan tatapan belum puas.
“Ada yang salah.”
°
·
·
__ADS_1
·
The Handsome Evil CEO © YAKIYA